"Aku terbiasa direndahkan, aku terbiasa dianggap tak berguna, dan terbiasa diperlukan selayaknya bukan manusia. Aku tetap tersenyum, bersabar, memandang kehidupan dengan sebaik mungkin. Karena aku percaya, Allah punya skenario yang sangat indah untuk hidupku. Jadi... aku tak perlu susah-susah melawan orang-orang itu, bukankah setiap perbuatan ada balasan dari-Nya?" -- Author Pagi-pagi sebelum Dinda keluar dari kamar asrama untuk piket berkebunnya yang tiba-tiba diganti jadi pagi hari karena prediksi cuaca mengatakan akan hujan lebat sore nanti, untung saja ini hari Minggu, jadi tidak ada kegiatan di kelas. Gitu yang bertugas piket di asrama hari ini menghampiri Dinda, memberikan 2 surat untuk Dinda. "Ini Din, ada kiriman surat dari kampung halamanmu." 'Eh? Siapa?!' bathin Dinda, kaget.

