Chapter 6

1056 Kata
Flora yakin kali ini ia bangun lebih siang dari kemarin karena mataharinya bersinar sangat terik. Ia melirik jam dan benar saja sekarang sudah pukul sebelas siang. Rupanya menyenangkan juga bangun siang begini. Ditambah ia tidak memiliki kegiatan apapun yang mengharuskannya bangun dengan tergesa-gesa. Bayu pasti sudah berangkat karena Flora tidak melihatnya di kamar. Tentu saja, ini sudah siang dan sebuah keajaiban jika lelaki itu masih ada disini.  Flora memutuskan mandi terlebih dahulu. Ia baru mengecek ponselnya dan rupanya ada pesan dari Bayu. From : OM  Bibi udah dateng. Nanti kenalan sendiri ya. Aku berangkat. Flora sedikit takjub karena ia tidak dibangunkan tadi pagi. Atau mungkin sudah dibangunkan tapi ia tidak mau bangun? Lagi pula ia juga heran kenapa memiliki pikiran untuk bangun pagi. Bayu hanya berangkat ke Kalimantan sehari dan besok ia sudah melihat lelaki itu lagi. Sementara perihal Bibi, ia bisa menemuinya setelah bangun, yaitu sekarang.  Merasa penasaran dengan asisten rumah tangganya, Flora segera keluar kamar. Keadaan rumah sepi dan entah dimana Flora bisa menemukan orang itu. Dirinya lantas melangkah menuju dapur. Bisa saja Bibi itu berada disana, kan?  "Non Flora?" Flora belum mencapai dapur dan seseorang sudah memanggilnya. Nampak perempuan paruh baya tersenyum manis. Flora yakin itu asisten yang dimaksud Bayu. Bingung harus bereaksi bagaimana, Flora pun hanya menyengir kuda.  "Den Bayu udah berangkat tadi pagi. Maaf ya, Non. Nggak bangunin Non Flora. Soalnya Den Bayu pesen biar Non Flora enggak dibangunin. Katanya Non Flora lagi kecapekan." Senyuman di bibi itu beserta informasi yang baru saja diberikan kepadanya membuat Flora jadi merasa geli. Bisa-bisa Bayu bilang di kecapekan, padahal dirinya tidak melakukan apapun kemarin. Permintaan Bayu itu memancing kesalahpahaman saja.  "Tadi saya udah siapin sarapan, tapi sekarang kan udah siang. Bibi masakin dulu ya." "Bi, kenalan dulu." pinta Flora canggung. Bibi itu tersenyum kemudian melangkah mendekati Flora.  "Panggil aja Bi Susi. Saya udah ngerawat Den Bayu sejak bayi. Katanya Non Flora butuh ART, jadi saya dioper kesini deh sama Nyonya." Flora membulatkan matanya terkejut. "Nyonya itu mamanya Om Bayu?" Raut wajah bi Susi terlihat terkejut. Flora pun baru menyadari kesalahannya. Jika dia kiriman ibu mertua, maka yang harus Flora lakukan adalah memastikan bahwa bi Susi tidak melaporkan apapun yang bisa membuat masalah. Jika begini rasanya lebih baik tidak ada asisten saja. Flora justru merasa tidak bebas.  "Maksudnya.." Flora menggigit bibir bawahnya bingung. Dia harus memanggil suaminya seperti apa? Selain panggilan om rasanya tidak ada panggilan yang cocok. Kak? Mas? Kang? Bang? Sayang? "Maksudnya mamanya Kak Bayu?" tanya Flora kemudian. Panggilan kakak rasanya lebih cocok. Mengingat dia akan memanggil seperti itu setiap di depan bi Susi. Baru setelah itu bi Susi tersenyum maklum. "Iya, Nyonya Widjaja." Mampus!  Baiklah ini benar-benar malapetaka. Kenapa Bayu tidak mencari asisten rumah tangga yang bisa diajak kerja sama, sih? Kalau bibi Susi kiriman dari istana Widjaja, ia merasa seperti sedang diintai oleh mertuanya jika begini. Bisa-bisanya Flora tidak memperhitungkan kemungkinan buruk ini. Bisa-bisanya juga Bayu tidak mengabarinya apapun. Harusnya Flora lebih aktif bertanya terkait siapa yang akan menemaninya di rumah begini.  "Oh iya. Bibi panggil Flora aja, jangan pake Non." Dia merasa risih jika dipanggil seperti itu. Sungguh, benar-benar risih. Bi Susi hanya tersenyum. "Saya masakin dulu ya, Non." ---------- Flora kembali ke kamarnya sembari menunggu bi Susi membuatkannya sarapan, ah tepatnya makan siang. Ia mencari ponselnya untuk segera menghubungi penyebab semua masalah baru ini. Flora harus meminta ganti asisten jika begini. Harus! Nanti rencananya malah gagal. Telepon Flora tersambung, itu artinya ponsel milik Bayu aktif. Hanya saja teleponnya tidak diangkat. Kalimantan itu waktu Indonesia bagian tengah, kan? Seharusnya sekarang jam makan siang jadi suaminya itu tidak bekerja. Kecuali jika Bayu pergi ke Kalimantan Barat. Maka waktu di lokasi pria itu sama saja dengan disini, masih setengah dua belas.  Flora menghela napasnya kasar setelah ketiga kali ia menelpon, teleponnya juga tidak kunjung diangkat. "Baiklah, Om."  Flora mondar-mandir di kamarnya sendiri memikirkan cara keluar dari permasalahan ini. Ia tidak ingin harus berpura-pura bersikap baik kepada Bayu. Terlebih itu hanya karena keberadaan bi Susi. Satu-satunya cara adalah mengusahakan bi Susi tidak menjadi asisten disini. Baiklah, sepertinya Flora tidak butuh asisten sekarang. Tidak apa-apa ia melakukan semuanya sendiri. Ia bisa membuatkan masakan gosong dan asin untuk Bayu. Ia bisa memecahkan piring ketika mencuci. Apa saja, asalkan Bayu menjadi kesal dan menceraikannya. Ya, itu pilihan yang jauh lebih aman dibanding mendatangkan penghuni baru di rumah ini. Kenapa Flora tidak berpikir seperti itu sebelumnya.  Tiba-tiba ponselnya bergetar di genggaman. Flora langsung mengeceknya. Rupanya telepon dari Bayu. Baguslah, Flora segera mengangkatnya. "Halo, Om." "Ada apa, Ra? Kamu sampe nelpon tiga kali. Maaf nggak ngangkat tadi aku masih meeting." Flora memutar bola matanya dengan malas. Ia perlu berbincang penting dengan pria itu dengan segera. Jadi informasi yang baru saja diberikan Bayu, tidak Flora butuhkan. "Om kenapa nggak bilang sih kalo Bibinya itu Bibi yang dipilih Mama?" "Aku kira ada apa." "Kenapa nggak bilang dulu?" tuntut Flora. "Ada apa, Ra? Bi Susi itu yang ngerawat aku dari kecil. Aku sengaja pilih beliau karena beliau udah kenal aku dengan baik. Bibinya juga baik banget, pasti cepet akrab sama kamu." Flora tidak mempermasalahkan jika bibi itu yang dulu merawat Bayu atau bukan. Masalahnya adalah bibi Susi pastinya orang kepercayaan nyonya Widjaja. Flora tidak bisa menerima itu. Meski bibinya kelihatan sangat baik sekalipun, bisa saja itu kedok untuk menjadi mata-mata, kan? "Aku berubah pikiran. Sekarang aku nggak butuh ART." Terdengar helaan napas di seberang sana. "Kenapa memangnya, Ra? Kamu nggak nyaman sama bi Susi? Atau ada sikapnya bi Susi yang bikin kamu nggak suka? Apa ada masalah?" Flora tidak suka ditanya bertubi-tubi seperti itu. Rasanya seperti diintrogasi saja. Padahal disini posisinya, Flora bukan sedang berbuat kesalahan. Ia hanya menyuarakan apa yang diinginkannya. "Aku udah bilang berubah pikiran." "Aku nggak bisa tiba-tiba batalin ada asisten di rumah kita, Ra. Nanti pasti Mama mikir yang aneh-aneh. Aku nggak mau Mama salah paham sama bi Susi. Kalau tiba-tiba berubah pikiran gini, yang dicurigai pasti bi Susi, Ra." "Tapi aku-" Suara ketukan pintu menginterupsi Flora. Flora menarik napasnya sejenak.  "Non. Ini Bibi antarkan makanannya." Demi Tuhan Flora tidak ada meminta bibi itu membawakan makannya ke kamar. Kesannya sungguh Flora manja sekali. Padahal tadi ia berencana makan di meja makan. Flora pergi ke kamar hanya untuk menelpon Bayu saja. Bukan berniat makan di dalam kamar.  "Ra.." "Nanti kita bicara lagi." pinta Flora. Ia melangkah untuk membuka pintu. Setelah pintu terbuka nampaklah bi Susi dengan nampan berisi makanan dan segelas air putih. Lengkap dengan senyuman manis dari bi Susi. Flora menjadi merasa tidak enak. "Bi.. Kita makan bareng di ruang makan ya," ucap Flora. Membuat bi Susi terkejut bukan main. Bahkan Flora tidak tahu bahwa teleponnya dengan Bayu masih tersambung sehingga Bayu bisa mendengar ucapan Flora yang satu itu. 
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN