Lima

1382 Kata
"Jadi kamu salah satu model di tempat ini?" Aku mengangguk bangga. Tentu saja, menjadi model sudah menjadi impianku sejak aku bersekolah. Dan ketika impianku tercapai, sudah pasti aku akan menjaga impianku ini baik-baik. Tidak peduli jika Reyhan adalah penghalangnya. "Pantas saja kamu cantik," imbuh Davis lagi. Aku tersenyum dan melirik laki-laki yang mengenakan kaos neck-v di dalam jas hitamnya. Akibat tabrakan tidak sengaja tadi, Davis menawariku minum sebagai permintaan maaf yang langsung aku setujui. Maka di sinilah kami duduk, salah satu kafe yang ada di dalam gedung L-Fashion. "Masih banyak model yang lebih cantik dariku. Aku hanya segelintir model biasa," kataku merendah. "Aku tidak percaya. Menurutku, kamu yang paling cantik." Mendengar pujian yang keluar dari bibir Davis, alhasil aku tersipu malu. "By the way, kalau boleh tahu ada urusan apa kamu di sini? Soalnya aku belum pernah lihat kamu di gedung ini sebelumnya loh," tanyaku mengalihkan topik pembicaraan. Tidak nyaman rasanya membicarakan diri sendiri. "A..aku hanya salah satu karyawan biasa di perusahaan ini. Mungkin saat kamu datang aku sedang keluar. Seperti menawarkan produk di luar sana," jawab Davis. Aku membulatkan bibirku dan mengangguk mengerti. Mungkin Davis termasuk salah satu karyawan bagian marketing. Bukankah marketing bekerja menawarkan produk? "Okay. Aku harap penjualanmu bagus." "Thanks," sahutnya sambil meminum secangkir kopi miliknya. "Well, terima kasih atas traktirannya. Tapi aku harus pergi." Aku melirik jam tangan yang melingkari lenganku. "Aku ada pemotretan tiga puluh menit lagi. Kalau sekarang aku belum kembali, bisa-bisa manager-ku panik," lanjutku sambil tersenyum tipis. "Aku mengerti," kata Davis sambil mengangguk kecil. "Good luck buat pemotretannya," lanjutnya. Aku tersenyum lebar dan menggumamkan terima kasih sebelum akhirnya melangkah pergi. Meninggalkan Davis, laki-laki ramah dan lucu. Sepertinya berteman dengannya tidak seburuk itu. *** "Hey..." sapa Reyhan ketika aku melangkah masuk ke dalam apartemen. Dia tampak asyik menonton televisi sambil memakan seember popcorn di tangannya. "Hey..." jawabku yang ikut duduk di sisinya dan mengambil sebuah popcorn untukku makan. Lalu tanpa ragu menyandarkan kepalaku ke bahu Reyhan. "Bagaimana pemotretan hari ini?" "Lancar," jawabku singkat. Pandangan mataku jatuh pada layar televisi di mana seorang gadis cantik sedang membasmi para zombie tanpa rasa takut. Detik berikutnya aku mengangkat wajahku dan memandang wajah Reyhan. "Tumben kamu udah pulang." Ucapanku berhasil mengalihkan pandangan Reyhan dari laya kaca dan berganti ke wajahku. "It's nine o'clock, No. Kamu yang pulangnya terlalu malam." Aku melirik jam digital yang berada di sebelah televisi dan mengangguk. "Sorry, my mistake." "Kenapa sampai selarut ini?" Aku menghembuskan nafas sebelum menjawab, "Aku harus berdebat dengan mas Roby dan mbak Nita setelah pemotretan selesai." "Soal?" "Model pria pasanganku nanti. Karena dua minggu lagi aku ada pemotretan dan show di Bali." "Siapa model pria itu?" "Gio Handerson." "Apa!? Batalkan pemotretan itu, No!" Mendengar nada tak suka dari bibir Reyhan. Sontak aku langsung menarik kepalaku dari bahunya dan memandang wajah Reyhan. "Nggak bisa segampang itu, Rey. Aku udah tandatangan kontrak, jadi nggak semudah itu main batalin aja," jelasku. "Tapi kamu tahu kan seperti apa Gio Handerson itu?" Aku menganggukkan kepalaku. "Aku tahu, Rey. Maka dari itu tadi aku nyoba bicarain sama mbak Nita dan mas Roby. Tapi gagal...kata mereka, Gio adalah kandidat terbaik yang mereka pilih untuk pemotretan dan show kali ini." Rahang Reyhan mengeras. Tampak jelas kemarahan di dalam maniknya yang cokelat. "Aku nggak setuju, No. Batalin atau aku yang akan bicara dengan mereka?" Mendengar pilihan yang diberikan Reyhan, otomatis kedua mataku membesar. "Nggak bisa Rey. Itu tidak profesional!" sahutku dengan suara sedikit meninggi. "Kalau itu jawabanmu, itu artinya aku yang akan bicara sama mereka." Tanpa menunggu jawabanku, Reyhan bangkit berdiri dan masuk ke dalam kamar dengan pintu yang dibantingnya cukup kuat. Dalam diam aku memandang pintu kamar kami, hanya suara teriakan zombie dari layar kaca yang terdengar jelas di telingaku. Aku menarik nafas panjang, berharap emosiku mereda. Permintaan Reyhan sangat tidak masuk akal! Meski harus terpaksa berdampingan dengan Gio, tapi bilamana proyek kali ini bisa membuat karirku sebagai model meningkat, kenapa tidak? Dengan susah payah aku merangkak ke atas menjadi seorang model dan hanya karena alasan yang tidak masuk akal dari bibir Reyhan tidak akan membuatku membatalkan pemotretan kali ini. Tidak akan! Menuruti ego, aku pun memilih untuk masuk ke dalam kamar mandi. Mungkin air dingin dapat membantuku untuk berpikir jernih. Selesai mandi dengan jubah handuk yang membungkus tubuhku, aku melangkah masuk ke dalam kamar. Dari balik bulu mataku, aku dapat melihat Reyhan yang sibuk dengan laptop di atas tempat tidur kami. Entah apa yang sedang dikerjakannya. Akhirnya aku memutuskan untuk mengambil gaun tidurku. Dan setelah berpakaian aku memilih untuk langsung membaringkan tubuhku di atas tempat tidur dan mencoba memejamkan mata. "Maafkan aku, No. Aku salah," suara pelan yang membelai lembut telingaku membuatku membuka kedua mataku dan menoleh ke sumber suara. Ternyata Reyhan telah berada di belakang punggungku dengan sebelah tangannya yang menahan kepalanya. Dalam diam aku mulai menelusuri wajahnya yang tadi tampak marah perlahan mulai menghilang. Tergantikan dengan perasaan bersalah. "Aku...aku tidak tahu apa kenapa aku jadi begini. Rasanya aku tidak rela jika kamu disentuh oleh laki-laki lain." Reyhan tampak kikuk ketika mengatakannya, meski begitu tetap saja ucapannya membuat hati ini terasa hangat. Ia membasahi bibirnya sebelum melanjutkan. "Mungkin aku terdengar egois, tapi aku hanya berusaha mengatakan isi hatiku." Dengan hati-hati aku menyentuh pipi laki-laki yang baru saja membuat darahku berdesir. Senyum tipis terukir di bibirku. Dalam diam aku memandang alisnya, matanya, hidungnya, sampai ke bibirnya. Selama enam bulan ini, setiap inci tubuh Reyhan hanyalah milikku seorang. Hal yang tidak pernah ada di dalam mimpiku sekalipun. Perlahan aku menaikkan pandangan mataku berakhir pada manik cokelat yang sedang memandangku penuh gairah. "Aku mengerti," bisikku tanpa suara. "Aku sangat mengerti apa yang ada di dalam pikiranmu, Rey." Tanpa aku sadari, lengan kokoh Reyhan telah melingkari tubuhku. "Of course you do. Karena aku adalah milikmu dan juga kamu adalah milikku, No," ucap Reyhan yang kemudian memajukan tubuhnya untuk menyatukan bibir kami. Menikmati setiap pagutan dan juga sentuhan tangannya yang membelai lembut seluruh permukaan kulitku. Tanpa niat terlewatkan seincipun. Lalu melebur menjadi satu layaknya sang pencipta menginginkan manusia ciptaannya untuk bersatu. *** Mungkin aku harus bersyukur kepada Tuhan karena selama dua minggu ini telah memberikan kedamaian diantara aku dan Reyhan. Juga setelah berhasil membujuk dan memastikan Reyhan bahwa aku akan baik-baik saja menghadapi Gio nanti. Akhirnya Reyhan mengerti. Sebuah keajaiban yang patut dirayakan. Dan hari ini, ketika aku akan berangkat untuk fashion show sekaligus pemotretan di Bali, untuk satu minggu ke depan. Namun, sosok Reyhan tidak muncul untuk mengantarku. Sepertinya manager Sun Company itu terlalu sibuk sampai tidak sempat mengantarku. Memang sih, semalam Reyhan sempat bilang kalau jam dua siang ini dia ada meeting penting. Tapi kan setidaknya dia bisa mengirimiku pesan kalau dia tidak sempat datang dan mengantarku. Lagipula sekarang jam sepuluh pagi. Aku rasa dia memiliki cukup waktu untuk menghadiri meetingnya tepat waktu! "Ayo Nor kita harus check in," ajak mbak Nita saat melihatku masih mengedarkan pandangan. Berharap jika sosok Reyhan datang untuk melihatku sekali saja sebelum keberangkatanku. Tapi sayangnya sepertinya aku harus menelan kekecewaan. "I-iya mbak." Sekali lagi aku mengedarkan pandanganku dan setelah berhasil meyakinkan diriku jika Reyhan tidak mungkin datang. Dengan langkah lunglai aku pun berjalan mengikuti langkah mbak Nita dan para kru lain yang telah menunggu di dalam. Setelah kami berhasil duduk manis duduk di dalam kabin pesawat, aku belum mematikan ponselku. Berharap ada satu pesan dari Reyhan. Dan harapanku terkabul. Sorry, No. Aku nggak bisa antar kamu. Tamuku datang lebih cepat jadi aku harus meeting sekarang. Sekali lagi aku minta maaf. Kedua mataku membesar. Sudah? Itu saja? Tidak ada kata-kata 'take care', 'hati-hati', atau 'miss you' sekalipun. Aku mendengus kencang, tidak mempercayai apa yang baru saja aku lihat. Dan sepertinya dengusanku membuat mbak Nita menoleh. "Ada apa, Nor? Ada pesan darurat?" tanyanya khawatir. "Bukan apa-apa mbak. Cuma spam!" sahutku cepat sambil mematikan ponselku. Lalu segera memosisikan diriku untuk tidur. Karena sepertinya tidur adalah opsi terbaik yang aku miliki saat ini. "Okay. Nanti katanya Gio nyusul. Dia masih ada pemotretan untuk majalah Gentle-Man." Ucapan terakhir mbak Nita hanya aku jawab dengan gumaman. Menyadari jika aku tidak menjawab dan terlihat hendak tidur, akhirnya mbak Nita mengakhiri pembicaraan diantara kami. Meski begitu sebuah ide gila terlintas di dalam benakku. Mungkin sebaiknya aku mesra-mesraan saja sekaligus dengan Gio. Biar Reyhan tahu kalau bukan cuma dia laki-laki di dalam hidupku! Yang lebih penting, akan aku buktikan padanya kalau Reyhan telah melakukan kesalahan besar karena telah memilih tamu meeting-nya itu daripada aku! ***
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN