Chapter 5

1019 Kata
Meski sudah memasan tempat tidur tambahan untuk diletakkan di kamar mereka, tetap saja itu tidak bisa datang hari ini. Alhasil, Flora terpaksa tidur satu kasur lagi dengan Bayu. Asisten rumah tangga mereka akan datang besok dan Flora menjadi lega karena hal itu. Ia hanya perlu bersantai saja seharian. Tidak perlu repot-repot mengerjakan urusan rumah. Huh, jika saja dirinya bisa liburan pasti ia sudah melakukan itu. Toh sekarang sedang musim liburan, kan? Flora naik ke ranjang kemudian merebahkan dirinya sambil memainkan ponsel. Tadi siang Bayu sudah memberinya kartu dan sekarang Flora berencana untuk membelanjakannya. Sepertinya menghabiskan satu juta untuk belanja perdananya bukanlah masalah. Ia bisa membeli album idolanya yang belum dimiliki. Ini benar-benar menyenangkan. Ia mendapatkan begitu banyak uang dari suaminya yang kaya.  Bayu masuk ke kamar dan menuju lemarinya. Rumah ini cukup kecil jadi tidak ada walk in closet. Lelaki itu membuka lemarinya kemudian mengamati dengan raut wajah berpikir. "Ra.." panggilnya kemudian.  Tadi siang Flora sudah menata pakaiannya di dalam lemari. Ada dua lemari jadi ia menggunakan lemari yang berbeda dengan Bayu. Mereka melakukannya masing-masing dalam keheningan. Meski berulang kali Bayu membuka topik, namun akhirnya ia menyerah. Flora hanya diam saja bahkan menyahut seperlunya sehingga Bayu kewalahan untuk tetap mempertahankan obrolan.  "Ra, boleh tolong bantuin pilihin baju buat aku berangkat besok?" Flora berdecak sebal dari tempatnya namun ia tetap bangkit saja. Lelaki itu pasti sudah biasa kan melakukan ini bahkan sebelum menikah? Maksud Flora adalah bekerja dengan pakaian pilihannya. Kenapa sekarang tiba-tiba seolah ia baru melakukan ini. Flora jadi curiga jangan-jangan Bayu selama ini tidak bekerja tapi hanya menerima uang saja dari kedua orang tuanya. Setelah berada di sebelah Bayu untuk mengamati isi lemari. Ia pun menarik kemeja berwarna biru muda yang tergantung. Kemudian memberikannya kepada Bayu. "Ini aja."  Sebenarnya selera Flora cukup baik dalam fashion. Hanya saja dia tidak ingin berlama-lama memilih pakaian untuk Bayu. Lebih cepat lebih baik kan? "Dasi?" tanya Bayu kemudian. Flora membuka laci tempat Bayu menyimpan semua dasinya. Tentu saja Flora tahu karena tadi siang Bayu meminta saran dimana sebaiknya meletakkan semua dasi itu. Pilihannya lantas jatuh kepada dasi berwarna hitam. Hitam warna netral jadi pasti cocok dengan warna apapun termasuk biru muda. "Nih. Jasnya item, celana panjang item. Beres." "Makasih, Ra." Flora kembali naik ke atas ranjang dan memainkan ponselnya. Ia membuka situs belanja online agar bisa melihat apa saja yang dapat dibelinya.  "Ra, yakin nggak mau ikut?" Flora menggeleng dengan cepat. Lebih baik ia rebahan seharian sambil menunggu pesanan belanja onlinenya datang. Atau bermain game. Atau melakukan apa saja yang akan menyenangkan dan bisa membuatnya bahagia menikmati hidup ini tanpa kehadiran Bayu.  "Besok aku berangkat jam 6 pagi. Tolong anterin ke bandara, ya?" Pinta Bayu seraya naik ke ranjang dan merebahkan diri di sebelah Flora. Menatap gadis itu lekat, sementara Flora tidak meliriknya sedikit pun. Flora yakin ia tidak akan mau bangun jam segitu untuk mengantar Bayu. Ia bisa bangun pagi. Hanya saja, rasanya malas sekali. "Aku nggak bisa bangun pagi." kilahnya.  Padahal semester empat kemarin dia selalu bangun jam empat pagi agar bisa mengerjakan tugas dan belajar. Flora sungguh bisa bangun pagi. Hanya saja untuk saat ini, dia tidak ingin melakukannya. Terlebih melakukannya untuk Bayu.  Mendengar penolakan Flora, Bayu hanya bisa menganggukkan kepalanya. Ia mendadak teringat akan besok. "Bibi besok dateng jam tujuh pagi. Akan ada supir juga. Jadi kamu bisa dianter kalo mau kemana-mana, ada mobil." Flora menganggukkan kepalanya dan tetap fokus kepada ponsel. Meski ekspresinya datar saja, dalam hati ia merasa senang. Jika begini dia bisa pergi jalan-jalan tanpa takut kepanasan dan lelah. Tadinya ia sudah berkecil hati karena tidak bisa pergi kemana-mana.  "Makasih, Om." Bayu mengamati Flora dengan lekat. Gadis itu sangat cantik dan manis, sungguh. Bayu sangat suka memandanginya jika berlama-lama. Terlebih jika gadis itu tengah tersenyum. Sayangnya Flora tidak pernah menunjukkan senyumannya kepada Bayu. Hal itu membuat Bayu perlu bersabar agar Flora mau menerimanya. Mereka sama sekali tidak saling mengenal dan tiba-tiba saja disatukan dalam ikatan pernikahan. Selain itu karena usia Flora yang baru 20 tahun, tentu saja gadis itu masih berusaha untuk menerima semua ini.  Meski Flora bersikap sangat baik di depan para orang tua, itu pasti hanya untuk menjaga kesopanan saja. Dan perilaku Flora yang ketus terhadap Bayu adalah salah satu bentuk protesnya karena terpaksa melakukan pernikahan ini.  "Ra.." panggil Bayu. Flora hanya diam saja sehingga Bayu kembali memanggilnya. "Ra.." "Apa, Om?' sahutnya. "Apa yang mesti aku lakuin supaya kamu bisa cepat menerima pernikahan ini?" Gerakan Flora terhenti. Bayu yakin Flora terkejut dengan topiknya yang tiba-tiba ini. Bayu juga sebenarnya terkejut. Akan tetapi, ia hanya ingin tahu bagaimana reaksi dan jawaban Flora. "Om cukup turutin aja yang aku mau, oke?" jawabnya kemudian menoleh ke arah Bayu.  Masalah itu pasti akan Bayu lakukan. Ia adalah tipe penurut. Biasanya jika diminta melakukans esuatu oleh orang yang Bayu sayangi, pasti dilakukan. Itu bila hal yang diminta masih dalam konteks masuk akal menurut Bayu. Seperti ketika mamanya meminta dia menikahi Flora. Meski belum mengenal dengan baik, Bayu sungguh dengan senang hati menerima Flora sebagai istrinya. "Aku berharap bisa buat kamu bahagia." Flora masih cukup terkejut dengan topik pembicaraan seperti ini. Baginya topik ini cuku sensitif. Terlebih dirinya tengah merencakan hal-hal buruk agar Bayu merasa tidak betah. Flora menatap Bayu, pandangan lelaki itu terlihat tulus. Flora jadi merasa menjadi orang yang sangat jahat karena rencananya.  'Fokus Flora!' Ingatnya kepada dirinya sendiri. Ia tidak boleh terlena dengan pandangan tulus Bayu. Biar bagaimana pun ia sama sekali tidak mengenal lelaki itu. Bisa saja ini hanya akal-akalannya, kan? "Aku mau tidur." Merasa kehilangan mood untuk melanjutkan kegiatannya. Ditambah bingung harus bagaimana merespon ucapan Bayu, Flora memilih untuk tidur saja. Lagipula itu satu-satunya cara untuk bisa menghentikan topik ini. Mereka baru menikah beberapa hari, dan Flora masih berusaha menerima semua itu. Ia tidak ingin membicarakan hal ini lagi karena itu akan membuatnya kesal saja.  Bayu menghela napas menatap Flora yang tidur menyamping dan menunjukkan punggungnya. Bayu dapat memahami jika perempuan itu sedang menghindari topik ini. Baiklah, setidaknya Flora sudah mengatakan apa yang harus Bayu lakukan. Sekarang Bayu hanya perlu pelan-pelan saja melakukan semua ini. Mereka masih punya banyak waktu. Flora masih sangat muda. Jadi Bayu tidak perlu terburu-buru. Yah, meskipun sebenarnya Bayu sangat ingin segera memiliki anak. Akan tetapi dengan keadaan yang begini, dia tentu tidak bisa memaksa Flora. Mungkin butuh beberapa tahun agar Flora mau hamil. Gadis itu masih kuliah dan Bayu paham jika Flora masih ingin tetap fokus akan hal itu.  "Selamat tidur, Ra." 
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN