Zefa perlahan membuka mata. Hal pertama yang ingin diketahuinya adalah waktu, ternyata sudah jam empat pagi, sebentar lagi subuh. Dia ingin ke kamar mandi untuk cuci muka dan bebersih area sensitifnya agar lebih afdol baginya untuk sholat Subuh. Sedetik kemudian, Zefa mendengar suara dengkuran halus tidak jauh darinya. Dia menoleh ke arah kanan dan melihat Javier tidur di sofa bed penunggu, meringkuk kedinginan tanpa selimut. Kemejanya kusut berantakan, dasinya sudah dilepas diletakkan di sebelah kepalanya, kepalanya terkulai miring menghadap ke arahnya, seolah tertidur sembari tetap ingin mengawasinya. Masih terlihat kekhawatiran di wajah Javier walau saat tidur, jauh dari sikap kerasnya selama ini. Zefa menatap lekat dan lama, nyaris melupakan siapa dirinya sekarang. Lelaki ini, Javie

