9

3111 Kata
Gabriella masih tidak sadarkan diri di tempat tidur. Tidak ada yang bisa kulakukan selain menunggu dia sadar dan menyiapkan diri untuk pertanyaan-pertanyaan yang akan dilontarkannya. Pintu kamar terbuka, Wren berdiri disana sambil menatapku tanpa ekspresi. “Navaro ingin bicara denganmu, Zac. Tentang Valermos.”ujar Wren pelan. Valermos.bisikku dalam hati sambil menyentuh pedang yang tergeletak di sebelahku. “Apa dia ingin aku membawanya?”tanyaku sambil bangkit dari sofa. “Ya.”sahut Wren cepat. Aku mengangguk pelan dan keluar dari kamar sambil membawa Valermos bersamaku. Aku mengikuti Wren menuruni tangga dan masuk ke perpustakaannya. Entah kenapa aku merasa perpustakaan Wren lebih sering menjadi ruang pertemuan daripada ruangan kosong di sebelahnya yang memang ditujukan untuk ruang pertemuan. “Apa yang ingin kau bicarakan denganku?”tanyaku cepat begitu memasuki perpustakaan dan mendapati Navaro sedang berdiri di pinggir jendela. “Pertarungan tadi. Sadarkah kau kalau kalian akan membuat ledakan sebesar ledakan nuklir dengan mengeluarkan tenaga sebesar itu?”tanya Navaro tiba-tiba. “Aku tidak sadar saat itu. Aku hanya bereaksi untuk melindungi diri.” “Eliza memohon padaku untuk menghentikan pertarungan itu. Aku bisa saja langsung muncul di sana dan menggantung kalian semua tanpa kepala. Tapi itu tidak mungkin. Keterlibatanku sudah cukup jauh dalam masalah kalian. Walau Seraphim tidak membatasi gerakanku tapi aku masih mengemban tugasku dan berkewajiban untuk tidak memihak. Para malaikat akan memprotes kalau aku terlalu terlibat urusan bangsa vampir saat aku bisa dengan mudah bertindak kejam pada ras iblis lainnya.” “Sulit dipercaya mengingat kau akan turun tangan langsung kalau yang dalam masalah bukannya aku, tapi Wren.”gumamku. “Itu berbeda.”bisiknya dan aku tahu apa alasannya. Kebiasaan Wren yang suka ikut campur malah membuatnya mendapatkan penghormatan dan kesetiaan seorang teman dari makhluk tertinggi. “Intinya adalah, kalau pertarungan kalian akan seberbahaya itu, tolong lakukan tanpa ada manusia di dekatnya. Dengan begitu aku tidak harus kembali ke Regnum Angelorum hanya untuk menjawab pertanyaan para malaikat kurang kerjaan disana. Untung saat itu aku membawa Valermos bersamaku alih-alih Kilgorin karena hanya Valermos yang memiliki kemampuan menyerap api dan listrik.” “Ya, aku cukup terkejut saat melihat pedang itu jatuh dari langit dan menyerap ledakan itu.”gumamku sambil melirik pedang yang disebut dengan Valermos itu. Navaro mengangguk. “Wujud Valermos sendiri tercipta dari listrik yang dipadatkan. Arena itu semakin besar kekuatan listrik atau api yang diserapnya, Valermos akan semakin kuat. Itu adalah salah satu alasan kenapa kau memanggilmu kesini. Kau adalah makhluk pertama yang bisa menyentuh Valermos tanpa terjadi apapun. Kandungan listrik dalam Valermos akan membuat orang yang menyentuhnya langsung tidak sadarkan diri. Sejauh ini hanya aku dan Lucifer yang bisa menyentuh pedang itu. Aku memiliki darah Seraphim dalam tubuhku, karena itu aku bisa menyentuhnya. Sedangkan Lucifer... Dia-lah yang membuat pedang itu. Wajar kalau dia bisa menggunakannya. Karena Lucifer selalu bertindak penuh misteri, aku menganggapnya menyiapkan pedang itu untukmu, makhluk yang tidak memiliki setitik darah malaikatpun dalam tubuhnya. Karena itu aku akan memberikan pedang itu padamu.”ujar Navaro serius. “Pedang ini?”tanyaku tidak percaya. Jujur aku tergoda memiliki pedang dengan kemampuan menakjubkan ini. Tapi... “Tidak. Aku tidak mau susah-susah membawa pedang ini kemana-mana. Akan terlihat aneh kalau aku membawa pedang setiap hari.”tolakku cepat. “Kau tidak harus membawanya dalam wujud aslinya.”gumam Wren cepat lalu mengulurkan tangannya ke udara sebelum sebuah pedang berwarna hitam muncul dalam genggamannya. “Berikan padaku.”ujarnya sambil mengulurkan tangan dan aku langsung menyerahkan Valermos pada Navaro. Dia menggenggam pedang itu sebelum membuatnya melayang di udara. Navaro mengusapkan telapak tangannya di udara tanpa menyentuh Valermos. Dan seiring gerakan tangannya, Valermos makin lama makin tidak kasat mata dan menghilang! “Apa yang kau lakukan?”tanyaku tidak percaya. Navaro tersenyum. “Kau tidak perlu membawanya kemana-mana. Aku hanya menjadikannya lebih mudah untuk dibawa. Ulurkan tanganmu dan bayangkan Valermos ada disana.”ujar Navaro penuh percaya diri. Aku menatapnya curiga, tapi tetap melakukan apa yang diperintahkannya. Aku mengulurkan tanganku dan membayangkan pedang itu ada disana. Dan benar saja, Valermos langsung muncul di tanganku! Seperti inilah yang Wren lakukan tadi. b******k. Ternyata bersekutu dengan seorang malaikat memiliki banyak keuntungan. “Dasar malaikat tukang sihir.”gerutuku sambil membayangkan Valermos menghilang dan pedang itu benar-benar menghilang. “Apa ini caramu membawa pedangmu?”tanyaku penasaran sebelum sempat menyadari kalau aku jarang sekali bertanya pada sang malaikat. “Tidak. Kami para malaikat memiliki cara tersendiri membawa senjata kami.”ujarnya ringan saat sepasang sayap biru lembut terbentang dari punggungnya dan Navaro menggerakkan tangannya ke belakang, meraih sesuatu di celah antar sayapnya. Saat itulah aku melihat sebilah pedang yang juga memiliki gagang hitam dengan sedikit warna hitam di mata pedangnya. “Ini adalah Theos Spathi, pedang kesayanganku.” “Dimana pedang legenda milik sang Cerubhim itu?” “Sayang sekali, aku meninggalkan Kilgorin di Dragoste Hall. Kalau tidak kau bisa melihat apa yang kau sebut pedang legenda itu. Walau sejujurnya aku lebih suka menyebutnya Sword of Darkness.”ujar Navaro cepat. Aku menatap Navaro sejenak sebelum menggeleng pelan dan kemudian melangkah keluar dari perpustakaan. *** *Gabriella POV* Aku pernah mengalami mimpi buruk saat kecil yang membuatku langsung jatuh sakit. Mimpi tentang sekawanan serigala dengan tiga orang gadis kecil. Mimpi yang sudah sangat lama tidak pernah kuingat lagi. Kemarin aku bermimpi tentang kematian orang tuaku. Kecelakaan... Itu hanya kamuflase untuk menyembunyikan penyebab kematian sebenarnya. Dua orang vampir menggigit kedua orang tuaku hingga darah mereka habis. Aku tidak akan pernah bisa melupakan raut wajah mereka saat itu. Ketakutan dan rasa sakit di wajah mereka mungkin akan menghantuiku seumur hidup. Dan bukan hanya itu, pria yang mengaku tunanganmu malah berubah wujud menjadi seekor serigala besar berbulu putih seputih salju. Aku pikir tidak ada yang lebih mengerikan daripada semua itu. Tapi kenyataannya hal yang paling mengerikan baru saja terjadi dalam hidupku. Sekawanan serigala mengepung kami. Wagner yang selama ini kupercaya sebagai tunanganku walau tak kuinginkan ternyata adalah manusia serigala. Dia berdiri di depan mobil kami, menantang Zac. Awalnya aku pikir Zac tidak akan mampu melawan Wagner kalau pria itu berubah wujud. Dan segalanya terjadi begitu cepat. Archard, Harvey, Jaye, Wren dan seorang pria lainnya tiba-tiba turun dari udara dan bergabung bersama Zac. Turun dari udara! Demi Tuhan! Mata mereka berkilau kehijauan. Perkelahianpun segera terjadi. Pria-pria yang kupikir hanya pria biasa itu bergerak dengan sangat cepat menerjang para serigala besar, menendang, dan mematahkan leher mereka seolah hanya sedang berhadapan dengan seekor kelinci mungil alih-alih serigala berbobot lebih dari 100 kg. Yang membuatku lebih terkejut lagi adalah saat Harvey dan Archard mengoyak leher serigala itu dengan taring mereka yang panjang. Taring! Saat itulah aku menyadari sesuatu. Mereka semua adalah vampir. Aku menatap penuh harap pada sosok Zac yang masih berdiri di depan mobil untuk menghalangi Wagner mendekatiku. Berharap kalau dia adalah manusia. Tapi sekali lagi aku salah. Tangan Zac terangkat dan sebuah bola api tercipta di telapak tangannya. Tidak hanya itu beberapa saat kemudian baik Zac maupun Wagner saling melemparkan bola listrik ke udara. Aku tidak tahu lagi. Semua ini terlalu mengejutkan. Vampir. Manusia serigala. Dan kekuatan mereka... Aku tidak bisa memikirkan apapun saat kegelapan menyapaku. Tidak tahu sudah berapa lama aku pingsan. Yang kutahu saat aku mulai membuka mata yang kulihat adalah pemandangan itu, nuansa coklat lembut berpadu dengan warna putih, aku sudah berada di kamarku di Acasa Manor, rumah Lily, dan merasakan sentuhan lembut di dahiku. “Dia sudah sadar.”ujar suara lembut itu yang kukenali sebagai suara Lily. “Bagus.”Kali ini yang kudengar adalah suara Zac. Zac? Dengan tiba-tiba aku bangun dan menatap ketakutan ke seluruh wajah yang ada di kamar. Tidak banyak, hanya ada Lily, Zac dan seorang wanita lainnya di dalam kamar. Tapi bukan itu yang penting. Ingatan akan apa yang terjadi sebelumnya membuatku kembali gemetar ketakutan. Zac adalah vampir. Vampirlah yang membunuh kedua orangtuaku. “Gabby?”panggil Lily pelan saat aku merasakan air mata mengalir di wajahku. “D,dia... D,dia vampir...”bisikku tergagap sambil menatap Zac ketakutan. Zac berdiri, dan aku bergeser ke belakang. Tapi aku tidak bisa. Punggungku sudah tertahan oleh kepala ranjang. Yang bisa kulakukan hanya menarik selimut untuk menutupi tubuhku, berharap itu bukan hanya sekedar selimut, tapi sebuah tameng yang bisa melindungiku dari Zac dan meringkuk seperti bola. “Zac?”panggil Lily pelan. “Pergilah. Biarkan aku yang bicara dengannya. Dia terlalu ketakutan saat ini melihatmu.” Zac mengalihkan tatapannya pada Lily dan mengangguk pelan. “Hanya sebentar, Lily. Aku akan kembali untuk bicara sendiri dengannya. Sudah saatnya dia mengetahui segalanya.”ujar Zac sebelum melangkah keluar dari kamar. Tanpa sadar aku mendesah lega dan menangis histeris. Melepas semua ketakutan yang kurasakan. Lily menggeser tubuhnya hingga berada di sebelahku kemudian memelukku. Dia mengelus rambutku lembut dan membisikkan kata-kata menenangkan. Tapi aku hanya ingin menangis, melepas semua tekanan yang kurasakan selama ini. Dan Lily terus memelukku hingga aku berhenti menangis. “Kau sudah tenang?”tanyanya lembut. “A,aku tidak tahu.”bisikku serak akibat menangis. “Dia vampir. Begitu juga dengan yang lain. Aku tidak percaya. Vampir itu tidak nyata sampai tadi malam. Manusia serigala... Demi Tuhan!”bisikku histeris. Sebut satu saja orang yang tidak histeris saat mengetahui kalau semua makhluk legenda ternyata memang ada bahkan sampai abad ke 20! Aku tidak tahu apa yang kuucapkan. Pikiranku benar-benar kacau akibat semua kejadian ini. Kudengar Lily menghembuskan nafas panjang sebelum bicara. Seolah sedang berpikir apa yang harus dia katakan. “Vampir itu nyata, Gabby. Mereka ada. Dan untuk kau ketahui, kau sudah pingsan hampir 24 jam.”ujar Lily pelan. “Wren... Dia juga vampir, Lily! Kau tidak bisa bersamanya! Dia berbahaya! Dia bisa membunuhmu!”seruku kuat. “Ya ya, aku tahu, dan aku bisa bersama dengannya, Gabby. Dan dia tidak akan pernah membunuhku.”sahut Lily tenang. Terlalu tenang! Demi Tuhan, dia juga tahu hal ini. Bagaimana mungkin dia bisa setenang ini? Kecuali kalau... Dengan sangat tiba-tiba aku bergerak menjauh dari Lily dan turun dari ranjang. Mencari tempat paling jauh yang bisa kucari dan berdiam diri di sudut kamar diantara kursi dan nakas tempat tidur. “K,kau juga vampir?”bisikku pelan dengan mata menyipit menatap Lily. Dan entah kenapa aku lega saat Lily menggeleng pelan dan tersenyum kecut. “Tidak. Aku bukan vampir, Gabby.” “Terima kasih, Tuhan.”bisikku penuh syukur. “Aku yang vampir, Gabriella.”ujar seorang wanita yang sejak tadi hanya duduk di sofa tunggal di dekat ranjang. Matanya berkilau hijau zamrud dan taringnya mulai memanjang. Aku terpekik tertahan melihatnya. Itu benar-benar sama dengan apa yang terjadi pada Archard dan Harvey. “Tidak!” “Itu tidak membantu, Amelia.”ucap Lily yang langsung membuat wanita bernama Amelia itu memasukkan kembali taringnya dan mengubah warna matanya menjadi coklat lembut. “Aku hanya bercanda.”gerutunya kesal karena ditegur Lily. “Dengarkan aku, Gabby. Ini tidak seburuk yang kau pikirkan. Kau akan mengerti nanti.”ujar Lily tenang. “Tidak? Demi Tuhan Lily! Bagaimana bisa kau bilang mereka tidak buruk? Mereka vampir, penghisap darah, pembunuh! Dan kau bisa dengan santainya bergaul dengan para penghisap darah itu! Mereka yang membunuh orang tuaku! Para iblis itu yang melakukannya!”teriakku frustasi. “Tenanglah, Gabby.”bujuk Lily lagi. “Tenang?!”jeritku tidak percaya. Pintu kamarku langsung terbuka saat itu juga, Eliza melangkah masuk dan menatap kami bertiga dengan tajam. “Apa kalian tidak bisa bicara dengan tenang? Atau memang ada kontes berteriak saat ini? Axel baru saja tertidur. Aku tidak ingin dia terbangun, jadi tolonglah bicara dengan tenang.”ujar Eliza tenang dan seiring dia melangkah masuk aku mulai merasakan hawa lembut yang menenangkan menyapu tubuhku. Ketegangan dan ketakutan yang kurasakan makin lama semakin hilang dan membuatku lebih santai. “Ah, terima kasih atas kekuatanmu yang baru itu, Eliza.”ujar Amelia sambil memperhatikanku yang mulai bernapas normal, tidak lagi terengah-engah ketakutan. Aku menggeleng pelan, berusaha mengenyahkan kabut yang menyelimuti pikiranku, menghalangiku berpikir dengan jernih. “Bagaimana kalian bisa tenang dengan semua keadaan ini? Wren adalah vampir, begitu juga dengan Archard dan Harvey. Dia juga vampir. Tidak adakah manusia di rumah ini?”tanyaku takjub dengan nada suaraku yang terdengar tenang. Lily bangkit dan mengitari ranjang hingga dia berhadapan denganku. “Duduklah. Kau akan membutuhkannya saat aku menjelaskan semua ini.”gumam Lily pelan. “Apa kau butuh brendi? Itu bisa menenangkan sarafmu.” Aku menggeleng. Apapun yang dikatakan Lily harus kudengarkan dalam keadaan sadar bukan dibawah pengaruh minuman beralkohol. Tanpa sadar tubuhku bergerak sendiri ke sofa tunggal lainnya dan duduk disana saat Lily memilih duduk di sofa panjang di hadapanku disusul oleh Eliza. “Kau bertanya bagaimana kami bisa tenang dengan kenyataan ini? Ingatlah Gabriella, Wren adalah suamiku. Dan ya, aku tahu dia vampir bahkan sebelum kami menikah dan itu tidak masalah untukku, yang penting adalah kami saling mencintai, tidak peduli dia makhluk apa. Kau bertanya tidak adakah manusia di rumah ini? Tidak Gabby, di rumah ini tidak ada manusia. Bahkan akupun tidak sepenuhnya manusia. Ingatkah kau dengan pria bernama Luke yang kita temui di Dragoste Hall? Dia bukan sepupuku, dia adalah ayahku, Lucifer.”ujar Lily tenang lalu berdiri dan dalam sekejap sepasang sayap hitam dengan gradasi warna lembut ke ujungnya membentang di hadapanku. Sayap itu indah. Ada semacam sulur berwarna perak yang menghiasi sepasang sayap itu. Bulu-bulunya terlihat sangat halus dan... “Lucifer?”ulangku tidak percaya setelah berhasil menyadarkan diri dari kekagumanku melihat sayap Lily. Lucifer adalah malaikat yang terbuang. Malaikat kegelapan. Dan sebagian mengatakan kalau Lucifer adalah asal mula para iblis. “Kau malaikat?” “Tidak sepenuhnya. Percayalah, ada banyak makhluk lain di muka bumi ini selain manusia, hewan dan tumbuhan.”ujarnya ringan lalu melipat sayapnya ke punggung sebelum sayap itu menghilang. “Saat ini, selama kita bicara ini, selain aku, Eliza dan Navaro, seluruhnya adalah vampir, Gabby. Tapi tidak satupun dari mereka yang membunuh orang tuamu. Kau tidak bisa memutuskan kalau semua vampir adalah pembunuh hanya karena vampir yang membunuh orang tuamu. Aku tidak tahu apa alasan vampir itu hingga membunuh kedua orang tuamu, tapi vampir yang kukenal tidak akan membunuh siapapun tanpa alasan yang kuat. Dan mereka yang ada di rumah ini jelas tidak seburuk yang kau pikirkan. Ingatlah apa yang sudah Zac lakukan untukmu? Apakah dia pernah menyakitimu? Ingatlah apa yang Archard, Harvey, dan Jaye lakukan. Apa mereka ada mencoba untuk membunuhmu? Tidak Gabby. Tidak satupun dari mereka yang melakukan semua yang kau tuduhkan itu. Bahkan mereka melindungimu dari para werewolf, Gabby.” “Tapi mereka tetap vampir.”sahutku cepat. “Ya. Sama seperti kau yang tidak bisa memilih siapa yang melahirkanmu, mereka juga tidak bisa memilih sebagai apa mereka akan hidup. Saat sadar, mereka sudah menjadi vampir. Hanya saja seperti manusia, kita punya pilihan untuk hidup seperti apa. Apakah membiarkan bibit kejahatan yang memang selalu ada di hati setiap manusia itu tumbuh subur atau mengabaikan bibit itu dan hidup dengan baik? Aku yakin kalau kau memilih menjadi manusia yang baik selama ini dan mengabaikan kalau kau juga punya bibit kejahatan dalam hatimu. Dan itulah yang mereka lakukan, Gabby. Mereka memilih untuk bertahan hidup tanpa harus membunuh manusia_sebisa mungkin_mencoba membaur dengan manusia dan melindungi apa yang bisa mereka lindungi.” Aku berusaha mencerna semua ucapan Lily. Mengingat apa yang Zac lakukan untukku. Dan entah kenapa aku merasa kalau aku bisa menerima semua itu walau aku masih takut dengan fakta kalau Zac adalah vampir. “Agar kau merasa lebih baik aku akan menceritakan sesuatu.”ucap Lily lembut. “Seluruh makhluk berdarah campuran di dunia ini hanya memiliki satu takdir. Diburu dan dibunuh. Kekuatan yang mereka bawa tidak stabil. Bisa sangat besar atau tidak sama sekali. Begitu juga dengan seorang gadis berdarah malaikat. Sepanjang hidupnya dia tidak tahu tentang asal usulnya itu, dia hidup dengan nyaman sebagai manusia sampai suatu hari segalanya berubah. Pertemuannya dengan seorang pria yang ternyata adalah seorang vampir membuka segala misteri kehidupannya. Hidupnya yang nyaman lenyap begitu saja digantikan dengan hari-hari penuh teror akan kemungkinan diburu dan dibunuh. Tapi vampir itu selalu melindunginya bahkan saat malaikat pemburu datang dan menginginkan nyawa gadis itu. Vampir itu mempertaruhkan segalanya, nyawanya dan klannya. Bersama teman-temannya, vampir itu berhasil menyelamatkan sang gadis dari malaikat pemburu dan akhirnya menikahi sang gadis. Mereka berdua hidup bahagia hingga saat ini.” “Dan gadis itu adalah?”tanyaku curiga. “Aku. Vampir itu adalah Wren. Dan teman-temannya adalah Zac, Aleandro, Alby dan Navaro. Aku tidak akan pernah melupakan hari itu. Aku akan selalu berterima kasih pada Tuhan karena memberikan Wren untukku. Karena Wren memiliki teman-teman yang sangat peduli dan selalu mendukungnya bahkan saat dalam situasi sulit sekalipun.”ujar Lily sambil tersenyum mengenang hari yang diceritakannya itu. “Kau akan terkejut kalau mengetahui bahwa vampir jauh lebih baik daripada sebagian besar manusia di dunia saat ini. Kami tidak akan berkhianat. Kami tidak pernah berbohong. Dan kami tidak akan pernah mengorbankan klan kami hanya demi mendapatkan uang. Keutuhan klan adalah yang paling penting lebih dari apapun. Kesetiaan adalah yang paling utama.”ujar Amelia serius. “Tapi, Lily. Berhubung kau adalah yang lebih lama berada dalam klan vampir, apakah ada klan vampir yang miskin dan bersedia menjual kesetiaan mereka hanya demi uang?”tanya Amelia tiba-tiba, mengubah suasana yang tadinya serius menjadi menggelikan dengan pertanyaannya itu. Lily tersenyum. “Tidak, Amelia. Sepanjang yang kutahu mereka semua kaya raya. Usia yang panjang tanpa butuh membeli makanan membuat mereka menjadi kaya. Mereka tidak butuh uang untuk berobat ataupun kebutuhan mendasar manusia lainnya.”sahut Lily cepat. Aku menatap ketiga wanita itu dengan seksama. Seandainya aku mempercayai kalau makhluk selain manusia itu ada, maka aku pasti sudah mencurigai sesuatu. Ketiga wanita itu terlalu cantik dan mereka memiliki aura yang tidak biasa. Seperti Lily dan Eliza, mereka bergerak dengan sangat anggun, tanpa menimbulkan bunyi seakan menyatu dengan udara. Dan Amelia, aku baru mengenalnya hari ini, tapi dia juga memiliki sesuatu yang khas dari penampilannya. Eliza? “Tunggu! Tadi kau bilang selain kau, Eliza dan Navaro, selebihnya adalah vampir. Tapi kau juga mengatakan tidak ada manusia disini. Lalu siapa Eliza dan Navaro?”tanyaku cepat sambil memperhatikan Eliza. Eliza tersenyum padaku dan kemudian berdiri. Sama seperti Lily, tiba-tiba saja sepasang sayap putih kebiruan terbentang di hadapanku. “Malaikat.”bisikku pelan saat Eliza melipat sayapnya dan membuatnya tak kasat mata sebelum kembali duduk. “Eliza dan Navaro adalah malaikat. Benar-benar malaikat.”ujar Lily menegaskan apa yang kulihat. “Aku tidak percaya.”bisikku pelan. “Wagner adalah manusia serigala, dan kalian... Vampir dan malaikat. Aku seperti berada dalam dunia dongeng saat ini.” “Para werewolf tidak akan senang kalau mendengar caramu menyebut mereka, Gabby. Mereka tidak suka julukan manusia serigala.”tegur Amelia ringan. Aku menggeleng mengabaikan teguran Amelia. “Ini semua sulit diterima.”bisikku lagi. “Percayalah dan kau akan takjub melihat bagaimana segalanya berjalan normal. Tapi semakin kau menolak untuk percaya, kau akan sulit menjalani harimu.”ujar Eliza lembut.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN