Tiga

1172 Kata
"Apa maksudmu?" tanya Reyhan dingin dan ini adalah percakapan pertama diantara kami setelah kami melangkah masuk ke dalam apartemen. "Aku tidak mengerti," jawabku jujur sambil membebaskan sepasang heels dari kakiku. Faktanya aku memang tidak mengerti dengan ucapannya. Aku merasa tidak melakukan kesalahan. "Ucapanmu itu." "Ucapanku yang mana?" "Kamu baru saja menyodorkanku kepada temanmu," imbuh Reyhan. Langkahku terhenti. Aku memutar tubuhku yang sudah sampai di ambang pintu kamar dan memandang wajah Reyhan dengan heran. Laki-laki itu sudah melepaskan dasi kupu-kupunya bersamaan dengan dua kancing atas kemejanya. "Sepertinya aku mengerti kenapa kamu marah," godaku setelah mengerti topik pembicaraan yang telah dipilih Reyhan kali ini. "Aku bukan barang yang seenaknya bisa kamu sodorkan, No," desahnya lalu menjatuhkan tubuhnya ke atas sofa. Melihat hal itu aku berjalan mendekatinya dari arah belakang sofa dan memeluknya dari belakang. "Kamu tidak suka dengan ucapanku atau Ellie?" bisikku tepat di telinganya. Entah sejak kapan, atau lebih tepatnya sejak kami tinggal bersama, aku jadi suka menggoda Reyhan. "Dua-duanya," jawab Reyhan masih berusaha dengan tembok yang dibangunnya. "Kamu harus memilih salah satu Reyhan. Atau kamu tidak akan mendapatkan keduanya," protesku yang alhasil membuat Reyhan terkekeh. "Dan jawabanku adalah Ellie. Aku tidak suka dengannya." Lalu tanpa diduga Reyhan menarik dan mengangkat tubuhku sehingga aku jatuh diatas tubuhnya. Alhasil aku memekik terkejut, sedangkan pelakunya tertawa puas. "Gotcha!" ucapnya bangga lalu detik berikutnya ia menciumku. Kami saling memagut seakan tak ingin melepaskan. Meski kenyataannya, bersama dengan Reyhan selalu tidak pernah puas. Bibirnya seakan ditaburi m****n yang akan membuatmu ketagihan. Lagi dan lagi. Setelah kehabisan nafas, kami saling memandang. "Jangan pernah lepaskan aku No." Aku tertegun mendengar ucapan Reyhan kali ini. Belum pernah ia mengatakan kalimat itu kepadaku sebelumnya. "Kenapa?" tanyaku sambil membelai lembut dagunya yang bebas dari bulu-bulu halus. Padahal aku lebih suka Reyhan memeliharanya. Dia terlihat lebih hot. "Tidak apa-apa," jawabnya singkat lalu menangkap tanganku dan mulai kembali menempelkan bibirnya dengan bibirku. Tak butuh waktu lama, di ruangan ini dengan gairah yang telah bersarang di dalam diri kami masing-masing, kami kembali bersatu. Hingga akhirnya kami mencapai kepuasan. Sebuah kepuasan yang tak pernah usai meski tanpa cinta di dalamnya. Atau kami saja yang belum menyadarinya? *** Suara burung berkicau yang hinggap di luar kaca jendela membuat kedua mataku perlahan terbuka. Saat itulah aku tersadar jika tubuhku terasa kaku dan pegal-pegal. Bagaimana tidak pegal? Reyhan berhasil membuatku kelelahan akibat olahraga malam yang dimulainya. Aku mengangkat wajahku dan menemukan wajah polos Reyhan yang masih pulas. Dengan hati-hati aku mengangkat tangannya yang melingkari pinggangku, namun ketika aku baru saja mengangkatnya ke udara, tangan itu langsung membebaskan diri dari cengkeramanku dan memeluk pinggangku kembali. Alhasil aku berdecak kesal. "It's morning, Rey. Aku harus ke studio buat pemotretan jam sebelas nanti," omelku. "Masih ada beberapa jam lagi, No. Jadi biarkan aku tidur. Lagipula sekarang hari Minggu." Aku memutar kedua bola mataku. "Hanya kantor yang libur di hari Minggu. Sedangkan aku bukan pekerja kantoran. Jadi lepaskan aku Rey!" Bukannya melepaskan pelukannya, Reyhan semakin mengetatkannya. Ia menarik tubuhku lebih dalam. Detik berikutnya sepasang kelopak mata itu terbuka. Manik coklatnya langsung berhadapan dengan milikku. "Morning, No," sapanya tanpa rasa bersalah. Dan ketika aku hendak protes ia mencium bibirku sekilas. Alhasil ia berhasil membuatku mengagalkan niatku. "Tidak bisakah kamu libur sehari saja?" Aku menggeleng. "Maaf. Aku harus tetap pergi." Perlahan aku mengangkat tangan Reyhan dan ternyata kali ini ia mengalah. Aku meraih selimut untuk membungkus tubuhku yang polos menuju kamar mandi. "Mau kutemani?" tawarnya ketika aku hendak menutup pintu kamar mandi. Ternyata Reyhan mengikuti ke kamar setelah mengenakan celana pendeknya. "Terima kasih," jawabku lalu menutup pintu cepat-cepat. Terdengar jelas tawa Reyhan yang puas setelah menggodaku. "C'mon No..biasanya juga kita mandi bersama," teriak Reyhan dengan nada menggoda. Lebih tepatnya mengejek Norah. "Sayangnya not for today, tuan Efrata Reyhan Pratama," balasku dari dalam kamar mandi yang berakhir dengan seukir senyum di bibirku. *** Studio tampak sepi di hari Minggu. Hanya terdengar suara heels-ku yang menghantam lantai keramik ini. Dan ketika menemukan ruangan yang aku tuju, aku membuka pintu dan di dalam sanalah kesibukan tampak jelas. Berbeda dengan suasana di luar ruangan. "Hey, Nor!" sapa Talia, bagian make up artist yang biasa menggunakan sihirnya untuk mengubah wajah pucatku menjadi luar biasa berbeda. "Hey.. mana mas Roby?" tanyaku heran. "Lagi ke toilet. O iya dia bilang kalau kamu datang langsung aja siap-siap. Jadi pas dia kembali langsung pemotretan," jelas Talia sambil mengeluarkan kotak ajaibnya. "Okay." Aku pun menurut dan mengikuti petunjuk yang diberikan oleh Talia tadi. Lima belas menit kemudian, penata cahaya sudah siap dan sosok mas Roby pun muncul di dalam ruangan. "Kapan dateng, Nor?" tanya laki-laki itu ketika melihat aku telah siap. "Baru kok Mas. Ke toilet kok lama Mas, nabung ya?" godaku pada pria berdarah jawa ini. Ia selalu memakai topi dengan posisi terbalik dan kaos hitam. Tidak lupa sepuntung rokok selalu terselip di bibirnya. "Tau aja lo. Udah siap?" kekehnya. "Lo tau kan kalau pemotretan ini buat majalah L-Fashion?" "Tahu kok, Mas. Memang ada apa?" "Gini Nor, sekarang L-Fashion lagi merambah ke pakaian formal. Macam wedding dress, tuxedo atau gaun pesta gitu deh. Dan untuk tema wedding, L-Fashion pastinya sepasang dong. Jadi nanti kalau lo harus foto bareng model laki-laki, lo nggak masalah, kan?" Aku terdiam sejenak. Berusaha mencerna ucapan mas Roby. "Nggak masalah kok, Mas. Yang penting jangan baju renang aja. Bisa-bisa..." "Gue ngerti. Makanya gue kasih tau lo sekarang. Jadi sebelum pemotretan nanti lo bisa omongin dulu sama laki lo," imbuh Mas Roby yang notabene udah tahu hubunganku dan Reyhan. "Oke. Nanti aku coba bicarain sama Reyhan." "Kalau lo nggak mau buat gue aja job lo, Nor. Gue mau-mau aja foto bareng sama para model-model ganteng and hot," sela Talia bersemangat. Aku berdecak sambil melirik Talia. "Ilangin dulu tuh bulu d**a baru deh gue kasih job gue ke lo," ledekku yang disambut Talia dengan dia menatapku sinis dan membuang wajahnya. Alhasil aku dan mas Roby tertawa melihatnya. "Udah-udah. Mana yang lain? Cepetan suruh siap-siap! Gue nggak mau overtime!" teriak mas Roby yang suaranya langsung membuat para kru berdatangan ke dalam ruangan seperti Sonic di video game. Untunglah pemotretan kali ini berjalan lancar. Jadi ketika Reyhan menghubungi dan berkata akan menjemput, aku pun dengan senang hati menyambutnya. "Bagaimana pemotretannya? Lancar?" tanya Reyhan saat aku sudah duduk manis di sebelahnya. Dia tampak santai dengan kaos Henley grey dan celana jeans. "Lancar. Meski sedikit melelahkan.." keluhku. Soalnya tadi sempat retake beberapa kali saat aku sudah mulai lelah. Menurut mas Roby, dia tidak mendapatkan ekspresi wajah natural sesuai dengan keinginannya. Tiba-tiba dengan sebelah tangannya, Reyhan memijat bahuku untuk beberapa detik saat kami berhenti di lampu merah. "Enakkan?" tanyanya. "Sedikit," gumamku. "Kita lanjutin di rumah ya. Sekarang kita dinner dulu ya," imbuhnya dengan kerlipan sebelah matanya. Melihat hal itu aku tahu apa yang ada dipikirannya. Dasar m***m. Tapi mau tidak mau aku tersenyum. Setidaknya untuk saat ini aku merasa bahagia dengan kehadirannya di sisiku. Meski aku tidak tahu sampai kapan Reyhan akan selalu ada untukku. Karena aku tahu hubungan kami saat ini hanyalah hubungan mutualisme. Hubungan yang ketika salah satu diantara kami sudah merasa jenuh, kami harus mengakhirinya. Dan hati kecilku takut hari itu akan datang. ***
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN