Di sepanjang perjalanan kami tidak saling bicara, aku pusing dan syok memikirkan kemelut yang menimpa. Hatiku berkecamuk hebat, sikap Mas Fian membuat pendirianku sedikit goyah. Rasa iba dan khawatir menghantui jika memang aku tetap nekat membicarakan perihal masalah perceraian, siapa yang akan mengurusnya bila aku pergi dari sisinya nanti? Tapi jika aku bungkam, maka aku akan merasa bersalah pada Dimas, biar bagaimana aku mencintai dia. Tuhan, kenapa ini terjadi? Kenapa tadi Mas Fian semarah itu? Seandainya dia bersikap seperti biasa, pasti langkahku untuk meninggalkannya akan ringan serta berjalan mulus. Sikap beraninya membuatku terharu sekaligus sedih. Suara-suara aneh yang berasa dari dalam hatiku mulai berdengung, aku memejamkan mata berharap telinga dan pikiran ini menjadi tenang
Unduh dengan memindai kode QR untuk membaca banyak cerita gratis dan buku yang diperbarui setiap hari


