Keesokan pagi jelang siang, mumpung libur, Javier memutuskan langkah yang lebih berani sekaligus nekat.
Dia muncul di depan pintu unit apartemen griya tawang Zefa, dengan membawa tas kertas berisi makan siang dari restoran Italia premium langgannya. Tadi dia pesan antar setelah semalamam memikirkan cara untuk minta maaf yang terbaik bahkan sampai minta saran dari sahabatnya yang sebentar lagi akan menikah.
“Dev, gue mau minta saran dong.” Katanya melalui panggilan telepon pada sang sahabat.
“Saran untuk…?”
“Gue mau minta maaf ke cewek. Mendingan gue bawa apa dong? Bunga? Cokelat? Atau apa?”
“Vier, elu salah nanya ke gue. Elu tahu sendiri gue gimana sejak Anna pergi kan?” jawaban dengan suara lebih dingin dari Javier terdengar.
“Yaelah, kasih tahu aja sih apa.”
“Bentar, gue nanya ponakan gue dulu. Ven…, kalau mau minta maaf ke cewek, kado apa yang paling pas?” Javier sampai harus menjauhkan ponselnya karena teriakan sang sahabat sangat keras.
“Heuum, thank you, Ven. Vier, kata ponakan gue kasih cokelat premium super mahal atau bunga."
“Itu kalau ceweknya aliran mainstream, Dev, tapi cewek ini beda. Dia aliran anti-mainstream, setipe sama Shanaya deh.
"Kalau anti-mainstream kasih bunga bangkai.” Jawab santai si sahabat.
"Buset itu bibir! Elu pernah kasih hadiah apa ke Shanaya deh? Siapa tahu bisa jadi referensi,” kejar Javier.
“Heuum…, don’t even ask, Vier. I’m not that kind of guy yang ngasih-ngasih hadiah.” Ketus lelaki yang dipanggil Dev ini.
“Hah, dasar cowok dingin, heartless banget sih elu, Dev. Sesekali kasih hadiah ke Shanaya dong,” goda Javier, “laah… laah kok dimatiin. Halo, halo, Dev! Woiii Devarya!” Javier berteriak kesal.
“Ampun deh, punya temen satu gini banget. Gue beli pasta aja deh, dia pasti suka secara tinggal di NZ kan?” kata Javier seperti gumaman pada diri sendiri.
Setelah beberapa kali menekan bel, akhirnya pintu terbuka dan muncul kepala Zefanya dengan pintu yang hanya terbuka sedikit. Wajah Zefa nampak terkejut saat membuka pintu. Sudah satu bulan mereka bertetangga dan bekerja satu kantor, tapi baru kali ini Javier berkunjung ke unitnya.
“Apa yang Bapak lakukan di sini?” suaranya terdengar datar, nyaris dingin.
Javier mengangkat kantong kertas di tangannya, “makan siang, sebagai permintaan maaf. Aku pikir, sesekali gak ada salahnya kita makan bersama sebagai tetangga satu unit.” Senyumnya tipis, tapi matanya menyiratkan sesuatu yang lebih dalam yang Zefa bisa lihat itu dengan jelas. Dia tahu lelaki tampan ini pasti mempunyai niatan lain.
Zefa ingin menolak, bibirnya sudah setengah terbuka hendak berkata tidak. Tapi dia sadar, mengusir Javier begitu saja hanya akan membuat situasi makin rumit karena lelaki itu pasti makin penasaran. Mau tak mau, dia harus menerima kehadiran Javier.
Zefanya membuka pintu lebih lebar, “baiklah. Letakkan saja di meja makan. Saya mandi dan berpakaian pantas dulu.” Kata Zefa, memersilakan Javier masuk. Matanya memindai sosok Javier yang nampak tampan dengan baju santainya, t shirt v neck warna putih dengan celana pendek kasual. Kesan seksi dan elegan menguar kuat.
Astagfirullah… Kenapa juga aku malah melototi nih cowok sih? Tapi pak Vier lebih cakep pakai baju santai gini, lebih segeerr.
Sedangkan Javier tersenyum kecil melihat pipi Zefanya yang merona saat melihatnya dengan baju santai.
Zefa masuk ke kamarnya setelah memersilakan Javier. Di ruang tamu, Javier duduk sebentar, tapi rasa penasarannya yang bergunung-gunung menggerakkan langkahnya untuk meneliti ruangan ini. Bukankah itu salah satu tujuannya berkunjung?
Javier bangkit, berjalan menyusuri unit griya tawang itu dengan langkah nyaris tanpa suara agar tidak menimbulkan kecurigaan. Ruangan itu sangat rapi, nyaris steril dari tanda-tanda kehidupan pribadi. Malah terkesan kosong. Tidak ada album foto, tidak ada apa pun yang bisa membuka tabir siapa sebenarnya Zefa.
Namun, di atas rak kecil dekat jendela, Javier melihat sebuah bingkai foto lama. Mengendap layaknya pencuri yang takut ketahuan, dia mengangkat bingkai foto itu perlahan.
Bingkai foto tua itu berisi sepasang suami istri muda yang tersenyum hangat. Sang ayah menggendong seorang gadis kecil gendut berusia tiga tahunan yang tertawa lepas. Foto itu nampak pudar, jelas sudah lama. Sialnya, tidak ada tulisan atau keterangan apa pun di foto itu.
Javier menatapnya lama. Siapa mereka? Orang tua Zefa? Atau orang lain? Bocah kecil ini Zefa? Tapi kok wajahnya beda banget?
Ia mencoba mencari petunjuk lain, secarik kertas atau apa pun itu. Tapi apartemen ini terlalu bersih, terutama dari jejak masa lalu Zefanya. Foto itu satu-satunya hal personal yang ada.
Heuum, aku jadi semakin curiga. Biasanya cewek-cewek suka pasang foto keluarga atau pacar, tapi kenapa Zefa sama sekali enggak? Bahkan foto lelaki muda yang biasa bersamanya juga gak ada. Sialan, aku semakin penasaran.
Tiba-tiba terdengar suara deheman disusul derit pintu kamar yang dibuka. Javier cepat-cepat menaruh kembali foto itu dengan posisi persis seperti semula. Dia kembali duduk santai di sofa ruang tamu seolah tidak pernah bergerak dari kursinya. Tanpa pernah dia tahu bahwa Zefanya tadi mengintip dari celah pintu kamar yang sedikit terbuka.
Aroma pasta creamy dengan sentuhan basil memenuhi ruang makan unit apartemen itu. Zefa memindahkan makanan yang dibawa Javier ke piring keramik putih dan memersilakan Javier makan.
Hari itu penampilannya jauh berbeda dengan sosok Zefa di kantor. Ia mengenakan pakaian rumahan sederhana, kaus panjang warna biru muda, celana kulot warna krem dan jilbab instan warna krem lembut. Tanpa riasan, wajahnya lebih segar, kulitnya bersih dan alisnya natural. Ada kesederhanaan yang justru membuatnya terlihat lebih nyata dan tanpa disadari, malah jauh lebih menawan.
Javier yang duduk di seberang meja, menelan ludah melihat Zefa yang seperti itu. Mata tajamnya tidak bisa lepas dari Zefa. Dia jarang melihat perempuan secantik itu tanpa lapisan profesionalitas, tanpa perisai dingin yang biasa melindunginya di kantor.
Piring di depan mereka hampir kosong. Namun Javier masih tidak mengalihkan pandangannya. Kemudian dia bersandar, mata gelapnya terus mengamati wajah tanpa riasan itu. Tiap detail wajah Zefanya, kulit yang segar, bibir yang hanya diberi lipgloss warna alami, kerudung instan yang jatuh sederhana di bahunya membuat pikiran nakalnya kembali menguasai.
Zefa akhirnya meletakkan garpunya perlahan, lalu menegakkan tubuh. Tatapannya tetap dingin saat beralih ke Javier, “apakah ada sesuatu di wajah saya hingga Bapak melihat saya seperti ingin menelan hidup-hidup?” Tanyanya, memecah keheningan karena merasa tidak nyaman dipandangi seintens itu.
Lebih tepatnya aku ingin membawa tubuhmu, fully naked, ke bawahku, ke kamarku, di kasurku!
“Pak Vier? I think you have something dirt on your mind?” tanya Zefa melihat jakun Javier yang turun naik. Lelaki tampan ini pasti berpikiran kotor.
“Kamarku yuk? Eeh ituu, boleh aku minta air dingin? Haus banget nih.”
Zefa mendelik, karena pitcher air dingin tepat di depan Javier. Tapi sebagai tuan rumah yang baik, dia tuangkan ke gelas Javier hingga penuh.
“Silakan, Pak, apa mau ditambah es batu?” tanya Zefa, suaranya yang lembut, bibir penuh nan seksi, membuat Javier semakin blingsatan.
Javier merasakan celananya mendadak sesak, membuatnya harus mengubah posisi duduknya. Dadanya juga berdebar tidak wajar, sesuatu yang tidak ia rencanakan sejak awal dan dia mengumpati dirinya sendiri karena malah terperangkap pada pesona Zefanya.
“Zefa,” suaranya terdengar rendah, nyaris berat.
Zefa menoleh sekilas, hanya sepersekian detik.
“Iya?”
“Jangan panggil aku pakai bapak kan ini gak di kantor, biar bisa terkesan lebih akrab gitu panggil Vier aja bisa gak?”
Zefa menggeleng, “maaf Pak, saya tidak terbiasa memanggil atasan saya hanya dengan nama saja.”
Javier menghela napas panjang lalu condongkan tubuhnya, “kalau mas Vier?,” tanya Vier, ngotot, tapi dia mendesah karena Zefa kembali menggeleng.
“Pak Vier, sebenarnya tujuan Bapak apa ke sini dan coba beramah tamah dengan saya?” tanya Zefa dengan tatapan menyelidik.
“Eeum… aku ingin minta maaf atas apa yang aku katakan atau lakukan di lift kemarin.”
Zefa meletakkan piring ke meja, lalu melipat kedua tangannya di meja makan. Wajahnya tenang, tapi matanya jadi lebih awas, “jika Bapak minta maaf hanya karena ingin agar saya membenarkan tuduhan itu, please deh, itu gak perlu. Saya ak punya waktu untuk permainan murahan seperti itu.”
Javier tersenyum tipis, sebuah senyum yang tidak sepenuhnya bisa ditebak, “tidak. Heii, ini bukan permainan kok. Tapi mungkin aku terlalu curiga dan terlalu ingin tahu.” Dia berhenti sejenak, lalu menambahkan lebih pelan, “masalahnya adalah, aku tidak biasa menghadapi seseorang yang tidak bisa k****a sama sekali. Aku tidak suka itu.”
Ada jeda panjang. Hanya suara detik jam yang menegaskan keheningan.
Zefa menatapnya lama, lalu menggeleng perlahan, “Pak Vier pasti pernah mendengar istilah curiosity killed the cat bukan?Jangan terlalu banyak ingin tahu tentang hal yang bukan wewenang Bapak, agar tidak berujung pada masalah.”
“Tapi aku bukan kucing, Zefa. Lagi pula jangan lupa kalau curiosity killed the cat, but satisfaction brought it back.” Bagi Javier, dia merasa bertanggung jawab jika ada sesuatu yang membahayakan Aurevia, hingga dia bisa menemukan jawaban atau kepuasan dari rasa penasarannya akan Zefanya mampu menghilangkan potensi bahaya, itu jika ada.
Zefanya menghela napas lelah, “tadi di awal Bapak bilang ingin minta maaf tapi sekarang malah menganulir sendiri permintaan maafnya. Niat gak sih? Lagipula Pak Vier, Bapak tidak perlu minta maaf kok, tapi tolong berhentilah mengusik hidup saya agar kita berdua sama-sama tenang.”
Zefa kemudian berdiri, berniat mencuci piring bekas makan mereka. Dia membelakangi Javier. Suara air yang mengalir menutupi sebagian keheningan yang semakin terasa pada mereka.
Javier kesal karena diacuhkan, dia mendekati Zefanya dan bersandar pada dinding dapur. Lengannya dia lipat di depan d**a dan kaki dia silangkan. Posisi berdirinya dibuat sesantai mungkin tapi sorot matanya tajam, dengan suaranya terdengar datar dan terkendali.
“Kamu tahu, Zefa, kamu mengingatkanku pada seseorang.”
“Mantan pacar Bapak ya? Masih belum bisa move on huh?” sindir Zefa dengan gerakan tangannya yang tetap konsisten menggosok piring.
“Mantan tetangga saat kami sama-sama masih kecil lebih tepatnya. Tapi dia menghilang tanpa jejak sejak sepuluh tahun lalu.” Kata Javier.
Zefanya mendongak, matanya fokus menatap Javier, “let me guess, saya mirip dengan tetangga itu?”
“Secara wajah dan tubuh sih, gak ada miripnya. Tapi entah kenapa, sosokmu mengingatkanku padanya. Bahkan dari sejak pertama aku melihatmu,” Javier berhenti sejenak, lalu melanjutkan pelan, “kita satu pesawat dari Auckland ke Jakarta satu bulan lalu, by the way.”
Tangan Zefa sempat berhenti sepersekian detik, tapi ia segera melanjutkan mencuci seolah tak terganggu, “kalau pun iya, itu kebetulan saja bukan sih?”
Javier mengangguk, dia menurunkan suaranya jadi hampir menyerupai bisikan, “itu mungkin kebetulan saja, tapi tidak banyak orang yang kemudian kudengar menyebut dirinya sebagai pelakor syariah dan nekat konfrontasi di depan sekumpulan ibu-ibu.”
Piring di tangan Zefa hampir terlepas. Ia pejamkan mata sebentar, menarik napas panjang sebelum kembali menaruhnya dengan hati-hati di rak piring. Tatapannya tetap dingin saat menoleh ke Javier.
“Bapak terlalu banyak berkhayal. Tapi apa pun yang Bapak dengar, itu tidak ada hubungannya dengan Bapak.”
Namun Javier tidak mau mundur, sudah kadung nyemplung maka sekalian saja basah, pikirnya. Ia melangkah perlahan mendekati Zefanya , jarak mereka terkikis, kini hanya beberapa langkah. Mungkin saja dia lupa atas warning Zefanya bahwa dia mampu rubuhkan lelaki itu. Toh dia juga menguasai bela diri. Lebih bagus malah jika mereka beradu fisik walau tentu pikiran nakal Vier lebih inginkan duel di atas kasur!
“Aku tidak bisa mengabaikan semua petunjuk walau kebetulan semata. Karena semua kepingan ini, dari bandara Soekarno Hatta, mas Fred, bahkan kata-katamu sendiri, mulai terasa terlalu rapi untuk hanya dikatakan sebagai sekadar kebetulan, sekadar cocokologi. Jangan salahkan jika aku curiga.” Kata Javier, seperti biasa matanya fokus menatap bibir Zefa kemudian beralih ke mata bulat indah itu.
Zefa menahan napas, wajahnya tetap datar meski dalam hatinya dia mengomeli Javier dengan segala teori cocokologinya.
“Mata indahmu itu, Zefa, entah bagaimana, punya sorot mata yang sama dengan tetanggaku yang hilang itu.” Lanjut Javier, semakin maju dan ingin menyentuh bibir Zefanya. Dia benar-benar lupa jika Zefa memakai hijab dan pemegang sabuk cokelat judo.
Keheningan panjang menyusul. Hanya bunyi tetesan air dari keran yang belum dimatikan.
Zefa menghela napas, dia mendorong tubuh Javier untuk menjauh darinya, membuka pintu unit griya tawangnya lebar-lebar, “Bapak sudah cukup lama di sini.” Sebuah usiran halus yang mau tidak mau sebagai seorang tamu, Javier harus pergi.
“Namanya Salma, dan aku rindu dia.” Lirih Javier saat keluar melewati Zefa.
Salma…?