bc

Terjebak Ambisi Sang Majikan

book_age18+
964
IKUTI
4.0K
BACA
others
dark
drama
tragedy
sweet
first love
friendship
secrets
school
virgin
like
intro-logo
Uraian

Keinginan yang kuat untuk menggapai mimpinya memperbaiki ekonomi orang tua. Membuat Allea enggan terlibat asmara dengan laki-laki manapun meskipun banyak yang telah menyatakan cinta padanya. Suatu hari dia bertemu dengan seorang Pria misterius yang kerap membantunya dalam kesulitan yang tak terduga.

Sampai akhirnya suatu tragedi membuatnya mendadak tinggal satu rumah dengan pria itu. Tujuannya masuk dalam kehidupan pria bernama Rama tersebut untuk bekerja sebagai pembantu. Namun Rama memperlakukannya tak ubah seperti kekasih yang kerap membuat Allea salah paham.

Kesalahpahaman gadis itu tak kunjung berhenti Sampai tragedi demi tragedi terus mengiringi perjalanan cinta mereka.

Belum lagi dia harus dihadapkan dengan tingkah aneh seorang pemuda bernama Farrel yang kerap memaksanya untuk menerima cinta pria yang memiliki kepribadian ganda tersebut.

Dua pilihan antara Rama dan Farrel, sepertinya dia akan mengalami masalah besar. Berjibaku dengan dua pria posesif yang akan membuat suasana hatinya kacau balau.

chap-preview
Pratinjau gratis
Kabar Buruk
Suara telepon berdering nyaring ketika Allea tengah sibuk melakukan aktivitasnya sebagai pembantu rumah tangga di sebuah keluarga kecil yang terbilang cukup kaya. Sekonyong-konyong dia berlari menghampiri pesawat telepon yang ada ruang tengah. "Halo," sambutnya. "Halo Nak, kamu lagi ngapain?" "Lagi setrika baju, ada apa Buk?" "Kita dapat musibah Al, Memed kecelakaan!" "Kok bisa, Buk?" "Kemarin dia pinjem motor Ari mau jemput pacarnya. Tapi belum sampai di rumah pacarnya, motornya nyerempet truk." "Terus gimana keadaannya Buk?" "Abangmu luka serius," Terdengar suara isak tangis ibunya. "Motor Ari rusak parah." Allea terdiam mendengar cerita sang ibu, aliran darahnya seketika terasa berhenti mengalir. "Al, kamu masih dengerin 'kan?" Dengan suara serak dia menjawab, "Iya Buk, Allea denger kok!" "Ibu gak punya uang buat biaya pengobatan Memed dan mengganti motor Ari. Apa yang harus kita lakukan Al?" Allea mendesah, "Kalau ditanya begitu, Allea gak sanggup jawab Buk. Gimana caranya mencari uang untuk biaya rumah sakit sama ganti motornya Ari?" Ibu Allea dia sejenak kemudian berkata, "Paling tidak biaya yang harus dikeluarkan sekitar lima belas juta. Ibu sempat berfikir meminjam uang kepada bu Mega." Allea langsung terhenyak dan menjawab, "Buk! Uang sebanyak itu bagaimana cara menggantinya?" "Potong dari gaji kamu Al sampai kamu lulus dan dapet kerja bagus. Kamu 'kan sebentar lagi lulus, bisa mencari kerja yang lebih baik disana." Emosi Allea seketika meluap, "Alangkah gak tau dirinya kita ini Buk! Sudah biaya sekolah Allea bu Mega yang nanggung. Mesti direpotkan lagi dengan masalah keluarga kita. Bu Mega itu orang lain Buk, dia majikan Allea!" "Terus kita harus bagaimana sekarang?" "Carilah pinjaman disana Buk! Allea gak sampai hati untuk merepotkan bu Mega. Mereka juga dalam keadaan sulit sekarang ini." Ibu Allea menangis tersedu-sedu, sekali lagi dia memohon. "Coba dulu Al, mana tau beliau mau membantu." Bukan main kesalnya Allea mendapati sikap ibunya seperti itu. Kakak lelaki yang seharusnya menjadi tulang punggung keluarga malah acap kali menyusahkan kedua orang tuanya. Allea belum bisa memberi keputusan kepadanya ibunya. Dia berjanji akan memberi kabar kalau dia sudah berhasil bicara kepada Mega. Malamnya Allea hanya termenung menatap buku pelajaran Sisil– anak kedua Mega. "Kamu lagi mikirin apa sih Al?" tanya Mega tiba-tiba menyentakkan lamunannya. "Allea bingung Buk!" jawabnya masih dengan tatapan kosong. "Kenapa?" Entah bagaimana bermulanya akhirnya Allea menceritakan semuanya kepada Mega. Wanita yang masih tergolong muda itu mencoba memahami kegundahan Allea. Namun ketika Allea menuturkan untuk meminjam uang, Mega terdiam. Tak lama Mega berkata, "Bukan Ibu gak mau membantu Al, tapi kondisi keuangan Ibu juga lagi gak stabil. Mana Andin mau masuk SMA sementara Sisil Mau masuk SMP." Allea mengangguk, "Gapapa Bu, terima kasih sudah mau mendengarkan cerita saya." "Semoga Ibu kamu menemukan pinjaman disana ya?!" hibur Mega dengan senyum sendu. "Aamin …." Malam semakin larut namun matanya tak juga bisa terpejam. Meskipun dia mencoba mengabaikan masalah itu namun tetap saja suara isak tangis ibunya menari-nari di kepalanya sampai pagi. "Dah Kak …." Sisil melambaikan tangan ketika Allea turun dari mobil. Allea membalas dengan senyum sumringah. Langkanya berayun gontai menuju kelas. Sepanjang jalan dia tak hentinya mengumpat kelakuan si Kakak. "Kenapa sih dia selalu berulah? Kalau berulah bisa nanggung sendiri gapapa. Ini nyusahin orang aja bisanya." Setibanya di kelas, Karina menyambutnya dengan senyum sumringah. "Tada …!" Sebuah kotak Arloji unik disodorkan sahabatnya itu tepat di depan wajahnya. "Apa ini?" tanyanya dengan nada datar. "Oleh-oleh dari Bali, lo kemaren 'kan nitip!" "Gue gak punya duit mau bayar." "Gratis kok! Namanya juga oleh-oleh massa kudu bayar!" sewot Karina merasa kecewa dengan tanggapan datar Allea. Melihat rona kecewa Karina, dia buru-buru berseru, "Oh, bilanglah kalau gratis hahaha!" Gelak tawanya itu seketika membuat suasana hati Karina berubah. Dia merasa senang karena Allea begitu bersemangat membuka oleh-oleh darinya. Allea memang memiliki kepribadian unik. Wataknya yang dingin serta pembawaannya yang cuek dan terkesan angkuh membuatnya dijauhi oleh teman-teman sekelasnya. Gadis berusia 19 tahun itu terkenal dengan julukan Ratu Kutub Selatan. Allea masih termenung bahkan ketika tukang bakso langganan mereka menaruh dua mangkok bakso pesanan Karina di meja. "Woi! Bengong aja lo," sergap Karina membuyarkan lamunannya. "Tuh bakso bakal dingin kayak watak lo kalau didiemin aja." Allea menghela nafas berat, "Gue lagi pusing!" "Pusing kenapa?" "Pinjemin gue duit lima belas juta dong!" Sontak Karina menyemburkan kuah bakso. Matanya mendelik tajam ke arah Allea. "Lo sarap ya?! Darimana gue duit sebanyak itu?" "Ya mana tau nyokap lo punya tabungan," jawab Allea sekenanya. Mendadak Karina terpingkal mendengar ucapan gadis itu. "Allea-Allea kalau ngomong tuh gak usah sekate-kate." "Jadi?" Karina menatap serius kepadanya, "Buat apa sih uang sebanyak itu?" Allea menceritakan masalahnya kepada satu-satunya murid yang dianggap keberadaannya oleh gadis itu. Karina mendengarkan dengan serius, sambil berfikir bagaimana si Ratu Kutub Selatan ini bisa setenang sekarang dalam menghadapi masalah. "Kalau gak dapet pinjaman gimana?" "Ya Abang gue gak bisa pulang dari rumah sakit. Mungkin bakal dituntut karena udah ngerusak motor tetangga gue." "Ya ampun Al, jadi gimana tuh?" "Entahlah gue pusing banget, andai dekat aja dah gue samperin terus patahkan sekalian kakinya biar gak nyusahin lagi." Karina paham betul apa yang dirasakan oleh Allea. Kakak lelaki Allea memang kerap membuat masalah di kampung. Selalu Allea yang harus keluar uang untuk menyelesaikan perkaranya. "Sudahlah, gue mau pulang! Mau mampir dulu ke Wartel." "Mau nelpon Ibu lo?" "Iya," jawabnya sambil beranjak. Setelah membayar bakso pesanan mereka, Karina menyusul langkah Allea. Kemudian mereka berpisah diujung jalan. Setiap harinya Allea selalu pulang naik angkutan umum. Karena Mega terlalu banyak kegiatan di luar rumah jadi tidak bisa menjemputnya. Tujuan utamanya setelah turun dari Angkot adalah Wartel yang terletak tak jauh dari gapura perumahan Mega. "Bu Mega gak bisa ngasih pinjaman Buk! Allea sudah ngomong tadi malam." "Apa mungkin Bu Mega gak percaya sama kamu? Kalau Ibu aja yang ngomong gimana?" "Buk tolonglah! Gak usah memaksakan apa yang membuat orang lain tidak nyaman." Tiba-tiba ibunya berkata dengan keras, "Kamu kayak gak peduli sama abangmu! Dia butuh kita Allea!" "Apa dia pernah memikirkan kita? Dia tuh bisanya cuma nyusahin aja! Selalu bikin masalah, tabungan Allea baru aja terkuras buat gantiin mobil orang yang dia serempet dan sekarang dia buat masalah lagi dengan tega ibu bilang kalau Allea gak peduli?" Alih-alih mendengarkan keluhan anak gadisnya, wanita paruh baya itu malah menangis. Allea selalu lemah kalau sudah mendengar sang ibu menangis. Padahal Allea hanya ingin menuangkan apa yang dia rasakan selama ini. "Ya sudahlah Buk! Nanti Allea telepon lagi. Ibu coba ngomong sama Nenek buat pinjem uang. Nenek 'kan baru jual tanah." Tanpa menjawab, ibunya langsung memutuskan sambungan. Gadis itu keluar dari bilik menuju kasir. Tapi alangkah terkejutnya dia merogoh saku bajunya. Tidak ada uang sepeserpun di kantongnya. "Oh iya, gue 'kan gak bawa duit? Aduh!" Si kasir menunggu sambil mengembangkan sudut bibirnya. Dengan cengir malu Allea berkata, "Anu Kak, bisa saya pulang dulu ngambil uang?" Senyum si kasir mendadak berubah kecut, "Aduh gimana ya Kak, sebetulnya gak bisa. Tapi kalau memang uangnya gak ada, Kakak bisa taruh dulu tas sekolah selagi pulang ngambil uangnya." Allea bergegas melepas tasnya, tapi gerakannya ditahan oleh seseorang dibelakangnya. "Berapa?" tanya seorang pria kepada si kasir. Allea menoleh agak sedikit mendongak, pasalnya tubuh pria itu lebih tinggi 20cm darinya. "Tiga belas ribu, Pak!" jawab si kasir. "Sekalian punya dia," ucap pria itu membuat Allea melotot. "Gak usah Pak! Saya pulang aja ngambil uang. Tagihan saya lebih mahal karena interlokal." "Gak masalah!" jawabnya seraya menarik selembar uang dari dompetnya. "Ambil saja kembaliannya." Pria itu keluar dari Wartel tanpa basa-basi. Sekonyong-konyong Allea langsung mengejarnya. "Pak, anu … Terima kasih, saya bakal ganti uang Bapak. Boleh saya tau dimana rumah Bapak?" "Gak perlu! Lagian rumah saya jauh!" "Gapapa Pak! Saya bakal datang kesana." "Gak usah, nanti aja kalau kita ketemu lagi." "Gimana caranya bisa ketemu lagi?" Allea bergumam sambil mengerutkan dahi. "Kalau jodoh kita pasti bakal ketemu lagi." Sontak ucapan pria itu semakin membuat Allea bingung. "Tapi–" Alis pria berjambang tipis itu terangkat menunggu lanjutan ucapan Allea. Mendadak Allea menjadi salah tingkah, "Maksud saya kita 'kan gak saling kenal, saya juga baru melihat Bapak di lingkungan ini. Jadi untuk ketemu lagi kayaknya gak mungkin apalagi rumah Bapak bukan disini." "Saya Rama," sebutnya dengan tatapan berbinar. Allea mengedipkan matanya berkali-kali. Dia bingung kenapa pria itu langsung menyebut nama. Tak lama pria bernama Rama itu terkekeh, "Bukannya kamu bilang kita gak saling kenal? Sebab itu saya memperkenalkan diri." Kini Allea mengangguk, "Saya Allea," ucapnya membalas perkenalan Rama. "Oke," angguk Rama. "Terima kasih Pak! Kalau kita ketemu lagi saya akan membayar tagihan tadi." "Baiklah!" Allea bergegas pamit meninggalkan Rama yang masih terpaku menatap kepergiannya. *** Malamnya ketika Allea sibuk membantu Andin membuat tugas ekonomi. Melihat iklan baris yang sudah dipotong-potong oleh gadis berbadan sedikit gempal. Matanya terbelalak membaca iklan baris. Tentang koperasi simpan pinjam. Seolah mendapat pencerahan, Allea berniat akan membeli koran edisi terbaru sepulang sekolah besok. Keesokan harinya Allea melaksanakan niatnya. Dia membeli koran edisi terbaru kemudian melingkari nomor-nomor yang akan di teleponnya. Kemudian bergegas menuju Wartel dengan langkah penuh harapan. Namun harapan hanya tinggal harapan. Tidak ada satupun koperasi yang bisa meminjamkan cuma-cuma tanpa deposit dan keterangan surat usaha dari lurah setempat. Allea bersandar lunglai di bilik Wartel. Sampai suara ketukan menghentikan lamunannya. "Boleh saya masuk?" Gerak bibir seorang wanita muda di depan pintu biliknya meminta Izin. Allea membukakan pintu dan mempersilahkan wanita itu masuk. "Ada apa Kak?" "Hai, saya Monica." Wanita itu berkata sambil mengulurkan tangan. Allea menyambut lalu menjawab, "Saya Allea." "Maaf kalau saya lancang, saya gak sengaja denger omongan kamu dari bilik sebelah." "Oh gitu …," lirih Allea, tiba-tiba dia tersentak menekan pandangan kepada Monica. "Maaf saya tidak sengaja, tapi kalau kamu gak keberatan saya bisa membantu." Allea langsung menjawab, "Saya tidak punya uang untuk deposit apalagi untuk jaminan. Saya juga tidak memiliki usaha untuk ditinjau." "Semua itu gak perlu, tapi tetep ada syaratnya." Allea mengerutkan dahi, "Apa syaratnya?" "Kamu bisa menerima bayaran dua puluh juta dalam semalam. Bahkan mungkin lebih," ungkap Monica. Sejenak Allea berpikir tentang bayaran yang dimaksud. Kemudian dia bertanya, "Kerja apa sampai bisa mendapat bayaran segitu banyak dalam waktu semalam?" Monica mendekat ke telinga Allea, "Menjual keperawanan," bisiknya. Sontak Allea langsung terhenyak, "Apa?! Yang bener aja, saya memang butuh uang tapi kalau untuk menjual keperawanan. Saya gak mau!" Monica tersenyum santai, "Gak usah jawab sekarang, kamu bisa simpan kartu nama saya." Perempuan itu menaruh kartu namanya diatas meja. Allea memandang kartu nama itu dengan perasaan gemetar. Kecamuk emosi tiba-tiba menyeruak, menggetarkan sanubarinya yang terasa begitu pilu. Monica kembali berkata, "Hubungi aja kalau kamu sudah menetapkan pilihan." Monica beranjak setelah menaruh selembar uang lima puluh ribu di dekat kartu nama itu. "Untuk apa uang itu?" tanya Allea. "Untuk bayar tagihan telepon kamu, ambil aja gak usah sungkan." Monica tersenyum setelah itu keluar dari bilik tersebut. Allea masih terpaku menatap kartu nama dan uang itu. Hatinya terluka, marah, meraung dalam keheningan. Setelah berhasil menenangkan diri dia keluar menuju kasir yang sudah tak asing baginya. "Sudah dibayar kak!" Kasir itu memberitahu sebelum Allea menyodorkan tagihan. "Dibayarin siapa?" Kasir itu terkekeh, "Kata dia rahasia jadi aku harus tutup mulut." Allea menyeringai, "Cih, bisa aja Kakak ini. Ya sudah Terima kasih ya …." "Gak nanya gitu ciri-cirinya?" Allea melirik sambil manyun, "Aku gak mau Kakak jadi pembocor rahasia." Gadis itu tertawa terlebih Allea keluar dengan wajah bersungut masam. "Siapa yang bayarin tagihan gue? Apa Monica? Tapi 'kan dia udah ninggalin uang ini." Mata Allea menatap uang pemberian Monica sambil bertanya-tanya. Langkahnya terasa begitu berat untuk sampai di rumah. Padahal jarak dari Wartel itu ke rumah Mega tidak terlalu jauh. Tiba-tiba, "Dar!" Tangan kokoh menepuk bahunya. Allea menoleh, pandangannya tertutup oleh kantong kresek besar berwarna hitam. Allea mengernyit heran lalu bersungut begitu kresek itu dialihkan ke bawah. "Ngelamun aja lo! Kesandung ntar baru tau!" sergap seorang pemuda berjalan disisinya. "Ngapain lo kesini?" tanya Allea acuh tak acuh. "Gue mau nganterin oleh-oleh ke rumah lo! Pasti Buk Mega bakal seneng." "Lo tuh udah kayak calon mantu yang lagi cari muka sama calon mertua." Pemuda itu terpingkal mendengar gaya bicara Allea yang jutek. "Lo gak nanya kenapa gue gak masuk sekolah?" "Iya kenapa?" "Ish, kayak gak ikhlas gitu nanyanya." "Gue lagi pusing Rel! Lo gak usah bikin gue emosi tengah hari bolong begini!" raung Allea dengan mata menyala. Pemuda bernama Farrel itu melongo heran, bukan hal aneh jika gadis itu kerap berlaku kasar padanya. Tapi kali ini wajah Allea benar-benar mengerikan baginya. "Gue cuma ngomong gitu aja lo sampe segitunya marah!" dengus Farrel terseok membawa bingkisan yang akan diberikan kepada Mega.

editor-pick
Dreame-Pilihan editor

bc

Hasrat Meresahkan Pria Dewasa

read
30.5K
bc

Dinikahi Karena Dendam

read
233.8K
bc

Sentuhan Semalam Sang Mafia

read
188.8K
bc

TERNODA

read
198.8K
bc

B̶u̶k̶a̶n̶ Pacar Pura-Pura

read
155.8K
bc

Setelah 10 Tahun Berpisah

read
61.1K
bc

My Secret Little Wife

read
132.1K

Pindai untuk mengunduh app

download_iosApp Store
google icon
Google Play
Facebook