Sejak aku dibawa oleh Zac dari satu tempat ke tempat lain, ini adalah hari pertama aku menikmati cutiku dan menganggap momen ini adalah liburan yang selalu kuimpikan. Lily benar-benar mengajakku berkeliling pusat kota London, berhenti hampir di setiap taman kota dan terakhir kami berhenti di toko yang diakui Lily adalah miliknya sejak sebelum menikah dengan Wren. Sulit dipercaya kalau dengan suami setampan Wren dan dengan rumah sebesar istana, Lily masih memilih berjualan di toko sederhana ini. Disana aku membantu Lily menjaga toko hingga sore hari sebelum seorang pria datang dan menggantikan kami.
“Tokomu bagus.”ujarku saat Lily selesai Melayani seorang pembeli lagi sebelum bersiap untuk pulang.
Lily tersenyum. “Terima kasih. Ini satu-satunya yang benar-benar milikku.”sahutnya ringan.
“Maksudnya?”
“Semuanya yang kau lihat di Acasa Manor adalah milik Wren. Aku tidak mengeluarkan uang sedikitpun untuk satu barangpun di rumah itu. Satu-satunya yang menjadi milikku hanya toko ini.”jelas Lily cepat.
Aku mengangguk paham dan mengikuti Lily berjalan keluar toko. “Apa dia pekerjamu?”tanyaku begitu kami masuk ke dalam mobil, bersiap untuk pulang.
“He eh, salah satu pegawai Wren yang ditempatkan di tokoku.”sahutnya ringan. “Apa kau senang hari ini?”tanya Lily kemudian.
Aku mengangguk cepat. “Hari ini adalah yang terbaik dari hari-hari sebelumnya. Aku tidak lagi merasa terkurung. Terima kasih.”ucapku tulus. “Kau benar-benar beruntung, Lily.”
“Kenapa?”tanya Lily bingung.
“Kau memiliki apa yang diimpikan para wanita. Suami tampan dan mempesona, rumah Layaknya istana, dan kehidupan pernikahan yang harmonis.”ujarku blak-blakan.
Lily tertawa lembut. “Kau orang pertama yang mengatakan itu padaku, Gabby. Kau tahu, ya, aku benar-benar bersyukur karena Tuhan memberikan Wren untukku. Aku sangat mencintainya walau kami selalu bertengkar karena masalah itu. Untuk rumah... Percayalah, aku lebih suka rumah yang kecil, dengan beberapa kamar untuk teman-temanku berkunjung, dengan halaman yang luas. Bukan rumah sebesar museum yang memiliki lebih dari selusin kamar dengan halaman sebesar lapangan terbang. Dan masalah kehidupan pernikahan kami... Itu yang membuatku tertawa kau tahu... Hari-hari kami jauh dari kata harmonis. Wren bisa menjadi orang yang sangat keras kepala kadang-kadang, dan dibutuhkan tekad baja untuk melawannya saat itu. Percayalah, semua yang pernah tinggal lebih dari seminggu bersama kami akan mengatakan kalau kami terlalu sering bertengkar daripada pasangan suami istri manapun.”
“Tapi aku bisa melihat kalau Wren mencintaimu.”
“Kau pasti tidak mendengarkanku, ya? Itu hampir selalu menjadi masalah bagi kami. Kau tahu kenapa? Karena Wren selalu berkeras kalau dia lebih mencintaiku daripada aku mencintainya.”
“Kau serius? Hanya karena itu kalian bertengkar?”
“Aku tidak pernah berbohong.”bisik Lily dengan wajah serius.
Aku merengut. “Kau pasti menggodaku.”bisikku pelan.
Lily tersenyum. Tapi senyum itu menghilang dengan cepat saat dia mencondongkan tubuhnya ke depat dan berbisik pada supir yang mengemudikan mobil. “Jangan langsung pulang, kita berkeliling dulu, Gavriel.”bisiknya tapi aku masih bisa mendengarkannya dengan cukup jelas.
“Apa dia supir pribadimu, Lily?”tanyaku sambil melirik pria yang duduk di balik kemudi. Malam sebelumnya pria itu juga yang duduk di sebelah supir limosin yang kami tumpangin. Tadi pagi dia juga ada di sekitar rumah.
“Gavriel sudah menjadi pengawal pribadiku sejak sebelum aku menikah dengan Wren. Dia yang menugaskan Gavriel untuk menjagaku. Dan aku lebih suka Gavriel yang bersamaku, daripada sekompi penjaga lainnya. Setidaknya Gavriel lebih fleksibel dan mudah di ajak kompromi dibandingkan sekompi pasukan Wren yang benar-benar sesuai prosedur itu. Wren itu perfeksionis untuk masalah keselamatan.”sahut Lily cepat.
“Sepertinya Wren dan Zac cukup Nefenip. Zac juga menempatkan Harvey nyaris seperti bayanganku. Untung saja dia tidak melakukannya saat disini.”
“Hanya itu cara yang mereka tahu untuk melindungi kita dari dunia ini. Dan tidak ada yang lebih baik daripada salah satu dari tiga orang yang selalu menjadi ‘satelit’ Zac itu untuk jadi pengawal.”ujarnya pelan. “Ngomong-ngomong, kenapa kau tidak melawan keinginan Zac? Apa dia memaksa membawamu kesini?”
Aku menggeleng pelan. “Itulah masalahnya. Akulah yang bersedia ikut dengannya walau awalnya diwarnai sedikit kejadian mengejutkan.”ujarku pelan. “Eung, Lily?”panggilku sesaat kemudian.
“Ada apa?”
“Apa Zac punya keluarga?”
“Maksudmu?”
“Tadi pagi aku melihatnya menggendong seorang anak, dan beberapa saat kemudian seorang wanita cantik menghampiri mereka. Mereka bertiga terlihat sangat serasi.”ucapku cepat dan berusaha membuat suaraku sedatar mungkin.
Tiba-tiba Lily terkekeh pelan lalu menyentuh tanganku lembut. “Aku harap kau tidak mengatakan ini di depan Navaro, dia bisa murka kalau mendengarnya.”ujarnya setelah berhenti tertawa. “Zac tidak punya keluarga, Gabby. Bocah yang digendong Zac adalah anak Navaro, dan wanita itu adalah Elizabeth, istri Navaro. Aku tidak sempat mengenalkan mereka padamu karena tadi pagi mereka sudah pulang ke Dragoste Hall sebelum kau turun. Eliza adalah sahabatku dari kecil. Aku lebih suka menganggapnya sebagai saudaraku.”
“Aku tidak tahu. Hanya saja itu pertama kalinya aku melihat Zac tertawa selama seminggu ini. Aku pikir itu anaknya. Dia seperti menjadi orang lain tadi pagi.”
“Tidak. Tapi percayalah, aku juga jarang melihat Zac tertawa selain saat menggoda suamiku. Dan belakangan ini Zac seperti ingin balas dendam pada Wren karena sudah menjebaknya untuk mengurus perusahaan Wren yang di Amerika.”
“Jadi Wren-lah yang dimaksud Zac itu?”
“Apa?”
“Zac pernah bilang kalau dia bisa masuk dalam dunia bisnis karena dijebak oleh temannya. Kalau ceritamu benar, maka Wren-lah yang menjebaknya, bukan?”ujarku cepat. “Rasanya aku paham kenapa Zac bilang kalau dia terpaksa melakukan semua itu.”
“Kau benar. Memang Wren yang melakukan itu. Itu alasannya kenapa Zac semakin sering menggoda suamiku.”gumam Lily sepertinya kesal dengan apa yang Zac lakukan. “Kalau kau tidak keberatan, kita bisa mampir ke Dragoste Hall untuk melihat Axel.”
“Axel?”ulangku bingung.
“Bocah laki-laki yang tadi pagi kau lihat bersama Zac.”
“Tentu saja. Aku akan senang sekali kalau kau mau mengajakku. Aku benar-benar bosan selama ini.”
“Baiklah.”ujarnya ringan. “Kita ke Dragoste Hall, Gavriel.”
“Apa Wren sudah tahu kalau kalian akan pulang terlambat?”tanya Gavriel terdengar cemas begitu mendengar permintaan Lily.
“Aku akan menelpon Wren.”ujar Lily yang langsung mengambil ponselnya dan menelpon seseorang.
Aku tidak mendengarkan apa isi pembicaraan Lily dan memilih untuk menikmati pemandangan pusat kota London yang selalu ramai ini. Hari ini benar-benar yang terbaik sejak Zac membawaku. Setidaknya gerakanku tidak terlalu diawasi dan Lily adalah teman bicara yang sangat menyenangkan. Selalu ada hal yang bisa membuatnya bicara dan aku tidak bosan karenanya.
“Kenapa kau cemberut?”tanyaku begitu menyadari kalau Lily merengut sejak pembicaraannya di telpon dengan suaminya.
“Aku sarankan kau tidak bertanya, Nona.”ujar Gavriel sambil melirik dari kaca spion tengah.
Lily menatapku sejenak sebelum membuang pandangannya ke jendela. “Aku benar-benar ingin mencekik leher laki-laki sialan itu. Bisa-bisanya dia melarangku melihat Axel hanya karena aku sudah seharian tidak berada di rumah! Hanya karena dia suamiku bukan berarti dia berhak melarangku bertemu dengan keponakanku.”geram Lily jelas-jelas kesal. “Aku tidak akan pulang malam ini, Gavriel. Kau bisa mengantarkan Gabby saat dia ingin pulang. Biar laki-laki itu tahu rasa.”
“Lily...”panggil Gavriel pelan. Terlihat sekali kalau dia ingin membawa istri atasannya ini pulang apapun caranya.
“Kita tetap ke Dragoste Hall, Gavriel.”
“Apa Wren memang sering membatasi gerakanmu seperti ini?”tanyaku penasaran. Entah kenapa aku merasa Wren dan Zac itu Nefenip. Sangat Nefenip malah.
“Terkadang. Dan dia tetap juga tidak sadar kalau semakin dilarang maka aku semakin melawan.”gumamnya pelan.
Aku tidak bicara apapun lagi hingga kami tiba di tempat yang bernama Dragoste Hall itu. Aku tidak tahu harus berkata apa. Tadi pagi begitu keluar rumah, aku menyadari kalau Acasa Manor adalah istana yang terlupakan. Terlalu luas dan terlalu megah untuk dihuni oleh bukan keluarga kerajaan Inggris.
Dan kali ini Dragoste Hall. Rumah bertingkat tiga yang seluruhnya bercat putih itu benar-benar megah untuk terletak di tengah kota. Tidak ada halaman yang luas di depannya, hanya sepetak tanah kecil untuk rerumputan dan jalan batu setapak yang menghubungkan trotoar dengan undakan tangga menuju terasnya. Sepasang tiang kembar tinggi besar menjadi gerbang tepat di atas anak tangga terakhir. Dan teras yang seluruhnya terbuat dari kayu berlapis itu melengkapi kesan elegan dan mewah dari rumah itu.
“Kau yakin ini rumah temanmu dan bukannya rumah keluarga kerajaan?”tanyaku spontan. Bukan berarti aku tidak terbiasa dengan kekayaan hanya saja menurutku ini terlalu berlebihan. Rumah sebesar ini lebih cocok untuk dijadikan museum.
Lily langsung tersenyum mendengar ucapanku. Bagus, kebodohanku setidaknya bisa menghilangkan kekesalannya.pikirku, sama sekali tidak menyangka kalau sejak bersama kumpulan orang-orang ini, pikiranku bukan lagi milikku seorang.
Aku baru saja menginjakkan kaki di anak tangga pertama saat pintu ganda besar itu terbuka, wanita yang tadi pagi kulihat bersama Zac berdiri sambil tersenyum cerah dan langsung menghampiri kami, memeluk Lily dan memelukku bergantian.
“Gabby, kenalkan ini Elizabeth, teman yang sudah kuanggap sebagai saudaraku. Aku biasa memanggilnya Eliza. Dan Eliza, ini Gabriella.”ujar Lily ramah sambil memperkenalkan wanita cantik di hadapanku.
Bagaimana bisa wanita ini terlihat begitu cantik dan bersinar?
Eliza memberikanku sebuah senyuman yang sangat menenangkan. Tangannya menggandeng tanganku dan tangan Lily. “Nanti saja mengobrolnya di dalam.”ujar Eliza sambil membawa kami masuk ke dalam rumahnya_atau menyeret lebih tepatnya_dan aku sama sekali tidak mencurigai kelakuannya itu.
Rumah itu benar-benar besar. Tapi ada yang aneh. Tidak terlalu banyak perabotan di dalam rumah itu. Aula depan yang kami masuki pertama kali bahkan tidak memiliki perabotan apapun selain sebuah meja mungil di tengah ruangan tempat vas bunga diletakkan. Di langit-langitnya tergantung lampu Kristal yang sangat besar yang terhubung dengan kubah kaca besar. Selain itu tidak ada lagi benda di aula itu. Barisan tiang besar menghiasi aula itu. Eliza terus mengajak kami berjalan hingga kami memasuki sebuah ruangan yang menurutku cukup normal. Ada satu set sofa kulit putih mewah disana lengkap dengan perabotan lainnya. Di salah satu dinding terdapat perapian yang padam. Tapi aku yakin kalau hanya ruangan itu yang memiliki perabotan lengkap karena ruangan lainnya hampir sama dengan aula depan. Kosong.
“Apa kau baru pindah?”tanyaku spontan, sekali lagi tidak bisa menahan rasa ingin tahuku.
Eliza menggeleng cepat. “Tidak.”sahutnya. “Ah, kau pasti bingung karena tidak banyak perabotan di rumah ini, bukan?”tanya Eliza kemudian.
Aku mengangguk malu karena dia bisa membaca pikiranku dengan tepat.
“Mengisi ruangan-ruangan ini dengan perabotan terbukti sia-sia, Gabby. Menghancurkannya lebih mudah daripada menyusunnya. Suatu saat kau akan mengerti alasannya. Lagipula Axel sedang dalam masa paling merepotkan. Dulu rumah ini memiliki lebih banyak perabotan, tapi karena suatu masalah, harus diadakan renovasi besar-besaran dan aku memutuskan kalau perabotan itu tidak cocok dengan konsep saat ini.”ujarnya ringan. “Maaf kalau tadi pagi aku tidak sempat menemuimu. Aku dan Navaro sudah ada janji lebih dulu. Aku senang sekali kau mau menyempatkan diri mengunjungi kami.”
“Aku akan melakukan apapun untuk bisa keluar dari rumah itu.”ujarku cepat. “Ah, maaf, Lily. Bukan rumahmu yang kumaksud, tapi suasana yang membuatku terkurung selama ini.”ralatku kemudian.
Lily memberikanku sebuah senyum tulus yang pengertian sebelum menatap Eliza. “Ngomong-ngomong tentang Axel, dimana bocah tampan itu?”tanya Lily sambil mengedarkan pandangannya ke sekeliling ruangan, mencoba mencari keberadaan si bocah yang menjadi topik pembicaraan.
“Oh, Navaro sedang membawanya jalan-jalan bersama Lu...”
“Kami pulang!”seru sebuah suara dari arah pintu belakang. Dua orang pria tampan berjalan masuk. Salah satunya yang berambut pirang kecoklatan_hampir seperti rambut Zac_menggendong seorang bocah laki-laki yang sangat tampan.
Bagaimana mungkin di dunia ini ada pria-pria tampan seperti mereka yang berkumpul di satu tempat dan saling mengenal satu sama lain? Wajar rasanya kalau ada tempat dengan jumlah laki-laki berwajah biasa-biasa saja lebih banyak daripada yang mempesona seperti kedua pria ini.
“Apa yang kau lakukan disini?”tanya Lily dan pria yang satu lagi bersamaan.
Sepertinya Lily dikenal oleh banyak orang.
“Aku hanya mengunjungi Navaro mengingat dia sudah punya anak.”sahut pria berambut hitam itu. Wajahnya memang tampan, tapi entah kenapa aku yakin kalau akan sangat berbahaya berdekatan dengannya. Naluri pertamaku adalah untuk tidak mendekati pria itu apapun alasannya.
“Ah, Gabby.... Kenalkan, ini suamiku, Navaro dan ini pria paling tampan dalam hidupku, Axel.”ujar Eliza sambil menggandeng suaminya penuh kasih. “Dan dia adalah Lu...”
“Luke! Sepupuku.”tukas Lily cepat.
Aku mengangguk cepat. “Pantas saja kalian terlihat Nefenip.”ujarku jujur. Lily dan Luke memang terlihat sangat Nefenip untuk ukuran sepupu. “Boleh aku menggendong anakmu?”tanyaku pada Eliza kemudian.
Eliza mengangguk sambil menyerahkan Axel ke dalam pelukanku saat Lily menarik Luke menjauh. Aku tidak tahu apa yang mereka bicarakan, tapi keduanya terlihat serius. Belum selesai mereka bicara, sebuah suara kembali mengejutkan kami.
“Sepertinya ada tamu yang tidak diduga disini.”
Aku berbalik untuk melihat siapa pendatang baru itu saat aku mendapati Wren-lah yang berjalan memasuki Dragoste Hall dengan santainya seolah dia memasuki rumahnya sendiri. Di belakangnya aku menyadari kalau Zac juga ada disini. Dan pria itu bahkan tampak lebih mendominasi tempat ini dengan tubuh jangkunya dibanding tiga pria lainnya.
*Author POV*
Lily menarik Lucifer sejauh mungkin dari jarak pendengaran Gabriella. “Apa yang kau lakukan disini sebenarnya, Dad?”tanya Lily kesal karena Lucifer selalu datang tanpa pemberitahuan.
“Mengunjungi Navaro, sayangku.”sahut malaikat kegelapan itu senang, karena dia jarang sekali mendengar putrinya memanggilnya dengan sebutan ‘dad’. “Dan kenapa kau mengenalkanku sebagai sepupumu? Kita jelas ayah dan anak.”
“Demi Tuhan! Manusia mana yang bisa percaya kau adalah ayahku? Lihat penampilanmu, Dad! Kau bahkan lebih cocok menjadi kembaranku dibandingkan ayahku, Lucifer.”
“Tapi dia bukan manusia. Jadi dia bisa saja mengerti kenapa aku tidak terlihat tua.”ujar Lucifer santai, dan memang itulah yang membuat Lucifer dijuluki malaikat kegelapan selain kenyataan kalau dia adalah malaikat yang dibuang. Lucifer memiliki bakat alami mempesona manusia untuk mengambil jalan yang sesat bahkan hanya dengan melihat wujudnya.
Lily membelalakkan matanya. “Apa kau bilang, Dad? Gabby bukan manusia? Aku tidak merasakan apapun darinya!”geram Lily.
“Percayalah sayang. Wanita itu bukan manusia. Aku tidak mungkin salah.”
“Kalau begitu siapa dia?”
“Werewolf.”sahut Lucifer tepat saat seseorang melangkah masuk dan bergabung dengan mereka.
“Sepertinya ada tamu yang tidak diduga disini.”ujar Wren sambil melangkah masuk diikuti oleh Zac dibelakangnya.
“Suamimu selalu bisa memilih waktu yang tepat.”bisik Lucifer pelan, “Apa kabar, Wren? Sudah lama sejak kunjungan terakhirku ke sini.”sapa Lucifer ramah.
