Bab 8 - Akibatnya

1074 Kata
After the wedding! “Lo lemot banget sih?”Komentar Praga saat Jolin duduk terkapar di lantai karena kelelahan. Dia tersesat dan gak tahu jalan pulang. Jolin memang sulit diprediksi. Kadang lemot, kadang pintar banget. Tapi akhir-akhir ini dia seringan lemot dibanding pintar. Mungkin efek bayi di perutnya. “Maklum atuh om, ini perut kan ada isinya.” “Dari kemarin tahu, lo kayak kesurupan.” “Terus gimana? Kapan mau ke rumah sakit?” “Lo gak ada keluhan kan? Gue masih harus nyelesain project satu minggu kedepan. Kalau hari minggu gimana?”ucap Praga sambil membereskan beberapa hal yang masih berantakan. Praga gak bisa mengandalkan Aldo lagi, sudah terlalu lama ia mengambil jatah cuti.  “Terserah lo deh.”balas Jolin malas.  Jolin bergegas menuju ke kamarnya. Kamar yang diidam-idamkan selama ini. Kamar yang wangi, punya jendela, luas dan tentu saja wajah idolanya terpampang nyata disana. Poster Big Bang terpampang di seluruh sudut. Jolin betah banget di kamar itu. Gak ada masalah yang perlu dikhawatirkan. Ternyata begini rasanya menikahi om-om kaya.  Satu-satunya masalah dari semua ini adalah isi perut Jolin. Jolin gak kebayang harus melahirkan di usianya yang masih 20 tahun. Dia bukan gadis-gadis di luar sana yang memang pengen banget nikah muda. Jolin duduk di kursi yang mengarah ke jendela itu.  Video call dari Tari dan Diara menghentikan lamunannya. Ia tersenyum dan memilih membaringkan badannya di kasur.  “Hallo..” “Jol, gimana? Are you ok?”tanya Tari antusias. “Yeah, disini sih enak. Tapi gue merasa asing.” “Sabar aja ya Jol. Entar juga terbiasa. Setidaknya lo lahirin dulu keponakan gue, baru lo bisa kemana-mana lagi.”Diara memberikan semangat. “Oh ya, lo kapan mau ngajuin cuti? Lo harus tahu, si Missie kurang ajar ternyata. Masa dia nyebarin gosip kalau lo nikah gara-gara hamil.”seru Tari blak-blakan. Tari emang susah banget nge filter omongan. Dia bicaranya terlalu jujur.  “Serius?” “Ehmm, gimana sih Ta. Tadi kan udah gue bilang, jangan kasih tahu dulu.”ucap Diara kesal. “Udah, gak usah ditutupi. Ceritakan semua ke gue.” “Sorry bikin lo jadi galau. Jadi Missie gak sengaja bilang kalau kemarin lo nanyain tentang hami itu loh. Terus teman-teman yang lain berpikiran kalau lo nikah gara-gara itu. Secara kan, lo gak pernah kelihatan punya pacar.” Kali ini raut wajah Jolin benar-benar berubah. Ternyata banyak yang harus dihadapi dan itu berat. Sudah cukup ia mengecewakan papanya, Bang Bima dan Kak Cissa. Kalau sampai pihak kampus tahu dia menikah gara-gara hamil, ia akan lebih mempermalukan keluarganya. Gak cuma keluarganya, tapi juga Tari dan Diara.  “Tenang aja Jol, kalau ada yang ngegosipin lo, langsung gue jahit mulutnya.”hibur Tari.  “Hahaha, iya. Gue ga apa-apa kok.”balas Jolin sambil tersenyum. Senyum bohong yang ia usahakan. “Tapi ada kabar baiknya.”Diara mengambil alih. “Gue sama Tari mau ke rumah lo minggu depan.”teriaknya gembira. “Boleh kan Jol?”ucap Tari memastikan. “Boleh banget! Gak ada siapa-siapa disini, si om pulangnya selalu tengah malam.”ucap Jolin sambil cekikikan. Dia tidak tahu kalau ada sepasang mata yang memperhatikan dari balik pintu yang terbuka itu. Jolin memang sengaja tidak menutup pintu kamarnya. Masih ada barang-barang yang harus ia bawa masuk ke dalam kamarnya. Buku-buku usang yang kadang ia baca kalau lagi gabut.  “Si om? Siapa itu?”tanya Praga dengan mengernyitkan dahi. “Ah, nggak ada. Cuma istilah masa kini.”ucap Jolin sambil menaruh ponselnya di tempat tidur. Mendengar jawaban itu, Tari dan Diara menahan tawa. Jawaban yang gak masuk akal di dunia.   “Ya udah, itu semua tinggal barang-barang lo. Gue pergi ya.” “Oh iya, hati-hati.” Setelah Praga pergi, Jolin merasa sangat lega. Dia mengarahkan ponsel itu ke wajahnya. Seketika tawa mereka bertiga pecah. Sebutan si om dimulai dari Jolin yang gak nyangka kalau umur Praga sudah 29 tahun. Akhirnya Tari dan Diara ikut-ikutan memanggil cowok itu dengan sebutan si om. Tak cuma itu, Jolin menyimpan nomor ponsel Praga dengan nama Si Om.  “Jawaban lo mendramatisir banget. Istilah masa kini, emangnya dia eyang-eyang?”ledek Tari yang masih tertawa. “Ya siapa tahu, dia kan udah beda jaman sama kita.” “Terus gimana Jol, baby di perut lo? Ada yang gerak-gerak gak?”tanya Diara antusias. “Belum lah Di. Tapi gue gak merasa gimana-mana. Kayak perut gue isinya cuma taik doang.” “g****k! Bahasa lo dijaga Jol. Lo bentar lagi jadi emak-emak.” “Iya, maaf Tari.” “Tapi ya Jol, Ta, katanya orang yang hamil diluar nikah itu, hamilnya gak berasa. Maybe itu yang Jolin rasain.”ucap Diara mencoba mengingat dari mana informasi itu datang. Informasi yang sering dia dengar kala ada berita menggemparkan disekitarnya.  “Benar kata Diara. Bisa aja lo lagi merasakan yang begitu. Jadi kapan lo mau check up? Gue perlu tahu jenis kelamin anak lo.” “Astaga Ta, lo siapa sampe pengen banget  tahu jenis kelaminnya?” “Gue sebagai calon tante berhak tahu.” “Udah jangan berantem! Dasar bocah.” “Lo lebih bocah ya!”ucap Tari dan Diara serempak. Mereka mengobrol cukup lama. Terutama tentang pernikahan yang dilakukan secara sederhana. Tari malah mengoceh tentang Praga yang tampan. Dasar cewek itu, dia sama sekali gak berubah. Setelah itu, Jolin memutuskan untuk beres-beres. Setidaknya dia berkontribusi atas rumah ini. Tempat tinggal gratis yang ia dapat setelah menikah dengan Praga. Sebenarnya, Jolin tidak tahu tentang Praga yang pernah diselingkuhi. Dia hanya tahu kalau Praga mempersiapkan banyak hal untuk perempuan yang seharusnya dinikahi. Dia tahu cerita itu dari Tante Merry, mertuanya yang baik hati.  Praga pernah bilang kalau mamanya sebaik itu karena dia sangat menginginkan cucu. Kakak ipar Jolin tak kunjung memberinya cucu. Gio dan Lea sudah menikah selama 3 tahun. Tante Merry tak pernah menunjukkan keinginannya secara blak-blakan. Tapi dari tingkah lakunya terhadap Lea bisa diambil kesimpulan kalau tante Merry bertingkah aneh. Perempuan memang sering disalahkan dalam hal ini. Padahal sering digunakan istilah perempuan selalu benar. Ya, perempuan selalu benar untuk hal sepele. Kayak mau makan dimana, kamu kenapa atau mood yang tiba-tiba naik turun. Tapi untuk hal penting dan krusial, perempuan selalu salah.  Saat Jolin hamil, dunia akan menyalahkan perempuan. Saat Lea dan Gio tak kunjung diberi momongan, perempuan yang salah. Tak bisakah untuk keadaan ini keduanya disalahkan? Kenapa harus menyalahkan salah satu? Jolin menyalakan televisi, membuka youtube dan mencari lagu Big Bang. Dia mulai membersihkan segala kekacauan di ruangan itu.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN