Aku mengerjap saat puncak kepala ini dielus, kepala ini mendongak mataku bersirobok dengan Mas Fian. Begitu sayu dan lesu, aku mau bangkit tapi dengan cepat dicegahnya. "Mau ke mana?" tanyanya pelan. "Mau lihat keadaan Mas," jawabku konyol. Mas Fian tersenyum, kemudian menarik tanganku hingga refleks kucondongkan tubuh ini mendekat. Dengan lekat ia memandangku. "Mas baik-baik saja, Dek. Makasih, ya." "Alhamdulillah, tapi emh ... m-makasih buat apa?" "Udah merhatiin Mas, jagain Mas, Mas jadi ngerepotin Adek." "Eng-gak ngerepotin kok, Mas. Kalau Mas sakit, siapa lagi yang akan merawat kalau bukan aku, iya kan?" "Iya, Dek. Kasihan Dek Amel istirahatnya jadi keganggu, padahal pasti capek banget habis ospek." "Gak kok, Mas. Santai aja." Duh kenapa jadi gugup kaya gini, sih? "Jam berapa

