“Yon! Ayo cepetan dong, kamu kenapa jadi lelet banget kayak siput sih?” keluh Alexa saat melihat langkah kaki pria itu semakin melambat.
Kesal, akhirnya Alexa bejalan lebih dulu dan masuk ke kafe tersebut. Saat Ia memasuki tempat tersebut, pandangannya langsung tertuju pada ice cream vanila dan coklat yang begitu menggodanya.
Tanpa ragu, Alexa mulai memilih satu persatu sampai akhirnya Ia hampir memilih lima jenis ice cream yang akan Ia nikmati bersama Leon. Terlalu berlebihan memang, tapi kali ini Alexa sengaja memilih wadah yang kecil agar semua rasa bisa habis dengan cepat.
“Saya duduk di meja pojok sana ya, mbak,” ujar Alexa dengan menunjuk meja tersebut.
“Baik mbak.”
Alih-alih memikirkan dimana suaminya berada, Alexa justru duduk dengan tenang. Tanpa sadar jika saat ini ada sepasang mata yang sedang mengawasinya.
Di luar kafe, saat ini Leon berhadapan dengan Reyhan—kakak tirinya—putra kandung Lingga. Kedua pria tampan itu benar-benar seperti magnet yang membuat para wanita berhenti sejenak hanya untuk mengagumi ketampanan keduanya.
“Apa kabar... Adik tiri ku?” Rey menyapa Leon dengan menunjukkan keangkuhannya, sama seperti lima tahun yang lalu.
“Baik! Bahkan lebih baik dari lima tahun yang lalu... Kakak tiri ku!” jawab Leon.
Rey menggeram marah. Diam-diam pria itu mengepalkan tangannya, bersiap untuk menghajar Leon. Tapi ini adalah tempat umum dan mungkin saja akan ada kamera atau wartawan yang bisa membuat reputasinya hancur hanya gara-gara pertemuan singkatnya dengan Leon.
Bagaimanapun juga, Reyhan sudah resmi dinobatkan menjadi CEO dari perusahan Aji dan tidak lama lagi Ia berniat untuk menguasai segalanya. Jadi ia tidak ingin merusak citra dirinya di depan umum. Tapi Tidak ada jaminan jika Rey tidak akan berniat buruk di belakang semua orang.
“Pulanglah, semua orang menunggu mu. Termasuk papa.”
“Oh ya? Kalau begitu aku akan pulang setelah Angel bertunangan,” jawah Leon yang di akhiri dengan seringaian jahatnya.
Tidak ingin berlama-lama dengan pria arogan seperti Rey, Leon bergegas meninggalkan pria itu, masuk dan mencari Alexa. Leon hanya bisa geleng kepala saat melihat ternyata gadis itu sedang duduk dengan tenang dipojok ruangan dengan memegang semangkuk besar ice cream.
Baru saja Leon akan mendekati gadis itu, matanya menangkap gerak –gerik seorang pria yang sangat mencurigakan sedang memperhatikan istrinya. Bahkan terlihat dengan jelas jika pria itu sedang mengambil foto Alexa. Dari apa yang Ia lihat semalam, Leon tidak boleh lengah. Bisa saja mereka adalah salah satu dari sekian banyak orang yang memiliki niat tidak baik pada istrinya. Lebih tepatnya istri di atas kertas.
‘s**t! Siapa pria itu? Berani-beraninya dia melakukan itu pada istri ku,’ batin Leon.
Ia menjentikkan jarinya, dua pria bertubuh tingga besar langsung berdiri di belakangnya. “Duduk dengan pria itu dan seret dia keluar. Ingat! Jangan sampai terjadi keributan apapun di dalam kafe ini!”
“Baik tuan muda.”
Leon akhirnya pergi menemui Alexa. Tapi Ia tidak pernah menyangka, jika Alexa akan memberikan tatapan kesal yang benar-benar menguji dirinya sebagai seorang pria.
“Kamu kemana saja? Ice cream ini sudah hampir mencair!” kesal Alexa, ia memasang wajah dingin, sama seperti ice yang di makannya. Dingin tapi manis.
“Aku ke toilet sebentar, dan tadi aku bertemu dengan Reyhan.”
Gerakan bibir gadis itu berhenti seketika saat mendengar nama ‘Reyhan’. Bagaimana pun juga, kenangan bersama pria itu amat sangat mengerikan. Selain Lingga yang berniat untuk menjualnya pada Heru, nyatanya Rey juga lebih dulu memiliki niat tidak baik pada Alexa, sebelum akhirnya ia bisa lepas dari semua kepahitan itu.
“Apa dia melihat ku?” Alexa terlihat gelisah.
“Aku tidak tahu pasti, tapi sepertinya Rey tidak melihat keberadaan mu.”
Alexa menarik napas dalam, gadis itu terlihat lebih tenang setelah Leon berkata demikian. Tanpa ragu, Alexa langsung mendorong beberapa mangkuk kecil ice cream ke hadapan Leon. Ia tersenyum lebar, menunjukkan deretan gigi putihnya pada pria itu.
“Apa kamu memesan semua ini untuk ku? Aku tidak menyangka kamu akan bersikap romantis di kencan pertama kita,” tukas Leon.
“Kenapa tidak? Bukankah semua ini kamu yang akan membayarnya?” Alexa mengerling nakal, kemudian di susul tawa kecil yang begitu indah.
“Jangan tersenyum seperti itu!”
“Eh... Kenapa? Apa yang salah memangnya?”
“Melihat senyum mu yang seperti itu, aku bisa meleleh... Sama seperti ice cream ini,” tunjuknya pada satu mangkuk ice cream coklat dan memasukannya ke dalam mulut.
Alexa terdiam dan mencerna perkataan Leon.
Tidak lama kemudian tawa nya pecah, membuat kegaduhan dan memancing rasa penasaran semua pengunjung kafe tersebut. Ia baru menghentikan tawanya saat Leon meletakkan jari terlunjukknya pada bibir gadis itu.
“Wajah sama gaya kamu nggak cocok buat gombal, Leon.”
Leon hanya tertawa pelan dan mereka kembali menyendok ice cream ke dalam mulut mereka. Sesekali Leon menyuapi Alexa, pun sebaliknya. Leon dan Alexa terlihat layaknya sepasang kekasih, hubungan keduanya terlihat hangat dan membuat seseorang iri dengan kebersamaan mereka.
Di luar dugaan, kebersamaan mereka ternyata terus di awasi oleh Reyhan dalam mobilnya. Pria itu benar-benar tidak menyangka jika akan kembali melihat kedua adik tirinya dalam waktu yang bersamaan. Bahkan keduanya terlihat sedang mengumbar kemesraan mereka di depan umum.
Tangannya kembali mengepal kuat melihat hal itu. Beberapa tahun yang lalu, Rey menaruh hati pada Alexa. Tapi gadis itu menolak dengan dalih mereka adalah keluarga dan tidak baik jika mereka menjalin hubungan.
Tapi lain Alexa, lain pula Rey.
Mereka berdua memiliki isi kepala dan pemikiran yang berbeda. Rey tidak ingin mendengar alasan apapun dan otaknya bodohnya itu berakhir dengan rencana busuk. Rumah mereka sepi setelah satu minggu ayah mereka meninggal. Saat itu, Alexa masih berkabung dan lebih banyak berdiam diri dalam kamarnya.
Sedangkan Lingga, wanita itu sedang mengurus semua pemindahan aset atas nama Alexa menjadi namanya, tanpa sepengetahuan gadis itu. Rumah besar itu sepi, bahkan saat ini para maid juga ikut berkabung dan mereka hanya diam di rumah belakang, memikirkan nasib mereka.
“Al... Apa kamu di dalam?” Rey berdiri di depan pintu kamar Alexa.
Ceklek...
Pintu kamar terbuka, menampakkan wajah cantik dengan mata merah dan sembab. Gadis itu masih berkabung.
“Apa kakak boleh masuk?”
“Silahkan kak, ada perlu apa kak?”
Rey tidak menjawab. Ia justru menepuk tempat kosong di sampingnya, meminta Alexa untuk duduk di dekatnya.
“Aku di sini saja kak,” tolaknya halus. Alexa memilih duduk di sofa panjang yang ada dalam kamarnya. Ia merasa tidak nyaman jika harus berdekatan dengan kakak tirinya itu.
Rey akhirnya mendekati Alexa. Dengan begitu percaya diri, ia merangkual pundak adiknya itu dan berkata dengan lembut, menggunakan perannya sebagai seorang kakak yang begitu peduli dengan kesedihan yang dirasakan adiknya.
Diam-diam, Rey mengambil kesempatan dalam kesempitan. Dengan berani, Rey menyentuh Alexa pada tempat yang tidak seharusnya. Gadis itu mendorong dengan sekuat tenaga dan menangis. Tapi Rey terlanjur sangat menginginkan adik tirinya itu dan Ia tidak akan mundur lagi.
Alexa tetap melawan. Sampai akhirnya Rey berakhir di rumah sakit dengan luka di kepala, hasil karya Alexa yang memukulnya dengan pas bunga yang cukup besar.
Setelah itulah semuanya terbongkar. Lingga ingin menjual Alexa dan merebut semua kekayaan miliknya. Tapi gadis itu terlalu beruntung karena sekarang Ia berakhir di tangan pria seperti Leon.
***
“Dulu kamu menolak ku, Al! Tapi sekarang kau justru bersamanya.”
Rey tidak rela jika Alexa bersama Leon. Ia benci melihat hal itu. Tapi untuk saat ini Ia tidak bisa berbuat apapun. Dengan cepat Ia mengeluarkan ponselnya, untuk menghubungi Lingga.
Percakapan mereka berlangsung cukup lama. Rey merasa tidak ada titik temu dengan obrolan mereka, sampai Ia memutuskan sambungan tersebut.
“Apa yang mama katakan? Alexa sudah tidak menguntungkan lagi! Apa mama tidak memikirkan perasaan ku?” katanya kesal dengan perkataan Lingga yang tidak peduli saat mendnegar nama gadis Alexa.
Tidak ingin berlama-lama melihat kebersamaan kedua adik tirinya, Rey akhirnya pergi meninggalkan tempat tersebut. Tapi bukan berarti Rey akan membiarkan semuanya begitu saja.
Rey kembali menghubungi anak buahnya. Ia ingin tahu dimana Alexa tinggal dan setelah ia tahu dimana gadis itu tinggal, Ia akan menyusun rencana kembali untuk mendapatkan apa yang di inginkannya.
“Kita akan hidup bersama lagi, Alexa ku tercinta.”