Chapter 7

1046 Kata
Hari sudah berganti dan Flora tidak tahu kapan Bayu datang. Yang jelas ketika ia terbangun, Bayu sudah duduk bersandar di sebelahnya sambil membaca buku. Sekarang masih jam lima pagi ternyata.  Kemarin mereka tidak melanjutkan pembicaraan karena Flora malas berdebat melalui telepon. Itu sebabnya dia sengaja tidak mengangkat telepon dari Bayu, meski lelaki itu menelponnya berkali-kali dan terus saja mengiriminya pesan.  "Kapan balik?" tanya Flora yang baru membuka mata. "Kemarin. Kenapa nggak angkat telepon?" tanya Bayu. Ia masih fokus membaca bukunya. Sementara Flora kini ikut merubah posisinya menjadi duduk dan bersandar. "Males ngomong via telepon." Bayu memilih diam saja. Sebenarnya kemarin ia sedikit panik karena Flora tidak kunjung mengangkat telepon darinya. Ia mengira bahwa Flora marah kepadanya. Bayu tidak ingin membuat istrinya itu marah. Setelah menelpon bi Susi dan menanyakan mengenai Flora, Bayu baru bisa sedikit tenang. Istrinya itu tengah asik belajar resep baru, sehingga Bayu memutuskan untuk berhenti menelpon. Mungkin pembicaraan mereka yang tertunda akan dilanjutkan ketika bertemu saja. Bayu sedang berusaha agar mereka bisa saling dekat dan mengenal satu sama lain. Sepertinya Bayu benar-benar harus bersabar dan melakukan segalanya dengan pelan-pelan. "Kasurnya kapan dateng?' tanya Flora kemudian. "Jangan-jangan belum dipesen?" Flora merasa curiga. "Kalau enggak hari ini, berarti besok." Flora bangkit dari kasur kemudian menuju kamar mandi. Ia perlu buang air kecil setelah itu menggosok gigi. Seharusnya ia lanjut tidur saja. Akan tetapi hari ini dia berencana pergi berbelanja bersama bi Susi. Flora menatap pantulan dirinya di wastafel. Rasanya ia sungguh bingung. Bi Susi sangat baik dan asik diajak bercerita. Ia menceritakan hal-hal yang tidak diketahui Flora tentang persahabatan kedua orang tuanya dan keluarga Widjaja. Hal yang paling penting, bi Susi seolah paham apa topik yang tidak ingin Flora bicarakan. Contohnya topik pembicaraan mengenai Bayu. Mereka kemarin memasak bersama dan Flora jadi tahu resep terbaru. Bi Susi sudah belanja untuk stok selama satu minggu. Akan tetapi hari ini Flora ingin belanja lagi ke mall. Hitung-hitung menghabiskan uang dari Bayu. Ia merasa kesal jadi berbelanja sepertinya adalah pelampiasan yang paling oke. Tebakan Bayu bahwa diriny akan cepat akrab dengan bi Susi ternyata benar. Bi Susi sangat ramah dan asik, seolah cocok dengan kepribadian Flora. Tetap saja, Flora harus berhati-hati. Ia malas jika harus berpura-pura baik terus-terusan kepada Bayu. Setelah selesai dengan acara sikat giginya. Flora kembali ke kamar. Bayu masih fokus dengan bukunya. "Kita bicarain Bi Susi sekarang," pinta Flora. "Kenapa kamu tiba-tiba berubah pikiran, Ra?" tanya Bayu. Ia kini menutup bukunya dan meletakkan buku itu di atas nakas. Benar-benar fokus kepada pembicaraannya dengan Flora. Flora tidak mungkin menjawab sejujurnya. Itu sama saja membongkar rencananya kepada Bayu. Akan tetapi setelah seharian kemarin berinteraksi dengan bi Susi, Flora justru menyayangkan jika perempuan paruh baya itu tidak berada disini.  Apa Flora harus membiarkan bi Susi tetap bekerja disini? Sepertinya Flora tidak akan tinggal selamanya di rumah ini. Setelah libur semester berakhir, dia akan kembali kuliah kan? Jadi dia tidak akan menghuni rumah ini. Oh, sepertinya ada masalah baru yang harus ia tangani. Flora harus menyusun rencananya nanti ketika dia sudah masuk waktu perkuliahan. "Nggak jadi. Biarin aja Bi Susi tetep kerja disini." Pada akhirnya hanya itu yang bisa Flora pilih. Ia tidak bisa terang-terangan melakukan pembrontakan agar Bayu segera menceraikannya. Harus pelan-pelan, bukan? --------- Bayu melangkah menuju dapur untuk menemani bi Susi yang memasak. Ia tidak ada pekerjaan hari ini jadi tidak tahu harus berbuat apa. Flora sedang asik menonton film di kamar dan pembicaraan mereka sudah berakhir. Jadi Bayu pikir hanya ini yang bisa dia lakukan sekarang. "Mau masak apa, Bi?" tanya Bayu.  Sesungguhnya Bayu mengharapkan Flora mau memasak untuknya. Tidak harus sering. Setidaknya Bayu pernah mencoba masakan buatan istrinya itu. Terlebih, Bayu dengar jika Flora sudah sering dan pandai memasak. Ia penasaran dengan enaknya masakan buatan Flora. Akan tetapi, apa boleh buat. Ia harus bersabar, bukan? "Ayam sambal, Den. Non Flora belum bangun?" tanya bi Susi. "Udah, Bi. Lagi nonton film di kamar." "Rajin juga ya jam segini kalian udah bangun," sindir bi Susi. "Pengantin baru memang rajin," lanjutnya.  Bayu hanya tersenyum singkat. Ia juga tadinya terkejut karena tumben Flora bangun di jam segini. "Gimana Flora, Bi?" tanya Bayu. Sesungguhnya bi Susi adalah tempat pelarian Bayu untuk menceritakan banyak hal. Termasuk ketika akan dijodohkan dengan Flora. Bi Susi pernah mengurus Flora ketika anak itu masih bayi. Hanya beberapa waktu saja mengingat persahabatan kedua orang tua mereka. Setelah Flora dewasa, bi Susi tidak pernah memiliki kesempatan untuk dapat bertemu dengan Flora.  Bi Susi juga adalah orang yang meyakinkan Bayu bahwa Flora adalah perempuan yang baik. Juga mendukung Bayu untuk bersabar dalam melakukan pendekatan dengan Flora. Mengingat mereka sama sekali belum sempat saling mengenal satu sama lain sebelum resmi menikah.  "Non Flora itu benar-benar sopan sekali anaknya, Den. Bibi yakin kalau dia sudah mulai terbiasa, pasti semuanya akan baik-baik saja." Perihal sikap Flora dan hal-hal yang terjadi di pernikahan mereka, Bayu tidak pernah menceritakannya kepada siapapun. Ia hanya bercerita kepada bi Susi. Itu pun tidak sedetail semua yang terjadi. Bayu hanya menceritakan mengenai Flora yang sebenarnya belum siap untuk menikah jadi bingung harus bersikap bagaimana sebagai seorang istri.  Bayu juga sebenarnya yakin Flora adalah perempuan yang sangat baik, akan tetapi entah mengapa Flora justr tidak pernah menunjukkannya kepada Bayu.  "Pelan-pelan saja, Den. Non Flora kan baru 20 tahun. Mungkin masih kaget juga karena dijodohkan." Bayu menganggukkan kepalanya setuju. Seiring berjalannya waktu pasti semuanya akan baik-baik saja. "Den Bayu bahagia 'kan sejauh ini?" Bayu tidak paham perasaannya saat ini seperti apa. Dia tidak tidak merasa bahagia, tapi juga tidak merasa sedih. Hanya saja sedang merasa bingung akan seperti apa kehidupannya dengan Flora. Ia bingung mendekati gadis itu. Bingung memulai semuanya dari awal. Seharusnya semua tidak serumit ini jika saja Flora juga mau ikut berusaha membuka diri. "Saya bingung, Bi." jawab Bayu kemudian. Bi Susi hanya tersenyum maklum. Beliau tahu jika Bayu tidak pernah terpaksa menjalani pernikahan ini. Ia bisa menerima Flora dengan baik. Entah dengan Flora. Yang bi Susi lihat adalah gadis itu sulit ditebak. Kadang terlihat terpaksa menjalani semua ini, namun disaat yang bersamaan Flora terlihat baik-baik saja.  "Aden ngga ada rencana bulan madu? Non Flora kayaknya pengen jalan-jalan, tuh." Bayu mengerutkan keningnya. Benarkah Flora sungguh ingin pergi jalan-jalan? Jika benar, Bayu tidak akan keberatan jika mereka memang hanya liburan saja bukan bulan madu. Mungkin itu bisa menjadi ide yang bagus. Bayu bisa menanyakan destinasi favorit Flora dan mereka bisa punya waktu berdua untuk mulai dekat. Itu sepertinya bisa dilakukan untuk mengisi waktu libur mereka saat ini. Bayu sudah sengaja mengosongkan jadwal selama dua minggu untuk awal pernikahannya ini. Sayang jika waktu itu tidak dimanfaatkan sesuai rencana awal bukan?
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN