Bab 6 - Medan

1123 Kata
Sampai di Medan, Jolin membawa Praga ke rumah orang tuanya. Semakin dekat tujuan, semakin jantung cowok itu tak tenang. Bertemu dengan calon mertua yang siap-siap ia bohongi. Seumur-umur, baru kali ini Praga setakut ini.  “Honestly, gue juga takut. Papa paling seram dari semua manusia di dunia ini.”ucap Jolin. Perkataan itu semakin membuat Praga merinding. Kayaknya Praga udah biasa ketemu klien beragam bentuk dan karakter. Dia tak pernah sekhawatir ini.  Sejujurnya, Jolin memikirkan hal lain. Memang benar kalau dia takut dengan papanya. Namun, ia lebih takut dengan dua saudaranya itu. Bang Bima dan Kak Cissa. Dua orang itu pasti sudah berada di rumah mempersiapkan wacana kebaikan yang siap diluncurkan. Seakan mereka malaikat tak bersayap yang tidak pernah melakukan dosa. Setelah Praga membeli dua tiket pesawat, Jolin langsung ngabarin via telepon ke bokapnya tentang apa yang terjadi. Ada suara getir dan sedih malam itu. Meski tak melihat secara langsung, Jolin yakin kalau papanya pasti sangat kecewa mendengar kabar mengerikan itu.  Sesampainya disana, Cissa langsung menarik tangan Jolin ke kamar. Kamar Jolin yang sudah lama tak pernah ditinggali itu. Cissa berapi-api dengan kemarahan. “Apa yang kau lakukan sampai bisa hamil? Gak mikir seberapa malu bapak? Kalau semua orang tahu itu gimana?” “Aku tahu kak. Makanya aku buru-buru kesini, biar masalah ini kelar.” “Kau sama saja kayak Bang Bima. Sama-sama tukang bikin ulah. Emang ya, gak ada yang beres sama rumah ini.” “Bisa gak sih, gak usah nyalahin siapa-siapa. Cukup salahin aku kak. Semua yang terjadi bukan salah Bang Bima doang.” “Gak usah belain dia. Kau gak bisa menghargai kakakmu sedikit aja.” “Kakak selalu aja playing victim.” “Heh, maksud mu apa?” Pintu kamar terbuka dan ada Bima disana. “Bapak manggil!”ucapnya singkat. Cissa melengos keluar kamar. Dia sudah muak mengobrol dengan Jolin.  Sedang Bima menatap Jolin sambil tersenyum kecil. Ada kesedihan yang sangat dalam di sana. Bima merasa tidak layak sebagai seorang anak pertama. Dia gak bisa memenuhi janjinya kepada mendiang mamanya. Janji untuk menjaga adik-adiknya sampai kapanpun. Dan saat ini, detik ini juga, waktu menunjukkan bahwa dia  sudah gagal menjadi seorang anak pertama yang seharusnya jadi panutan. “Kamu baik kan?”tanya Bima lembut. Sudah lama ia gak bicara langsung sama Jolin.  “Baik bang. Abang gimana?” “Baik juga. Ayo, pacar kamu udah nungguin tuh.” Weird, it’s really weird. Bang Bima mengatakan istilah pacar untuk Praga. Hell, aneh banget rasanya. Apalagi kalau nanti dia jadi istri Praga, itu jauh lebih aneh. Jolin mengikuti Bima ke ruang tamu. Jolin melihat ekspresi tegang di wajah Praga. Cowok itu pasti kebawa aura bokapnya yang kuat.  Jio Lohan, mantan kepala sekolah yang kini sudah pensiun. Dia pernah mendapat penghargaan sebagai kepala sekolah terbaik se kabupaten. Dia punya sifat otoriter dalam mengatur tingkah bawahan dan anak-anaknya. Aura seorang anggota militer terlihat dengan jelas. Siapa saja bisa jadi enggan saat berhadapan dengannya.  Dengan kesadaran penuh, Praga memperkenalkan diri dan menjelaskan niatnya yang ingin menikahi Jolin. Tentu saja dengan alasan logis tentang kehamilan Jolin. Kalau Jolin gak hamil, mana mungkin orang tuanya setuju. Jolin masih kuliah dan kakaknya juga belum menikah. Praga dan Jolin membuat janji untuk merahasiakan perihal kejadian di Bali. Jolin gak mau orang rumah tahu kalau dia ke Bali. Mereka bisa tambah gila kalau tahu Jolin sebebas itu. Terutama pada Jio Lohan, papanya.  “Kalian pacaran udah berapa lama?”tanya Jio Lohan dengan suaranya yang berat. Suara berat yang membuat siapa saja merinding. Jangankan Praga, Bima, Cissa dan Jolin terlihat seperti anak itik yang sedang mengantri dengan rapi mengikuti perintah majikannya. “Hampir satu tahun om.”balas Praga ngasal.  “Om gak tahu lagi harus ngomong apa. Sesuatu yang sudah kebablasan itu cuma punya dua solusi. Yang pertama, mengikuti arus dengan menikah. Kedua, melawan arus dengan suatu perjanjian. Dua-duanya sama-sama beresiko. Kalian yakin dengan keputusan ini? Saya gak mau kalau ujung-ujungnya berakhir pada perceraian.”ucap Jio Lohan tegas.  Ucapan yang membuat Praga melirik ke arah Jolin. Cewek itu terlihat sangat sedih sudah mengecewakan orang tuanya. Praga berpikir keras dengan keputusan yang sudah ia ambil.  “Saya yakin om.” “Baiklah kalau begitu.”balas Jio Lohan mengakhiri. Dia berdehem sangat keras.Ia bangkit dari tempat duduknya. “Saya mau bicara berdua  sama kamu.”ucapnya pada Praga. Praga makin gak karuan. Percaya dirinya runtuh hanya karena pria itu.  Jio Lohan keluar dari ruang tamu dan duduk di teras. Itu adalah titah yang tak bisa ditolak. Bima, Cissa dan Jolin langsung melipir ke dapur. Percakapan itu tak boleh mereka dengar.  “Saya tahu kamu orang kota, dan mungkin itu terdengar mudah buat kamu. Kenapa harus putri saya?”ucapnya tanpa melihat ke arah Praga. Praga tahu betul kalau ada aura kemarahan disana. Tak cuma kemarahan, ada kekecewaan yang sangat dalam.  “Saya benar-benar minta maaf om.”balas Praga singkat. Dia tidak mau membela diri sendiri. Semua ini memang salahnya sendiri. “Jolin itu masih kayak anak-anak buat saya. Tahu kan kalau dia suka korea-koreaan?” Praga diam dan mengangguk. Padahal dia tidak tahu kalau Jolin suka sama hal seperti itu. “Dia juga nari sendiri kayak anak kecil. Makan juga masih belepotan.”ucap Jio Lohan sambil menatap ke langit yang biru. “Mamanya akan kecewa sama saya kalau tahu kejadian ini. Andai saya yang mati dan mamanya yang disini, mungkin dia gak bakal berakhir seperti ini.” Praga seakan tak diberi kuasa untuk berbicara. Ia memilih diam dan mendengarkan curahan hati Jio Lohan. Semua hal tentang dirinya yang merasa bersalah. Kejadian itu bukan salah siapa-siapa. Waktu saja yang terlalu jahat membuat mereka berada dalam keadaan yang tidak  pantas. Sejenak Praga menyalahkan dirinya sendiri. Sakit hatinya terhadap Jessi adalah satu dari sekian alasan mengapa ini terjadi. Diselingkuhi bukanlah hal mudah bagi Praga. Saat ia memilih untuk menetap dengan satu wanita, wanita itu malah mengkhianatinya. Dan dengan mudahnya, wanita itu mendekati pria yang sangat ia benci.  “Anak saya yang pertama, menikah sama perempuan yang gak pernah sayang sama saya. Sumber dari segala masalah di rumah ini.”ucap Jio Lohan dengan getir. “Pak, makanan sudah siap.”ucap Jolin dari balik pintu.  “Ah iya, kayaknya saya bicara terlalu banyak. Ayo kita makan dulu.”ajaknya kepada Praga. Praga mengangguk setuju. Pernikahan memang bukan hal mudah. Sama seperti kejadian di rumah ini, pernikahan juga jadi sumber masalah di tengah-tengah keluarga Praga.  Prinsip hidup Praga yang tadinya mengutamakan cinta daripada status terpaksa pupus di tengah jalan. Siapa yang mengira kalau dia akan menghamili gadis muda tanpa ingat sedikitpun. Sebenarnya dia bisa membantah hal itu. Sayangnya, dia terlalu percaya dengan wajah polos Jolin. Wajah yang seakan tak pernah mengatakan kebohongan itu. Terlebih saat cewek itu datang dengan test pack di tangannya. Cewek itu tak sedikitpun membohonginya. Praga tak tega membuat gadis itu menangis dan menderita. Rasanya itu lebih menyesakkan daripada menghadapi Jio Lohan.  Dan sebenarnya, Praga sudah menafsirkan benefit dari kejadian ini. Selain memenuhi tanggung jawabnya, ia juga bisa menunjukkan pada Jessi kalau hidupnya baik-baik saja tanpa cewek itu. Dia ingin balas dendam dengan pembuktian. Tapi sekarang, ia harus memikirkan kemungkinan terburuk jika orang tuanya sendiri tidak setuju dengan hal ini.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN