Limabelas

734 Kata

Aku yakin bibirku sedikit terbuka ketika mendengar ucapan mas Roby. Cepat-cepat kututup rapat bibirku lalu tertawa hambar atas lelucon lucu yang baru saja dikatakan oleh laki-laki berkulit cokelat ini. "Mas becandanya kelewatan. Hampir aja aku menganggapmu serius," kataku di sela-sela tawaku. Ia mengusap tengkuknya. "Apa gue terlihat becanda saat ini?" Saat itulah tawaku memudar dan tidak dapat menutupi keterkejutanku. Dengan gugup aku berusaha membuka suaraku. "Mas..." "Anggap aja gue di sini adalah ibu peri yang sedang menawarkan pertolongan ke lo." Mas Roby terdiam sejenak. "Sori gue harus bilang begini, tapi apa lo rela anak lo memiliki nasib yang sama dengan ibunya?" Ucapan terakhir mas Roby menyentakku kuat-kuat. Membawaku kembali melayang pada ingatan masa kecilku. Di mana seti

Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN