Sadar Allea, Sadar!

2023 Kata
Siang ini Rama sudah memesan meja VIP disebuah restoran mewah untuk dua orang. "Kita makan disini Pak?" tanya Allea dengan mata melotot. "Iya," jawab Rama datar. Allea terbelalak dengan suasana yang nyaman dan ekslusif di restoran itu. Tanpa basa-basi ia memprotes Rama, "Tapi ini ‘kan mahal?" Rama terkekeh mendengarnya, "Sejak kapan uang jadi masalah bagi saya?" Allea bergidik mendengar selorohan bosnya itu dan bergumam dalam hati, "Gue lebih mirip pacarnya ketimbang pembantunya." "Kok bengong, duduklah!" Rama menarik kursi kemudian membimbing tubuh Allea untuk duduk. Waitress datang memberikan daftar menu. Mata gadis itu kembali melotot melihat sederet angka yang menakjubkan untuk harga menu yang terpampang dalam daftar. "Kamu mau makan apa?" Pertanyaan Rama membuatnya gelagapan, dengan ragu dia menunjuk satu menu. "Ini," ucapnya pelan. Rama terkekeh, "Apa kamu lagi diet?" tanyanya ketika melihat Allea menunjuk menu pencuci mulut. Tak urung gadis itu terkesiap, ia tertegun sambil mencari jawaban yang masuk akal. "Saya suka makanan seperti ini." Senyum geli terpancar dari raut tegas pria itu, dengan cepat dia mengambil alih pesanan gadis itu. Kemudian memberikannya kepada Waitress. Tak lama Makanan yang telah dipesan Rama pun tiba di meja. Makanan asing nan mewah terpampang di depan mata Allea. Wajahnya meringis memperhatikan hidangan, "Mana sendoknya, Kok malah dikasih pisau?" Matanya terpaku melihat Rama memotong daging yang ada di piring dengan sangat rapi. Tak lama pria berkharisma menawan itu menukar piring itu dengan piring yang ada dihadapannya. "Makanlah!" "Anu …," gumam Allea seraya menatap bingung makanan itu. "Makan aja, Sayang!" Tak ayal ucapan Rama membuatnya gelagapan, apalagi mendengar Rama berkata, "Hutang kamu sudah saya anggap lunas, tidak perlu ada kontrak kerja tertulis." Seketika Allea tersedak mendengar ucapan yang mengejutkan itu, belum habis kagetnya mendengar ucapan sayang. Malah dikejutkan kembali oleh ucapan yang tak kalah mencengangkan. Rama langsung berdiri dan memberikan minum, lalu meraih serbet untuk mengelap mulut Allea yang kotor. "Pelan-pelan makannya," bisiknya. Gadis itu jadi semakin salah tingkah dengan perlakuan lembut itu. Keringat dingin terasa menghempas habis di sekujur tubuhnya. Gemetar bercampur perasaan aneh menjalar di dalam benaknya, "Perasaan apa ini?" Kharisma Rama telah berhasil mengacak-acak ruang hatinya yang selama ini tertutup rapat. Selama tinggal bersama pria itu, jantungnya tak berhenti merespon ketika semburat rasa itu menyergap sanubarinya. "Sudah selesai?" tanya Rama membuyarkan lamunan Allea "Sudah Pak," jawabnya pelan. "Duduklah sebentar, setelah itu kita pulang." "Anu," Allea mencoba mengumpulkan keberanian untuk bertanya perihal hutangnya, "Boleh saya bertanya?" "Tanya aja," jawab Rama dengan tenang. "Kenapa Bapak begitu baik kepada saya?" "Karena kamu gadis yang baik," jawabnya santai. "Dari mana Bapak tau kalau saya baik?" Allea mulai melempar serangannya. "Dari hati saya," ucap pria berkulit eksotik itu seraya tersenyum penuh makna. "Bapak lagi mengejek saya? Semua ini terasa gak masuk akal." "Hem, jadi apa yang menurutmu masuk akal?" Allea terdiam. Rama menjawab pertanyaannya sendiri, "Yang masuk akal adalah bahwa apa yang saya lakukan, karena memang saya harus melakukannya!" Allea tertegun, "Maksudnya?" "Suatu saat kamu bakal mengerti, apa yang saya maksud." Allea mengernyit heran, "Kenapa harus nunggu suatu saat?" Rama menjawab, "Karena saya tidak bisa memaparkan secara gamblang saat ini." "Tapi saya butuh penjelasan itu Pak!" Allea terus mendesak Rama seakan ia lupa akan posisinya. "Terima saja apa yang saya perbuat terhadapmu. Percayalah, bahwa saya sedang berjuang untuk sesuatu yang baik. Meskipun saya tidak yakin apakah ini akan baik juga buatmu!" "Maksud Bapak apa?" "Sudahlah Allea, gak bisakah kamu sedikit menyederhanakan pikiranmu itu? Anggap saja sekarang ini saya sedang berusaha menarik perhatianmu." Mulut Allea ternganga. Matanya terbelalak, mendengar pengakuan Rama. "Jujur saja, saya hanya merasa aneh dengan semua ini. Saya ini Pembantu, bagaimana mungkin Bapak ingin menarik perhatian saya? Tolong perlakukan saja saya sebagaimana mestinya." Allea akhirnya mengatakan segala yang ingin diungkapkannya kepada lelaki yang tengah menatap sendu ke arahnya. "Saya tidak ingin menganggap kamu sebagai Pembantu, saya sudah bilang saya sedang berusaha menarik perhatianmu. Satu lagi, saya hanya menyuruhmu melakukan apapun yang mau kamu lakukan di rumah itu. Bukan berarti saya menyuruhmu layaknya seorang Pembantu!" ungkap Rama seraya menuang air putih dan meneguknya. Kerongkongannya nyaris mengering menanggapi segala cecaran Allea. "Lantas untuk apa Bapak menggaji saya?" tanya Allea dengan nada frustasi. "Untuk membantu kamu menjalani kewajiban sebagai seorang anak yang memiliki impian ingin merubah nasib keluarga." Seketika Allea tersentak, bibirnya keluh. Ia kehabisan kata-kata untuk mencecar pria yang kini berhasil menyentakkan hatinya itu lebih jauh lagi. Rama melemparkan tatapan tajam ke arah gadis yang tengah menstabilkan perasaannya itu. "Dan yang perlu kamu garis bawahi, saya tidak menggaji kamu. Tapi saya memberi nafkah untukmu dan untuk keluargamu. Jadi sekarang saya harap kamu memahami setidaknya sedikit saja, jangan lagi memikirkan yang aneh-aneh." Rama memanggil pelayan untuk meminta bon. Setelah membayar Rama mengajak Allea pulang. Kepalanya terasa berat sejak di kantor tadi, tapi dia sudah berjanji akan mengajak Allea makan di luar. Mau tak mau ia memaksakan diri untuk menunaikan janjinya. Allea masih termangu seakan begitu banyak yang ingin dibahas. Namun tidak tahu harus bagaimana membahasnya agar mendapat sesuatu yang bisa memuaskan rasa penasarannya akan apa yang melatari kehadiran Rama dan pengetahuannya yang jauh tentang kehidupan Allea. "Ayo kita pulang," ajak Rama. "Hem …," sahut Allea seadanya seraya bangkit dari kursinya. Diparkiran, Rama membukakan pintu mobil untuknya. Lagi-lagi dia harus terbawa perasaan oleh sikap pria yang selalu saja mampu membuat hatinya bergemuruh. Sepanjang perjalanan Allea hanya membisu, tatapannya kosong memandang lurus ke depan. Tiba-tiba Rama menggenggam tangannya membuat gadis itu terkejut. Namun bukan karena genggaman tangannya, melainkan hawa panas yang menguap dari telapak tangannya. "Panas banget tangannya, apa dia sakit?" gumam Allea dalam hati. "Tapi kok wajahnya kelihatan biasa aja." Rama tiba-tiba menoleh dan tersenyum sendu kearahnya. Seketika Allea melepaskan pandangannya seraya mengerjap. "Apa-apaan ini?" desisnya dalam hati. Berulang kali dia mencoba menepis berbagai pikiran yang berkelebat di kepalanya. Tak ingin membenamkan logikanya pada harapan yang tak akan pernah terwujud. Berulang kali ia mengingatkan dirinya sendiri, bahwa Rama bukanlah lelaki yang boleh disematkan dalam hatinya. Setibanya di rumah Allea bergegas menyelesaikan kewajibannya. Sementara Rama yang sedari tadi tidak terlihat ternyata tengah berenang di lantai dua. Kolam renang yang diset khusus bak kolam renang yang ada di villa-villa elite. Allea menghempaskan tubuhnya di sofa lantai dua, matanya sayup-sayup seakan sudah tak sanggup terbuka. "Allea!" panggil suara khas yang kerap membuat jantungnya berdetak kencang. Matanya terbelalak ketika melihat Rama hanya mengenakan celana renang ketat melambai-lambaikan tangan ke arahnya. "Sini!" Allea sekonyong-konyong menghampiri majikannya yang tengah bertelanjang d**a dengan rambut basah kuyup. "Bapak memanggil saya?" "Iya, Kamu belum pernah ‘kan liat pemandangan indah dari Sini?" Rama berjalan di dalam kolam yang dangkal sementara Allea mengiringinya dari tepi kolam. "Lihat!" Kepalanya menggeleng ke arah yang dimaksud. "Wah!" Kali ini dia terbelalak kagum melihat pemandangan yang terpampang nyata di depan matanya. Dia baru menyadari rumah itu membelakangi lereng bukit yang memiliki pemandangan yang sangat indah. "Indah bukan?" sela Rama tersenyum. "Luar biasa," gumamnya dengan mata berbinar. "Saya tidak pernah melihat sampai sini selama kerja disini.” "Lebih luar biasa lagi kalo kamu mau bergabung di sini." Rama menyambar lengan Allea yang tengah berjongkok, memandang bukit dari balik kaca pembatas antara pot tempel dan pagar. Praktis Allea membaur basah kuyup di dalam kolam, tubuhnya yang ramping amblas dalam dekapan Rama. Pria itu membawa tubuh Allea ke tengah kolam, resapan hangatnya air menyerap ke dalam kulitnya yang hampir membeku. "Hangat bukan?" bisik Rama, "kolam ini memiliki tiga jenis air: hangat, sedang dan dingin. supaya bisa berenang kapanpun yang saya mau," tuturnya. Allea tak mampu menguasai degupan jantungnya, tubuhnya merinding meskipun air didalam kolam itu terasa begitu hangat. "Oh ... Saya-saya …." Allea bingung harus berkata apa, yang ada di pikirannya hanya ingin segera keluar dari kolam itu. "Ya ... Kamu kenapa?" "Saya mau menyelesaikan tugas saya Pak!" Allea tak dapat mengontrol sikapnya. Rama terkekeh melihat tingkah Allea, pria yang dianggap sebagai orang yang paling menyebalkan kala itu. Malah berhasil memporak-porandakan benteng pertahanannya yang selama ini tak pernah terbuka untuk lelaki manapun. Terlebih penuturan demi penuturan Rama di restoran tadi, telak menghujam ke dalam nuraninya. "Gak, ini gak boleh terjadi. Gue gak boleh terus larut dalam nuansa yang dia ciptakan!" desis Allea dalam hati, "apa yang harus gue lakuin?" Allea berusaha mencari cara untuk bisa terlepas dari dekapan Rama. "Hei kok melamun?" Suara Rama membuyarkan lamunannya. "Abaikan urusanmu, temani saya di sini." Allea memandang punggung Rama yang dihiasi dengan tato yang tak begitu jelas terlihat. "Tapi saya harus menyelesaikan pekerjaan saya Pak, permisi!" ucap Allea yang telah membalik badannya untuk berjalan ke tepi kolam. "Ingat perkataan saya di restoran tadi, Allea!" seru Rama menghentikan langkahnya. "Yang mana?" "Cobalah untuk lebih cerdas menelaah kata-kata saya." Rama berbalik dan menyandarkan punggungnya ke dinding kolam sambil memejamkan matanya. Kali ini jantung Allea bertalu tak ubahnya gendang raksasa yang ditabukan di festival tahun baru. Mendapati pemandangan indah di hadapannya, wajah yang rupawan, bibir yang menawan serta tubuh yang tegap dan gagah membuat fantasinya melayang jauh. "Gimana otak gue bisa berfungsi dengan normal kalo tiap hari disuguhkan dengan pemandangan kayak gini? Jantung gue gak mau diem," gumamnya dalam hati, "tapi kalo jantung gue diem, mati dong!" Dia mengulum bibirnya seakan menahan tawa. Keringat membanjiri kepala Rama yang masih terpejam dengan rona wajah yang nyaris membias. Sesekali Dia mengusap kepala dan wajahnya. Ekspresi Aneh terlihat pada mimik wajahnya yang seakan berubah pucat. "Kenapa dia? Kayaknya lagi nahan sakit," gumam Allea, mengayunkan kakinya ke arah Rama yang masih terpejam. Setelah dekat, dia baru menyadari bahwa pria itu sedang tidak baik-baik saja. Meskipun ada perasaan canggung ia memberanikan diri mendaratkan telapak tangannya di kening pria yang saat ini masih memejamkan matanya. "Panas!" serunya panik, "Pak ... Bapak demam?" "Gapapa Allea, saya cuma pusing sedikit," sahut Rama lirih. Allea kembali berseru, "Ayo kita keluar!" "Gapapa Allea, justru biar keringat keluar semua dari tubuh saya." Gadis itu malah semakin gencar berseru, "Apanya yang gapapa? Bapak bisa dehidrasi!" Dia mencoba merangkul lengan Rama, bermaksud menariknya ke tepi kolam. Tetapi Rama malah menarik balik tubuh Allea dan menyentakkan bibirnya ke bibir gadis itu. Terasa hawa panas dari nafasnya yang menyerap ke batang hidung Allea. Rama mendekap erat tubuhnya tanpa melepas kecupan. Allea tak mampu menolak atau menerima, tubuhnya hanya bergelayut pasrah dalam dekapan pria itu. Tak lama Rama melepas kecupannya, "Terima Kasih sudah mengkhawatirkan saya. Lain kali jangan lakukan lagi, karena itu bisa memprovokasi naluri kelelakian saya." ujarnya seraya mengusap lembut wajah Allea. Gadis itu tertegun, matanya terasa berkunang-kunang. Kali ini perasaannya sudah tidak bisa di bohongi lagi bahwa dia memang menaruh hati pada majikannya itu. Rama menarik tubuh Allea ke tepi kolam lalu memberikan handuk tebal padanya tanpa memperdulikan keadaan tubuhnya yang mulai bereaksi pada pusat saraf panasnya. “Pak!” panggil Allea. “Heum ….” Rama menghentikan langkahnya dan berbalik, wajahnya yang tegas berubah menjadi pucat pasi. Gadis itu terpaku, ingin bergegas lari mendekati Rama namun dia teringat akan kata-katanya tadi. Akhirnya mencoba tenang mendekati Rama lalu membelitkan handuk itu ke tubuhnya. "Lekaslah bilas, saya akan buatkan Bapak teh hangat." ucap Allea seraya berlalu pergi meninggalkan Rama yang terhenyak dengan perhatian yang diberikan oleh gadis itu. "Terima kasih, Allea." Suaranya datar nyaris tak terdengar. Allea berjalan dengan keset dibawah kaki menuju ke kamarnya, ia bergegas membilas tubuhnya dan berganti pakaian. "Gue harus cepat!" Tak terpikir lagi dalam benaknya tentang benar dan salah. Allea bergegas menuju mini bar di sudut ruangan, kemudian membuatkan bosnya teh hangat lalu membawa ke kamarnya. "Mari saya keringkan rambut Bapak," tawar Allea seraya memegang handuk kecil yang masih menempel di kepala Rama. Rama duduk seraya menyandarkan bahunya di kepala tempat tidurnya yang empuk. "Tolong teh hangatnya dulu Al," pinta Rama. "Baik Pak!" Allea menyodorkan teh hangat sembari membantu memegangi cangkir. Setelah itu, dia mengusap lembut rambut pria gagah itu seraya berdesis kagum. Dalam hatinya terbesit sedikit perasaan aneh yang tak bisa dijabarkan dengan rumus apapun. Terngiang jelas dalam benaknya bahkan masih terasa lembut dan hangatnya bibir pria seksi itu. "Kayaknya gue mulai gak waras! Gue ngerasa terus dihantui perasaan yang gak tentu arah. Seharusnya gue sadar, ini gak boleh terus berlanjut. Sadar Allea sadar!" Rama merasa hatinya begitu hangat, baru kali ini dimanjakan oleh orang lain selain mendiang ibu angkatnya ketika tengah sakit. "Ternyata begini rasanya diperhatikan oleh orang yang disayang," lirihnya dalam hati. Seketika hatinya teriris perih meratapi takdir yang memilukan. Seumur hidupnya tak pernah merasakan hangatnya kasih sayang seorang Ibu kandung.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN