Tidak hanya itu, saat melintas di depan toko furniture ia mengajakku masuk. Aku disuruhnya memilih meja untuk menaruh semua barang-barang perlengkapan kuliahku, aku semakin merasa tidak enak. Aku tolak halus niat baiknya itu. "Meja kerja Mas penuh, Dek. Mas iya Dek Amel mau belajar di meja rias," katanya meyakinkan. "Tapi, Mas. Tadi aja belanjaan udah banyak banget, aku-aku," ucapku mengambang. "Gak enak?" Dengan polosnya aku mengangguk. "Ya ampun, Dek Amel. Mas ini suamimu, sudah kewajiban Mas memenuhi semua kebutuhanmu." "Nanti uang Mas Fian habis," jawabku. Mas Fian terkekeh dan menggeleng. "Sudah ada budgetnya, Dek. Yuk, pilih!" Akhirnya aku mulai memilah-milih, karyawan toko membantu dengan memberikan informasi spesifikasi barang yang dijualnya. Hati tertambat pada meja berwa

