Alan duduk dengan tatapan mata yang kosong, pertengkaran dan perdebatan nya dengan Aerin tadi benar-benar menguji emosinya.
"Kamu tidak akan bisa lari dari aku, Rin. Tidak akan!" tekad Alan.
Sementara Cody yang duduk di kursi pengemudi, akhirnya mengetahui bahwa kedua orang itu adalah mantan suami istri. Jujur saja Cody sedikit terkejut saat mendengar penjelasan Aerin yang mengatakan semuanya. Pantas saja selama ini, Alan memperlakukan Aerin berbeda dari wanita yang pernah ia temui sebelumnya. Biasa bos kejam dan dingin itu tak peduli pada siapapun dan tampak tak tertarik pada wanita.
"Cody, cari informasi tentang Aerin. Jangan lewatkan satu pun!" titah Alan.
"Baik, Tuan," sahut Cody.
Lagi, Alan membuang tatapan kosong ke arah jendela kaca mobilnya. Sejak Aerin menjadi sekertarisnya, ia seolah terusik kembali dengan kehadiran wanita itu. Jujur saja, setelah sekian lama berpisah Alan menyadari bahwa mantan istrinya itu memiliki banyak perubahan. Aerin tak seperti dulu yang terlihat mengejarnya, bahkan sekarang wanita itu tampak tak peduli. Jujur saja Alan kesal dan tidak terima, ia ingin Aerin seperti dulu yang cinta mati padanya.
Keasyikan melamun, Alan sampai tak menyadari bahwa mobil yang membawanya sudah sampai di kediaman mewahnya.
Alan keluar dari sana dengan wajah lelah sembari melonggarkan dasi yang terasa mencekik lehernya.
"Alan!" panggil Lisa.
"Ada apa, Mom?" Alan duduk di sofa ruang tamu. Ia menyandarkan tubuh lelahnya.
Lisa duduk di samping anak lelakinya itu.
"Kapan kamu akan menikahi Mella?" tanya Lisa.
Alan berdecih dan melirik sang ibu seraya menggelengkan kepalanya.
"Memangnya kapan aku bilang akan menikahi dia?" tanya Alan.
"Alan, kamu jangan bercanda. Kamu dan Mella itu sudah dijodohkan, kamu harus menikah dengan dia!" tegas Lisa pada anaknya itu.
Alan malah tak menggubris. Di kepalanya terlintas bayangan Aerin, entah kenapa mantan istrinya itu terus saja terngiang di kepalanya. Aerin yang dingin benar-benar menarik dan membuat ia penasaran. Apa saja yang sudah dilewati oleh mantan istrinya itu, sehingga banyak perubahan.
"Alan, kamu dengar Mommy tidak sih?!" Lisa mendengkus kesal karena merasa Alan tak mendengarkan dirinya.
Alan malah berdiri dari duduknya. Kalau mendengar ibunya mengomel, bisa-bisa ia stress mendekati gila.
"Sudah ya, Mom. Aku mau masuk kamar dulu!"
"Kamu..."
Tanpa mendengar jawaban sang ibu Alan melenggang masuk ke dalam kamarnya. Lelaki tampan itu melempar tubuhnya di ranjang king size miliknya. Ia tak mengerti mengapa Aerin bisa begitu menarik?
"Aerin!" gumamnya lagi.
Bayangan enam tahun lalu kembali terngiang di kepalanya. Ia teringat tujuannya menikahi Aerin karena balas dendam. Sebenarnya wanita itu memang tidak tahu apa-apa. Namun, entah kenapa Alan malah melampiaskannya pada Aerin.
Rasa sakit kehilangan telah membuat Alan gelap mata. Dulu, ia sengaja membuat Aerin jatuh cinta padanya, lalu menghamili wanita itu dan meninggalkannya begitu saja. Alan pikir dengan begitu segala rasa sakitnya bisa terbalaskan, tetapi ia salah. Kepergian Aerin justru membuat dirinya terpuruk. Selama enam tahun setelah wanita itu pergi dari hidupnya, Alan sepertinya kehilangan arah hidup. Ia tidak tahu harus melangkah ke mana — kesepian setiap hari melanda hati dan hari-hari beratnya.
Alan kembali mengingat sang adik yang begitu ia cintai sepenuh hati. Alan Melih bagaimana sang adik berjuang untuk bertahan hidup dengan tubuh yang sudah tak utuh, bagian kaki dan tangan yang patah akibat kecelakaan itu. d**a Alan kembali sesak, ia terbangun seraya mengusar rambutnya kasar.
"Anne?!" gumamnya. "Maafkan Kakak!" Ada rasa bersalah karena tak bisa menyelamatkan adiknya itu. "Sudah hampir tujuh tahun kamu pergi, tapi sampai hari ini Kakak belum ikhlas!"
Alan memejamkan matanya sejenak, membayangkan kehadiran sang adik di depannya. Ia sangat menyayangi adiknya itu, tetapi takdir tega mempermainkan dirinya dan bahkan mengambil belahan jiwanya begitu cepat.
"Kakak janji akan membalaskan semua rasa sakitmu. Kakak akan buat dia merasakan seperti yang kamu rasakan. Nyawa dibayar nyawa!"
* * *
"Mommy, pagi..." Ar sudah menyetor wajah semangatnya.
Pagi ini pria kecil itu sudah diperbolehkan pulang oleh dokter, kondisinya sudah membaik. Hanya saja ia perlu rutin menjalani pengobatan.
"Jagoan Mommy, pagi..." balas Aerin mengecup kening putranya dengan sayang. "Sarapan?"
"Mau... Mau...!"
Aerin menyendok beberapa sendok bubur ayam kesukaan putra kecilnya itu.
"Ini, Nak!" Aerin meletakan mangkuk di depan Ar.
"Telima kasih, Mommy!" sahut Ar antusias.
Tidak lama kemudian, Nicko datang dengan pakaian lengkapnya, jas warna putih kebanggaan nya.
"Pagi, Jagoan Ayah!" sapanya sembari duduk di samping Ar dan tak lupa mengusap kepala lelaki kecil itu.
"Pagi juga, Ayah," balas Ar.
Mereka bertiga makan dan sesekali diselingi obrolan kecil. Nicko membawa Aerin dan Ar tinggal bersamanya agar bisa melindungi kedua orang itu. Aerin sempat menolak karena takut nanti akan dipandang tidak baik oleh orang lain, tetapi Nicko berhasil menyakinkan wanita itu bahwa semuanya akan baik-baik saja.
"Rin, biar nanti Kakak saja yang jemput Ar ya," ucap Nicko.
"Bukannya Kakak sibuk? Hari ini padat jadwal?" Aerin merasa tak enak hati karena selalu merepotkan lelaki ini.
"Bisa diatur, Rin," jawab Nicko.
Aerin membalas dengan anggukan kepala. Ada rasa takut saat Nicko mengajaknya tinggal serumah karena bisa saja terjadi fitnah bagi orang-orang yang tak menyukainya. Namun, apa yang Nicko katakan memang benar, saat ini Aerin tak boleh egois, ada buah hatinya yang harus ia jaga dengan baik.
Setelah sarapan Nicko dan Aerin mengantar Ar ke sekolah. Ar sekarang sudah duduk di bangku taman kanak-kanak. Anak kecil itu memang bersemangat untuk sekolah, meskipun kondisinya belum benar-benar pulih.
Aerin melambaikan tangannya saat Ar masuk ke dalam gerbang sekolah. Senyumnya mengembang melihat keceriaan di wajah pria kecil itu.
"Ayo!" ajak Nicko.
"Kak!" Aerin menghela napas panjang, sebenarnya ia ragu untuk berangkat bersama Nicko.
"Kenapa?" tanya Nicko. "Takut kalau orang bilang Kakak suami kamu lagi?" Nicko terkekeh lucu sekaligus gemas. Mungkin hanya Aerin yang tidak tertarik padanya di saat wanita di luar sana berlomba untuk mendekatinya, tetapi Aerin seperti menjaga jarak.
Aerin membalas dengan anggukan kepala polos. Hal tersebut membuat Nicko gemas dan mengacak rambut wanita tersebut.
"Sudah tidak usah dipikirkan. Kita tidak akan bisa mengontrol perasaan orang untuk suka sama kita!" ucap Nicko memberikan semangat. "Ayo!" ajaknya.
Kedua orang itu masuk kembali ke dalam mobil. Tanpa Nicko dan Aerin sadari, sedari tadi ada sepasang mata yang menatap mereka dari kejauhan.
"Aerin?" gumam orang itu. "Takkan ku biarkan kamu kembali pada Alan. Kamu milikku, hanya aku yang boleh memilikimu!"