Chapter 8

1079 Kata
Bayu tahu bahwa hari ini Flora ingin pergi berbelanja ke mall. Berhubung Bayu tidak memiliki agenda apapun ia berencana menemani Flora untuk berbelanja di mall. Itu sebabnya ketika sarapan tiba, Bayu mengatakan rencananya kepada Flora. "Kamu nanti belanja sama Bi Susi? Aku anter, ya?" Gerakan makan Flora terhenti sejenak. Bayu pasti mengetahui rencananya dari Bi Susi. Pandangannya tertuju kepada Bi Susi yang tengah berberes di dapur. Ia tidak mungkin menolak tawaran dari Bayu. Tidak ada alasan logis yang bisa membuatnya menolak ajakan Bayu. Satu-satunya alasan hanyalah Flora yang tidak suka terlalu berlama-lama bersama lelaki.  Akhirnya Flora menganggukkan kepala dan melanjutkan kembali sarapannya. Setelah itu keheningan kembali melanda di meja makan. Flora tidak ingin membicarakan apapun, jadi ia hanya fokus dengan makanannya. Sementara Bayu sedang berusaha mencari topik. Apa saja, agar tidak hanya keheningan yang terjadi selama mereka berdua makan bersama.  "Mau beli apa aja nanti?' Flora masih asyik mengunyah makanan dengan santai. Jadi ia diam saja dan berniat baru menjawab ketika makananya telah habis. Bayu jga ikut mengunyah seraya menanti jawaban Flora. Sebenarnya ia sudah tahu apa yang akan dibeli istrinya itu. Bi Susi yang sudah memberitahunya. Akan tetapi, siapa tahu ada tambahan yang ingin dibeli Flora. "Bahan resep sama buku."  Bayu menganggukkan kepalanya. Baguslah kalau begitu. Ia bisa sekalian membeli buku juga untuk menambah koleksi bacannya.  Flora tiba-tiba saja teringat akan idenya untuk menghabiskan uang Bayu. "Om, nanti aku ke salon ya." Flora sengaja mengucapkannya dengan berbisik. Agar bi Susi tidak mendengar panggilan 'Om' yang biasa Flora lontarkan ketika memanggil Bayu. Bayu sedikit berpikir ketika Flora mengutarakan keinginannya itu. Lalu bagaimana dengan bi Susi? Bayu tidak keberatan jika harus menunggu Flora ke salon atau menunggu ketika perempuan itu berbelanja. "Nanti Om anter Bi Susi balik dulu. Abis itu jemput pas aku udah selesai." Bayu mengangguk mengerti.  "Eh, nggak usah deng. Nanti aku pulang naik taksi online aja." Tiba-tiba saja Flora berubah pikiran. Bayu menggeleng dengan cepat. Ia lebih setuju dengan ide pertama. "Aku jemput aja." Flora terdiam sejenak namun pada akhirnya mengangguk setuju. Toh Bayu yang akan kerepotan bukan dirinya sendiri. ------- Masalah membeli bahan masakan resep sudah Flora serahkan kepada bi Susi. Jika boleh jujur, niat memasak resep barunya hilang ketika Bayu sudah kembali ke rumah. Flora menjadi malas lagi. Dia pun benar-benar kehilangan minat untuk memasak. Saat ini ia tengah asik melakukan creambath di salah satu salon termahal. Ia sungguh bersemangat untuk menghabiskan uang pemberian Bayu secepat mungkin. Karena itulah tadi ia membeli cukup banyak novel. Padahal tidak terlalu berminat. Seharusnya ia membeli pakaian branded saja. Biar lebih cepat uangnya habis. Akan tetapi untuk permulaan, sebaiknya buku dan salon saja dulu. Uang Bayu masih banyak kan? Jadi santai saja. Begitu urusannya di salon selesai, Flora memutuskan untuk makan terlebih dahulu. Sepertinya makan di restoran korea adalah pilihan yang tepat. Flora pun memesan menu dakgogi dolsot bibimbap Bibimbap adalah nasi dengan sayuran berupa lobak, taoge, bayam, dan wortel. Sayuran tersebut lalu diberi toping sesuai dengan selera, antara lain daging sapi, ayam, jamur, salmon, atau kimchi. Kemudian ada tambahan telur. Untuk topingnya, Flora memilih toping ayam. Untuk minuman, Flora memesan Samwon moctail yakni sirup strawberi samwon diberi soda dan irisan buah strawberi di atasnya Ia lantas menunggu pesanannya seraya bermain game. Ternyata menghabiskan waktu di mall sendirian bukanlah hal yang buruk selama membawa banyak uang. Flora pun tidak masalah dengan pandangan orang-orang yang berada di restoran ini. Mereka rata-rata makan bersama keluarga, teman, atau pasangan. Sementara Flora datang seorang diri.  Sebuah telepon masuk dan rupanya itu dari Bayu.  "Halo.." "Ra, dimana? Aku udah di salon tadi." Flora sungguh lupa untuk mengabari Bayu tentang keberadaannya saat ini. Ia tidak menyangka bahwa Bayu akan kembali begitu cepat setelah mengantar bi Susi.  "Di Samwon Express. Aku lagi makan." "Oke. Aku kesana sekarang." Sambungan telepon pun diakhiri lebih dulu oleh Bayu. Flora tidak terlalu memusingkannya. Ia memilih melanjutkan bermain ponsel seraya menunggu pesanan datang.  Beberapa menit kemudian pesanannya datang. Ketika sang waiter mengantarkan pesanan Flora, saat itu juga Bayu muncul dan langsung mengambil posisi duduk di hadapan Flora. Bayu langsung memesan makanan kepada waiter yang telah selesai menghidangkan makanan untuk Flora.  "Mas. Pesen lagi yah. Platter A." "Mau dibakar sendiri atau chef yang membakarnya, Pak?' "Chef aja." "Baik. Pesanan tambahan Platter A terdiri dari chadol-baki atau daging sapi, bulgogi, dan LA Galbi atau iga sapi yang dibakar lengkap dengan nasi, ocha, dan snack. Apakah ada tambahan lainnya?" "Udah itu aja. Terima kasih." "Baik ditunggu pesannya. Kepada mbaknya selamat menikmati." Flora mengamati interaksi Bayu dengan waiter tersebut. Bayu bahkan memesan tanpa melihat menu terlebih dahulu. Membuat Flora jadi mengernyitkan keningnya. "Sering kesini?" tanyanya penuh selidik. Bayu menganggukkan kepalanya kemudian mulai menatap ponselnya. "Kamu kalau mau makan duluan, duluan aja." Flora memutar bola matanya malas. Ia kehilangan selera makan jika sudah berdua dengan Bayu seperti ini. Kenapa laki-laki itu tidak datang agak nantian saja, sih? Baru saja Flora ingin menikmati waktu kesendiriannya. Seharusnya tadi ia langsung mengeksplorasi mall ini sebelum akhirnya memilih makan di restoran. Ya sudahlah, itu sudah terjadi.  Flora dapat merasakan pandangan orang-orang kini mulai terfokus kepadanya. Ah, lebih tepatnya kepada Bayu. Terutama kumpulan para gadis yang sejak tadi menatap Flora penuh mencemooh karena dirinya datang sendirian kemari. Sepertinya para gadis itu tertarik dengan Bayu. Terlihat jelas dari senyuman mereka dan sorot mata yang begitu memuja.  Pandangan Flora pun beralih kepada Bayu. Oke, Flora akui sebenarnya Bayu adalah lelaki yang tampan. Kulitnya putih bersih, badannya tinggi, memiliki rahang tegas, hidung mancung, alis tebal, dan lesung pipi. Bahkan sebenarnya bulu mata Bayu terbilang lentik untuk ukuran bulu mata seorang laki-laki. Belum lagi aura kekayaan keluarga Widjaja yang bersinar dalam dirinya. Siapa pun yang mengenal keluarga Widjaja pasti setuju bahwa Bayu memiliki aura kekayaan yang terpancar begitu nyata darinya. Flora sungguh baru sadar jika suaminya itu tergolong tampan.  "Kenapa, Ra?" tanya Bayu mendongakkan kepalanya.  Flora menggelengkan kepalanya dengan cepat. Bisa-bisanya ia memuji Bayu. Ayolah, lelaki itu hanya tampan saja. Ada banyak lelaki tampan di bumi ini. Flora harus fokus ke tujuan awalnya. Jangan sampai dia merasa terlena.  "Kenapa ngeliatin aku?" tanya Bayu seraya tersenyum.  Flora memutar bola matanya dengan malas. Lelaki itu sepertinya akan terbang jika Flora mengaku tengah memperhatikannya.  "Cewek-cewek pada ngeliatin kamu." Sepertinya gerombolan para gadis itu seumuran dengan Flora. Bedanya mereka masih lajang, bebas, dan hangout bersama teman-teman. Sementara Flora disini bersama seorang om yang menjadi suaminya. Meski Bayu sudah berumur 28 tahun, sebenarnya lelaki itu terlihat awet muda. Bayu mengidarkan pandangan untuk melihat seisi restoran ini. Ucapan Flora benar. Beberapa kumpulan perempuan menatapnya dengan senyuman manis. Beberapa pengunjung lain juga sedang memperhatikan dirinya bersama Flora saat ini.  "Kamu nggak makan?" tanya Bayu saat sadar Flora belum juga mulai menyatap makanannya. "Nanti aja bareng." Meski Flora tidak suka dengan Bayu dan memiliki rencana cukup buruk. Ia tidak bisa bersikap tidak sopan. Untuk itu ia akan menunggu hingga pesanan Bayu tiba dan mereka makan bersama.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN