Bab IV

2168 Kata
Hari-hari berlalu, Ken menjalani semuanya masih dengan terpaksa. Dia memutuskan untuk tidak mengambil ekskul apapun, karena memang tidak ada yang menarik minatnya. Dia berangkat dengan Pak Soni, kadang juga Zafran datang untuk memberinya tumpangan. Pertemanannya dengan Wina dan Zafran masih berjalan baik, hanya mereka berdua teman dekat Ken. Sudah banyak juga perempuan yang menyatakan cinta padanya, tapi Ken menolak mereka halus. Dia sudah diberitahu oleh Kakaknya bagaimana cara menolak cinta agar tidak menyinggung perasaan orang lain. Zafran tidak heran, Ken itu memang paket lengkap, selain tampan, dia juga blasteran Jepang, sudah pasti hampir seluruh siswi di sekolah menyukainya, termasuk Wina, pujaan hati Zafran. Weekend ini Zafran sudah berada di rumah keluarga Almachzumi. Ken mengundang sahabatnya itu untuk main, karena Ken bosan jika dirumah sendiri, mau pergi keluar dia tidak minat. "Maaf Nyonya, ada teman Mas Ken di luar, bisa saya suruh masuk atau bagaimana ?" Lapor salah satu Security. "Bentar, saya panggilkan Kenichi dulu yah." Sayaka, berjalan ke atas memanggil anak laki-lakinya. Tidak berlama-lama lagi, Ken segera pergi menemui Zafran diluar. "Ken, sumpah baru ini gue dateng ke rumah temen sendiri, ditanya punya kepentingan apa enggak. Huh." Keluh Zafran. "Hehe maaf, jangan tersinggung. Semua orang yang datang kesini selalu diberi pertanyaan yang sama. Yaudah deh, masuk fran parkir motornya di garasi aja." Zafran membawa motornya menuju tempat yang ditunjukan oleh Ken, melihat isi garasi rumah ini, Zafran cuma mengelus d**a sabar, motornya tidak akan ada harganya untuk sedikit nyempil di pojokan. Zafran termasuk dalam keluarga yang berkecukupan, namun tingkat kekayaan Ken sangat jauh berbeda, dia ini masuknya sultan. Mereka kini menunggu Wina datang, gadis itu memaksa ikut saat tahu Zafran akan berkunjung. Karena yang ditunggu belum juga menampakkan batang hidungnya mereka berdua akhirnya langsung kamar Ken, Zafran sudah tidak sabar untuk mencicipi gitar mahal milik Ken.Dia tak lupa menyalami Mama dan Papa Ken, dan disinilah mereka, setelah menutup pintu rapat-rapat Ken dan Zafran mulai menyetel gitar, keduanya memiliki selera musik yang sama, beberapa lagu Laruku sukses mereka mainkan meskipun tanpa vokal. "Ken, kenapa kita gak bikin Band aja ya. Hitung-hitung menyalurkan hobi ?" Kata Zafran. "Hemm, boleh aja sih. Harus cari vokalis yang bagus tapi yah. Aku perfeksionis kalau soal musik." Jawab Ken dengan entengnya. "Wina suaranya bagus loh Ken. Gue udah lama kenal dia, tapi gue gak yakin kalau dia mau nyanyi lagu Jepang." Sementara itu di luar Wina ternyata sudah datang, gadis itu sudah menelpon Zafran maupun Ken bergantian tapi tak kunjung mendapat jawaban, saat ini dia ditahan oleh petugas security rumah, "Pak tolong, ini Kenichi gak angkat telepon dari saya pak." Cecar Wina. "Maaf nona, jangan tersinggung. Ini sudah peraturan dari tuan Almachzumi. Sebaiknya nona coba sekali lagi ya, saya tunggu teman saya dulu, biar langsung disampaikan langsung ke Tuan dan Nyonya Almachzumi." Wina yang sudah kesal menjadi semakin kesal saja, dia juga baru tahu kalau sesusah ini untuk masuk ke rumah Ken. Mungkin Wina lupa kalau keluarga Almachzumi adalah salah satu orang paling kaya di Indonesia. Lamunan kekesalan Wina buyar saat sebuah mobil membunyikan klakson dengan keras. Si pengendara mobil itu berhenti dan menghampiri Wina. "Win, Wina kan yah ? Temennya Ken ?" "Eh Kak Alea, iya kak. Ini aku gak dibolehin masuk sama bapak Security." "Pak, Wina biar masuk sama saya ya. Bisa tolong bukain pintu gerbangnya sekalian Pak." "Kami minta maaf ya Non, soalnya udah prosedurnya Non." Jawab bapak itu sembari membukakan pintu gerbang. Alea mengangguk paham, Wina akhirnya bisa masuk bersama dengan Alea. Wina menatap takjub, bagaimana tidak dia baru saja melihat isi garasi rumah keluarga Almachzumi, deretan mobil sport nan mahal memanjakan matanya, ditambah koleksi moge yang berjejer rapi. "Udah belum liatin mobilnya ? Kalau sudah ayo masuk !" "E-eh, Maaf Kak." Alea terkekeh melihat tingkah Wina, menurut Lia hal ini biasa saja, tapi bagi orang lain pasti akan menatap dengan mata berbinar. Mata Wina memandangi tiap sudut bangunan dari rumah ini, desain mewah nan elegan terpahat sempurna di setiap sudutnya. d******i warna putih dan perak pada temboknya, lantai marmernya yang mewah, serta puluhan hiasan yang makin menambah kesan mewahnya. "Assalamualaikum, Ma, Pa." Alea menyapa mama dan papa nya di ruang santai keluarga. "Waalaikumsalam. Gimana udah beres kerjaannya sayang ?" "Alhamdulillah Ma, duh Alea cape nih Ma Pa, oh iya tadi itu diluar ada temennya Kenichi." "Tadi Ken udah ajak temennya masuk, emang ada lagi yang dateng ?" "Itu Ma, eh kok dia malah bengong. Bentar aku panggil kesini ya ma." Alea kembali menyadarkan Wina dari lamunannya, dia sepertinya begitu mengagumi isi rumah keluarga Almachzumi. "Wina, bengong aja sih. Ayo ketemu Mama sama Papa dulu, nanti gue anter ke kamar Ken." "E-eh iya maafin ya Kak." Sayaka dan Ibrahim melihat Wina yang tengah gugup dengan tersenyum ramah. "A-Aku Wina, salam kenal Om, Tante." "Kamu temannya Ken atau pacarnya Win ?" Pertanyaan itu keluar dari Sayaka. "Mama jangan nanya gitu, lihat dia malu tuh." "Gpp pa, lagian Wina cantik. Cocok kayaknya sama Ken." Wina semakin malu sekarang, untung saja ada Alea. "Mama, Papa, udah yah jangan di interogasi kaya gini, kasian dianya. Aku anterin dia ke kamar Ken gpp Ma ?" "Yasudah silahkan." "Permisi om, tante, saya masuk dulu yah." Setelah itu Lia langsung mengantar Wina, Lia langsung membuka pintu kamar Ken yang tidak terkunci, Ken memang tidak pernah mengunci kamar, bahkan saat tidur sekalipun, pintu kamar itu terbuka dan seisi rumah dikagetkan dengan suara gitar menggelegar, karena Ken dan Zafran memang sengaja menyetel suara dengan volume yang lumayan besar. Lia dan Wina harus menunggu lagu yang mereka mainkan selesai, karena keduanya tidak menyadari kedatangan Lia dan Wina. "KEN, kecilin kenapa, sampe Kakak dateng gak sadar gitu" "Eh Kakak, ada Wina juga." Ken cuma cengar-cengir garing melihat kedatangan Kakaknya dan Wina. "Jahat banget sih, aku gak dibolehin masuk, di telpon juga dua-duanya gak jawab." Keluh Wina. "Maaf ya Wina. Aku terlalu asik main gitar, udah lama gak nemu partner yang pas." Wina masih cemberut kesal, sementara itu Lia sudah pergi meninggalkan adiknya bersama kedua sahabatnya. "Win, lo duduk dulu mendingan, terus itu jus mangga nya diminum. Abis itu ada yang mau kita omongin ke lo." Cetus Zafran. Kali ini Wina menuruti apa kata Zafran, jujur saja dia sedang tidak ingin berdebat. Karena suasana sangat canggung, akhirnya Zafran kembali buka suara. "Win, ngeband lagi yuk. Ken ngajakin, lo mau join gak ?" Wina dan Zafran sebelumnya pernah memiliki Band, tapi seperti biasa ada konflik diantara mereka, jadilah band itu bubar. "Gue gak mau jadi vokalis kalo lagunya Jepang." "Yah Win, gak ada salahnya nyoba lagi kan ?" "Fran, jangan dipaksa. Gpp kok Win kalo gak mau juga." "E-eh enggak Ken, maksud aku gini, aku mau ngeband tapi aku gak mau jadi vokalis, jadi cari vokalis lain gimana ? Aku bisa main Bass atau gitar. Nah si Zafran biarin main drum gitu." "Hemm, tapi aku maunya Zafran main gitar Win. Kamu main bass deh yah. Nanti kita cari drummer sama vokalisnya." "Oke Deh. Kalo tau mau ngeband tadi aku bawa bass aku Ken." Saat sedang asyik berbincang-bincang terkait band, alarm di HP Ken berbunyi, "Eh itu alarm apaan Ken ? Kok sore-sore gini sih." Tanya Wina. "Oh, bentar ya. Udah waktunya Shalat." Sahut Ken yang bergegas meninggalkan Wina dan Zafran. "Fran, gak ikut shalat lu ?" "Hehe, enggak deh Win. Gue keluar aja cari angin dulu. Gak enak berduaan di kamar." Dan tinggal Wina sendiri di kamar Ken, Wina sendiri baru tahu kalau lelaki Indo-Jepang itu ternyata muslim. Ada sedikit raut kekecewaan, mereka berbeda keyakinan, pasti jalan terjal cintanya pada Ken dimulai hari ini. Ah bolehkah Wina berharap. Hampir 30 menit sudah Wina sendirian di Kamar Ken. sudah ada beberapa lagu yang dia nyanyikan untuk menyuarakan kegalauan hatinya. Karena asyik dengan dunianya, Wina tidak sadar Zafran sudah melihatnya sambil diam. "Heh Fran, ngapain ngeliatin gue kayak gitu. Jangan macem-macem lo ya!" Bentak Wina. "Apa Sih Wina, gue cuma terpesona aja, tumben lo main gitar sampe menghayati gitu." Rasanya Wina ingin meninju temannya itu. Zafran pernah mengungkapkan rasa cintanya dulu, jauh sebelum mereka berdua mengenal Ken. Tapi Wina menolaknya, dia hanya ingin terus bersahabat dengan Zafran. Akhirnya Zafran merelakan perasaan cintanya yang bertepuk sebelah tangan, sampai sekarang hubungan persahabatan mereka baik-baik saja. Ken yang sudah selesai ibadah kembali ke kamarnya. Dia melihat kedua sahabatnya itu hanya diam, ya ini sangat terjadi, selama beberapa minggu mereka bertemu entah di sekolah atau dimanapun itu mereka berdua pasti akan berdebat, begitulah pikir Ken. "Hei, Naze ?" "Nani mo arimasen" "O-oh oke. Hmm kita ke rooftop aja sekarang ya. Aku mau bahas Band, biar lebih rileks. Kalian udah bangkitin semangat aku ngeband, kalian nggak bohongin aku kan ?" Zafran dan Wina heran, pasalnya itu adalah kalimat terpanjang yang diucapkan Ken selama mereka mengenalnya. "Ayo Ken. Gue udah dapet calon drummer, tapi vokalis masih belum kepikiran." "Wina ayo. Bawa aja gitarnya, kayaknya kamu lagi asik banget tadi main." Wina mengangguk setuju, lalu mereka bertiga pun naik keatas, para maid pun tak ketinggalan pergi mengantarkan makanan. Sore ini cuaca tidak panas, anginnya juga cukup bersahabat, suasana ini membuat pikiran mereka sedikit jernih dan membuat suasana lambat laun membaik. Ken mulai menyeruput kopinya, dan mulai menyalakan sebatang rokok, inilah kebiasaan buruk Ken. Sejak kejadian itu dia jadi akrab dengan tembakau. Di Jepang tentu saja sangat sulit mendapatkan sebatang saja, tapi disini dia bisa mendapatkannya dengan mudah. Ken mulai menghembuskan asap dan memejamkan mata, pikirannya akan selalu berputar pada kenangan pahitnya di Kyoto. Musim semi yang indah menjadi buruk. "Dulu aku sangat menyukai keramaian, kini keramaian serasa ingin membunuhku. Aku tidak ingin mempercayai siapapun, aku tidak ingin berteman dengan siapapun lagi." Zafran dan Wina reflex menengok ke arah suara Ken. Mereka cukup terkejut melihat Ken sedang asik menghisap rokok. "Ken kamu ngerokok ?" "Iya" Jawab Ken singkat. "Gak sehat Ken. Berhenti !" "Wina nobody perfect. Aku dengan masa laluku, aku hanya ingin kalian menerimaku apa adanya. Kalian adalah teman pertamaku di Indonesia." "Ta-Tapi..." Kalimat Wina terpotong karena Zafran menahannya untuk bicara. Wina pun mengerti maksud Zafran, dan dia tidak bertanya lagi. "Ken, ini calon drummer kita namanya Jack. Anak XI-2. Besok di sekolah kita ketemu dia ya." Ken mengangguk setuju. Mereka kini sedang tertawa bersama, dan terus mengakrabkan diri. Tidak peduli sisi negatif satu sama lain. Senja di Selatan Jakarta menjadi saksi persahabatan mereka yang baru saja tercipta, 3 remaja yang memiliki impian dan jalan kehidupan yang masih panjang. Weekend berlalu dengan menyenangkan bagi Ken, pertama kalinya dia membagi semuanya kepada orang lain selain Kakaknya, memiliki teman yang mengerti dirinya secepat ini tidak ada dalam pikirannya saat tiba di Indonesia. Pagi ini dia bersiap ke sekolah dengan suasana hati yang baik. "Ken, udah lama Mama nggak lihat kamu sebahagia ini deh. Dulu setiap liburan kesini pasti cemberut terus." "Eh, Nani mo arimasen. " "Cowok kok Tsundere." Lia hanya tertawa mengejek, kalau sudah digoda begitu Ken pasti akan malu. "Ken, gimana sekolahnya ? Suka nggak sekolah disini ?" Papanya sekarang bertanya. "Hmm, baik di Jepang atau di Indonesia tidak jauh berbeda. Hanya aku lebih sulit untuk mengejar materi." Balas Ken. "Berjuanglah nak. Papa hanya ingin yang terbaik untuk kamu. Dan mulai hari ini Papa tidak akan memaksamu untuk menjadi seperti Papa. Kamu bebas menjadi apapun yang kamu mau, tapi ada 1 syarat dari Papa." Ucapan Ibrahim sukses membuat Lia serta Sayaka mengalihkan atensi, pasalnya salah satu alasan Ken tidak betah di Indonesia adalah Papanya yang selalu memaksakan kehendak padanya. "Apa syaratnya pa ?" "Kamu harus menikah dengan perempuan pilihan papa." Akibat perkataan itu suasana kembali dingin, tidak ada balasan dari Ken. Bahkan Sayaka enggan untuk sekedar membalas perkataan suaminya itu. "Bagaimana ? Jika kamu setuju maka mulai hari ini Papa akan berhenti memaksamu untuk meneruskan bisnis Papa, dan mendukungmu untuk menjadi apapun yang kamu mau. Lusa kita akan makan malam bersama dengan calon istrimu. Kamu hanya harus menuruti 1 permintaan Papa ini, setelah itu kamu akan bebas." Papanya kembali menegaskan 1 syarat terakhir. "Ken, pikirkan itu nanti saja. Sekarang kamu harus berangkat sekolah." Titah sang Mama. Ken lebih memilih menuruti sang Mama. Dia langsung pamit dengan mama dan papanya. Lia terlihat sedang menyusul Ken dari belakang, "Dek, kita berangkat bareng ya. Kakak mau ngomong sesuatu." "Oke Kak." Ken dan Lia sudah berada di mobil, Lia masih bungkam padahal tadi dia ingin bilang sesuatu pada adiknya. Sampai akhirnya Ken membuka suara lebih dulu, "Kak, mau ngomong apa tadi ?" "Eh, itu kita bisa selesaikan masalah ini bareng-bareng, dulu Kakak nggak bisa berbuat apa-apa sampai kita harus dipisahin sama Mama, sekarang kamu disini, Kakak disini. Jadi Kakak bakalan bantuin kamu, udah kamu tenang aja jangan terlalu dipikirin yah." Tegas Lia. "Arigatou Nee-chan." "Udah jangan manyun gitu ih, nanti adik ipar Kakak nggak suka lagi kalo liat kamu manyun gitu haha." Mobil Lia sudah sampai di depan gerbang sekolah. Ken pun berjalan keluar masih dengan wajah cemberutnya, Lia hanya terkekeh melihat sang Adik yang mudah sekali untuk digoda itu, tapi jauh di lubuk hatinya, dia sangat kesal karena lagi-lagi harus melihat sifat egois dari Papanya, dia sadar kalau dia dan adiknya memiliki tanggung jawab untuk meneruskan bisnis keluarga, tapi dia hanya tidak suka jika Papanya itu terlalu memaksakan kehendak. ~To be Continued~
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN