Satu jam berlalu, aku keluar dari kamar mandi. Di dalam kamar aku tak acuh melihat Mas Fian yang sedang duduk, dengan kepala disandarkan ke bahu sofa matanya terpejam dalam dengan bibir terbuka sedikit. Kutangkap lenguhan pelan yang berasal dari mulut Mas Fian. 'Ah akting, biar aku mau baikin dia duluan.' Aku cuek saja mengambil pakaian dan kemudian beranjak ke ruang ganti, yang terletak di samping meja hias. Sengaja berlama-lama aku di sini, mengulur waktu berharap si Bandot Tua terlelap di atas sofa sehingga aku tidak perlu repot menyapa apalagi mengurusi makan siangnya nanti. Aku mau rebahan sambil berkabar dengan Ricca, sahabatku. Kubuka handuk penutup kepala, lalu rambut panjang yang basah ini kugosok perlahan sembari bercermin memperhatikan jerawat yang tumbuh satu dua di area da

