Chapter 12

1105 Kata
"Iya jadi. Lusa kesananya." Pada akhirnya Flora akan berangkat dua hari lagi ke Jogja. Sebelum bertemu dengan sahabat jaman SMAnya itu, Flora harus sedikit berkorban dengan mengunjungi istana keluarga Widjaja. Besok ia akan datang kesana bersama Bayu. Rasanya sungguh mendebarkan sekali. "Gue penasaran sama suami lo. Spoiler dong, Ra." Flora akan tetap tidak memberitahu hingga ia bertemu secara langsung dengan Saras. Jadi tidak akan bocoran sedikit pun. "Enggak. Tunggu aja nanti ya." Flora menoleh ketika Bayu memasuki kamar. Sepertinya melanjutkan percakapan selama ada Bayu bukanlah hal yang bagus. Bisa saja Bayu menguping pembicaraannya. "Udah dulu ya, Ras." Tanpa menunggu balasan Saras, Flora langsung mematikan sambungan telepon. Ia memperhatikan gerak-gerik Bayu yang mengambil buku dari nakas kemudian berpindah duduk bersandar di atas kasur. Pria itu rajin sekali membaca buku tebal.  Ini masih siang hari dan Flora bosan jika harus tidur saja. Itu sebabnya dia menelpon Saras. Tadinya ingin membicarakan topik secara random. Asalkan waktu siang harinya tidak digunakan untuk tidur saja. Berhubung Bayu tiba-tiba datang dan sepertinya akan bertahan di posisi itu untuk waktu yang lama, Flora pun mengurungkan sesi mengobrol dengan Saras via telepon.  "Besok ke istana berangkat jam berapa?" tanya Flora. Bayu mendongakkan kepalanya dan menatap Flora bingung. Keningnya mengernyit. "Istana. Rumah papa mamanya Om. Kan kayak istana." Bayu masih terdiam. Sementara Flora mulai gemas karena Bayu menjawab dalam waktu yang cukup lama. "Jam berapa?" Flora tahu jika mereka diundang makan malam. Akan tetapi, Flora perlu jam pasti. "Sorenya berangkat." "Jam?" "Lima?" Bayu seolah bertanya karena nada suaranya terdengar tidak yakin. -------- "Flora semakin cantik aja." Flora hanya tersenyum canggung ketika mendapatkan pujian dari Puteri Widjaja, mama mertuanya. Itu sebenarnya hanyalah pujian klasik yang sudah biasa Flora terima. Bahkan Flora selalu mendengar ucapan seperti itu dari beliau setiap kali baru saja bertemu setelah sekian lama. "Ayo masuk." Nyonya Puteri Widjaja langsung menyambut mereka di pintu utama ketika mendengar kabar bahwa putranya dan sang menantu telah tiba. Ini masih sore hari, langit pun belum gelap.Mereka sudah tiba dan Puteri Widjaja akan mempersilahkan Bayu serta Flora berbincang dengan suaminya.  "Pa.." Flora dalam hati meringis ketika melihat papa mertuanya yang duduk santai di sofa ruang tamu sambil membaca koran. Papa mertuanya sangatlah baik. Hanya saja kadang suka mempertanyakan atau membicarakan hal yang membuat Flora tidak bisa berkutik.  Bayu salim kepada ayahnya kemudian Flora mengikuti. Bayu mengajak Flora untuk duduk di sofa seberang Agung Widjaja.  "Gimana kabar kalian?" "Baik, Pa." Kali ini Flora menjawab lebih dulu, ditambahkan senyuman manis. Meski terlihat tenang ia merasakan debaran yang luar biasa. Ia tidak terlalu sering berinteraksi dengan mertuanya baik sesudah ataupun sebelum menikah dengan Bayu. Flora sedikit menyesal tidak bertanya lebih lanjut dengan orang tuanya mengenai bagaimana mertua Flora sesungguhnya. Jika saja Flora mengetahui informasi mengenai mertuanya itu, pasti Flora tahu harus bersikap bagaimana dengan mertuanya itu.  "Flora, gimana nikah sama Bayu?" Nyebelin! Flora bingung harus menjawab seperti apa. Apa yang dimaksud oleh papa mertuanya itu adalah kesan selama menikah dengan Bayu atau ada maksud lain? Flora bahkan bingung harus memanggil Bayu dengan sebutan apa di depan papa mertuanya. "Bayu baik, Pa." Akhirnya Flora memilih memanggil tanpa embel-embel apapun. Ia melirik Bayu yang diam saja dan tampak tenang dengan semua hal yang terjadi di ruangan. Ia berharap Bayu berbicara apa saja, yang penting bisa mengalihkan topik sehingga bukan Flora yang diintrogasi.  Papa mertuanya kemudian terkekeh. Flora jadi mengernyitkan kening bingung.  "Ngapain aja dia biasanya di kamar?"  Flora melirik ke arah Bayu dan sungguh bingung dengan semua ini. Sesi introgasi sepertinya sudah dimulai.  "Baca buku, Pa." Meski Flora tidak peduli dengan suaminya itu, setidaknya Flora tahu bahwa Bayu selalu saja membuka buku tebal jika di kamar.  "Tolong ingetin Bayu biar nggak terlalu gila kerja ya, Nak." Flora kembali melirik Bayu, lelaki itu hanya tersenyum saja mendengar ucapan ayahnya. Sementara Flora merasa sangat bingung. Akhirnya ia hanya menganggukkan kepala saja. "Bayu udah mulai berkurang loh gila kerjanya, Pa."  Puteri Widjaja bergabung di ruang tamu setelah tadi meminta pelayan untuk menyiapkan minuman serta makanan ringan.  "Nanti lama-lama juga jadi kangen istri kalo keseringan kerja." imbuhnya. "Kerja kan buat cari nafkah, Ma." Bayu mencari pembelaan. "Iya tapi jangan keseringan juga dan terlalu workholic." Flora tidak masalah jika Bayu sering kerja. Dengan begitu ia tidak terlalu sering bertemu lelaki itu.  "Iya, Ma." "Bayu udah nggak segila kerja itu, Ma." Agung Widjaja bersuara.  "Baru-baru ini kamu ke Kalimantan ikut rapat, kan?" Bayu mengangguk lemah. Padahal ia tidak pernah melaporkan apapun mengenai pekerjaannya. Akan tetapi papanya pasti tahu apa saja yang Bayu lakukan di bidang pekerjaan. Entah papanya sengaja memonitor segala pergerakan Bayu di pekerjaan atau bagaimana. Setidaknya Bayu merasa lega karena hal itu. Jika ada masalah maka papanya akan segera mengetahuinya dan menunggu Bayu memberikan solusi, jika tidak baru papanya yang turun tangan. "Iya, Pa. Cuma rapat inti aja." "Iya. Sisanya sekretaris kamu yang handle." Puteri Widjaja terperangah dengan fakta baru itu. Padahal Bayu adalah tipe yang tidak akan melewatkan rangkaian rapat selama ini. Lalu setelah menikah, ia dengan mudahnya menunjuk orang lain untuk mewakilinya. Puteri jadi merasa takjub dengan Flora yang bisa mengubah putranya sebegitu cepat. Jika saja Bayu tidak terlalu workholic, pasti lelaki itu bisa menemukan kekasihnya sendiri tanpa dijodohkan. Karena Bayu terlalu sibuk bekerja dan tidak memikirkan percintaanlah, Puteri akhirnya memilih menjodohkan Bayu dengan Flora. Mengingat Puteri sebenarnya sudah ingin segera memiliki cucu.  Flora tidak tahu apa pekerjaan spesifik dari suaminya itu. Jika mendengar nama keluarga Widjaja, pasti yang terbayang adalah mereka merupakan keluarga pengusaha sukses yang sangat kaya di Indonesia. Jadi selama ini Flora beranggapan bahwa Bayu adalah seorang pengusaha. Terlebih ia ada meeting sampai harus berkunjung ke Kalimantan. Pasti relasi bisnisnya sangatlah luas.  "Emang ya kalo udah nikah pasti ada perubahan." "Kalian kapan mau ada momongan? Mama udah nggak sabar punya cucu." Flora langsung menatap lantai ketika mendengar ucapan itu. Sungguh ia sama sekali tidak berniat memiliki anak dalam waktu dekat ini. Rencananya adalah Bayu dapat segera menceraikannya. Sehingga Flora bisa bebas dan melakukan apapun yang ia sukai. Anak tidak ada dalam rencana jangka pendeknya. Jangan pendek versi Flora adalah selang waktu sekarang hingga lima tahun ke depan. Mengingat target Flora menikah adalah ketika dirinya berusia 28 tahun. Jadi untuk saat ini ia belum ingin memiliki anak. Terlebih lagi jika dirinya harus hamil selama kuliah. Itu pasti akan sangat merepotkan. Bayu melirik Flora yang terdiam dan ekspresi gadis itu berubah.  "Ma, Flora masih kuliah." "Memangnya kenapa kalau masih kuliah? Flora masih bisa ambil cuti. Kamu kan juga bisa bantu ngurus administrasinya di kampus." Bayu bingung harus menjawab bagaimana lagi. Mamanya memang suka terlalu bersemangat untuk urusan cucu. Sementara ia tahu sendiri bahwa jangankan memiliki anak, Flora saja masih dalam tahap menerima dirinya menjadi suami. Flora masih sangat muda dan Bayu paham bahwa gadis itu sungguh tidak ingin menikah di usia yang sangat muda ini. "Flora belum siap, Ma." Flora akhirnya bersuara. Ia menghela napas ketika ekspresi wajah Puteri dan Agung langsung berubah ketika mendengar ucapannya itu. Andai saja waktu dapat diulang, maka pasti Flora akan lebih memilih untuk menjawab hal yang sama ketika keluarga Bayu datang ke rumah melamarnya. Flora sungguh menyesalkan hal itu.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN