“Kenapa? Apa dia benar-benar parah?”tanya Gabriella terdengar cemas.
“Tidak. Hanya saja biasanya Wren, maksudku Wren tidak akan membiarkan Lily keluar rumah setelah pingsan seperti tadi. Wren selalu memastikan kalau Lily benar-benar sudah sehat sebelum mengizinkan istrinya itu keluar.”ujarku yang entah mengapa merasa perlu menjelaskan kalau Lily tidak akan bisa pergi bersamanya besok. “Tapi kalau kau memang ingin keluar, aku bisa menemanimu.”
“Aku hanya ingin keluar besok malam. Lily bilang ada acara di Kensington Garden, di dekat Albert memorial. Aku belum pernah ke London sebelumnya karena itu aku ingin sekali melihat acara apa itu.”ujarnya terdengar ragu.
“Baiklah, aku akan menemanimu besok malam.”
Gabriella terdiam. Matanya menatap pemandangan di luar mobil. “Aku iri dengan Lily.”bisiknya pelan.
“Apa maksudmu?”
“Wren jelas sekali sangat mencintai Lily. Segalanya yang Wren lakukan jelas hanya untuk Lily. Bahkan saat mereka bertengkarpun mereka tetap membuat iri siapapun. Memiliki suami seperti Wren, teman-teman seperti Eliza dan Navaro, aku rasa bahkan tanpa semua kekayaan yang dimilikinya, Lily pasti sudah bahagia.”ucapnya lirih, sekilas aku melihat air mata di pipinya.
“Aku tidak pernah iri pada siapapun saat kedua orang tuaku masih hidup. Mereka melimpahiku dengan cinta. Tapi kini saat mereka sudah tiada, aku benar-benar iri dengan Lily. Mungkin aku memang memiliki tunangan, tapi aku tidak mencintainya. Kami tidak pernah berkencan. Dia hanya menemuiku tiga bulan sekali, dan akhir minggu ini seharusnya aku akan bertemu dengannya kalau kau tidak membawaku pergi. Wagner adalah satu-satunya harapanku untuk membangun keluarga walau aku tidak yakin bisa membangun keluarga seperti yang orangtuaku lakukan.”
“Gabriella...”panggilku pelan, menunggu dia berbalik menghadapku.
“Apa?”tanyanya serak saat menatapku dengan mata berair.
Aku mengulurkan tanganku padanya. Dan dia langsung menghambur ke pelukanku. Menangis disana. Aku tidak tahu harus mengucapkan apa. Aku tahu perasaannya, karena itu juga yang aku rasakan. Hanya saja bukan iri pada Lily ataupun Wren, tapi pada Navaro. Melihat Navaro, Eliza dan Axel mengingatkanku pada keluarga yang kumiliki dulu. Berbeda dengan Wren atau Aleandro yang memiliki istri tidak sepenuhnya manusia sehingga tidak bisa memiliki anak, Aloysia dulu adalah manusia sepenuhnya, karena itu kami bisa memiliki anak. Bahkan setelah melahirkan Kean, Aloysia tetap berkeras untuk menjadi dirinya sendiri, makhluk fana. Dan keputusan Aloysia itulah yang membuatku harus kehilangan dirinya dan Kean.
“Terima kasih.”bisik Gabriella pelan.
“Untuk apa?”tanyaku sambil mengelus punggungnya, menolak untuk melepaskannya.
“Terima kasih karena sudah mengerti aku. Kau selalu ada saat suasana hatiku sedang buruk sepanjang minggu ini. Terkadang aku berharap kalau kau adalah tunanganku, bukan Wagner. Kau sangat baik walau terkadang cukup arogan.”
Aku mengecup puncak kepala Gabriella sebelum menjauhkannya dan memaksanya menatapku. “Percayalah, baik adalah sifat terakhir yang akan diberikan orang padaku.”bisikku pelan.
“Benarkah? Lalu kau sebut apa semua tindakanmu selama ini padaku?”tanya wanita itu pelan, yang entah mendapat keberanian darimana mengangkat tangannya untuk menyentuh wajahku.
Aku menekankan wajahku ke telapak tangannya kemudian mengecup tangannya. “Jangan mempercayaiku sejauh itu, luv.”bisikku sambil meraih tangannya dan memberikan kecupan-kecupan ringan di telapak tangannya dan berpindah ke wajahnya.
Bibirku akhirnya menemukan bibirnya. Aku melumat bibir itu, menikmati rasa manisnya perlahan-lahan. Tangan Gabriella sudah berpindah ke rambutku dan menahan kepalaku agar tidak berhenti menciumnya. Tubuhnya menempel di tubuhku dengan sangat sempurna, seakan dia memang diciptakan hanya untukku. Aku ingin sekali melakukan lebih dari sekedar ciuman sopan, tapi saat ini kami sedang berada di mobil dan ada Gavriel di depan yang sedang menyetir. Karena itu aku harus cukup puas dengan bisa memeluk dan menciuminya saja. Dengan hembusan napas panjang, aku meletakkan kepalaku dibahunya, mengecup lembut lekukan di pangkal lehernya dan menahan diriku sendiri agar tidak menancapkan taringku di tempat yang paling menggoda itu.
“Zac?”panggil Gabriella parau dan semakin mempersulit posisiku saat ini.
“Tidak sekarang, Gabriella. Aku tidak ingin membiarkan siapapun melihatmu telanjang. Bersabarlah.”bisikku pelan, namun walaupun aku hanya ingin Gabriella yang mendengarnya, aku tahu kalau Gavriel juga mendengarnya.
~*~
“Aku menginginkanmu.”ujar Gabriella dengan keyakinan yang membuatku bahagia begitu kami melanjutkan kembali aktivitas yang sempat tertunda di mobil tadi.
Aku kembali merendahkan tubuhku hingga menyentuh tubuhnya yang sudah telanjang di atas ranjangku. Bibirku menemukan kembali lekukan sensitif di pangkal lehernya, mengecup lembut disana sebelum meluncur menciumi wajah dan berakhir di bibir manis itu. Tanganku memulai penjelajahannya, menelusuri lekuk tubuh mungil itu dan berlama-lama di payudaranya yang mungil tapi sangat pas di tanganku.
Gabriella melengkungkan tubuhnya, mengerang diantara ciuman kami saat aku memijat lembut payudaranya yang indah itu. Dengan perlahan aku melepaskan bibirnya dan mulai memberikan ciuman di sepanjang lehernya hingga bibirku menggantikan tanganku di payudaranya. Gabriella kembali mengerang lembut saat lidahku memainkan puncak merah muda itu. “Zac...”
“Aku tahu.”bisikku lembut saat mengangkat tubuhku untuk menikmati pemandangan yang diberikan oleh tubuhnya yang indah. “Kau siap, luv?”bisikku di telinganya saat tanganku mengangkat satu kakinya dan menempatkan tubuhku diantara kedua pahanya.
Gabriella terkesiap saat tubuhku menyentuh tubuh sensitifnya yang kini sudah basah dan siap menerimaku. “Zac... Aku mohon...”
“As your wish, luv.”bisikku parau dan dengan sekali gerakan menghujamkan tubuhku ke dalam tubuhnya dan membiarkan dia membiasakan diri dengan tubuhku. Aku harus melakukannya dengan pelan_sepelan yang bisa kuusahakan_mengingat dia sangat rapuh.
Dia benar-benar sempit. Tubuhnya menjepit milikku dengan sangat erat, memijatnya perlahan bahkan saat aku tidak melakukan gerakan apapun. “Kau milikku sekarang, Gabriella.”bisikku spontan lalu mulai bergerak perlahan di dalam tubuh Gabriella, membuatnya mengerang dan mencengkram lenganku dengan kuat.
Ini bukan pertama kalinya aku bercinta dengan manusia. Aloysia adalah manusia pertama yang kubawa ke ranjang. Tapi ini pertama kalinya aku merasakan kenikmatan yang amat sangat. Bahkan bersama Aloysia tidak pernah seperti ini. Bersama Aloysia hanya ada kelembutan, aku terlalu takut untuk menyakiti wanita satu-satunya kucintai itu. Tapi bersama Gabriella segalanya berbeda. Tubuh Gabriella semakin kuat menjepit milikku, badannya melengkung saat kenikmatan itu merasukinya, dan erangan puas akhirnya meluncur dari bibirnya. Suaranya saat o*****e membuatku semakin terangsang dan mempercepat gerakanku untuk mencapai kepuasanku sendiri. Dan tidak lama kemudian akupun menyusul Gabriella mendaki puncak kenikmatan itu di dalam tubuhnya.
Dengan perlahan aku menarik keluar diriku dari dalam tubuhnya. Membiarkannya beristirahat sebentar sambil menciumi wajahnya, menikmati rasa manis tubuhnya. “Rasanya menakjubkan.”bisik Gabriella sambil mengelus lenganku.
“Apa aku menyakitimu?”tanyaku sedikit cemas, benar-benar takut kalau kekuatanku membuatnya terluka.
Dan ketika Gabriella menggeleng, rasa lega langsung menyapu semua kecemasanku. “Tidurlah sebentar, tapi jangan pernah berpikir kalau aku sudah selesai denganmu, luv. Kita memiliki malam yang sangat panjang untuk menikmati semua ini.”bisikku sambil memeluk tubuhnya dan membiarkannya tertidur.
~*~
Aku yang memang tidak pernah tertidur mulai merasa tidak nyaman saat Gabriella bergerak resah dalam tidurnya. Sesekali kepalanya menggeleng-geleng dengan kasar, erangan lirih meluncur dari bibirnya. Apa yang dia mimpikan?
“Gabriella... Gabriella bangun...”bisikku sambil mengguncang tubuhnya perlahan.
Tidak ada reaksi. Erangan lirih itu mulai berubah menjadi isak tangis. Dan itu membuatku semakin gelisah. “Gabriella bangun.”desakku semakin kuat tapi dia tetap tidak membuka matanya. Kedua tangannya bergerak menutup wajahnya saat air mata mulai membasahi wajahnya.
Sialan!
Aku bangkit dari ranjang dan meraih jubah tidurku. Menarik selimut untuk menutupi tubuh Gabriella hingga ke bahunya. Archard kau ada di dekat sini?
Ya, master.
Ke kamarku sekarang juga.
Padahal hanya butuh berapa detik hingga Archard muncul, tapi bagiku itu lebih lama dari yang pernah kurasakan. Archard meluncur masuk ke kamarku. “Ada apa, Zac?”tanya Archard datar.
“Masuk ke dalam mimpinya. Sadarkan dia. Aku tidak bisa membangunkannya. Dia menangis!”ujarku cepat sambil melambaikan tanganku ke arah Gabriella
Archard tidak berkata apapun saat menghampiri Gabriella dan meletakkan telapak tangannya di dahi wanita itu. Aku tahu kalau Archard tidak butuh waktu lama untuk bisa memasuki mimpi seseorang, tapi kali ini aku benar-benar ingin Archard menyelesaikannya secepat mungkin.
Dengan gelisah aku berjalan mondar-mandir di kaki tempat tidur, membiarkan Archard melakukan tugasnya. Berkali-kali aku melirik Archard tapi dia tetap tidak bergeming. Rasanya sudah lewat berjam-jam saat aku menyadari Archard mengangkat tangannya dari dahi Gabriella. “Dia kembali tertidur, Zac. Aku sengaja tidak membangunkannya. Maaf.”ujar Archard yang sadar kalau dia sudah melanggar perintahku karena tadi aku menyuruhnya untuk membangunkan Gabriella.
“Apa yang dimimpikannya?”tanyaku sedikit lega, walaupun jelas aku masih penasaran mimpi seperti apa yang membuat Gabriella menangis dalam tidurnya.
“Kematian orang tuanya, Zac. Aku penasaran bagaimana dia bisa memiliki visi itu. Tapi dia jelas memiliki kenangan bagaimana orang tuanya meninggal sebelum keduanya dimasukkan ke dalam mobil yang kemudian mengalami kecelakaan di jurang. Sangat jelas.”terang Archard yang kini sudah menjauh dari tempat tidur.
“Dia bilang kalau vampir-lah yang membunuh orang tuanya.”
“Ya. Memang kaum kita yang melakukan itu.”
“Siapa, Archard?”
Archard menggeleng pelan. “Aku tidak yakin. Tapi Aku pernah melihat mereka di Miami. Dilihat dari visinya, Wagner sudah membereskan vampir-vampir itu, Zac.”
“Dan yang membuat dia menangis?”
“Saat dia melihat kedua orang tuanya digigit vampir dan saat Wagner berubah menjadi serigala untuk menghabisi kedua vampir itu.”jelas Archard pelan.
Sialan Jade! Dia yang memberi Gabriella visi ini.
“Aku mengerti. Pergilah, tapi jangan terlalu jauh. Aku tidak tahu apakah dia akan bermimpi lagi atau tidak.”
“Aku pikir sampai matahari terbit nanti, dia tidak akan bermimpi apapun. Aku sudah ‘memakan’ semua mimpinya. Maaf.”ujar Archard malu.
Aku meremas bahu Archard. “Tidak masalah. Terima kasih.”bisikku sebelum kembali bergabung dengan Gabriella di ranjang dan membiarkan Archard keluar dari kamarku.
Napas Gabriella terdengar teratur dan dia sudah tidak bergerak resah lagi dalam tidurnya. Entah kenapa aku sangat ingin memeluknya dan membuatnya nyaman, padahal aku selalu meninggalkan pasanganku setiap kali selesai bercinta. One Night Stand, dan tidak ada pengecualian untuk itu biasanya.
Gabriella menyandarkan kepalanya ke dadaku dan bernapas pelan disana. Aku mengetatkan pelukanku tapi tetap tidak sampai membuat tubuh rapuh itu tersakiti. Perlahan bulu matanya bergerak dan sepasang mata biru keperakan menatapku. “Hallo.”bisiknya serak.
“Aku mengganggu tidurmu?”tanyaku pelan.
“Kau membuatku benar-benar lelah, Zac.”bisiknya sambil melingkarkan lengannya ke tubuhku, tidak terganggu ataupun curiga dengan rasa dingin yang dirasakannya di tubuhku.
Aku mengusap lembut punggungnya dan merasakan keterkejutannya saat gairahku bangkit hanya dengan memeluknya. “Tenang saja, aku tidak ingin melakukan apapun selain memelukmu. Aku pikir kau cukup lelah.”gumamku datar, mengabaikan kalau bagian lain dari tubuhku menuntut sebaliknya.
Gabriella terkekeh pelan. “Kau sulit dipuaskan, ya?”
“Sepertinya hanya denganmu.”balasku cepat.
“Aku tersanjung.”gumam Gabriella lalu memberikan kecupan lembut di dadaku.
“Jangan menyentuhku lebih dari itu, luv. Aku bisa saja melupakan apa yang kukatakan tadi dan bercinta habis-habisan denganmu. Kendali diriku sudah di ambang batas saat ini.”geramku sambil berusaha mempertahankan helai demi helai kendari diri yang masih bisa kuraih.
Gabriella menggulingkan tubuh kami hingga dia ada di atasku. Wanita itu mencondongkan tubuhnya hingga bibirnya hanya berjarak kurang dari satu senti dari wajahku. “Aku menginginkanmu, Zac. Kau berhutang hal itu padaku sebelum aku tertidur tadi.”bisiknya lalu mengecup bibirku cepat.
Persetan dengan kendali diri!
~*~
Untuk pertama kalinya aku tidak ingin membawa siapapun bersamaku malam ini. Aku hanya ingin menemani Gabriella melihat acara yang sedang berlangsung di Kensington Garden. “Tidak ada yang ikut bersamaku, Archard.”ujarku pelan saat berjalan menaiki tangga menuju kamarku atau kamar Gabriella, terserah.
“Tapi, Zac...”
“Itu hanya acara biasa. Manusia. Dan ini London.”
“Aku tahu, tapi...”
“Tidak satupun, Archard. Tidak kau, tidak juga Jaye ataupun Harvey. Kalian bertiga tetap disini.”
“Zac...”
Aku berhenti melangkah dan memberikan Archard tatapanku yang biasanya kugunakan untuk membuat lawan bicaraku terdiam. “Kau meragukan kemampuanku untuk menjaga diri?”tanyaku tajam yang langsung membuat Archard menunduk penuh penyesalan.
“Tidak, master. Saya tidak berani.”bisik Archard pelan.
“Kalau begitu tidak ada yang ikut bersamaku. Kau paham?”
“Ya, master.”sahut Archard cepat. “Tapi anda akan memakai supir, bukan?”
“Tidak, Archard. Tidak ada seorangpun. Aku akan menyetir sendiri. Dan jangan membantah lagi.”geramku lalu meninggalkan Archard sendirian di tangga.
Tidak hanya Archard yang membuatku kesal malam ini. Wren juga berkeras agar aku membawa supirnya. Tapi aku tidak ingin membawa siapapun. Untuk sekali ini aku ingin Gabriella merasa bebas, tidak ada pengawalan dari siapapun. Kalau aku yang menjaganya, pengawal seperti apa lagi yang bisa menggantikanku?
Aku memacu Audi R8 GT Spyder Wren dengan kecepatan tinggi begitu meninggalkan Acasa Manor dan barisan orang-orang yang berkeras agar aku membawa pengawal. Jarak antara Harrow dan Kensington tidak terlalu jauh. Tapi mengingat saat ini sedang diadakan acara akhir tahun di Kensington Garden, maka jalanan yang tadinya tidak terlalu ramai itu kini dipadati oleh kendaraan. Butuh waktu hampir dua kali lipat untuk sampai di Kensington Garden dan butuh waktu sedikit lebih lama untuk mendapatkan parkiran.
“Ramai sekali.”bisik Gabriella begitu turun dari mobil dan mendapati Kensington Garden yang biasanya lengang kini dipadati pengunjung.
“Jangan sampai lepas dariku.”ujarku sambil menggenggam tangan Gabriella.
Malam ini dia mengenakan pakaian yang kemarin dibelinya bersama Lily. Sweater putih dengan lapisan motif kotak-kotak di bagian tubuh selain lengan dengan rok selutut bermotif senada. Dibawahnya, Gabriella mengenakan boot pendek yang cocok dengan pakaiannya. Pakaian yang sederhana, tapi tetap terlihat cantik di tubuhnya. Sedangkan aku mengenakan kaos hitam tanpa lengan dengan celana jeans hitam. Untuk membuatnya terlihat sopan, aku mengenakan jaket hijau lumut berkancing banyak di dibagian depan.
“Ada paduan suara, Zac!”serunya saat melihat sekelompok anak-anak berseragam berkumpul di bawah Albert Memorial sedang menyanyikan sebuah lagu. “Ayo kita kesana.”sambungnya sambil menyeretku bersamanya.
Gabriella terlihat ceria malam ini. Dia melesat dari satu stand ke stand pameran lain, dari satu penampilan ke penampilan lain sambil menyeretku bersamanya. Aku bersumpah kalau malam ini Gabriella terlihat sangat cantik dengan keceriaan itu di wajahnya. Seandainya aku tahu semudah ini membuatnya senang...
Apa yang kupikirkan? Aku tidak mungkin memikirkan kebahagiaannya. Dia hanya alatku untuk bernegosiasi.
“Apa kita bisa melihat atraksi itu, Zac?”tanya Gabriella sambil menatapku penuh harapan saat dia menemukan ada stand atraksi sulap tidak jauh dari tempat kami berdiri saat ini.
“Aku pikir kau akan tetap menyeretku ke sana walaupun aku mengatakan tidak.”gumamku yang langsung disambut senyum cerah di wajahnya.
Sialan.
Dengan pasrah aku kembali membiarkan diriku di tarik kesana kemari oleh wanita ini. Bahkan aku berani bersaksi kalau Gabriella sudah mengunjungi seluruh stand dan melihat seluruh penampilan dalam waktu 3 jam. Aku heran melihatnya masih tetap bersemangat seakan dia belum menghabiskan waktu 3 jam untuk berkeliaran di Kensington Garden ini.
“Kau sudah lelah?”tanyaku saat kami berjalan menuju sebuah tenda tempat menjual minuman. Dengan cepat aku membayar sebotol air mineral untuk Gabriella. Well, mengunjungi Kensington Fair ini bersama Gabriella membuatku nyaris lupa kalau aku bukan lagi makhluk fana.
“Sebenarnya tidak. Tapi ini sudah larut. Akan terlihat sangat tidak sopan kalau kita kembali lewat tengah malam sementara kita menumpang di rumah Lily.”ujarnya cepat lalu meminum minuman yang kuberikan.
“Wren tidak akan mempermasalahkannya. Wren tidak pernah menetapkan jam malam pada siapapun kecuali Lily.”
“Tapi aku yang merasa tidak enak. Kita pulang saja, lagipula aku sudah melihat hampir seluruh yang ada.”tukasnya cepat.
Aku menggeleng pelan. “Bukan hampir seluruh, luv. Kau memang sudah melihat seluruh yang ada di acara ini.”gumamku yang langsung membuat Gabriella terkekeh pelan.
Ingin sekali aku menikmati suara tawa lembut itu, tapi aliran energi yang kurasakan membuatku spontan menarik Gabriella mendekat dan menyumpah pelan. Aliran energi itu semakin lama terasa semakin jelas. Dan aku tidak bisa menghindarinya lagi.
“Wah wah wah, apa yang kulihat disini?”seru sebuah suara.