Terjebak dan tak ada jalan keluar. Hidup di dunia ini pasti dipenuhi masalah, tapi ada masalah yang sering jadi perdebatan karena melanggar norma. Hamil di luar nikah adalah salah satu dari pelanggaran tersebut. Semua orang juga tahu itu. Apalagi untuk negara seperti Indonesia.
Sebagai seorang perantau yang tinggal di kos-kosan murah meriah, Jolin cuma punya teman-temannya. Tari dan Diara sengaja menginap untuk menghibur cewek itu. Bagi Tari, Jolin mengalami kejadian ini hanya karena keteledoran. Jolin bukan cewek nakal yang menempel ke semua cowok. Bahkan dia gak pernah menggubris perhatian cowok yang naksir sama dia.
Diara selalu menyalahkan masa lalu. Keputusan mengikuti Bella ke klub adalah akar dari semua permasalahan ini. Coba saja mereka gak mengikuti cewek iblis itu, hal ini gak bakal kejadian.
“Jadi kemarin lo udah nanya dia? Dia bilang pikir-pikir dulu?”komentar Tari kesal. Ia sendiri kaget kalau cowok yang menghamili Jolin adalah pria tampan yang mereka temui di Nusa Penida. Aneh bukan?
“Iya.”
“Kayaknya dia bukan cowok jahat.”balas Diara ngasal. Itu cuma pemikiran dia sendiri. Dengan melihat dari luarnya saja.
“What the hell? Kesimpulan dari mana itu?”tanya Jolin tak terima. Tari manggut-manggut setuju. Diara selalu punya pendapat yang berbeda.
“Dia gak langsung nyuruh lo ke tempat aborsi. Itu udah nunjukin kalau dia hati-hati akan keputusannya. Mana ada orang yang bisa berpikir jernih kalau jadi dia.”jelas Diara. Dia sangat menyayangkan kejadian yang menimpa Jolin, tapi secara pribadi dia gak mau kalau Jolin berpikiran untuk melakukan aborsi. Hanya manusia keji yang melakukan hal itu.
“Bisa aja dia pura-pura. Dia butuh waktu buat nyari info tentang Jolin biar dia bisa melakukan apapun yang dia mau.”balas Tari sambil berpikir. Tari itu kebawa drama korea kayaknya, pikirannya selalu sempit.
“Ya, it’s possible. But still, kita perlu dengar keputusannya dia apa.”ucap Diara tidak mau terpengaruh.
Saat tahu Jolin hamil, Tari dan Diara menggila. Mereka gak nyangka, cerita Jolin tentang Kak Cissa itu adalah kisah Jolin sendiri. Siapa sangka? Bahkan Missie akan syok kalau tahu tentang hal ini.
Jolin melamun dengan perasaan gak jelas. Kegilaan ini bisa membuat orang di rumahnya murka. Terutama bokapnya yang punya imej baik di kampungnya. Dunia memang kejam. Andaikan kejadian malam itu tak pernah terjadi, Jolin masih punya kesempatan mewujudkan mimpi-mimpinya. Wisuda, kerja dan ngumpulin uang yang banyak. Setelah itu, ia bisa nonton konser Big Bang. Tapi kini, semua itu seperti kemustahilan. Dering telepon menghentikan lamunannya. Panggilan dari nomor tak dikenal.
“Itu mungkin dari dia.”ucap Tari ngasal.
Jolin menghela nafas dan berusaha tenang. Dia mengangkat panggilan itu. “Hallo.”
“Hallo Jolin, ini gue Praga. Gue perlu ketemu sama lo.”
***
Taman itu tampak asri dengan beragam bunga yang bermekaran. Beberapa orang seperti bertamasya dengan menggelar tikar sambil menikmati sejuknya udara sore hari. Ada yang olahraga sore dan bersepeda.
Praga dan Jolin duduk di salah satu kursi yang berada tepat di bawah pohon. Mereka sama-sama stres atas kejadian yang sekarang mereka hadapi. Wajar saja, keduanya sama-sama tak ingat akan malam itu. Malam yang seharusnya panas dan jadi pengalaman berharga.
“Menurut gue, sebagai manusia bermoral, kita gak pantes mengorbankan satu nyawa buat urusan pribadi. Gue sama lo punya banyak dosa. Mau ditambah lagi dengan ngebunuh sesuatu yang sudah bernyawa?”Praga menjelaskan dengan sangat serius. Tingkahnya bak petinggi pemerintahan yang sedang kampanye.
“Gimana kalau kita menikah?”lanjutnya. Ucapan itu bukan bualan semata, Praga tampak serius.
Jolin yang kaget menatap cowok itu. Melihatnya dengan sangat tajam. “Lo bisa menikah dengan orang yang gak lo cintai?”tanya Jolin dengan tegas.
“Gak usah ngomongin cinta. Gue baru aja diselingkuhi dan gue gak percaya lagi sama yang namanya cinta.”balasnya singkat.
Ada kekosongan yang terlihat jelas disana. Cowok itu memang sedang merasakan sakit yang luar biasa. Sebagai manusia biasa, dia lebih memilih ditinggal mati daripada ditinggal selingkuh. Kalau ditinggal mati, kenangan yang diingat hanya kebaikan. Beda kalau ditinggal selingkuh, rasa sakit akan terus mengintai.
“Ayo kita buat kesepakatan.”lanjut cowok itu. "Kita harus bercerai setelah anak ini lahir.”
Tawaran itu sangat bisa dimengerti. Dan itu bisa menyelesaikan masalah Jolin. Jolin juga merasa beruntung karena Praga masih mau bertanggung jawab. Setidaknya, dia gak harus melahirkan sendirian. Kesepakatan itu menguntungkan kedua belah pihak.
“Oke. Gue setuju!”balas Jolin mantap. “Terus sekarang gimana?”
“Gue perlu tahu tentang lo. Lo juga perlu tahu tentang gue. Habis ini, kita harus nyiapin mental buat ketemu sama orang tua masing-masing.”
“Hah? Gue harus ketemu orang tua lo?”
“Ya, emangnya nikah bisa gitu aja? Orang tua menerapkan prinsip family is number one. Lo harus hati-hati.”
Ucapan itu membuat Jolin merinding disko. Pepatah lama bilang, mertua itu lebih kejam daripada ibu tiri. Jolin sering dengar cerita tante-tante sebelah kosannya. Mereka sering ribut dengan mertuanya. Bahkan, ada yang sampai bercerai hanya karena campur tangan mertua. Apalagi ibu mertua ke menantu, itu udah kayak setan ketemu malaikat.
“Jangan takut gitu dong. Gue cuma bercanda. Mama gue baik kok.”ucap Praga sambil tersenyum. Dia gak kuat melihat wajah cengo Jolin. Cewek itu kayak lagi nahan berak seminggu. Praga jadi gak enak membuat cewek itu cemas.
“Gak usah hibur gue. Gue emang harus hati-hati.”
“Marah itu wajar, tapi mereka gak mungkin membunuh kita.”
“Eh, siapa bilang. Zaman sekarang udah canggih. Ada yang mati karena saudara sendiri. Siapapun bisa jadi pelaku kejahatan.”
“Astaga, kebanyakan nonton film azab lo.”ucap Praga terkekeh. Masih bisa dia tertawa disaat Jolin kepikiran tentang ibu mertua.
“Lo gak mau berubah pikiran?”tanya Jolin memberikan penawaran baru. Sejujurnya dia takut, tapi ide itu muncul begitu saja.
“Gue udah mikirin matang-matang. Kenapa gue ajak nikah sekarang, biar gak ketahuan kalau lo hamil di luar nikah. Itu menguntungkan lo dan gue.”
“Yeah, I know.”
“Tapi kayaknya ada yang harus lo perbaiki.”
“Apa?”
“Mulai sekarang, jangan panggil pakai nama gue. Panggil gue mas.”