Hubungan kami mendadak seperti dua musuh yang terjebak dalam satu atap. Sejak penolakan yang kuberikan kepada Reyhan tiga hari yang lalu, kami lebih mirip dua orang asing daripada teman. Aku tahu resiko yang telah kupilih karena menolaknya. Penyesalan yang tidak akan pernah bisa aku perbaiki. Egoiskah diriku? Mungkin, seperti ucapan mbak Nita kala itu ketika mendengar penolakanku atas lamaran yang diberikan oleh Reyhan. "Gue baru tahu kalau lo bodoh! Asli benar-benar bodoh!" Mbak Nita memandangku dengan pandangan kesal dan tidak percaya. "Bagaimana bisa lo tolak ayah dari anak yang lagi lo kandung? Are you insane? Atau selama ini ternyata gue udah salah menilai lo? Faktanya lo cuma perempuan egois yang bersikap sok peduli pada orang lain?" lanjutnya sinis. Sebagian besar ucapan mbak Nita

