Aroma kopi memenuhi ruangan. Tak terasa sudah hari senin. Hari yang paling menyebalkan di antara semua hari. Praga tiba disana pukul 09.00 WIB. Dia sengaja datang pagi karena ada rapat untuk pengerjaan project satu minggu kedepan.
Sebagai manajer, Praga punya prinsip be a leader not a boss. That’s why, banyak junior yang menyukainya. Dia tak perlu menjaga jarak dengan juniornya. Baginya, semua harus merasa nyaman untuk bisa bekerja sama. Kerja sama yang baik akan meningkatkan performance. Kalau dilihat dari segi umur, pencapaian Praga termasuk cepat. Masih berusia 29 tahun, dia sudah berhasil jadi manajer. Bukan hal mudah.
Aldo masuk ruangan dengan tergopoh-gopoh. Cowok itu langsung mengambil kursi di kubikelnya dan mengarahkan kursi itu mendekat ke tempat duduk Praga.
“Pra, I see your ex.” Fakta yang membuat Praga sedikit kesal. Tapi ia mengatur raut wajahnya agar terlihat santai dan baik-baik saja.
“Lo gak punya kerjaan Al, sampai harus ngasih info gak penting gitu?”
“Intinya bukan disitu. Dia kelihatan banget dekat sama Mando. Musuh lo dunia akhirat. Ada gosip yang bilang kalau dia selingkuh sama Mando.”
“Mungkin.”
“Jadi lo udah tahu?”
Praga jelas tahu, orang yang jadi selama ini jadi selingkuhan Jessi adalah Mando. Praga sengaja diam karena tidak mau membuat masalah. Rupanya Jessi dengan gamblang menunjukkan kepada dunia kalau dia pacaran dengan Mando. Terserah saja, Praga sudah tidak punya hak atas hidup cewek itu. Pacaran selama empat tahun tidak membuktikan apa-apa. Terlebih dia selingkuh dengan Mando, orang yang paling Praga benci.
“Gila juga ya. Gue doang yang gak tahu apa-apa.”Aldo geleng-geleng kepala. Sebagai sahabat baik Praga, Aldo merasa dikhianati. Pasalnya, Aldo tidak pernah menyembunyikan apapun dari Praga.
“Apa sih Al, itu sesuatu yang gak baik dibicarakan. Aib orang lain itu harus ditutupi bukan?”
“Lo mah, terlalu baik Pra. Udahlah diselingkuhi, tetap aja mikirin perasaan orang. Tante Merry sering tuh nelfon gue, nanyain lo gimana. Gue sih belum bilang kalau lo udah putus sama Jessi.”
“Baguslah. Entar gue kasih tahu mama, kalau gue balik.”
“Sudah berapa tahun lo gak balik?”
“Baru 8 bulan. Lebay lo Al.”
“Rumah cuma sejengkal tapi pulangnya jarang. Dasar anak gak tahu diri.”Aldo berdiri dan memindahkan kursinya. Mending dia fokus kerja daripada mikirin Praga.
Praga memang jarang pulang. Dia benci ditanyain mamanya kapan nikah. Hell, emangnya nikah bisa jadi solusi segala masalah? Menikah itu akar dari semua permasalahan. Toh, setelah abangnya nikah, masalah baru malah terus muncul. Harusnya itu bisa jadi cermin untuk mamanya berkaca.
Tadinya Praga sudah bertekad untuk menikah tahun depan. Tentu saja dengan Jessi, perempuan yang selama ini ada dihatinya. Dia sudah merancang banyak hal, termasuk apartemen yang ia beli meski dibayar cicilan. Tak cuma itu, sebagai laki-laki, Praga juga menabung semua biaya pernikahan. Hal itu membuktikan kalau Praga memang berniat menikahi Jessi. Sayangnya, cewek itu malah ketahuan selingkuh.
Dia belum berani mengatakan semua itu kepada mamanya. Bisa dibayangkan, bagaimana mamanya syok kalau mendengar berita itu. Apalagi mamanya mengenal Jessi sebagai cewek baik yang layak jadi menantunya. Kenyataannya, cewek itu sangat tidak layak untuknya. Percaya diri itu penting bukan? Jangan pernah menyia-nyiakan hidup hanya demi manusia yang bahkan tidak menghargaimu.
