Chapter 13

1015 Kata
Mereka menginap di istana itu. Flora hanya diam saja semenjak memasuki kamar. Ekspresi wajahnya terlihat kesal. Bagaimana tidak, ia tidak ingin menginap disini dan ikut menikmati sarapan bersama keluarga Widjaja itu besok. Terlebih setelah perbincangan selama di ruang tamu yang berlanjut di meja makan. Perbincangan mengenai memiliki anak terus saja dibahas oleh mama mertuanya. Meski dikemas dengan subjek orang lain, tetap saja itu terasa mengganggu Flora. Setelah menahan kekesalan di meja makan, bisa-bisanya Bayu mengiyakan permintaan orang tuanya untuk menginap disini. Flora paham memang sebaiknya menginap setelah Bayu pindah rumah. Hanya saja, kondisinya Flora sedang kesal dan Bayu seolah berada di pihak orang tuanya.  Flora melempar sling bag yang dibawanya ke atas kasur. Ia masuk lebih dulu ke dalam kamar dengan pandangan datar. Kemudian ia memasuki kamar mandi dalam kamar. Mengunci pintu kemudian menyenderkan dirinya di pintu. Ucapan mama mertuanya terus saja terngiang di pikirannya. 'Mama itu pengen cepet-cepet punya cucu, Ra. Biar ada yang diurus di rumah.' Flora memejamkan matanya. Kenapa orang tua Bayu itu tidak bisa mengerti sedikit pun bahwa Flora masih belum siap untuk semua ini. Jangankan memiliki anak, Flora bahkan sungguh tidak siap dengan pernikahan. Meski Flora menerima dan melakukan pernikahan ini, tidakkah ada kesempatan untuknya melakukan apapun yang ia inginkan. Misalnya tidak memiliki anak dalam waktu dekat.  'Sepupunya Bayu juga nikah muda. Istrinya 21 tahun waktu nikah. Sekarang umur anaknya udah dua tahun. Istrinya Yoga itu, masih kuliah juga waktu nikah." Flora tidak mengerti apakah memang keluarga Widjaja adalah pendukung tradisi nikah muda atau bagaimana. Suasana hati Flora sungguh menjadi buruk setelah terus-terusan mendengarkan hal mengenai anak dan anak. Kenapa Flora harus dibandingkan dengan pasangan suami istri lainnya. Padahal kita tidak harus menjalani segala sesuatunya seperti orang lain. Menikah muda, langsung memiliki anak, karir bagus, banyak uang. Terus saja begitu. Flora tidak ingin mengikuti garis waktu yang ditetapkan oleh opini publik. Seperti harus segera memiliki anak setelah menikah.  'Sudahlah, Ma. Kita serahkan saja kepada Bayu dan Flora. Mereka yang menjalani baru juga menikah satu minggu. Biarkan saja dulu mereka beradaptasi. Menikah kan bukan hanya tentang punya anak saja.' 'Tapi, Pa. Mama itu udah pengen banget punya cucu. Bayu kan lama banget nikahnya. Sekarang begitu udah nikah. Mama ya pengen segera ada cucu.' Air mata Flora menetes begitu saja. Ia tiba-tiba menjadi sangat benci karena terjebak dalam hubungan ini. Dia tidak mengenal siapa pun dalam keluarga Widjaja ini. Dia tidak mengenal seperti apa suaminya. Dia tidak mengenal seperti apa orang-orang di keluarga ini. Jika saja bukan karena kedua orang tuanya yang bersikeras memohon agar Flora mau menerima perjodohan ini, Flora tidak akan melakukannya. 'Keluarga Widjaja itu baik, Ra. Mereka juga kaya. Bayu juga lelaki yang pekerja kerasa, baik, dan bertanggung jawab. Seenggaknya ibu lega sama masa depan kamu kalo kamu menikah sama dia.' Kedua orang tuanya bukan tipe yang gila harta. Hanya saja, siapa orang tua yang tidak akan tenang jika anaknya menikah dengan seseorang yang sudah mapan.  Suara ketukan pintu terdengar dan membuat Flora reflek menghapus air matanya. Untuk apa dia harus menangis karena keluarga Widjaja itu. Rasanya percuma saja. Lebih baik dia fokus ke tujuan awalnya.  "Ra.. Kamu di dalem?" Itu suara Bayu. Rupanya lelaki itu telah memasuki kamar ini.  "Ra? Tolong dijawab kalo iya." Suara ketukan pintu kembali terdengar. Flora memastikan bahwa matanya baik-baik saja dan sudah tidak ada air mata di pipinya. Ia lantas membuka kunci dan membuka pintu. Wajah Bayu terlihat khawatir begitu Flora keluar. Tanpa suara, Flora melangkah ke tempat tidur. Sling bag yang tadi ia lempar ke atas kasur sudah berpindah menjadi terletak di atas nakas. Ia memilih untuk langsung tidur saja dengan pakaian ini. Malas rasanya harus berganti ke pakaian tidur yang sudah tersedia di walk in closet kamar ini. Ini kamar Bayu jadi ada beberapa pakaiannya. Sementara untuk Flora, mama mertuanya itu sudah menambahkan beberapa pakaian perempuan di walk in closter kamar ini. Bagaimana Flora tahu? Mama mertuanya sendiri lah yang bicara demikian. Katanya sebagai antisipasi jika Flora menginap di rumah ini atau ketika Flora berkunjung. Sebenarnya Puteri Widjaja mengharapkan Flora tinggal disini, hanya saja Flora berhasil membuat beliau setuju agar Flora tinggal bersama Bayu saja di rumah lainnya.  "Ra, kamu kenapa?" tanya Bayu yang melangkah mendekati ranjang.  Flora sedang malas bicara dengan lelaki itu jadi ia memutuskan langsung memejamkan mata setelah merebahkan diri di atas kasur.  Bayu menghela napasnya kemudian duduk di pinggir ranjang. Menatap Flora yang tertidur menyamping.  "Maafin Mama ya, Ra. Mama emang pengen banget segera punya cucu." Begitu juga dengan Bayu. Meski ia ingin segera memiliki anak, ia menahan keinginannya itu karena berusaha memahami keadaan Flora. Mereka belu mengenal dengan baik satu sama lain, dan tahapan memiliki anak bukanlah gagasan yang tepat untuk kondisi mereka saat ini.  Flora hanya diam saja. Bayu tahu gadis itu belum sepenuhnya tidur dan masih bisa mendengarkan apapun yang Bayu katakan.  "Nanti aku bicara lagi ke Mama biar ngerti kalo kita lagi nggak lagi terburu-buru pengen punya anak." "Tidur, Om. Besok kita ke Jogja." Flora malas mendengar Bayu membahas perihal itu lagi. Memangnya sampai sejauh mana Bayu bisa membuat mama mertuanya itu memahami kondisi mereka. Akan lebih baik jika saat ini Bayu diam saja agar suasana hati Flora tidak semakin terasa memburuk. Ini sebenarnya hal yang membuat Flora ingin menikah ketika usia 28 tahun. Saat dimana ia menganggap dirinya sudah cukup matang. Yaitu karena ia malas harus menghadapi mertua yang berbeda pemikiran dengannya. Kalau berbeda pemikiran dengan suami, ia masih bisa membicarakannya baik-baik. Berbeda dengan perihal beda pemikiran antara menantu dan mertua, biasanya itu cenderung menimbulkan perselisihan dan masalah.  Bayu mengangkat tangannya untuk mengelus rambut Flora. Mungkin ini kontak fisik terintim yang pernah ia lakukan dengan istrinya itu. Mereka hanya pernah berpegangan tangan dan itu pun jarang. Hanya saat-saat dimana Flora merasa terdesak saja.  Bayu merasa sedikit lega karena Flora tidak mencegahnya melakukan hal itu. Bayu sangat ingin memeluk Flora, sungguh. Ia tahu bahwa gadis itu baru saja menangis di dalam kamar mandi. Mata Flora tidak bisa berbohong dan Bayu menjadi merasa bersalah. "Om." panggil Flora. Bayu menghentikan gerakan mengelusnya kemudian segera mengangkat tangan untuk mengakhiri kegiatan itu. Mata Flora masih tertutup.  "Maaf," ujar Bayu kemudian. Ia bangkit dari posisi duduknya dan berjalan berputar untuk tidur di sebelah Flora. Ia merebahkan diri dan menatap langit-langit kamar. Meski dirinya saat ini diam, sesungguhnya begitu banyak hal yang ingin ia bicarakan dengan Flora saat ini.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN