Malam itu di depan kafe, suasana terasa begitu sunyi. Nadia berdiri di samping Surya, mencoba menenangkan hatinya yang bergejolak.
Angin malam seolah ikut merasakan kesedihan yang melingkupi mereka berdua. Nadia tahu, saatnya tiba untuk berpamitan. Namun kata-katanya terasa begitu berat untuk diucapkan.
"Nad--"
Surya memecah keheningan dengan suara serak, matanya menatap lurus ke depan.
"Apa kamu benar-benar yakin dengan keputusan ini?"
Nadia menghela napas panjang. Pandangannya mengabur karena menahan air mata.
"Aku yakin, Surya. Aku butuh tempat untuk menyembuhkan diri. Di sini, aku terlalu banyak terjebak dengan masa lalu."
Surya menoleh, menatap wajah Nadia yang terlihat lelah tetapi tetap cantik.
"Tapi kamu gak perlu pergi. Kita bisa cari jalan lain. Kamu tau aku selalu ada? Aku bisa membantu. Kalau masalah kerja, aku bisa carikan sesuatu di sini. Kamu nggak harus ninggalin semua ... apalagi aku."
Nadia tersenyum pahit, hatinya teriris mendengar ketulusan Surya.
"Aku tahu kamu selalu ada. Aku bersyukur banget punya kamu di hidupku. Tapi, ada hal-hal yang harus aku lakukan sendiri," lirih Nadia.
"Kota ini terlalu penuh dengan kenangan yang pahit. Setiap sudutnya ngingetin aku sama masa lalu. Aku nggak bisa terus-terusan hidup kayak ini. Aku butuh tempat baru, untuk mulai dari awal."
Surya menunduk, menggigit bibir bawahnya.
"Tapi Nad, aku di sini. Aku cinta sama kamu. Apa kamu nggak lihat itu?"
Nadia mengalihkan pandangannya, air mata mulai jatuh perlahan.
"Surya, aku nggak mau kasih kamu harapan palsu. Aku masih berjuang dengan perasaanku sendiri. Hatiku masih belum sembuh dari Hendra. Dan aku nggak mau masuk ke hubungan yang baru, kalau belum siap."
"Kamu nggak harus sembuh sekarang. Aku bisa nunggu, Nad. Selama yang kamu butuh," kata Surya dengan penuh harapan.
Nadia menggeleng pelan.
"Itu nggak adil buat kamu. Kamu pantas dapat seseorang yang bisa kasih kamu cinta sepenuhnya. Aku harus pergi. Aku harus belajar untuk mencintai diri sendiri."
Surya tak bisa berkata apa-apa. Ia menatap Nadia dengan penuh kesedihan, menyadari bahwa ini adalah akhir yang tak bisa ia hindari.
"Jadi ini benar-benar selamat tinggal?"
Nadia mengangguk di tengah air matanya. Dia tersenyum dengan lembut menatap Surya.
"Bukan selamat tinggal, Surya. Ini cuma sampai kita bertemu lagi. Mungkin di masa depan, kita bisa saling menemukan dalam keadaan yang lebih baik."
Mereka berdiri dalam keheningan, hanya ditemani oleh suara angin malam dan cahaya lampu jalan yang redup.
Nadia merasakan kehangatan tangan Surya yang menggenggam tangannya untuk terakhir kali. Sebelum ia melepaskan diri dan memberikan jarak di antara mereka.
"Jaga dirimu, Nad," ucap Surya pelan, suaranya hampir tenggelam oleh angin.
"Kalau kamu butuh apa-apa, aku di sini."
Nadia mengangguk. "Makasih, Surya. Kamu selalu jadi yang terbaik untuk aku."
Dengan langkah berat, Nadia berbalik meninggalkan Surya. Air mata mengalir tanpa bisa ditahan. Namun dia tahu bahwa keputusan ini adalah yang terbaik untuk mereka dan juga masa depannya.
***
Nadia membuka pintu toko kuenya dengan perasaan campur aduk. Toko kecil yang ia bangun dengan susah payah akhirnya resmi buka hari ini.
Nadia menata ulang kue-kue di rak depan dengan hati-hati, memastikan setiap kue terlihat menggoda. Hari ini, ada promo spesial untuk menyambut para pelanggan pertama.
Nadia berharap strategi itu akan menarik minat banyak orang.
Toko masih sepi, tak ada satu pun pelanggan yang datang selama setengah jam pertama. Nadia berdiri di balik meja kasir, memeriksa etalase sekali lagi dan memastikan semuanya sudah sempurna.
Nadia sempat melirik ke jam dinding
Dia gugup kalau-kalau hari pembukaan ini tidak berjalan sesuai harapan.
Tiba-tiba bel pintu berbunyi, menandakan ada yang masuk. Nadia menoleh cepat. Seorang wanita muda dengan tas besar masuk sambil melihat-lihat kue di rak.
"Selamat pagi, Kak. Ada yang bisa saya bantu?" tanya Nadia dengan senyum yang ramah.
Wanita itu mendekat ke rak dan mengamati kue yang tersusun rapi.
"Pagi juga. Ini toko baru ya? Kue-kuenya kelihatan enak."
"Iya, baru buka hari ini," jawab Nadia sambil tetap tersenyum.
"Kebetulan ada promo Buy 1 Get 1 Free. Jadi, bisa coba beberapa kue sekaligus."
Mata wanita itu langsung berbinar.
"Wah, serius? Cocok banget nih. Aku ambil brownies sama muffin cokelat ya."
Nadia mengambil dua kue pilihan wanita itu dan membungkusnya dengan rapi.
"Mau makan di sini atau dibawa pulang, Kak?" tanyanya sambil menaruh bungkusan di meja kasir.
"Bawa pulang aja deh, nanti buat temen-temen di kantor," jawab wanita itu sambil tersenyum.
Setelah membayar, wanita tersebut mengucapkan terima kasih dan keluar dari toko dengan senyum puas.
Nadia merasa lega. Pelanggan pertama di hari pembukaan sudah datang dan membeli kue. Senyum kecil terukir di wajahnya. Namun dia tahu kalau ini baru permulaan.
Tak lama setelah itu, bel pintu berbunyi lagi. Kali ini dua orang pria masuk sambil mengobrol. Mereka langsung tertarik dengan tulisan promo di pintu.
"Mbak, promo beneran ini?" tanya salah satu pria dengan nada setengah bercanda.
Nadia mengangguk. "Iya, Kak. Hari ini khusus ada promo Buy 1 Get 1 Free. Mau coba?"
Pria itu tertawa sambil melihat rak kue.
"Kalau gitu aku coba cinnamon roll sama muffin cokelatnya."
Temannya pun tak mau ketinggalan. "Aku ambil yang sama juga deh. Biar gampang."
Nadia dengan cekatan mengambil kue-kue yang mereka pilih, lalu menatanya di atas meja kasir. Kedua pria itu terus bercanda dan tertawa saat menunggu pesanan mereka.
"Usaha sendiri nih, Mbak?" Salah satu dari mereka bertanya.
"Iya, baru buka hari ini. Doain ya, semoga laris," jawab Nadia sambil tersenyum.
Setelah membayar, mereka pun pamit. "Sukses ya, Mbak. Pasti nanti aku balik lagi," ujar salah satu dari mereka sebelum meninggalkan toko.
Semakin siang, toko mulai ramai. Orang-orang yang lewat di depan mulai tertarik masuk. Mungkin karena aroma kue yang menggoda atau karena promo yang sedang berlangsung.
Nadia hampir tidak sempat beristirahat karena pelanggan terus berdatangan.
Beberapa saat kemudian, seorang lelaki berpenampilan rapi masuk ke toko. Dia tampak seperti orang yang sedang terburu-buru, tapi langsung tertuju ke etalase kue.
"Selamat pagi, Pak. Ada yang bisa dibantu?" tanya Nadia dengan sopan.
Lelaki itu mengangguk cepat. "Pagi. Saya butuh beberapa kue buat dibawa ke kantor. Temen-temen lagi pada nyari cemilan. Promo hari ini apa, ya?"
"Kebetulan ada Buy 1 Get 1 Free, Pak," jawab Nadia dengan ramah.
Mata pria itu terlihat tertarik. "Oke, saya ambil brownies, muffin cokelat, dan kue pisang. Semua masing-masing lima."
Nadia hampir terkejut mendengar pesanan itu. "Lima untuk setiap jenis, Pak? Bapak ada acara di kantor?"
Pria itu tertawa kecil. "Enggak ada acara. Cuma teman-teman kantor yang suka ngemil. Jadi mending bawa banyak sekalian."
Nadia tersenyum dan mulai menyiapkan pesanan besar itu. Tangannya sibuk mengambil kue dan membungkusnya dengan hati-hati, memastikan semua terlihat rapi dan menarik.
"Wah, baru buka tapi udah ramai, ya?" Lelaki itu berkomentar sambil menunggu.
"Iya, alhamdulillah ramai. Hari pertama memang agak gugup. Tapi senang banget banyak yang tertarik datang," jawab Nadia sambil tetap fokus pada pekerjaannya.
Setelah selesai membungkus semua pesanan, ielaki itu membayar dan tersenyum.
"Semoga sukses ya, Pak. Kue-kuenya kelihatan enak. Kamu juga sangat ramah."
"Makasih. Semoga suka ya," kata Nadia dengan perasaan hangat.
Setelah pria itu pergi, Nadia berdiri sejenak di balik kasir, memandang sekeliling tokonya yang kini ramai dengan pelangga.
Bel pintu terus berbunyi setiap kali ada yang masuk. Aroma kue yang baru keluar dari oven memenuhi ruangan, menambah suasana yang hangat dan menyenangkan.
Hari pertama pembukaan toko ini berjalan lebih baik dari yang Nadia bayangkan. Meskipun tubuhnya mulai lelah setelah seharian melayani pelanggan, hatinya terasa ringan. Setiap interaksi kecil dengan pelanggan membayar semua kerja kerasnya.
"Ya Allah mudahkan jalanku untuk Ibu."