8

2607 Kata
Gabriella yang memang mengenali suara itu langsung berbalik untuk berhadapan dengan si pemilik suara. Seharusnya dia baru bertemu dengan pemilik suara itu akhir bulan ini, sesuai dengan jadwal kunjungannya. Tapi ternyata Gabriella malah menemukan Wagner di London, di Kensington Garden. Wagner melangkah mendekati kami. “Wagner?”bisik Gabriella tidak percaya. “Ya, sayang.”sahut Wagner ringan. “Apa yang kau lakukan disini, sayang? Bukankah kau seharusnya ada di Washington sedang memikirkan permintaanku yang terakhir?”tanyanya sambil mendekati Gabriella. Tapi sepertinya Gabriella memilih untuk menjauhi Wagner setelah mimpi yang dialaminya. “Jangan mendekat! Apa yang kulakukan bukan urusanmu dan aku tidak mau bertunangan denganmu.”tukas Gabriella cepat. Wajah Wagner yang biasanya santai itu kini berubah tegang. Dia terlihat seperti tercekik batu bata. Aku hampir tersenyum melihat wajah kagetnya, tapi demi kesopanan dan kenyamanan Gabriella aku berhasil menahan diri. “Apa yang kau pikirkan, Gabriella? Kau sudah setuju untuk masalah itu.”geram Wagner yang semakin membuat Gabriella mendekatiku untuk bersembunyi. “Itu saat aku pikir kau adalah manusia!”seru Gabriella seakan lupa kalau kami sedang berada di tempat umum. “Apa maksudmu?”bisik Wagner tajam. Sepertinya dia sama sekali tidak berpikir kalau Gabriella mungkin sudah tahu siapa dirinya. Atau jangan-jangan... Aku yakin kalau dia tidak pernah bermimpi Gabriella akan tahu jati dirinya bukan dari mulutnya sendiri. Gabriella langsung menatapku penuh permohonan. “Kita pulang ya, Zac?”bisiknya gemetar sambil menggenggam tanganku. “Tidak!”tukas Wagner yang semakin membuat Gabriella gemetar. Dan saat itu aku ingin sekali mencekik leher werewolf itu kalau saja aku tidak sedang menahan diri. “Kau tidak akan kemana-mana dengannya, Gabby. Kau akan ikut denganku. Kau tunanganku. Dan kau berhutang penjelasan padaku!” “Tidak! Aku tidak akan bertunangan dengan makhluk sepertimu, tidak akan ikut denganmu! Dan aku tidak punya hutang apapun padamu!”seru Gabriella kuat, berusaha mengatasi ketakutannya. Gadis-ku memang pemberani. Gadisku? Wagner melangkah mendekati kami, “Lalu kenapa kau mau bersama dengan dia? Kau pikir siapa dia?”tanya Wagner yang sepertinya bertekad mengatakan siapa aku di tempat ini. Aku membiarkan kendali diriku lepas sejenak saat aku mengembalikan warna asli mataku dan menatap Wagner tajam. Tidak ada yang akan tahu siapa aku tanpa izinku, bahkan kalau orang itu Gabriella sekalipun. “Wagner.”ucapku datar. “Berpikirkah dengan tenang. Ini tempat umum.”sambungku kemudian setelah kembali mengendalikan kekuatanku dan kembali mengubah warna mataku. “Aku akan bisa berpikir dengan tenang kalau kau melepaskan tunanganku.”sahut Wagner cepat, dan dia sama sekali tidak bergeming saat melihat kilau hijau dimataku. Bagus. Aku memang tidak berharap kalau pria yang menjadi raja para werewolf akan gemetar ketakutan hanya dengan melihat mataku. “Aku bukan tunanganmu!”sembur Gabriella sekali lagi. “Zac?” “Kau dengar sendiri kalau dia tidak ingin bersamamu.”ujarku ringan. “Apa kau ingin ikut dengannya, luv?”tanyaku sambil sedikit menunduk ke arah Gabriella. Wanita itu menggeleng cepat, “Aku tidak ingin bersama dengannya. Dia bahkan bukan manusia, Zac. Dia manusia serigala.”bisiknya berusaha meyakinkanku. “Kau benar, Zac. Aku dalam bahaya. Tolong aku, ayo kita pergi dari tempat ini sekarang juga.”sambungnya gemetar. “Gabby...”panggil Wagner terdengar lembut, suara yang aku yakin akan membuat Gabriella luluh seandainya dia tidak tahu siapa Wagner sebenarnya. “Kemarilah... Aku akan menjelaskan semuanya padamu. Aku tidak tahu kau tahu darimana, tapi sepertinya kau mengetahuinya dengan cara yang salah.” Sekali lagi Gabriella menggeleng cepat. “Kau membohongiku. Dua tahun kau membohongiku, Wagner. Kau bilang orangtuaku dibunuh oleh vampir, ya itu memang benar. Tapi kau tidak mengatakan kalau kau juga bukan manusia.”bisik Gabriella merasa dikhianati oleh satu-satunya orang yang dekat dengannya selama dua tahun terakhir. Dan aku juga bukan manusia, Gabriella. Parahnya aku adalah vampir. “Gabriella tidak ingin bersamamu. Dan kami juga harus segera pulang. Berpikirlah dulu dengan tenang Wagner.”ujarku sambil membawa Gabriella keluar dari situasi itu meninggalkan Wagner yang masih menatap kami sendirian. Entah kenapa saat itu aku sama sekali tidak menyadari kalau Wagner tidak akan mundur begitu saja. Hari sudah larut saat kami pulang, sehingga jalanan sedikit lebih sepi dibandingkan beberapa jam sebelumnya. Dengan cepat kami sudah tiba di Harrow dan sebentar lagi akan sampai di Acasa Manor. Aku membelok di jalan satu-satunya menuju Acasa Manor saat aku kembali merasakan perubahan energi di udara. Sebuah kekuatan besar sedang mendekat ke arah kami. Sialan. Mereka mengikuti kami. Dan aku tidak akan sempat mencapai Acasa Manor untuk bertarung tanpa diketahui Gabriella. Masa aku harus menghadapi mereka disini? Di hadapan Gabriella dan dengan sengaja menunjukkan kalau aku adalah vampir? Semoga saja wanita ini siap menghadapi kejutan yang lebih tidak menyenangkan malam ini. Tapi sepertinya memang tidak ada pilihan lain. Gerakan-gerakan cepat di dalam hutan yang mengapit jalan Acasa Manor membuatku pasrah akan apa yang terjadi nanti. Mereka terlalu banyak, dan terlalu berisiko kalau aku memaksa untuk mencapai Acasa Manor dan berlindung di balik tabir sihir yang dipasang Navaro disana. Sesosok bayangan yang berdiri di tengah jalan membuatku mengerem mendadak dan membanting stir hingga mobil kami melintang di jalanan aspal dan meninggalkan jejak kehitaman di jalan pribadi menuju kediaman Wren itu. Gabriella berteriak kaget sebelum bisa mengatasi keterkejutannya. Dia mengangkat wajahnya untuk melihat apa yang membuatku mengerem mendadak dan mendapati kalau Wagner-lah yang berdiri disana bersama dua rekannya sementara kawanannya yang lain mengelilingi kami di hutan. Tidak terlalu banyak untuk bisa mengalahkanku tapi cukup banyak untuk membuat kerusuhan. Sialan! Aku baru saja akan meraih pegangan pintu saat energi lain membaur di udara. Energi yang sangat kukenal, dan saat itu lima bayangan langsung mengelilingi mobilku. “Selamat malam, Zac, kau membawa banyak teman sepertinya.”ujar Wren cemberut, kesal dengan masalah yang hampir saja kubawa ke rumahnya. Aku melangkah keluar dari mobil, tidak menyadari wajah shock Gabriella karena kemunculan tiba-tiba lima pria yang kini sudah mengelilingi kami. “Ada sedikit masalah.”gumamku sambil melambaikan tangan ke arah kawanan were yang mengepung kami. Aku sama sekali tidak merasa aneh dengan kenyataan kalau Wren tahu aku sedang mendapat sedikit gangguan seperti ini. Percayalah, Wren itu vampir pemuja kemajuan ilmu pengetahuan. Sepanjang jalan menuju kediamannya ini memiliki kamera pengawas di tempat-tempat yang tidak terlihat. Aleandro berjalan mendekatiku dan menyeringai pada Wagner. “Hallo, Wagner. Kita bertemu lagi.”ujarnya santai. Aku hanya mengangguk paham saat melihat Aleandro ada di tempat ini. Sekarang tidak aneh melihatnya lebih sering menghabiskan waktu di London daripada berburu mengingat pasangannya atau istrinya adalah Hunter yang bekerja untuk Wren. “Kembalikan Gabriella padaku.”ujar Wagner dengan ketenangan mengejutkan. Fakta kalau dia berhadapan dengan raja vampir dan beberapa vampir tingkat tinggi tidak membuatnya cemas. Dan aku kagum akan keberaniannya itu dimana beberapa ras lain mungkin akan langsung berbalik dan melarikan diri bahkan hanya saat melihat klan Ursa-ku. “Dia tidak ingin bersamamu.”ujarku datar. “Itu hanya karena dia terlalu shock. Dia akan mengerti.” “Kan sudah kubilang, Zac, jangan merebut milik orang.”gumam Aleandro ringan dan aku ingin sekali menendang aset berharga miliknya itu saat ini. Wagner tidak butuh penyemangat untuk berkeras merebut Gabriella kembali. Aku melemparkan tatapan menegur sejenak pada Aleandro sebelum menatap Wagner kembali. “Aku akan mengizinkanmu membawanya hanya kalau dia yang menginginkannya.” “Kenapa kau pikir dia lebih ingin bersamamu?” “Aku tidak berpikir, Wagner. Dia sendiri yang mengatakannya.”sahutku setenang mungkin. “Dia menolakku karena siapa aku. Dan aku berani bersumpah kalau dia akan lebih membencimu kalau dia tahu siapa kau. Aku pikir saat ini dia tidak tahu kalau kau adalah vampir, kaum yang membunuh orang tuanya.”seru Wagner kuat dan sesaat aku pikir kendali diriku akan lepas begitu saja. Entah kenapa pernyataan Wagner itu menyakiti hatiku. Seharusnya aku tidak peduli apakah Gabriella membenciku atau tidak. Dia hanya alat untuk mencapai kesepakatan dan jelas aku tidak memiliki perasaan apapun padanya. Tapi kenyataannya aku peduli apa yang Gabriella pikirkan tentangku! “Master?”panggil Archard pelan. “Masuklah dan kembali ke Acasa Manor. Kami bisa menangani ini.”ujarnya datar, dengan kesetiaan yang selalu berhasil membuatku tercengang. “Tidak akan ada yang bisa pergi sampai Gabriella berada disisiku. Dan aku tidak punya urusan dengan yang lain.”ujar Wagner mulai kesal sambil menatap Archard dan aku bergantian. Wren mengangguk setuju tapi dengan gerakan malas, ciri khasnya kalau sedang berhadapan dengan iblis lain selain ras-nya saat dia sedang dalam mood yang tidak baik. Aku yakin kalau tadi sebelum kemunculannya disini dia sedang b******u bersama istrinya. Wren bukan tipe orang yang memiliki banyak suasana hati, dan hanya sedikit yang bisa merusak suasana hatinya sejak dia menikah, salah satunya adalah gangguan saat dia sedang menghabiskan waktu bersama istrinya. “Kau benar, aku setuju dengan ucapanmu itu. Aku tidak akan ikut campur dalam masalah ini. Hanya saja kau memutuskan untuk menyerang mereka di wilayah, tepatnya di depan rumahku. Apa artinya itu? Aku bisa saja menganggap ini serangan tiba-tiba darimu untuk tamuku, bukan? Apa yang akan kau lakukan kalau aku tiba-tiba muncul di depan rumahmu dengan sepasukan klan-ku dan menghadang tamu-mu? Minimal kau pasti akan muncul, bukan? Jadi aku berhak untuk ikut campur.”ujar Wren tenang dan mulai memasang mode negosiasi seperti yang selama ini selalu dia lakukan kalau sedang malas bertarung. “Kau hanya akan menemui ajalmu dengan bersikap seperti itu, Wren. Dan aku akan kasihan melihat istrimu yang cantik itu menjanda.”gumam Wagner. Tiba-tiba Wren tersenyum cerah mendengar Wagner memuji istrinya. “Terima kasih atas pujianmu untuk istriku. Dia memang cantik. Tapi dia tidak akan menjanda, tidak akan pernah. Aku tidak pernah berniat memberikan status itu padanya sampai kapanpun. Apalagi hanya karena kunjunganmu ini. Lagipula kita bisa menyelesaikan ini bahkan tanpa terlibat pertarungan sedikitpun dan dengan cara yang lebih beradab.”ujar Wren datar begitu senyum itu lenyap dari wajahnya secepat kemunculannya. “Kita bisa berbicara di kantorku di kota dan menikmati minuman mungkin?” “Hanya kalau kalian mengembalikan Gabriella padaku.”geram Wagner yang sepertinya sudah mencapai batas kesabarannya apalagi dengan mendengar semua ocehan Wren. Untuk pria ini berdiri di pihakku, kalau tidak telingaku sudah berdenging sejak lama karena hobinya untuk bicara itu. “Berikan Gabriella atau tidak?”tanya Wagner lagi, kali ini dengan nada tajam, seolah sedang memberi perintah pada kawanannya. “Tidak.”sahutku cepat dan sekawanan werewolf langsung melompat ke arah kami, mulai menyerang. Aku tidak tahu dengan yang lain, tapi aku ingin sekali membunuh mereka semua. Aku cenderung memberi kesempatan musuhku selama mereka bukan werewolf. Aku baru saja akan melepaskan listrik dalam tubuhku saat Wren menyentuh bahuku lalu menggeleng pelan. “Jangan. Ini bukan balas dendam , Zac. Balas dendammu sudah lewat.”ucapnya pelan. “Kalau kau melakukan itu, tidak hanya mereka yang akan mati, tapi juga Gabriella.” Ucapan Wren berhasil mempengaruhiku dan membuatku mengurungkan niat untuk meledakkan mereka semua. Wren yang menyadari kalau aku sudah berubah pikiran langsung bergabung bersama yang lain menghadapi werewolf. Seperti biasa, aku tidak pernah mencemaskan mereka saat bertarung, apalagi hanya melawan werewolf. Klan Ursa-ku adalah petarung hebat, begitu juga dengan Aleandro dan Wren. Sangat bodoh kalau berpikir bisa mengalahkan mereka dengan mudah. Archard, Harvey, dan Jaye tidak hanya memiliki kekuatan dan kecepatan vampir, tapi mereka juga memiliki sedikit kekuatan telekinetikku. Dan satu-satunya orang yang berhasil mendapatkan kekuatan api-ku setelah menerima darahku adalah Wren. Sedangkan Aleandro... Ya anggap saja kalau hanya iblis bodoh yang mau menantang sang algojo bangsa vampir. Wagner sama sekali tidak memperdulikan kawanannya yang menjadi korban akibat bertarung melawan kami. Sikap yang sangat rendah untuk dimiliki seorang raja. Dia mendekati mobil untuk membawa Gabriella bersamanya. “Tidak secepat itu, Wagner.”bisikku langsung melemparkan bola api ke arahnya. Dia berhasil menghindari bola apiku dan menatapku dengan kemarahan yang tergambar jelas di matanya. “Kau menculik tunanganku. Oracle akan menghukummu untuk masalah ini, vampir.”geramnya dengan sorot mata menantang. Bagus. Ini yang aku inginkan. Sedikit tantangan dari orang yang memiliki kekuatan cukup besar untuk merubah pergerakan energi di udara. “Tidak kalau dia sendiri yang bersedia ikut denganku. Dan kau sudah tahu itu.”balasku sambil membentuk kembali bola api di tanganku. Wagner sepertinya menyadari kalau aku bisa saja menyerangnya kembali dengan bola api itu saat tangannya terangkat dan percikan listrik mulai terbentuk di telapak tangannya, memadat dan membentuk sebuah bola energi listrik. Sial! Dia punya kekuatan yang sama denganku! Aku memang mengharapkan lawan yang menarik, tapi bukan lawan yang memiliki kekuatan sama denganku! Dengan cepat aku menggenggam bola apiku dan membentuk sebuah bola energi listrik yang sama dengan Wagner tepat saat dia melemparkannya padaku. Aku membalasnya dengan melemparkan bola listrik milikku hingga membentur bola listrik miliknya. Tiba-tiba aku sadar kalau benturan itu akan menghasilkan ledakan besar setara dengan sebuah misil mengingat kami berdua memadatkan tegangan listrik tinggi hingga membentuk sebuah bola listrik raksasa. Sudah terlambat untuk menghentikannya, yang bisa kulakukan sekarang adalah membawa Gabriella pergi menjauhi tempat ini saat sebuah pedang menembus bola energi besar itu dan menyerap kekuatan listriknya dan menancap dengan bunyi dentuman keras di aspal hingga menimbulkan retakan panjang di aspal jalanan. Sesaat masih terlihat percikan listrik keluar dari mata pedang itu sebelum pedang itu menyerap seluruhnya. Semua gerakan di sekelilingku terhenti saat mendengar dentuman keras saat pedang itu tertancap ke aspal dan menimbulkan retakan panjang. Semuanya menatap kaget ke arahku dan Wagner saat sebuah suara tanpa sosok membelah udara. “Hentikan pertarungan atau Oracle akan menjatuhkan hukuman pada setiap orang yang memulai pertarungan.”ujar gema suara itu. Elizabeth. “Mundur.”desis Wagner yang langsung dipatuhi oleh kawanan werewolf yang masih selamat. “Pertemuan sudah ditetapkan. Tidak ada pertarungan sebelumnya.”ujar gema suara itu sebelum benar-benar menghilang, meninggalkan kesunyian menegangkan. “Aku pasti akan membawa Gabriella kembali bersamaku.”ucap Wagner tegas sebelum berbalik dan menghilang di balik pepohonan. Aku menatap sekelilingku, klan Ursa-ku, Aleandro dan Wren berhasil mengalahkan banyak werewolf, sebagian besar terbunuh dan sisanya hanya menderita luka-luka cukup parah. Aku bisa memastikan kalau yang terluka adalah werewolf yang berhadapan dengan Aleandro dan Wren. Wren selalu berpendapat kalau mereka berhak diberikan kesempatan hidup_selain untuk orang-orang yang mengganggu istrinya_bahkan aku yakin kalau Wren akan mengobati para were yang terluka di Picasa Center, pusat dari segala kegiatannya di dunia manusia. Dan Aleandro... Vampir eksekutor yang seharusnya bekerja dibawah perintahku itu lebih menuruti Wren dibandingkan aku. Aku benar-benar melupakan kehadiran Gabriella saat aku berjalan mendekati pedang itu dan menariknya keluar. Seketika itu juga aliran energi besar mengalir di tanganku. “Kau bisa menyentuhnya.”bisik Wren tidak percaya. Ada nada kagum tersirat dalam nada suaranya yang entah bertanya atau menyatakan pernyataan. “Kenapa tidak?”tanyaku cepat. Wren menggeleng tidak percaya. Terlihat masih terlalu kaget dengan apa yang kulakukan. “Itu adalah Valermos, Sword of Fire yang baru didapatkan Navaro dari Lucifer. Tidak ada yang pernah bisa menyentuh pedang para malaikat, Zac, tidak ada kecuali mereka menghendakinya.” “Tapi aku bisa.”tukasku ringan sambil menimang pedang di tanganku, berusaha mengukur seberat apa pedang bergagang hitam dengan ukiran huruf asing di pangkal mata pedangnya. Ciri khas pedang buatan para makhluk bersayap itu. “Itulah yang membuatku tidak percaya. Bahkan fakta bahwa aku pernah menerima darah Navaro tidak membuatku bisa menyentuh pedang itu.”bisik Wren masih dengan nada tidak percaya. Aku tidak terkejut mendengar ucapan Wren. Vampir lain_bahkan iblis lain akan sangat terkejut saat mendengar ada makhluk yang bisa menerima darah malaikat tanpa terbunuh. Tapi memang itulah kenyataannya. Berkali-kali saat Wren terkena perak cair, Navaro-lah yang membantunya mengeluarkan perak cair itu dengan memasukkan darahnya sendiri kalau saat itu aku atau Archard sedang tidak ada didekat Wren. “Maaf!”seru Aleandro dari arah belakang kami. “Kalau ada yang bisa berhenti bicara disana, kita punya masalah disini.”ujarnya cepat. “Ap..”Belum sempat aku menyelesaikan ucapanku, aku sudah tahu apa masalahnya begitu berbalik menghadap Aleandro. Gabriella pingsan di dalam mobil.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN