Mega bertanya ketika membuka bungkusan hitam tergantung di pinggir lemari es. "Apa ini Al?"
"Oleh-oleh dari Farrel Buk!" sahut Allea dari tempat menyetrika.
"Wah banyak bener pisangnya! Habis panen ya dia?"
"Iya Buk! Habis liburan di kampung."
"Memang calon pacar kamu itu luar biasa baik." puji Mega sambil mengeluarkan berbagai jenis pisang dari kresek tersebut.
Allea bersungut dalam hati, "Cih, andai cuma dia yang tersisa dimuka bumi ini. Gue gak bakal mau jadi pacarnya!"
Setelah menyelesaikan setrikaannya, Allea berpindah ke wastafel cuci piring. Tangannya bergerak mencuci perabotan pecah belah itu satu demi satu. Tapi pikirannya terus tertuju pada Monica.
Tak lama suara telepon berdering, terdengar suara seruan Andin memanggilnya Allea. Dengan cepat Allea meninggalkan aktivitasnya untuk menerima panggilan.
"Al, entah ini kabar buruk atau kabar bagus. Ibu sudah dapat pinjaman ta–"
Belum sempat Ibunya melanjutkan ucapan. Allea langsung menyerobot, "Serius Buk?!"
"Denger dulu … memang uangnya sudah ada tapi masalahnya harus segera dikembalikan dalam waktu seminggu kalau tidak surat tanah Kakek jadi taruhannya. Pak Jamil gak mau ngasih tenggat waktu terlalu lama karena perputaran modalnya bakal lama."
Tak pelak wajah Allea mengeriting menahan sesak yang tak terhingga. Karena dia tahu persis siapa Pak Jamil yang disebut oleh ibunya. Tanpa menghiraukan Andin yang duduk di dekatnya Allea berseru, "Kenapa harus pinjam surat tanah Kakek sih Buk?! 'Kan bisa pinjam uang aja Buk?" Suara Allea terdengar parau akibat menahan amarah.
"Kakekmu sudah gak punya uang lagi. Hasil penjualan tanah sudah dibelikan sapi Al!"
"Ya bisa aja 'kan sapi itu yang dijual? Kalau hasil penjualan tanah di beliin sapi pastinya jumlah sapinya banyak 'kan Buk?!"
"Iya tapi jual sapi gak semudah itu Allea."
"Bilang aja Kakek takut pinjemin uang ke kita. Kakek sama Pak Jamil 'kan dekat. Pasti ada campur tangan Kakek juga. Tega banget sih?!"
"Maaf Allea, Ibu gak punya pilihan lain. Seminggu lagi uang Pak Jamil sudah harus dikembalikan tujuh belas juta."
Allea semakin murka, "Tujuh belas juta?! Yang bener aja Buk! Dalam waktu seminggu sampai dua juta bunganya!"
"Mau bagaimana lagi Nak!"
Allea menggeram, ingin rasanya menghancurkan sesuatu agar ledakan emosinya bisa tersalurkan. Namun apalah daya segala yang ada disekitarnya adalah barang milik majikannya.
"Ibu mohon kamu bicara sekali lagi sama Bu Mega. Mana tau beliau berubah pikiran."
Kali ini Allea enggan untuk menjawab pertanyaan ibunya. Dia memilih menutup telepon tanpa mengucapkan salam. Setelah itu dia kembali mencuci piring, segala obrolan dengan Mega sore itu hanya numpang lewat saja di telinganya.
Di sekolah pun dia terlihat lebih diam dari biasanya. Farrel dan Karina berbisik-bisik membahas masalah yang tengah dihadapi gadis itu.
"Memangnya gak bisa dicicil apa hutangnya?" tanya Farrel memecah keheningan.
"Gak!"
"Jadi harus dibayar sekaligus?"
"Iya."
Farrel dan Karina saling memandang. Mereka hanya bisa ikut bersimpati tanpa bisa membantu.
"Cara yang pas adalah melaporkan Rentenir itu ke polisi!" cetus Karina.
"Lo bakal dianggap penipu, setelah menyetujui persyaratan malah bertingkah!"
Farrel berpikir sejenak kemudian berkata, "Itu sudah termasuk pemerasan Lek!"
"Pemerasan kalau diluar perjanjian, kalau kedua belah pihak setuju?" Allea malah melontarkan pertanyaan yang membuat keduanya bingung.
Karina bergumam, "Betul juga sih! Jadi gimana?"
"Entahlah! Gue juga bingung."
Karina menyikut lengan Farrel, "Lo ada duit gak?"
Farrel langsung melotot, "Lo ngejek ya?! Bayar kosan aja kembang kempis mau nyari duit sebanyak itu. Kalau ngomong pake otak!"
"Lo yang gak berotak! Ngomong tuh pake mulut!" balas Karina sengit.
"Ya seti–"
Allea langsung menghempaskan tangannya ke meja, "Kalian ini bikin tambah pusing aja sih!"
Mendadak mereka berdua langsung terdiam.
"Gue mau pulang!" Allea beranjak dari kursi kemudian melangkah tanpa beban.
Farrel bergumam, "Dia kepala geng atau apa sih, main pergi aja. Bukannya bayar dulu kek!"
Karina terkekeh, "Biasanya 'kan lo yang bayar!" ucapnya kemudian pergi menyusul Allea.
"Lo gak pulang bareng Farrel?" tanya Allea begitu Karina berhasil mengimbangi langkahnya.
"Bareng tapi dia lagi bayar makanan."
"Oh," sahutnya nyaris tanpa ekspresi.
Tak lama Farrel sudah berada di belakang keduanya. Karena arah rumah mereka yang berlawanan, praktis harus berpisah diujung jalan.
Di angkot Allea terus memikirkan tawaran Monica, sampai akhirnya dia memilih untuk menghubungi perempuan itu. Matanya terus tertuju pada kartu nama sampai tak memperhatikan langkahnya.
Tiba-tiba dari arah samping seorang pengendara motor menyerempet lengannya lalu pergi. Allea tersungkur di pinggir selokan, meringis menahan denyutan di lengannya.
"Kamu gapapa?"
Suara berat yang sama-samar dikenalnya menyerbu di telinga. Dia terkejut melihat si pemilik suara adalah Rama, pria yang kemarin membayar tagihan Wartel-nya.
Rama kembali bertanya karena hanya diam terpaku menatapnya dengan bibir menganga.
Matanya langsung mengerjap kemudian menjawab, "Oh iya, saya gapapa Pak!"
"Dasar pengendara motor tidak bertanggung jawab! Bukannya berhenti malah kabur!" umpatnya seraya membantu Allea berdiri.
Allea masih menatap heran kepada Rama, dalam benaknya bertanya, "Katanya rumahnya jauh kok dia bisa muncul disini? Apa ada keluarganya di sekitar sini?"
"Ayo kita kerumah sakit," ajaknya, menarik lengan kurus itu menuju mobilnya.
"Tapi–"
"Tapi apa?" tanya Rama memotong ucapannya.
"Saya gapapa, Pak!" Allea celingak-celinguk seperti mencari sesuatu.
"Kamu ngeliatin apa?"
"Kartu nama saya hilang."
Rama menunjukan selembar kartu ditangannya, "Ini?"
Allea langsung menyambar kartu nama itu lalu memasukkan ke saku bajunya. "Terima kasih Pak, maaf saya buru-buru." Gerakannya tertahan oleh tautan tangan Rama di lengannya.
"Kamu harus ke rumah sakit."
"Saya gapapa Pak, jadi tidak perlu ke rumah sakit."
Rama langsung menyergah, "Apanya yang gapapa! Lihat darah kamu ngocor begitu!"
Allea baru menyadari tangannya mengeluarkan darah yang lumayan banyak. Matanya mendadak berkunang-kunang, seketika mual menyeruak dalam perutnya.
Tanpa menunggu tanggapan Allea, pria berjambang tipis itu segera menariknya ke mobil. Sesampainya di sebuah klinik 24 jam yang cukup besar. Rama memarkirkan mobil dan membawa Allea ke tempat observasi.
"Tolong lakukan perawatan terbaik untuk lukanya. Jangan sampai melakukan kesalahan!" ucap Rama kepada seorang perawat yang menangani Allea.
Luka yang diremehkan oleh Allea ternyata dalam dan harus dijahit. Mendengar hal itu Allea melompat dari ranjang.
"Saya gak mau dijahit!" teriaknya.
"Jadi apa kamu mau membiarkan luka itu menganga?" bentak Rama.
"Diperban aja Pak! Saya sudah biasa kok luka begini!" Allea enggan kembali ke ranjang meskipun Rama dan perawat itu mencekalnya.
Aksi tarik menarik pun tak dapat dihindari. Allea tetap kekeh tidak mau dijahit. Sampai datang seorang dokter muda menenangkan keributan itu.
Senyum menawan tersungging di bibirnya yang tipis berkata dengan lembut kepada Allea, "Saya janji ini gak bakalan sakit. Saya menjaminkan gelar saya kalau ternyata saya berbohong."
Bak terhipnotis oleh ketampanan dan kharisma si dokter, Allea menurut begitu saja saat dokter itu menggeser posisi si perawat untuk membawa Allea kembali ke ranjang.
"Saya bersihkan dulu lukanya ya?" Dokter itu mengusap lembut luka Allea dan membersihkan darah yang masih mengalir. "Sakit?"
Allea menggeleng sambil tersenyum, "Nggak Dok!"
"Saya gak bohong 'kan?" Suaranya lembut mengalun bak denting piano yang menghanyutkan bagi Allea.
Rama memperhatikan dengan ekspresi geram. Seperti ingin menelan dokter itu bulat-bulat. Sesekali ia mengalihkan pandangan ke Allea dengan mimik wajah kesal. "Senang sekali dia dipegang-pegang dokter muda itu!" Semburan amarah dalam hatinya bersahutan tak menentu.
Benar saja sampai luka itu selesai dijahit Allea tak merasakan sakit meski sempat meringis saat dokter menyuntikan obat bius di area yang mau dijahit.
"Terima kasih Dok!" ucap Allea tak juga melepas senyumnya.
"Sama-sama," jawab dokter itu, "tiga hari lagi kamu bisa kembali kesini untuk melepas jahitannya."
Allea langsung menjawab, "Tentu Dok! Saya akan kembali kesini nanti."
Rama semakin kesal melihat sikap manis Allea, "Tiba-tiba dia jadi sok imut gitu!" Lagi-lagi dia mengecam dalam hati.
Setelah menyelesaikan administrasi dan mengambil obat mereka keluar dari klinik tersebut.
"Ternyata mahal juga," gumam Allea menatap kantung obat.
Rama mendesah, "Tiga hari lagi saya akan mendatangi kamu untuk melepas jahitan."
Allea langsung menoleh kepadanya, "Gak usah Pak! Saya bisa pergi sendiri."
Mendadak Rama tersulut mendengar penolakan itu. "Supaya bisa senyum-senyum gak jelas sama dokter itu?!"
Allea merasa heran dengan perkataan Rama, sikapnya seperti lelaki yang sedang memarahi pacarnya karena ngelaba. "Kenapa Bapak sewot?"
Bukannya menjawab Rama malah membatin, "Memang tingkat pekanya gak pernah mengalami kemajuan!"
Allea berkata lirih, "Bagaimana cara saya membayar ini semua?"
Rama tersentak pandangannya teralihkan sejenak. Dia bertanya, "Kenapa?"
"Saya tidak punya uang!"
Sontak kejujuran Allea itu membuat Rama geli, gadis itu memang selalu blak-blakan tentang keadaan keuangannya.
"Saya gak nyuruh kamu membayar!" sergah Rama.
"Setidaknya saya harus memiliki itikad baik untuk berterima kasih."
"Oke Fine, kamu bisa mencicil kalau kita bertemu lagi."
"Iya kalau pas ketemu lagi saya punya uang! Kalau tidak?"
"Kamu harus membayar dengan cara lain!"
Tak pelak pikiran negatif langsung menghantam kepala Allea. "Bapak gak berniat mencabuli gadis dibawah umur bukan?"
Spontan Rama langsung menarik gulungan rambut Allea, praktis rambut panjang itu terurai menutupi sekujur wajahnya. "Alih-alih menuduh saya, sebaiknya kamu benahi isi kepalamu itu!"
Allea meringis seraya menggulung kembali rambutnya. "Ya cuma jaga-jaga aja sih …," sahutnya cuek.
Rama menggeleng kemudian bertanya saat mereka sudah sampai di tempat Allea tertabrak. "Rumah kamu dimana?"
"Saya turun disini saja, Pak!"
Rama merasa heran lalu kembali bertanya, "Kenapa turun disini?"
"Saya mau ke Wartel dulu."
"Mau ngapain?"
"Jogging!" celetuknya seraya menarik pegangan pintu.
"Saya serius Allea!"
Mendengar namanya disebut dengan lugas oleh pria itu. Allea menghentikan gerakannya. Tanpa sadar dia menoleh dan menatap sendu kepadanya.
Rama mendadak salah tingkah, "Kenapa kamu ngeliatin saya kayak gitu?"
Allea mengerjapkan mata, buru-buru menyadari keadaan agar tidak terjadi kesalahpahaman. "Saya permisi Pak, kalau Bapak mau dicicil tolong berikan kartu nama Bapak."
"Saya tidak punya kartu nama."
"Masa orang kaya gak punya," sungut Allea.
"Kamu ini hobi banget memojokkan orang ya?!"
"Kenapa Bapak merasa begitu? Memangnya Bapak tahu persis tentang saya?"
"Gak perlu tau pun sudah kelihatan kamu itu seperti apa?!"
"Ah ternyata Bapak memiliki keahlian membaca watak orang lain. Baiklah kalau begitu saya permisi. Terima kasih banyak Pak Rama." senyum sumringah terpancar di wajah manisnya.
Tak ayal sikap manis Allea itu membuat debaran kencang di d**a Rama. Seketika akal sehatnya luluh lantah, seakan ia ingin memiliki kekuatan menghentikan waktu. Karena tak ingin berpisah secepat itu dengan gadis yang baru saja menebas sanubarinya.
Tangannya bergerak cepat menarik kembali Handle pintu supaya Allea tidak keluar dari mobil. "Siapa orang yang ada di kartu nama itu?"
Dengan santai Allea menjawab, "Kenalan biasa."
"Ada perlu apa kamu menelpon dia?"
"Apa Bapak seorang wartawan?" Bukannya menjawab dia malah balik bertanya.
Rama mendesah, "Anggap saja begitu, jadi jawab pertanyaan saya dengan jujur."
"Apa setelah itu saya akan mendapat bayaran atas sumbangsih saya menjawab pertanyaan Bapak?"
"Allea Please! Saya sedang tidak bercanda!"
"Apa Bapak pikir saya bercanda?"
Rama tertegun mendengar sahutan Allea, gadis itu terlalu mahir memainkan emosinya. Salah kaprah jika Rama berpikir wajah polos itu serasi dengan hatinya. Ternyata Allea bukanlah perempuan yang mudah diatasi.
"Baiklah, berapa royalti yang harus saya bayar."
Allea tertawa mendengar jawaban pasrah itu. Kemudian dia berkata, "Cukup lunaskan saja biaya pengobatan ini."
"Apa kamu seorang Negosiator?"
"Ya anggap saja seperti itu," sahutnya mengejek jawaban Rama tadi.
Rama menyeringai, "Cih, kamu benar-benar ahli mempermainkan keadaan."
"Hem …."
"Oke, asal kamu jawab jujur saya anggap lunas biaya pengobatan ini."
Allea menyimpul senyum penuh, "Oke, saya menelpon dia karena ada sesuatu yang penting. Sekian dan Terima kasih." Allea bergegas membuka pintu.
Lagi-lagi Rama menahannya karena tidak puas dengan jawaban gadis itu. "Jangan permainkan saya Allea!" Tangannya merangkul tubuh Allea.
"Jangan sembarangan menyentuh Pak!"
Rama langsung melepas rangkulannya, "Oke, sekarang jawab yang sebenarnya."
"Saya sudah menjawab yang sebenarnya, lalu apalagi?"
"Kamu hanya menjawab apa yang mau kau katakan bukan apa yang mau saya dengar!"
"Lalu apa Bapak mau mendengar jawaban kalau saya menelpon dia hanya untuk menjual kegadisan saya?"
Rama terhenyak mendapat jawaban tersebut. Mendadak dia bingung harus bersikap seperti apa.
Allea menyeringai, "Bapak sudah mendapat jawaban jujur dari saya, jadi sekarang saya sudah bisa keluar Bukan?"
"Kenapa harus dijual? Apa kamu tidak mau mempertahankannya untuk suamimu nanti?"
"Cih suami? Saya tidak pernah berangan untuk membina suatu rumah tangga. Kehidupan terkutuk dengan segala problem didalamnya. Itu bukan impian saya!"
"Lantas apa impian kamu?"
"Menjadi Miliarder, membungkam mulut sombong manusia terhormat yang kerap menghina kekurangan keluarga kami. Menjadi manusia kuat yang gak akan pernah rapuh hanya karena keadaan. Itulah impian saya."
Bukan main perasaan Rama menjadi gamang ketika mendengar jawaban lugas itu keluar dari mulut seorang anak SMA yang seharusnya masih memiliki cita-cita normal pada umumnya. Mengecap manisnya suka duka dunia percintaan yang selayaknya dirasakan oleh remaja seumuran Allea.
"Seberat apa beban yang dia tanggung sampai memiliki pemikiran seperti itu."