Hening tanpa suara, ruangan itu seperti pulau tak berpenghuni. Semua sibuk dengan laptop masing-masing. Deadline semakin di depan mata. Semua orang memilih fokus mengerjakan bagiannya.
Aldo memasang tampang serius di depan PC. Semua orang pasti berpikir kalau dia sedang bekerja. Nyatanya, dia sibuk w******p-an dengan Praga. Sesekali dia senyum sendiri. Dia kaget aja, bisa-bisanya Praga berencana menikah dalam waktu dekat ini. Bukan cuma itu, dia mengajukan cuti selama satu minggu. Entah apa yang terjadi, cowok itu gak mau jujur sama Aldo.
Praga
: Lo udah nelpon nyokap gue kan?
Aldo
: Ya, gue udah bilang semuanya.
Praga
: Thanks Al
Aldo
: Jadi sebenarnya kenapa? Bisa-bisanya lo ninggalin gue ngejomblo sendiri. Lo mau nikah sama siapa Pra?
Aldo menunggu sampai lima belas menit tapi tak ada balasan. Dia kesal sampai ngebanting meja.
“Mas Aldo, bisa diam gak?”ucap Pritta, cewek berkacamata yang tampak serius dengan baris program di laptopnya.
“Sorry, sorry..”
“Awas aja ya. Tadi lo cekikikan gak jelas, sekarang tiba-tiba marah.”
“Tahu tuh, kelamaan jomblo ya lo mas.”ledek Johan.
“Gue doain biar jomblo ya Jo.”
“Doa jahat gak bakal dikabulkan.”
“Ssialan!”
Praga merasa tenang setelah menyuruh Aldo ngobrol sama mamanya. Aldo sudah memberitahu kalau Jessi ketahuan selingkuh dari Praga. Semoga saja mamanya bisa menerima Jolin tanpa membuat cewek itu trauma.
Setelah kembali dari Medan, Jolin sering melamun. Dia bukan cewek yang gampang menangis. Itu yang terlihat oleh Praga. Bahkan sampai saat ini, saat Praga menjemput cewek itu dari kosannya, cewek itu masih diam dan gak mau cerita.
“Are you ok?”tanya Praga sambil tetap menyetir.
“Yeah!”balas Jolin singkat. “Ah, sebenarnya gue takut ketemu orang tua lo. Gue takut dibunuh.”
“Hey, gak mungkin.”
“Kata Diara, ibu mertua itu lebih kejam daripada ibu tiri.”
“Ngaco. Emangnya dia udah pernah nikah?”
“Belum sih, tapi itu cerita dari orang terdekatnya. Dan gue percaya sama Diara, Diara itu paling pintar di kelas gue.”
“Terus lo gimana? Bodoh dong.”
“Bisa dibilang gitu. Tapi gue ahli menghafal nama artis korea.”
“Itu bukan hal yang pantas dibanggakan.”
“Gue ngabanggain diri sendiri kok. Hmm, rumah lo masih jauh?”
“Bentar lagi sampai. Inget ya kata gue, panggilnya pakai mas. Biar kelihatan kalau kita emang sedekat itu.”
Mereka sampai di salah satu perumahan daerah Tangerang. Walaupun cemas tak menentu, Jolin berusaha menyadarkan dirinya kalau ini harus dilewati. Tuhan, semoga calon mertua nya itu baik hati dan tidak sombong. Semoga tidak ada siksa neraka disana. Semoga wanita itu bukan tipikal mertua yang merasa bahwa anak laki-lakinya direbut oleh perempuan asing. Ibu mertua yang merasa bahwa ada pencuri ulung yang tiba-tiba masuk jadi anggota keluarganya.
“Mas Praga, tumben balik. Ada maunya ya.”ledek seorang wanita yang sedang membersihkan taman sambil tersenyum.
“Iya bik, kok tau sih.”
“Loh, ini siapa?”
“Ah, kenalin bik, calon istri saya.”
Jolin merasa terintimidasi dengan sebutan itu. Rasanya masih asing. Wajar kan?
“Hallo buk!”sapa Jolin sopan. Dia tersenyum meskipun senyum itu terkesan canggung.
Mereka memasuki rumah bagian depan. Jolin duduk disana dan sesekali menarik nafas. Semisal dia dibenci ibu mertua juga tidak masalah. Toh, Praga punya apartemen untuk mereka tinggal. Tidak ada istilah tinggal di rumah mertua. Bisa gawat kalau mereka tahu tentang pernikahan palsu ini.
“Aga!!!”teriak wanita itu dengan histeris. Ia memeluk Praga dengan penuh kelembutan. Wanita itu tampak menyeramkan dengan make up menor yang menghiasi wajahnya.
“Kenalin ma, ini Jolin.”ucap Praga kemudian.
“Aku mau ngobrol sama mama papa. Papa dimana?”
“Papamu lagi beresin taman belakang. Emang mau ngomong apa Ga?”
“Yaudah, mending kita ngomongnya di sana.”ucap Praga sigap.
“Jol, kamu tunggu disini ya. Aku perlu bicara sama orang tua aku dulu.”ucap Praga berbisik. Jolin mengangguk setuju. Jolin menghela nafas. Takut banget. Pengalaman macam ini sangat mengganggu pikirannya. Bisa gak sih, pernikahan dilakukan dengan singkat. Tak perlu ada perkenalan dengan orang tua gini. Bikin pusing saja.
Jolin melamun beberapa saat. Kepalanya menengadah ke atas. Ia sedang memikirkan perjalanannya ke Belitung yang pasti gagal. Rencana jalan-jalan yang ia pikirkan setelah kembali dari Bali. Bukan karena pernikahan palsu ini, Jolin tidak punya uang untuk pergi kesana.
Tiba-tiba saja kehadiran wanita itu membuatnya kaget. Tante Merry datang dengan tatapan sumringah. Ia memeluk Jolin erat. Bahkan wanita itu menangis. Jolin ingin melepaskan diri tapi tak bisa. Pelukan itu sangat kuat.
“Kamu jaga baik-baik ya kandunganmu. Tante udah lama menantikan cucu. Dan tante gak nyangka datangnya kayak gini.”ucapnya dengan suara yang sangat lembut.
“Tante sudah dengar semuanya dari Aga.”ucapnya lagi. Ia menatap Jolin dengan tulus. Jolin hanya bisa cengo. Kejadian macam apa ini? Manusia di depannya itu mungkin sudah gila. Bisa-bisanya dia bahagia disaat seperti ini.
“I..iya tante.”
“Maafin Aga ya. Tante tahu kamu belum siap untuk ini, tapi maafin tante yang egois ini.”
Begitulah uniknya manusia. Ambisi untuk memenuhi standar hidup disekitar seakan jadi tujuan utama. Jolin tidak tahu harus bertingkah seperti apa. Sejenak ia bersyukur karena tidak mendapat masalah yang berarti.
Setelah berbincang cukup lama, Praga memutuskan untuk mengantar Jolin pulang. Kembali ke kosannya untuk mempersiapkan segala hal. Mereka akan menikah secepatnya. Ini semua demi menutupi aib yang bisa jadi pembicaraan manusia di sekitarnya.
Jolin sendiri merasa tidak ada yang terjadi dengan badannya. Entahlah, dia gak merasa mual lagi. Selain itu, dia juga merasa sangat aman. Tak seperti cerita Tari yang bilang kalau hamil itu cenderung sensitif terhadap apapun. Dan biasanya nafsu makan meningkat. Jolin tak merasakan hal itu.
Bisa saja dia memang tipikal cewek yang berbeda. Tanda-tanda kehamilan setiap orang kan beda-beda. Tak bisa disamakan.
Jolin memejamkan matanya. Ia mulai merancang segala sesuatu yang akan terjadi setelah nanti dia menikah. Dia punya banyak sekali keuntungan. Dia tak perlu lagi berurusan dengan peraturan kakaknya. Kakaknya yang selama ini selalu mengganggunya dengan alasan seorang malaikat. Niat menghakimi yang dibalut dengan istilah mengingatkan. Itu semua bulshit!