Chapter 14

1084 Kata
Bayu sedikit bersyukur karena papanya mengajak mamanya untuk mengikuti pertemuan di Bali sehingga keduanya berangkat begitu pagi. Meski awalnya Puteri sangat enggan pergi sebelum Bayu dan Flora bangun, Agung berhasil meyakinkan bahwa Bayu dan Flora akan berbulan madu di Yogyakarta. Jadi Agung berharap Puteri tidak akan menahan mereka terlalu lama di rumah ini.  Flora masih saja diam semenjak mereka bangun pada pagi harinya. Setelah tahu kabar bahwa kedua mertuanya itu sudah berangkat ke bandara bahkan sebelum dirinya bangun, Flora menahan diri untuk tidak langsung pergi kembali ke rumah Bayu yang ditempatinya. Ia masih berusaha menghormati jamuan sarapan yang sudah disiapkan oleh mama mertuanya. Itu sebabnya ia menahan diri sebentar untuk menjalani sarapan di rumah itu. Lengkap dengan keheningan di meja makan.  "Ra, makannya dibanyakin." ucap Bayu ketika melihat Flora yang mengambil porsi makanan terlalu sedikit. Flora hanya diam saja dan tetap melanjutkan makannya tanpa menambah porsi seperti yang diminta Bayu.  Mereka hanya makan berdua saja di meja panjang ini. Beberapa pelayan nampak berdiri di belakang mereka untuk siaga ketika Bayu atau Flora butuh sesuatu. Sesuai dengan apa yang Flora bilang. Rumah ini benar-benar sebuah istana.  Bayu menghela napas melihat Flora yang diam saja sejak tadi. Dia tidak mengenal Flora dengan baik jadi tidak tahu bagaimana harus membujuk perempuan itu agar mau bicara. Mungkin Flora masih sedikit kesal dengan mamanya yang terlalu memaksa agar mereka segera memiliki anak. Bayu sungguh merasa menjadi tidak enak.  "Om, makannya yang cepet." Itu adalah suara pertama Flora selama pagi ini. Bayu mendongakkan pandangan untuk menatap Flora. Gadis itu menatap Bayu dengan sorot datar. Mendengar permintaan Flora itu, Bayu menganggukkan kepalanya. Ia makan secepat mungkin yang ia bisa. Sepertinya Flora sudah ingin kembali ke rumah dengan cepat.  ------- Setelah pulang dari rumah keluarga Widjaja, Flora masih diam saja. Hingga ia menerima telepon dari Saras di perjalanan pulang. "Halo, Saras." "Iya, nanti kami berangkatnya sore." "Jam tiga. Nyampenya maybe jam limaan." "Oke. Lanjut di chat ya! Harus bales pokoknya. Sekarang, Ras!" Setelah itu Flora mematikan sambungan telepon dan mengetikkan beberapa pesan kepada Saras. Flora meminta agar Saras mau menjemputnya di bandara. Flora ingin makan malam di rumah keluarga Saras. Ia akan meminta Bayu langsung menuju villanya. Lalu besok siang Flora akan menyusul ke villa. Ia sudah tidak sabar menceritakan banyak hal kepada Saras. Termasuk mengenai mama mertuanya yang sangat ingin segera memiliki cucu. Masalah Bayu, Flora bisa memanfaatkan kebungkamannya sejak tadi untuk langsung meminta Bayu melakukannya. Lelaki itu pasti mau jika Flora meminta dengan raut serius.  From Saras : Tapi, Ra. Suami lo gimana? To Saras : Gue suruh langsung ke villa. Plis!! Gue ada masalah sama mertua. Mau cepet cerita. Awalnya Saras sungguh tidak enak jika harus menuruti permintaan Flora. Rasanya tidak sopan jika melakukan itu. Sama saja dengan Saras mendukung Flora memperlakukan suaminya dengan tidak baik. Biar bagaimana pun, meski Saras tidak mengetahui siapa suami Flora dan tidak tahu detail ceritanya. Saras merasa rencana dari Flora tidak tepat dan tidak baik. Pada akhirnya Saras hanya menyetujui permintaan Flora itu karena Flora memohon dengan sangat. Mengetahui Saras mau melakukannya, Flora kegirangan dalam hati. Ia semakin tidak sabar segera bertemu Saras.  "Om." panggil Flora. Kali ini raut wajahnya langsung ceria. Berbeda dengan tadi yang murung dan hanya diam saja semenjak selesai sarapan. Bayu menoleh dengan cepat, merasa lega dengan ekspresi Flora yang kembali ceria. "Kenapa, Ra?"  Tanyanya singkat, kemudian kembali menghadap ke depan karena ia sedang menyetir. "Nanti temenku jemput di bandara. Aku langsung nginep di rumahnya. Om abis dari bandara langsung ke villa aja, ya?" Bayu masih menghadap lurus ke depan. Flora menatapnya penuh harap. Kalau sampai laki-laki itu menolak, Flora akan mengandalkan jurus ngambeknya. Ia sudah menyusun rencana menikmati liburan selama di Jogja. Jadi Bayu tidak boleh mengacaukan itu dengan menolak permintaannya. "Aku boleh ikut ke rumah temen kamu? Abis itu malemnya aku ke villa." "Om!" Flora merengek.  Flora tidak enak dengan keluarga Saras kalau ia datang membawa suami. Apalagi dia kan berencana menginap. Jika Bayu datang kemudian meninggalkannya di malam hari sementara Flora tinggal menginap di rumah keluarga Saras. Flora khwatir keluarga Saras akan berpikir yang macam-macam.  "Aku nginep malem itu aja. Nanti sisanya temenku yang nginep di villa. Siang besok aku langsung ke villa, kok. Jadi om langsung ke villa aja dari bandara." "Kamu belum bilang kalo temen kamu nginep di villa." Flora langsung menoleh Bayu dengan raut wajah kesal. Ia memang baru bilang karena baru saja mendapatkan ide itu. Tadinya ia akan mengatakan itu setelah Bayu setuju untuk langsung kembali ke villa.  "Kenapa emangnya? Nggak boleh?!" tuduh Flora cepat.  Bayu menghela napasnya. Maksud ia bicara begitu bukanlah sesuai dengan apa yang Flora tuduhkan. Ia sudah memberi pesan kepada penjaga villa untuk menyiapkan villa supaya cukup dihuni oleh dua orang. Artinya segala kebutuhan seperti kamar, makanan yang dipersiapkan, dan kebutuhan lain seperti sepeda, atau yang lainnya hanya disiapkan untuk dua orang. Bayu hanya meminta menyiapkan satu kamar. Ada beberapa kamar di villa itu karena itu adalah villa keluarganya. Villa yang sudah jarang dikunjungi dan lebih sering disewakan untuk pengunjung.  "Bukan gitu, Ra. Penjaganya cuma nyiapin satu kamar." Flora terkejut bukan main. Ia akan satu kamar dengan Bayu selama di villa itu? Dalam hati ia berdecak sebal. Ia kira bisa break satu kamar dengan Bayu selama beberapa hari. Nyatanya akan sama saja. Bagaimana ia bisa tidak tahu kalau Bayu hanya meminta penjaga menyiapkan satu kamar saja.  "Ya udah tinggal kabarin aja. Lagian Saras dateng ke villanya lusa, kok." Rencana Flora dan Saras demikian. Setelah Saras datang ke villanya, baru mereka akan mulai travelling menuju tempat yang Saras rekomendasikan untuk didatangi.  "Kamu nggak papa aku tinggal ke villa?" tanya Bayu kemudian. Demi Tuhan itu adalah suatu kemerdekaan bagi Flora. Selama Bayu meninggalkannya dalam keadan bergelimang uang, tentu saja Flora tidak keberatan. Sejauh ini yang Flora butuhkan dari Bayu, hanya uangnya kan? "Enggak. Tenang aja, Om. Keluarganya Saras itu baik banget." Bayu lantas menganggukkan kepalanya. Akan tetapi ia mengajukan satu permintaan kepada Flora. "Tapi besok siang aku jemput ke rumah temen kamu itu." Flora terdiam untuk menimang-nimang. Tadinya ia berencana agar Saras dan sepupunya yang mengantar Flora ke villa. Sekalian agar Saras tahu letak villa milik Bayu. Meski nantinya Flora juga hanya akan mengandalkan Google Maps, sepertinya akan repot juga. Tadinya ia sedikit gengsi meminta Bayu menjemputnya ke rumah Saras. Itu pun karena Flora tidak ingin keluarga Saras sampai tahu Flora sudah menikah dan memiliki suami. Makanya Flora menolak dengan keras ketika Bayu ingin ikut ke rumah Saras. "Oke, Om." Merasa senang karena Bayu menyetujui permintaannya, Flora segera mengetikkan pesan untuk mengabari Saras. Senyuman pun terukir di wajahnya. Ia semakin tidak sabar bertemu Saras dan menceritakan banyak hal.  Bayu yang melihat Flora sudah ceria kembali pun tersenyum dibalik kemudi. Ia lega karena Flora tidak murung lagi. Setidaknya berkat teman Flora itu, Flora jadi lupa dengan rasa kesalnya terhadap apapun hal yang terjadi di istana keluarga Widjaja.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN