“Aku pulang dulu, nanti ke sini lagi. Kamu mau dibawain apa Zefa?” tanya Javier sok manis. “Hah apa?” tanya Zefa yang otaknya kembali lama memroses segala sesuatu tentang Javier, mungkin karena memang fisiknya yang lemah membuat otaknya kekurangan asupan gizi. “Sekali lagi kamu jawab ‘hah’ doang, aku bakal ci…” “Sate khas Senayan dong, Om, sama lontongnya dan asem-asem iga juga.” Baik Vier dan Zefa melihat ke arah Shafeeya, bingung. “Kenapa malah kamu yang nyautin sih, Feeya?” tanya Vier. “Kapan lagi dibeliin ama Om yang paling ganteng dan sholeh, plus royal gini?” kata Shafeeya, memberikan tanda v melalui dengan telunjuk dan jari tengahnya dan senyum selebar lima jari. “Oke deh, tapi emang Zefa boleh makan itu?” Ganti Shafeeya yang melihat ke Javier, “kan aku yang minta, Om, buka

