Jam empat pagi aku sudah sibuk memuntahkan isi perutku. Aku tidak tahu ada apa dengan diriku. Saat tidur tiba-tiba saja rasa mual menyergapku dan secepat kilat aku berlari menuju kamar mandi dan langsung mengeluarkan makanan malam dari perutku. "Are you okay?" Sebuah tangan mengusap lembut punggungku. Ada nada khawatir dalam suaranya. "Aku nggak apa-apa," jawabku setelah yakin tidak akan memuntahkan isi perutku lagi. "Kita ke dokter aja ya?" ajak Reyhan. Keningnya yang bertautan menandakan jija ia benar-benar khawatir dengan kondisiku saat ini. "Nggak usah. Palingan cuma masuk angin biasa," bantahku. "Jangan-jangan kamu hamil?" Deg! Tebakan Reyhan langsung membuat jantungku berdegup dua kali lebih cepat karena mengingatkanku akan kejadian semalam. Di mana aku bertemu dengan Felici

