Flora pulang dengan keheningan sepanjang perjalanan. Jika ketika berangkat tadi, bi Susi yang membuka topik pembicaraan sehingga suasana mobil lebih ramai. Maka kali ini tidak ada yang membuka pembicaraan. Flora malas berbincang sementara Bayu sibuk menyetir dan bingung harus membicarakan apa. Jadinya mereka hanya diam saja sepanjang perjalanan.
Semua barang belanjaan sudah dibawa tadi bersamaan dengan mengantar bi Susi pulang. Jadi kali ini Flora tidak perlu kerepotan membawa apapun. Flora langsung turun dari mobil begitu mereka tiba. Meninggalkan Bayu masih berada di mobil. Ia masuk ke dalam rumah dan segera disambut oleh bi Susi.
"Non tadi ada kasur yang dateng. Katanya dipesen untuk ditaroh di kamar."
Flora terkejut bukan main. Kenapa bisa-bisanya kasur itu datang ketika bi Susi yang berada di rumah seperti ini. Lalu akan seperti apa Flora menjelaskan mengenai bi Susi. Pasti bi Susi akan segera melapor kepada nyonya Puteri Widjaja, mamanya Bayu. Jika sudah begini, pasti akan timbul masalah. Pengantin macam apa yang menyiapkan dua kasur dalam satu kamar. Meski mereka satu kamar sekali pun, tetap saja keduanya pisah ranjang.
Flora hanya terdiam hingga Bayu memasuki rumah dan mengernyitkan kening karena suasana yang tidak ia pahami.
"Ada apa, Bi?"
"Ada kasur tadi dateng."
"Udah ditaroh di kamar?" tanya Bayu tenang.
"Udah, Den. Tapi itu.. kasurnya dua."
Bayu melirik Flora yang menunjukkan raut wajah khawatir. Bayu yakin perempuan itu tidak bisa menjawab karena bingung harus bagaimana menjelaskannya.
"Flora kadang kesempitan, Bi kalo sekasur sama aku."
Flora langsung menoleh kepada Bayu dan mendelikkan matanya. Meski bukan itu alasannya, kenapa Bayu tidak memberi alasan yang lebih baik. Flora lantas menyengir kuda dan menatap bi Susi.
"Maaf ya, Bi. Aku kebiasaan tidur sendiri jadi masih mau beradaptasi."
Bi Susi kemudian tersenyum saja melihat tingkah Flora. Flora masih terlalu muda terlebih pernikahan ini karena perjodohan jadi wajar jika Flora masih berusaha untuk beradaptasi.
"Bi, tolong jangan bilang siapa-siapa ya." pinta Flora memohon.
"Iya, Non. Tenang aja. Bibi bukan tipe pelapor."
Bi Susi dan Bayu lantas terkekeh sementara Flora tersenyum tenang. Ia lantas pamit untuk masuk ke kamar. Tersisa Bayu dan bi Susi.
"Bi, tolong jangan kasih tau siapa pun ya soal ini. Aku juga lagi berusaha biar Flora terbiasa. Dia masih terlalu muda."
Bi Susi mengangguk paham. Setidaknya Flora adalah gadis yang baik.
Bayu kemudian pamit untuk menyusul Flora ke kamarnya.
--------
Ketika Flora masuk ke kamarnya, kamar itu menjadi terasa lebih sempit karena ada dua tempat tidur. Akan tetapi tidak sesempit itu. Ia langsung merebahkan dirinya di atas kasur baru dan memejamkan matanya. Rasanya muak sekali menjalani kehidupan yang membosankan ini. Entah harus sampai kapan ia menjalaninya. Flora ingin bebas. Ia ingin seperti dulu. Memasak dan berjualan kemudian menabung untuk membeli apapun yang ia inginkan. Ia bisa pergi kemana saja dan menjalin hubungan dengan lelaki manapun yang ia mau. Padahal dulu ia sudah menetapkan kriteria untuk calon suaminya. Bayu memenuhi salah satu kriteria itu yaitu kaya. Akan tetapi satu poin itu tetap saja tidak membuat Flora merasa senang dengan pernikahan ini. Apapun yang dipaksakan itu sebenarnya tidak bagus kan.
"Ra. Kamu nggak pengen liburan?" tanya Bayu yang memasuki kamar. Flora menoleh ke arah Bayu yang melangkah memasuki kamar.
Liburan? Tentu saja sangat ingin. Liburan yang Flora inginkan adalah ia bebas berkelana menikmati tempat kunjungannya. Liburan yang bisa membawanya bertemu orang-orang tampan untuk mencuci mata. Intinya Flora rindu dengan kebebasan dan status lajangnya, itu saja.
"Males."
"Kita masih punya dua minggu liburan sebelum kamu ngampus."
Benar memang Flora masih memiliki waktu dua minggu sebelum masa kuliahnya kembali aktif. Tepatnya sebelum semester 5 dia dimulai. Flora yang tadinya ingin berlibur ke Bali, sudah kehilangan minatnya. Ia tiba-tiba saja diminta menikah dan sekarang harus memutar otak agar Bayu mau menceraikannya. Ia jadi tidak memiliki keinginan untuk berlibur.
"Sayang kalo nggak dipake liburan."
Bayu duduk di ranjangnya. Ranjang lama yang sudah berada di kamar ini lebih dulu. Flora mulai berpikir bahwa benar juga ucapan Bayu. Meskipun ia merasa sedih karena meratapi pernikahan akibat dijodohkan ini, bukan berarti ia tidak bisa menikmati waktunya kan?
Waktu semester 5 pasti akan cukup sibuk. Jika ia hanya memikirkan sakit hatinya karena terpaksa menikah, maka Flora tidak akan merasakan nikmatnya liburan. Waktunya hanya tersisa dua minggu dan ia memiliki suami kaya yang banyak uang. Betapa bodohnya ia tidak memanfaatkan kesempat emas itu.
Flora langsung terbangun dari posisi rebahannya. Ia tersenyum karena memikirkan sebuah ide brilian yang terlintas di benaknya. Akan tetapi, setelah matanya menatap Bayu yang mengangkat satu alisnya karena penasaran, rasa keraguan pun muncul.
Tadinya Flora memiliki ide untuk solo travelling saja. Uang Bayu cukup banyak jadi tidak akan repot jika pergi sendiri. Ia bisa memanfaatkan uang Bayu untuk membantunya liburan sendiri dengan mendapatkan fasilitas yang praktis. Sekarang setelah melihat ekspresi Bayu, Flora yakin laki-laki itu pasti ingin ikut liburan.
Liburan bersama Bayu? Flora menggelengkan kepalanya membayangkan hal itu. Jika mereka liburan berdua saja, rasanya seolah seperti bulan madu. Mata Flora membulat seketika. Apa ini rencana Bayu agar Flora mau diajak berbulan madu? Jika iya, maka jangan harap Flora akan terjebak dengan rencana Bayu itu.
"Aku nggak mau bulan madu. Aku belum mau hamil dan aku belum siap gitu-gituan!" sahut Flora cepat.
Bayu tertegun mendengar jawaban Flora itu. Padahal sejak tadi dirinya tidak ada sedikit pun membahas mengenai bulan madu. Ia sangat paham Flora belum siap. Akan tetapi, bisa-bisanya Flora menolak begitu terang-terangan dengan cepat. Bayu tadinya ingin mengajak berlibur bersama, sungguh. Benar-benar sebuah liburan.
"Bukan bulan madu, Ra. Liburan yang bener-bener liburan."
Kini Flora yang terdiam. Ia masih menyelidik Bayu. Bisa saja lelaki ini merencanakan sesuatu, kan?
"Kamu mau kemana? Bali?"
Demi Tuhan, itu tujuan dan rencana Flora di liburan kali ini. Hanya saja dia harus tahan! Jika Bayu tahu keinginannya yang satu itu, Bayu bisa memanfaatkannya.
"Raja Ampat? Atau mau ke Jogja?"
"Jogja?" gumam Flora.
"Iya, Jogja. Mau jalan-jalan ke Jogja? Aku bisa kalau dua minggu penuh ini kita jalan-jalan. Atau kamu mau keliling Indonesia?"
Flora sedang memikirkan hal lain. Benar saja tebakannya, Bayu pasti akan ikut jika Flora minta liburan.
"Aku liburan sendiri, boleh?" tanya Flora kemudian.
"Sama aku, Ra. Biar aku jagain."
Flora memutar bola matanya malas. Memangnya Flora ini apa hingga liburan saja harus dijaga. Dikira Flora akan kabar ketika pergi berlibur? Atau dikira Flora akan selingkuh? Meski Flora ingin agar Bayu menceraikannya, cara berselingkuh bukanlah hal yang ada di pikiran Flora. Jika pun ia ingin diceraikan Bayu, harus dengan cara yang lebih terhormat. Yah, bisa dibilang rencana awalnya dengan bersikap ketus kepada Bayu pun bisa dibilang tidak terhormat.
Flora kemudian kembali menatap Bayu. Sepertinya ide yang kali ini terlintas di pikirannya tidak buruk juga.