Dimas mencondongkan tubuhnya, tangan kekarnya mengguncang perlahan bahu ini. "Katakan padaku, Mel! Rahasia apa yang kamu sembunyikan dariku?" Alih-alih menjawab pertanyaan, aku malah menghambur memeluk Dimas. "Bawa aku pergi sejauh mungkin, Dim!" seruku parau. "Aku gak bahagia, aku ingin bahagia. Dan, bahagiaku hanya denganmu, Dim. Aku mencintaimu, sangat mencintaimu." Suasana hening untuk sesaat, Dimas bergeming entah apa yang dia pikirkan saat ini. Hanya tangannya saja yang bergerak naik turun, mengusap-usap kepalaku. "Kamu sudah menikah?" Pertanyaan singkat dengan suara rendah itu, terdengar menggelegar di telingaku. Meremukkan seluruh tulang di dalam tubuh, sehingga air mata yang semua mulai sudah mengering kembali luruh. Aku diam, kalut serta takut menghadapi kenyataan buruk ya

