Rumah sakit itu terletak di pusat kota Jakarta Selatan. Bagian Persalinan terlihat ramai dengan orang berlalu lalang. Parkiran juga masih sepi karena terlalu pagi untuk orang-orang sampai disana. Praga dan Jolin duduk di mobil, diam tanpa kata, kayak lagunya D'masiv.
“Lo gila ya?”ucap Praga untuk ketiga kalinya setelah mereka keluar dari sana. Praga gak habis pikir dengan semua ini. Ini adalah definisi g****k yang sesungguhnya.
“Maafin gue.”balas Jolin dengan ekspresi sejuta makna. Dia melongo seperti orang bodoh. Dasar Jolinda Radiny, perempuan terbodoh sedunia.
Dokter yang tadi mereka temui secara gamblang bilang kalau Jolinda Radiny, perempuan berusia 20 tahun tidak hamil. Ya, DIA TIDAK HAMIL!
Bak terkena bongkahan batu yang memecah kepala, Jolin dan Praga meninggalkan dokter dengan wajah yang dibuat seolah-olah mereka tidak ada masalah. Apalagi dokter nanyain, udah nikah berapa lama? Baru tiga minggu dok.
“Oh baru tiga minggu. Saya kira sudah seabad.”ucap dokter itu bercanda. Dia tidak tahu kalau pernikahan itu terjadi karena kehamilan yang tidak disengaja. “Saya kasih resep deh biar cepat hamil. Tenang aja, rileks.”ucapnya sambil tertawa kecil. Dokter b*****t!
Jolin menggaruk kepalanya dengan gusar. Dia gak bisa berpikir jernih. Dia mencoba mengingat-ingat apa yang terjadi sampai test packnya menunjukkan dua garis biru. Dan tanda itu sangat jelas, tidak samar-samar. Kemungkinan terbesar adalah Jolin gak sengaja mengambil test pack milik orang lain. Dia gak ingat secara pasti.
“Bisa-bisanya lo salah ngasih info?”
“Lo juga salah. Kenapa lo gak ajak gue cek? Main terima-terima aja. Gue udah minta maaf ya tadi. Tapi lo terus-terusan nyalahin gue.”
Keduanya memang pantas disalahkan. Dua-duanya sama-sama g****k. Praga yang tidak aware dan langsung terima saja. Bodoh, bodoh banget! Harusnya Praga lebih siaga karena dia yang dirugikan atas masalah ini.
“Terus sekarang gimana? Lo udah bikin hidup gue kacau.”ucap Praga setelah menarik napas berkali-kali. Ia mencoba menggunakan akal sehatnya. Dia harus memikirkan segala sesuatu dengan matang. Tak boleh ada yang terlewat lagi.
“Gue gak tahu.”balas Jolin singkat.
“Lo bisa keluar dulu gak? Gue butuh waktu buat sendiri. Gue rasa lo juga.”ucap Praga dengan terus menenangkan dirinya.
Jolin tidak menjawab apa-apa. Dia memilih untuk melakukan apa yang disuruh Praga. Keluar mobil dan berdiri seperti orang bodoh. Praga pergi meninggalkannya.
Jolin memilih untuk duduk di kursi dan memahami apa yang dia lakukan. Bodoh. Bodoh banget. Ini semua salahnya. Ia memukul-mukul kepalanya. Rasa bersalah memenuhi pikirannya.Bersalah pada keluarganya. Tapi yang terutama bersalah pada Praga.
Semakin memikirkan hal itu, air mata Jolin semakin tak tertahan. Dia menangis. Tak ada yang peduli padanya. Dan untuk pertama kalinya, dia menangis di depan umum. Orang-orang itu melihatnya. Jolin tak peduli, dia hanya menunduk dengan kepala bersandar di kaki.
Dia kelelahan menangis dan tertidur. Hingga satpam menyuruhnya bangun. Dia tersadar ketika hari sudah siang menuju sore. Langit berwarna orange dan membuat hatinya semakin sedih. Matanya bengkak karena sudah kehabisan air mata.
Ia mengecek ponselnya, hanya ada pesan dari Tari dan Diara. Praga tak menghubunginya sekalipun. Ah, harusnya dia sedang bekerja.
“Arghh, persetan sama dia. Terserah lah. Gue emang salah, tapi dia juga salah. Bodo amat!”gumam Jolin sambil beranjak. Dia melepas outer yang sedari tadi dikenakan. Teriknya matahari sore membuatnya panas dan menggebu-gebu. Dia berjalan menuju halte busway terdekat. Saatnya menghadapi kenyataan. Dia mau bicara langsung dengan cowok sialan itu.
Prak!! Badannya terjatuh ke tanah. Pandangan matanya samar-samar. Beberapa orang mendatanginya dengan raut wajah yang tak jelas.
Jolin terbangun di ranjang pasien. Ia langsung sadar dalam waktu singkat. Seorang dokter muda menunggunya disana. Jolin langsung duduk setelah menganggap dirinya baik-baik saja.
“Sudah bangun?”tanya dokter itu.
“Saya kok bisa ada disini dok?”
“Kamu tadi pingsan ditengah jalan. Langsung dibawa kesini deh.”
“Astaga.”
“Masih pusing?”
“Kok dokter tahu saya pusing?”
“Biasanya gitu, kalau abis nangis pasti pusing.”
“Lah, kok tahu saya abis nangis?”
“Itu mata gak bisa bohong.”
“Ah, I see.”seru Jolin paham. “Saya bisa pulang kan dok?”lanjutnya.
Dokter muda itu tampak sedang berpikir. Dia melihat ke arah Jolin. “Lo gak merasa kenal sama gue?”
Pertanyaan yang membuat Jolin melakukan pengamatan. Tadinya dia gak peduli dengan wajah dokter itu. Dalam pikirannya hanya ada cara menyelesaikan masalah pernikahannya. Saat ia melihat dengan serius, dia menemukan satu nama untuk cowok itu.
“Paldi?”tanya Jolin memastikan. Cowok itu mengangguk. Jolin langsung memukul badan Paldi dengan tangannya. Paldi, teman sebangku Jolin waktu SMP. Emang sih, mereka sebangku cuman satu tahun, tapi mereka berteman sangat baik.
“Kok lo udah jadi dokter aja?”
“Belum. Gue ada magang disini. Kita kan seumuran Jol, ya kali gue secepat itu.”
“Lo kan pintar Pal.”
“Jangan ngeledek, gini-gini gue kan sering nyontek bareng elo.”
Paldi berubah banyak setelah sekian tahun. Dulu dia cupu banget, sekarang jadi terlihat sangat dewasa. Dibanding Jolin, cowok itu jauh lebih dewasa. Dia menceritakan banyak hal dan itu membuat Jolin sejenak lupa tentang Praga. Cowok itu memberi Jolin ingatan tentang perbuatan kriminal mereka di masa lalu. Nyontek saat ujian mendadak, makan waktu guru mengajar hingga membalas surat cinta. Jolin pernah mendapat surat cinta, tapi cewek itu menyuruh Paldi yang membalasnya. Masa SMP konyol dimana cinta monyet itu nyata adanya. Kocak banget kalau diingat.
“Lo bukannya kerja? Ngobrol sama gue gini gak dimarahin entar?”
“Oh iya, gue sampai lupa.”Paldi melihat jam dan bangkit berdiri. “Maybe next time kita ngobrol lagi Jol, gue balik dulu ya.”
“Ya, thanks Pal.”
“Ah, lo bisa balik sendiri kan? Kalau gue gak kerja, pasti udah gue anterin.”
“Iya, bisa kok.”
Lega setelah bertemu Paldi, Jolin merasa dirinya sudah kembali. Ia harus kembali ke rumah dan menyelesaikan masalahnya. Mari bercerai jika itu yang terbaik. Emang sih, ini bakal jadi aib terbaru untuk orang-orang disekitarnya. Harusnya Jolin senang karena bisa melanjutkan kuliahnya tanpa harus cuti.
Setelah menunggu tiga puluh menit, bus Transjakarta tiba. Ia langsung naik dan terpaksa berdiri karena ramai dengan pekerja kantoran yang baru saja pulang. Dia melihat foto pernikahannya dengan Praga. Tawa yang mereka rancang agar foto pernikahan itu bisa dilihat anaknya nanti. Lagi-lagi Jolin menyalahkan diri sendiri.
“Harusnya gue senang, kenapa malah sedih sih.”batinnya dalam hati. Badannya terhempas kala bus ngerem mendadak. Dia memutuskan untuk berhenti melihat foto itu. Ia memasukkan ponselnya ke tas dan menatap jalanan yang penuh dengan mobil mengantri. Sungguh suasana yang menyesakkan.