Belum sempat Wren merespon Lucifer, semua yang ada di ruangan itu terdiam. Mereka semua merasakan sesuatu yang berbahaya. Dan hal itu membuat semuanya langsung waspada. Orang pertama yang memecah keheningan menegangkan itu adalah Lucifer.
“Aku masih merindukanmu dan ingin mengobrol lebih lama denganmu, sayangku. Tapi sepertinya harus ada seseorang yang mengatasi masalah di luar. Nikmati kunjunganmu, sayang.”bisik Lucifer sebelum meraih Lily ke dalam pelukannya dan disaat yang sama Lily kembali merasakan sensasi itu. Sensasi yang selalu muncul saat Lucifer memberikan energinya pada Lily. “Aku harus segera pergi. Selamat malam semuanya.”ujar Lucifer setelah melepaskan pelukannya pada Lily dan kemudian berjalan keluar.
Sedetik kemudian, setiap makhluk non manusia yang berada dalam jarak beberapa mil dari Dragoste Hall pasti akan merasakan kekuatan menyesakkan itu. Kekuatan yang akan membuat gemetar malaikat-malaikat biasa dan membuat makhluk non manusia lainnya melarikan diri. Beruntung mereka berada di dalam Dragoste Hall dan tidak terlalu merasakan efek kekuatan Lucifer yang dengan sengaja dilepaskan ke udara untuk menutupi jejak dan keberadaan Lily dan Gabriella di Dragoste Hall. Tapi walaupun mereka tidak terkena dampak kekuatan Lucifer, Eliza yang paling baru mendapatkan kekuatannya terpengaruh cukup banyak. Pasangan Navaro itu jatuh terduduk dengan napas tersengal. Keringat mengalir di seluruh tubuhnya hingga membuat pakaiannya basah. Navaro terlambat menyadari keadaan istrinya itu langsung melesat menghampiri Eliza dan mengutuk tindakan Lucifer tadi.
“Sialan dia.”geram Navaro sambil memeluk Eliza. Satu tangannya merengkuh tubuh istrinya sementara tangan yang lain ditekankan ke d**a Eliza, mengalirkan energi kekuatannya untuk membuat Eliza pulih.
“Apa yang terjadi?”tanya Gabriella cemas. Ketakutan jelas terlihat di kedua matanya karena dia tidak tahu apa yang sedang terjadi saat ini.
Lily menghampiri Gabriella dan menyentuh bahunya lembut. “Tidak ada apa-apa. Eliza hanya sedikit sesak. Dia punya penyakit asma.”ujar Lily lembut.
“Dia tidak harus melakukan itu. Dia bisa mengalihkan perhatian saja dan bukannya melepaskan tekanan seperti itu.”geram Navaro lagi saat napas Eliza sudah mulai normal. “Tidak ada yang bisa menyentuh siapapun di rumah ini tanpa kuundang. Dia tahu itu.”
“Menggertak bukan caranya bergerak, Navaro. Tenang saja, dia sudah memikirkan batasannya. Dia suka memberi kejutan.”ujar Wren tenang. Tapi ketenangan itu hanya bertahan beberapa detik saat matanya menangkap gerakan Lily yang sempoyongan.
Dengan satu gerakan mulus Wren sudah berada disisi Lily dan membantu istrinya itu agar tetap berdiri. “Apa dia melakukannya lagi?”tanya Wren pelan.
Lily mengangguk pelan. Matanya mulai terpejam saat serangkaian umpatan kotor meluncur dari mulut Wren yang langsung mendapat teguran dari Navaro. “Coba saja kalau kau masih bisa tenang.”gumam Navaro yang sudah membantu Eliza untuk bangkit dan mencoba berdiri.
“Apalagi yang terjadi sekarang? Ada apa dengan Lily?”tanya Gabby semakin bingung dengan apa yang terjadi.
“Tidak ada. Dia hanya kelelahan. Itu alasannya kenapa aku selalu meminta dia langsung pulang setelah bekerja.”sahut Wren dengan kekesalan tergambar jelas dalam setiap kata yang diucapkannya.
Dan baru saja Wren selesai bicara, Lily jatuh pingsan dalam pelukannya. SerangAleandro makian kembali keluar dari mulut Wren saat dia membopong istrinya itu. “Aku akan pulang. Kau bisa pulang dengan mobil Lily, Zac.”ujar Wren sebelum melangkah keluar dari Dragoste Hall.
*Zac POV*
“Bisakah aku minta tolong pada kalian?”
Suara Navaro berhasil menarik perhatianku. Sejak aku masuk ke Dragoste Hall, hal pertama yang membuatku takjub adalah pemandangan Gabriella sedang menggendong Axel. Dan sekali lagi sejak Axel lahir, ingatan akan Kean memenuhi pikiranku.
“Apa?”tanyaku cepat, berusaha menekan amarahku karena ingatan akan Kean dan Aloysia.
“Aku harus membawa Eliza kembali ke kamar dan memastikan dia baik-baik saja. Sementara itu tolong jaga Axel. Ini sudah saatnya dia tidur, bawa saja dia ke kamarnya dan baringkan dia. Mungkin dia bisa segera tertidur kalau salah satu dari kalian bersedia bernyanyi untuknya mengingat Eliza selalu bernyanyi sebelum dia tidur.”ujar Navaro sambil memapah Eliza agar bisa berdiri.
“Aku akan melakukannya. Tunjukkan saja dimana kamarnya.”tukas Gabriella sebelum aku sempat merespon apapun.
“Naik tangga kamar belok kanan, kamar kedua.”ujar Navaro cepat lalu segera membawa Eliza menaiki tangga menuju kamar mereka.
Gabriella berbalik menatapku. “Apa kau akan ikut denganku?”tanyanya pelan.
“Tidak. Aku akan menunggu disini.”sahutku cepat lalu menghempaskan tubuhku di sofa panjang yang ada di sana.
Gabriella mengangguk sebelum ikut menaiki tangga menuju kamar Axel. Aku ingin sekali menidurkan Axel sendiri, tapi ada Gabriella bersamanya. Pemandangan Gabriella menggendong Axel sudah cukup membuatku teringat kembali kenangan itu.
“Sialan.”geramku sambil berusaha menahan aliran kekuatanku agar tidak membuat kerusakan di rumah sang malaikat ini.
Aku berusaha mengusir kenangan tentang Kean dan Aloysia dengan memikirkan apa yang baru saja terjadi. Aku tidak tahu harus berterima kasih atau tidak pada Lucifer atas apa yang telah dilakukannya barusan. Tidak lama setelah kami datang, ada hawa keberadaan werewolf yang melintas tepat di depan Dragoste Hall. Terlalu aneh untuk suatu kebetulan mengingat Wren mendapat laporan dari Gavriel kalau ada werewolf lain yang mengikuti mereka sejak mereka keluar dari toko Lily.
Apa mungkin dia sudah tahu?
Wren memang sudah meyakinkanku kalau Nefen dan Lorenz tidak mengetahui apa tujuan Wren mencari tahu tentang Gabriella. Tapi bukan tidak mungkin kedua werewolf bersaudara itu mencari tahu sendiri kenapa Wren tertarik dengan calon ratu mereka. Aku tahu kalau Nefen dan Lorenz bisa dibilang werewolf pemberontak mengingat mereka menjalin hubungan baik dengan Wren. Ralat, hanya Nefen yang menjalin hubungan baik dengan Wren, sedangkan adiknya Lorenz, sudah berhasil membuat kesabaran Wren mencapai batas akhir dengan mencoba mendekati Lily. Aku tidak pernah bertemu werewolf yang lebih bodoh atau terlalu berani seperti Lorenz.
Dua tahun lalu setelah Wren menepati janjinya untuk menjamin keselamatannya, Lorenz akhirnya berhasil menemukan saudaranya yang ternyata adalah Nefen. Wren juga memperingatkan Lorenz tentang obsesinya terhadap Lily. Tapi itu hanya bertahan beberapa minggu. Setelah Nefen melepaskan Lorenz untuk membentuk kawanannya sendiri, sesuai janji Wren pada Nefen, Lorenz kembali mencoba mendekati Lily. Saat itu hampir saja pecah perang antara werewolf dan vampir kalau saja Wagner tidak turun tangan dan menghukum Lorenz sendiri. Dan Wren benar-benar mengeluarkan perintah agar siapapun klannya yang melihat Lorenz mendekati Lily harus membunuh werewolf itu langsung di tempat.
Tapi masalah tidak berhenti sampai disitu. Setelah masalah dengan Lorenz selesai dan werewolf itu akhirnya menyadari kalau mendekati Lily hanya akan berujung pada neraka, Wagner-lah yang membuat masalah. Sejak perjanjian kuno disahkan, Inggris sudah menjadi teritori Wren. Makhluk non manusia selain ras kami yang melintasi Inggris atau akan mendiami Inggris harus meminta izin dari sang pemilik teritori, dan itu berlaku untuk semua daerah dan semua ras non manusia. Tapi Wagner menganggap tidak penting meminta izin Wren atau vampir manapun di semua tempat yang kami kuasai karena dia menganggap dirinya cukup kuat untuk merebut teritori itu. Dia berpikir kalau raja sebelum dirinya terlalu bodoh hingga mau mematuhi isi perjanjian yang merugikan ras mereka. Karena itu di bawah kepemimpinannya, Wagner mencoba memberontak.
Itulah yang menjadi masalahku. Banyak protes yang diajukan tentang tindakan Wagner itu. Sebagai raja werewolf dia memang berhasil merebut paksa beberapa teritori tanpa duel resmi yang diizinkan para Oracle. Dan sepertinya daerah yang menjadi target terbarunya adalah Inggris mengingat kawanan werewolf di Inggris adalah yang paling besar dibandingkan tempat lain. Wagner menganggap itu sebagai bukti kalau Inggris tidak lagi berada di bawah kekuasaan ras-ku sepenuhnya. Dan untuk itu aku bisa menyalahkan Wren dengan semua sifat baiknya yang dengan mudah memberikan izin pada para anjing itu untuk membentuk kawanan baru.
Kalau pertemuan dengan para Oracle nanti tidak berjalan mulus, itulah saatnya Gabriella muncul. Wagner pasti akan melakukan apapun untuk mendapatkan kembali calon ratunya itu walau aku tidak tahu pasti kenapa Wagner lebih memilih menjadikan Gabriella_yang tidak bisa berubah menjadi serigala_sebagai ratunya dibandingkan werewolf lain yang jelas bisa berubah.
“..ris? Zac?”panggil sebuah suara berhasil menarikku kembali pada kenyataan.
Aku mencari si pemilik suara dan mendapati Gabriella sudah berdiri di depanku. Bahkan setelah insiden pamer kekuatan Lucifer, dia terlihat ceria. Mungkin hari ini benar-benar membuatnya merasa bebas dibandingkan seminggu yang telah dijalaninya. “Axel sudah tertidur?”tanyaku pelan.
Gabriella mengangguk. “Apa kita akan menunggu Navaro turun dulu baru pulang atau tidak?”
“Kalau kau memang sudah ingin pulang, kita bisa pulang, tidak perlu pamit. Navaro pasti tahu.”ujarku cepat.
“Kita pulang saja. Aku lelah sekali, dan rasanya aku butuh istirahat kalau besok masih ingin berkeliling bersama Lily.”ujarnya bersemangat.
Aku bangkit dan menggenggam tangannya, menariknya agar mengikutiku keluar dari Dragoste Hall. “Lily besok tidak akan bisa keluar rumah.”ujarku pelan saat menunggu Gavriel membukakan pintu mobil untuk kami.