“Kencan? Apa yang kamu minum pagi ini, sampai berniat untuk mengajak ku kencan?” Alexa berdiri pada deretan anak tangga dengan kening yang sedikit berkerut.
“Entahlah, tapi sepertinya kita sedang membutuhkan hiburan,” ujarnya lagi.
“Aku akan segera bersiap,” jawab Alexa riang.
Ekspresi gadis itu berubah dengan cepat. Wajahnya yang awalnya muram terlihat langsung berseri saat menjawab ajakan kencan dari suaminya. Anggaplah demikian, karena mereka memang benar-benar terikat.
Leon meninggalkan meja makan dan naik mengikuti Alexa, ia masuk dalam pintu yang sama namun di dalamnya hanya ada Ia sendiri. Alexa benar-benar bersiap dalam kamarnya sendiri.
Hari ini, Leon sengaja mengunakan jeans selutut yang dipadukan t-shirt berwarna hitam yang begitu mencetak otot-otot tubuhnya. Ia seakan kembali ke masa mudanya yang penuh dengan kenakalan. Ia sesuka hati pergi kemana pun, dan bersama siapapun, sampai akhirnya Ia kehilangan segalanya.
Di kamar yang berbeda, saat ini Alexa baru saja selesai dengan penampilan dengan ciri khas yang selalu melekat padanya. Alexa menggunakan celna jeans panjang dengan t-shirt putih. Ia memoles sedikit wajahnya dengan bedak dan liptin merah muda. Rambut panjangnya yang selalu ia gerai, kini Ia ikat kucir kuda dengan poni depan yang sedikit tidak zig-zag.
Dengan mengesampingkan rasa tidak nyaman nya dengan pertanyaan Leon, Alexa langsung masuk ke kamar suaminya.
"Apa kamu sudah siap?" tanya Alexa saat pintu kamar itu terbuka.
"Apa kamu tidak bisa mengetuk pintu dulu sebelum masuk, Alexa?" Leon menatapnya dengan sedikit kesal.
Bukan karena Alexa masuk sembarang, tapi saat itu Leon baru saja selesai merapihkan celananya. Jika sampai Alexa melihat ia tanpa celana, Ia tidak bisa membayangkan apa yang akan terjadi.
"Maaf Yon..." Alexa menunduk, membuat Leon menarik napas dalam karena Ia telah salah bersikap.
"Sudahlah! Jangan cemberut seperti itu. Melihat mu seperti itu, aku selalu ingin mencium bibir ranum mu," ingin rasanya Ia berkata demikian untuk membuat Alexa tersenyum, tapi semua itu hanya bisa ungkapan dalam hatinya.
"Jangan menggoda ku dengan memajukan bibir mu seperti itu!" seru Leon.
"Siapa yang menggoda? Jangan terlalu percaya diri ya, anda!" Alexa sedikit ketus.
"Ahahaha... Justru aku merasa tidak percaya diri karena tidak berani mencium istri ku sendiri," goda Leon.
"Eh... A-aku akan menunggu mu di bawah," Alexa gelagapan mendengar perkataan Leon. Cukup mereka melakukan itu di klab malam dan itu tidak boleh terulang.
Leon tersenyum, ia menggeleng pelan dan segera mengikuti langkah Alexa. Dengan sangat jelas, Ia melihat kegugupan di wajahnya dan itu semakin membuat Leon merasa gemas. Baru saja keluar, Leon langsung berhadapan dengan Jack yang sudah menunggunya di depan pintu.
"Ada kabar apa, Jack?" tanya Leon dengan wajah ceria.
"Heru sudah kembali ke rumahnya," jelas Jack.
"Lalu...?"
"Hari ini Lingga datang menemuinya. Tapi sepertinya Heru sudah tidak ingin membantunya lagi," jelas Jack.
"Bagus! Awasi terus gerak-gerik mereka," ujar Leon santai. "Oh iya, Jack! Siapkan motor kesayangan ku. Hari ini aku akan kencan bersama Alexa."
"Baik Tuan muda!"
Leon meninggalkan Jack dengan bersiul pelan, membuat pria itu terheran-heran karenanya.
**
Alexa saat ini sedang menunggu Leon, tiba-tiba saja Ia dikejutkan oleh seseorang yang menarik jemari lentiknya. Hawa dingin begitu terasa, membuat Alexa tersentak.
"Papa... Maaf pa, Alexa benar-benar terkejut," dengan cepat ia mensejajarkan posisinya dengan Aji.
Melihat sikap Alexa, Aji hanya tersenyum dan mengangguk pelan.
"Apa papa butuh sesuatu?"
Aji menggeleng cepat, membuat kening Alexa berkerut.
"Ka-kamu mau kk-mana?" tanya Aji.
Dengan sedikit menunduk, Alexa tersenyum dan kembali menatap mertuanya. Ada rasa bersalah dalam hatinya karena sudah membohongi Aji, tapi Alexa hanya berdo'a semoga jika saatnya tiba, Aji bisa memaafkannya.
"Aku dan Leon akan pergi kencan," jujur nya.
Alexa benar-benar terlihat seperti gadis remaja yang meminta izin pacaran pada papa nya. Ia sedikit menunduk dan tersipu malu. Ia juga memainkan tangannya karena gugup.
“Pergilah, hati-hati,” kata Aji dengan lancar.
“Makasih ya, pa,” Alexa memeluk Aji sebentar dan langsung mencium punggung tanga mertuanya itu.
Tanpa mereka sadari, jika saat ini Leon sedang memperhatikan kegiatan keduanya. Hatinya merasa tenang saat ia melihat bagaimana sikap Alexa pada Aji. Hubungan mereka memang palsu, tapi kasih sayang yang gadis itu berikan pada Aji, membuat Leon merasa semakin harus menjaga gadis itu. Dan itulah yang terjadi hingga detik ini.
Ia berdeham pelan untuk membuat Alexa dan Aji menyadari kehadirannya. Dengan tersenyum lebar, Leon mendekati Aji dan langsung berpamitan pada papa nya itu. Ia berbisik, dan seketika wajah Aji terlihat lebih bahagia setelah itu.
Alexa menaruh curiga pada Leon. Ia merasa pria itu sedang merencakana sesuatu, dan entah kenapa Alexa merasa jika itu berhubungan dengannya.
“Leon berangkat kencan dulu pa,” Aji mengangguk bahagia.
‘Semoga hubungan kalian semakin kuat. Papa harap pernikahan kalian akan terjaga selamanya,’ batin Aji.
***
Di halaman depan, saat ini Jack baru saja selesai membersihkan motor gede milik Leon. Alexa cukup terkejut saat mengetahui jika mereka akan pergi dengan menggunakan motor.
“Kita pergi naik motor?” Alexa menatap Leon penuh tanya.
“Ya! Apa kamu keberatan pergi menggunakan motor? Kalau kamu keberatan, kita pergi menggunakan mobil saja.”
Alexa menahan lengan pria itu dan menggeleng perlaha. “Aku suka naik motor dan sekarang aku sudah tidak sabar lagi,” ujarnya dengan menarik tangan pria itu mendekati motor gede miliknya.
Leon dan Alexa sudah siap. Keduanya sudah duduk di atas motor tersebut, tiba-tiba dua motor sudah siap dibelakangnya. Kening Leon berkerut. Ia sama sekali tidak meminta Jack untuk menyiapkan bodyguard untuknya.
“Jack! Aku akan pergi berkencan, bukan ingin perang!” cibir Leon.
“Maaf tuan muda! Tapi sesuai dengan perintah kakek, anda harus pergi dengan pengawalan ketat selama di sini,” jelas Jack.
“Ck! Kita jauh dari nya, tapi dia masih saja bisa mengekang ku,” Leon geram. “Kalian! Jaga jarak dari ku. Jangan menimbulkan kecurigaan di muka umum.”
“Baik tuan muda!”
Mereka pergi meninggalkan villa tersebut dengan dua motor yang mengikuti kemana pun mereka pergi. Alexa sama sekali tidak merasa terganggu, sangat berbeda dengan Leon.
Angin mulai terasa lebih kencang saat Leon menarik gas, membuat motor itu membelah jalanan dengan kecepatan tinggi. Alexa menikamti semua itu. Tidak ingin terjatuh, gadis itu melingkarkan kedua tangannya di perut Leon dan memeluknya erat. Ia menempelkan tubuhnya pada punggung Leon, membuat pria itu sedikit merasa gugup.
“Kita mau pergi kemana, Yon?” teriak Alexa.
“Belanja!” jawabnya singkat.
Alexa hanya menganggukkan kepalanya. Ia sebenarnya tidak terlalu setuju, tapi tidak ada salahnya mengikuti keinginan Leon, toh setelah mereka berada di pusat perbelanjaan, banyak hal yang bisa Alexa lakukan.
Tanpa sengaja, Alexa melihat sebuah jajanan pinggir jalan. Tanpa aba-aba, gadis itu langsung meminta Leon berhenti, membuat kedua bodyguardnya hampir saja menabarak.
“Kenapa kita harus berhenti di sini, Alexa?”
“Kamu lihat tempat itu?” Alexa menunjuk sebuah kafe pinggir jalan yang sedang dipenuhi oleh pengunjung.
“Aku ingin es cream di sana.”
‘Hanya karena sebuah es cream, sampai membuat aku harus berhenti mendadak?’ batin Leon.
Loen menggeleng pelan dan turun dari motornya. Semua pasang mata tertuju pada mereka berdua, dan begitu juga dengan pasangan yang ada dalam kafe tersebut.
“Leon! Alexa!”