Empat

1321 Kata
Ada ekspresi tidak suka di mata Reyhan saat aku baru saja menyelesaikan kalimatku. Aku tahu hal ini akan terjadi. Tapi aku tidak mengerti apa yang ada di pikiran Reyhan. Andai saja aku punya kemampuan untuk membaca pikirannya, aku rasa semuanya akan jauh lebih mudah. "Pemotretan kamu selanjutnya memintamu untuk foto bersama model laki-laki?" Sebelah alis Reyhan terangkat. Tampak jelas dia masih mencoba menahan diri untuk tidak meledakkan bom yang dipegangnya. "Iya. Kalau aku dapat jatah pemotretan bertema wedding dress. Kalau nggak ya nggak ada bagian itu," sahutku pelan. "Memangnya sebelum kamu tandatangani kontrak dengan L-fashion, managermu itu nggak kasih tahu kalau ada pemotretan bersama laki-laki?" "Nggak ada, Rey tapi seenggaknya aku udah tanda tangan kontrak dan aku harus ngelakuin kerjaan aku apapun itu. Cuma aku yakin mbak Nita juga nggak tahu kalau L-Fashion lagi mengembangkan sayap. Lagi pula belum tentu jadi. Soalnya kata mas Roby masih belum pasti." Aku terdiam sejenak dan mengangkat wajahku dari steak yang sudah tidak tampak lezat di mataku. Lalu melirik Reyhan. "Aku harap kamu mengerti Rey, aku hanya melakukan pekerjaanku." Terdengar jelas suara hembusan nafas Reyhan. "Aku akan bertemu dengan Roby. Jadi kita bicarakan nanti saja." "Rey..." panggilku pelan. Namun, tak ada jawaban dari laki-laki itu. Yang artinya pembicaraan diantara kami saat ini telah selesai. Dan jika aku masih cinta damai, sebaiknya aku menutup bibirku rapat-rapat. Tinggal satu atap selama enam bulan dengan Reyhan membuatku mengetahui sifat-sifat laki-laki itu yang selama ini tidak aku ketahui. Terutama sikap posesifnya. Setahuku dulu dia tidak begitu posesif. Termasuk saat Reyhan berpacaran dengan Imel saat kami masih berseragam putih abu-abu. Masih ingat dalam ingatanku, Imel meminta bantuanku untuk membuat Reyhan cemburu. Bisa kalian bayangkan se-cuek apa makhluk bernama Efrata Reyhan Pratama ini? Aku yang berteman dekat dengan Imel, terpaksa meminta bantuan Yoga, anak XXII IPA 2 untuk menjalankan rencana yang berjudul 'Misi membuat Reyhan cemburu'. Rencananya sepulang sekolah ketika Reyhan hendak masuk ke dalam kelas yang sepi untuk mencari Imel, di sana dia akan melihat adegan di mana Yoga memeluk Imel. Dan ketika kami menjalankan rencana kami, Reyhan yang berdiri tegak hanya berdeham dan dengan santainya berkata, "Sorry gue ganggu. Gue kira nggak ada orang." After that, Reyhan melangkah pergi dari situ. Sesudahnya, Imel langsung mengejar Reyhan dan meminta maaf kalau semua itu hanya salah paham. Tapi perkataan Reyhan selanjutnya berhasil membuat Imel melongo dan ingin lompat dari atas tebing yang curam. "Nggak apa-apa, Mel. Cuma kenapa lo nggak jujur sama gue kalau lo suka sama Yoga?" Alhasil Imel menangis semalaman ditelepon ketika dia menceritakan semuanya kepadaku. Aku menarik nafas panjang. Jika sebelum Reyhan ke Australia se-cuek itu. Jadi, kenapa Reyhan yang cuek alias nggak peka jadi se-posesif ini? *** Untunglah semalam Reyhan tidak membahas masalah mengenai pemotretanku. Setidaknya aku bisa bernafas lega saat ini. Dengan langkah anggun, aku melangkah masuk ke ruangan di mana mbak Nita sudah menungguku. "Hai Nor. Sorry ya kemarin gue sakit jadi nggak bisa nemenin lo pemotretan," cerocosnya saat aku baru saja mendaratkam bokongku di atas sofa. "Nggak apa-apa lagi, mbak. Kemarin bukan pemotretan yang sulit kok. Sekarang udah baikan?" "One hundred percent recover. Tadi pagi L-fashion kabarin aku kalau dalam waktu dua minggu lagi, kamu ada pemotretan di Bali ya untuk wedding dress L-Fashion. Dan rekanmu kali ini adalah Gio," jelas perempuan berkacamata yang usianya hanya terpaut tiga tahun dariku. "Gio?" Mendengar namanya membuat keningku bertautan. "Gio Handerson?" "Yup. Memangnya ada berapa Gio yang kamu kenal?" Astaga! Apa tidak ada model lain? Gio Handerson, seorang model yang dikenal sebagai playboy cap perban yang selalu berhasil menaklukan para wanita yang selama ini menjadi rekannya. Memang sih tampan, apalagi darah Inggris mengalir di dalam tubuhnya. Tapi demi Tuhan dia adalah laki-laki terakhir yang ingin kutemui di dunia ini. Kenapa? Karena aku sangat tidak menyukai tipe laki-laki b******k macam dia! "Apa nggak ada model lain, mbak?" tanyaku hati-hati. "Nope. Gio satu-satunya model pria yang lagi naik daun. Lagian juga kalian cuma berpose layaknya pria dan wanita yang bahagia menanti pernikahan kalian. Nggak aneh-aneh kok," jelas mbak Nita lalu berlalu ketika mendapat panggilan dari Talia. Aku menghembuskan nafas dan mengusap pelan sisi lenganku. Aku tidak ada masalah dengan posenya. Yang menjadi masalah adalah Gio Handerson! Kenapa pekerjaanku jadi serumit ini? Tiba-tiba semua pandangan mata para kru, terkunci pada sosok yang baru saja datang. Panjang umur, orang yang ada di dalam pikiranku muncul sambil menebarkan pesonanya ke mana-mana. Bahkan Talia pun ikut larut akan pesonanya. Pria berambut cokelat, dengan mata biru dan hidung lurusnya yang lancip memang sangat tampan. Belum lagi tubuhnya yang tinggi dan tegak. Menambah nilai plus di mata siapa saja yang melihatnya. Kecuali aku. "Norah Mulidya, it's been a long time," sapanya saat tanpa sengaja pandangan mata kami bertemu. "Gio," balasku. "Aku nggak nyangka kamu masih betah jadi model. Nggak berniat jadi CEO?" Gio berdecak beberapa kali dan memandangku dari atas kepala sampai ujung sepatuku dan kembali ke wajahku. "Thanks to you, karena aku masih berharap kita dapat bekerja sama nanti." Aku mendengus dan tersenyum sinis. "Sayangnya aku berharap yang sebaliknya." "Noo...jangan sesinis itu padaku Norah. We could be the best couple in the world." Sebelah alisku terangkat. "Jangan harap." "Ah..sepertinya aku lupa kalau kamu sudah milik Reyhan," sindir Gio. Tapi dengan cepat ia membuka suaranya lagi dan lebih menyebalkan dengan nada meremehkan. "Atau sebenarnya sejak awal kamu bukan miliknya. Karena kenyataannya kalian hanya friends with benefit?" Mendengar ucapan Gio, alhasil kedua tanganku terkepal erat disisi tubuhku. Nafasku mulai menderu akibat menahan emosi. Jika bukan karena banyak mata yang sedang memandang ke arah kami, sudah aku pastikan kepalan tanganku melayang di salah satu matanya atau membengkokkan hidungnya yang tegak itu! "Oops..sorry. My mistake." Lalu Gio mendekatkan wajahnya ke sisi telingaku. "Sudah aku beritahukan kepadamu, Norah. Memilih Reyhan adalah sebuah kesalahan besar." Senyum tampak mengembang di bibirnya ketika Gio berhasil menarik wajahnya dan melangkah pergi. Aku memejamkan kedua mataku, berusaha menenangkan emosi yang telah naik ke ubun-ubun. Tahu apa dia sampai berani bicara seperti itu? Lagipula bukankah wajar jika seorang perempuan menolak ajakan kencan dari seorang laki-laki yang tidak disukainya. "You okay, Nor?" tanya mbak Nita ketika ia tiba di sisiku. Aku mengangguk pelan. "Aku ke toilet dulu mbak." Tanpa menunggu jawaban dari mbak Nita, aku langsung berjalan meninggalkan ruangan ini. Berusaha memedulikan beberapa pasang mata yang baru saja memandangku iba. Dan ketika aku berbelok di lorong, tiba-tiba saja aku menabrak seseorang bertubuh tegak. Bagaimana aku bisa tahu? Karena saat ini tubuhku-lah yang terpantul akibat kehilangan keseimbangan sepertinya tubuhku akan jatuh ke belakang. Siapa saja tolong aku! Teriakku dalam hati dengan kedua mata terpejam. Untungnya tiba-tiba sebuah tangan yang kokoh berhasil menangkap tubuhku yang kurus. Perlahan aku membuka kelopak mataku dan saat itulah kedua mataku bertemu dengan manik cokelat yang lembut dan tenang. Alisnya yang hitam dan tebal, hidungnya yang tidak terlalu mancung namun terpahat sempurna, ditambah bibirnya yang tipis begitu menantang untuk dicicipi. Kulitnya yang cokelat memberikan kesan jika dia seorang petualang. Atau hanya persepsiku saja? Seakan merasa terhipnotis, aku mengerjapkan kedua mataku beberapa kali. Dengan susah payah aku menelan salivaku. Masih terpesona dengan pahatan sempurna milik Yang Maha Kuasa. "Anda baik-baik saja?" Suara bariton dengan nada sedikit serak membuatku tersadar dari pikiranku sendiri. "I-iya. Terima kasih," jawabku terbata. Kemudian dengan hati-hati pria itu membantuku untuk berdiri tegak. "Maaf. Karena saya anda hampir jatuh," ucapnya lagi. "Bukan sepenuhnya salah anda. Salahku juga tidak hati-hati," sanggahku. "Salah saya," katanya. "Salah saya juga," kataku bersikeras. Dan ketika tersadar kalau kami saling menyalahkan diri sendiri, ada perasaan malu dan pada akhirnya kami tertawa bersamaan. Lebih tepatnya menertawai diri kami sendiri. "Kenalkan, saya Davis." Pria itu mengulurkan sebelah tangannya. Aku memandang tangannya sebelum akhirnya memutuskan untuk menyambutnya. Ada desiran lembut di dalam hatiku. "Norah." Kami saling pandang diiringi senyum yang terpatri di bibir kami masing-masing dengan tangan yang masih bertautan. Dan entah mengapa aku menyukai senyum Davis. Senyum yang menggambarkan permukaan air yang tenang. Seolah-olah pria ini diciptakan memang untuk membuatku merasa tenang dan nyaman. Karena ketika melihatnya, emosi yang tertahan di dalam diriku, menguap dan menghilang tanpa sisa. ***
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN