Mataku memandang lurus pintu kafe untuk terakhir kalinya sebelum akhirnya kupejamkan sepasang mata ini. Tak ada air mata. Yang tertinggal hanyalah rasa sesak di dalam d**a ini. Aku tersenyum, menertawai diriku yang terlalu naif. Berpikir jika Reyhan masih mencintaiku setelah apa yang terjadi tiga bulan ini. Bodoh kamu Norah! Bukankah ini yang kamu inginkan? "Nor..." Suara mas Roby menyentakkanku dan dengan cepat aku menoleh padanya. Di bibirnya terukir jelas senyum tipis. Senyum yang menggambarkan rasa iba. Apa aku begitu kelihatan mengenaskan sampai mas Roby saja menatapku dengan rasa iba? "Lo baik-baik aja?" Aku terdiam sejenak sebelum akhirnya mengangguk pelan. "A-aku... sebaiknya aku pulang, Mas. Tiba-tiba saja aku tidak enak badan. Bisa melanjutkan pertemuan ini lain kali?" kataku