Telepon di meja Praga berdering. Dia langsung mengangkat sembari menyuruh Aldo fokus dengan pekerjaannya. Raut wajah Praga langsung berubah. Ia buru-buru berdiri hendak pergi.
“Mau kemana Pra? Bentar lagi rapat.”tanya Aldo heran. Praga bertingkah aneh, terlebih raut wajahnya berubah drastis. Praga tak berniat menjawab pertanyaan Aldo. Dia bergegas keluar ruangan dan menuju lift. Ia harus menemui orang itu. Orang yang tiba-tiba mencarinya untuk suatu alasan.
***
Sera Cafe tampak sepi pagi itu. Biasanya tempat itu mulai ramai saat jam makan siang tiba. Di kursi paling ujung terlihat perempuan dengan celana jeans dan kemeja warna putih berenda sedang duduk dengan seorang pria yang mengenakan setelan kantor.
Praga menemui Jolin disana. Cewek itu tiba-tiba datang tanpa permisi. Praga sampai menyuruh Aldo untuk menggantikannya memimpin rapat hari ini.
“Okey, maaf kalau gue ganggu. Kartu nama lo hilang entah kemana.”ucap Jolin menjelaskan alasannya datang tiba-tiba. Jolin sudah mencari kemana-mana tapi gak ketemu. Bisa saja kartu nama itu jatuh di bandara atau gabung dengan cuciannya di tukang laundry.
“So, what’s going on?”
“Gue hamil.”
“What? Jangan sembarangan!”
“Emang beneran. Ini..”Jolin meletakkan test pack di atas meja. Test pack yang menunjukkan dua garis biru. Bukti kalau ucapan Jolin bukan bualan semata.
“Bisa aja dia bukan anak gue.”balas Praga dengan wajah yang masih kaget. Dia gak bisa berkata-kata lebih banyak. Sampai saat ini, dia gak ingat apa yang terjadi malam itu. Entah setan apa yang membuat ingatannya seburuk ini. Padahal setiap keping pekerjaannya bisa ia ingat dengan baik.
“Asal lo tahu, gue gak pernah dekat sama cowok manapun. Ya, gue sama lo juga gak dekat sih. Tapi kita sama-sama lupa tentang kejadian malam itu. Who knows? Maybe, only God.”
“Terus sekarang, lo mau apa?”
Satu jawaban yang membuat Jolin merasakan sakit hati. Cowok itu tidak punya hati nurani. Walaupun dia gak sengaja, harusnya dia punya simpati sedikit. Dia pasti berpikir kalau Jolin hendak meminta uang atau semacamnya. Meskipun Jolin masih mahasiswi, dia punya harga diri.
“Terserah lo.”
“Hah?”
“Lo mau anak ini digugurkan kek, atau mau gimana terserah. Gue bakal terima karena sebenarnya gue gak niat buat berhubungan lagi sama lo.”ucap Jolin dengan nada meninggi. Kali ini dia gak segan-segan lagi ngobrol sama Praga.
Praga tampak frustasi. Siapapun pasti gila jika mengalami hal ini. “Bisa lo kasih gue waktu? Gue harus berpikir.”
Jolin tersenyum kecil. “Oke.”balasnya singkat. Dia mengambil kertas dari tasnya dan menulis sesuatu di kertas itu.
“Itu nomor gue. Kalau lo udah punya keputusan, lo bisa telepon gue. Tapi jangan lama-lama, gue gak mau perut ini makin gede.”ucapnya singkat. Ia meletakkan kertas yang berisi nama dan nomor ponselnya. Setelah itu, Jolin pergi. Ia meninggalkan Praga dalam keadaan stres. Andaikan cewek yang hamil itu Jessi, mungkin dunia masih bisa menerimanya. Wajar kan kalau ada insiden tak terduga antara sepasang kekasih yang pacaran empat tahun? Tapi kok bisa dia malah terjebak sama cewek yang bisa dikatakan orang asing? Ini gila!
0821XXXX Jolinda Radiny