"Ka-kamu akan pergi?" tanyaku terbata. Masih tidak percaya jika Reyhan akan pergi secepat ini. Hanya dalam hitungan hari. Ia menatap sinis ke arahku. "Bukankah ini yang kamu mau?" Aku membuka sedikit bibirku. Hendak membantah, tapi dengan cepat kututup kembali bibirku rapat-rapat. Benar, ini adalah keinginanku. Menyatukan Reyhan dan keluarga kecilnya. Karena sejak awal aku hanyalah seorang peminjam. "Benar. Aku lega mendengarnya," dustaku. Selanjurnya tanpa berkata apa-apa Reyhan mulai melakukan aksinya. Meraih koper besar dan mulai memasukkan hampir semua potong pakaian ke dalamnya. Melihat tindakannya itu berhasil mengiris hatiku. Kubuang wajahku, tidak ingin melihat pemandangan tersebut hingga akhirnya pandangan mataku jatuh pada sebuah bingkai foto yang ada di atas nakas. Di sana

