Manisnya Perjuangan

1052 Kata
Pameran kuliner terbesar di kota itu diadakan dengan meriah. Booth-booth kuliner dari berbagai daerah dipenuhi dengan makanan-makanan lezat yang menarik perhatian para pengunjung. Suasana ramai dengan suara tawa dan canda pengunjung yang tengah menikmati hidangan-hidangan khas dari berbagai penjuru kota. "Mau yang mana?" Di salah satu booth, Nadia terlihat sibuk melayani pembeli. Toko kue miliknya, telah berkembang pesat dalam satu tahun terakhir. Usahanya yang dimulai dari nol kini telah menarik perhatian banyak orang, terutama setelah dia sering mengikuti acara-acara besar seperti pameran ini. Dengan senyum ramah, Nadia melayani pembeli yang terus berdatangan. "Terima kasih, Mbak. Selamat menikmati," ucap Nadia sambil memberikan sekotak kue pada pelanggan terakhir yang baru saja membeli. Saat Nadia menyeka keringat di dahi, tanpa sengaja dia melihat sekilas seorang pria yang sangat familiar di antara kerumunan pengunjung. Hatinya seakan terhenti sejenak ketika menyadari bahwa itu adalah Hendra, bersama Cintia dan anak perempuan yang digendongnya. Selain itu, ada juga ibu mertua dan anggota keluarga lain. Nadia tahu bahwa mereka suka berlibur dan mengunjungi banyak kota. Tak hanya itu, bahkan sampai keluar negeri. Dan selama menikah dengan Hendra, dia tidak pernah diajak. Nadia menahan napas sejenak. Perasaan canggung dan tak nyaman melingkupinya. Namun, wanita itu mencoba untuk tetap bersikap profesional. "Bu, kue ini kelihatannya enak. Kita beli di sini, ya?" ucap Cintia. Mereka memilih-milih kue sementara Nadia memasang masker agar tak dikenali. Karyawannya sedang pergi membeli makanan, sehingga dia yang menggantikan menjaga booth. "Silakan," ucap Nadia ramah. "Loh, Nadia?" tanya Sukma kaget. Walaupun memakai masker, ternyata Sukma mengenali Nadia. Dulu saking tidak sukanya kepada Nadia, wanita paruh baya itu bahkan menghafal setiap gerak-gerik menantunya. "Oh, ini Nadia. Sekarang jualan kue ya," ucap Cintia sambil melihat kue-kue yang dipajang. Raut wajahnya terlihat tidak senang, tetapi berusaha menutupi dengan keramahan yang dibuat-buat. Nadia berusaha tersenyum meski jantungnya berdebar kencang. "Iya, Cin. Ini aku." Nadia tak berani melirik ke arah Hendra. Namun, dia tahu sejak tadi mantan suaminya hanya terdiam memperhatikan interaksi mereka. "Rame ya?" tanya Sukma. "Alhamdulillah, usahanya terus berkembang," jawab Nadia lembut, mencoba menjaga nada suaranya tetap tenang. "Syukurlah. Jadi punya penghasilan yang cukup. Gak perlu lagi mengharapkan pemberian orang," sindir Cintia. "Alhamdulillah. Memang niatnya begitu," ucap Nadia gugup. Untunglah ada masker. Jika tidak, mereka pasti bisa menyaksikan rona wajahnya yang menahan malu. "Jadi Mama mau yang mana?" tanya Cintia tanpa memandang Nadia. "Bentar Mama lihat dulu. Hendra, kamu mau yang mana?" Hendra memilih diam, hanya mengangkat bahu sebagai jawaban. Kue-kue itu tak menarik baginya. Lelaki itu lebih berminat pada penjualnya. "Mas Hendra masih kenyang, Ma," jawab Nadia. Hendra berdiri beberapa langkah di belakang ibunya. Matanya menatap Nadia dengan tajam, dengan kedua tangan di saku celana. Hal itu membuat mantan istrinya takut. Hendra tak menyangka akan bertemu Nadia di tengah keramaian pameran ini. Namun, lelaki itu berusaha tetap tenang dan mengikuti langkah keluarganya. "Mama mau kue bolu cokelat ini. Semuanya," kata Sukma dengan nada ramah. Tadi dia mencoba satu potong dan langsung suka dengan rasanya. "Mau dijadikan berapa pack, Ma?" balas Nadia dengan senyum yang tulus. Meski perasaan canggung tak sepenuhnya bisa dia sembunyikan. "Lima aja." Saat Nadia menyiapkan pesanan, Sukma terus berbicara dengan Cintia. Wanita itu juga mengajak cucunya berbicara, dan tertawa saat anak kecil itu menepuk pipinya. Nadia membuang pandangan. Andaikan dulu dia subur dan bisa mengandung, mungkin dia yang akan berada di posisi itu. Sayangnya dengan siapapun kelak Nadia menikah, dia tak akan pernah bisa menggendong darah daging sendiri. Hasil tes rumah sakit telah menjawab mengapa hingga 3 tahun pernikahan, dia tak kunjung hamil. "Mama senang sekali ngeliat usaha kamu sudah maju seperti ini." "Makasih, Ma," ucap Nadia sambil menyerahkan pesanan yang sudah dibungkus rapi. Sukma mengambil kotak kue itu dengan senyum. "Semoga usaha kamu semakin sukses, ya." Nadia tersenyum lembut, merasa sedikit terharu dengan perhatian yang diberikan. "Amin, terima kasih banyak, Mama." Setelah membayar dan menerima pesanan, keluarga Hendra berjalan pergi, melanjutkan perjalanan mereka di sekitar pameran kuliner itu. "Untung mereka gak lama." Nadia menghela napas panjang, berusaha mengumpulkan perasaannya yang sempat kacau. Bertemu dengan Hendra dan keluarganya setelah sekian lama ternyata membawa kembali kenangan yang selama ini dia coba lupakan. Sayangnya, beberapa menit berlalu, Hendra kembali ke booth Nadia sendirian. Lelaki itu mendekat dengan langkah tenang, tapi ada rasa penasaran yang jelas terlihat di wajahnya. "Nad--," panggil Hendra pelan, menghentikan aktivitas Nadia yang sedang membereskan booth. Nadia menatap mantan suaminya dengan perasaan campur aduk. Ada bahagia, kecewa dan juga ... rindu. "Iya, Mas?" "Aku cari kamu ke mana-mana. Ternyata di sini." Hendra mengucapkan itu sembari tersenyum pahit. Berbulan-bulan lelaki itu khawatir akan keadaan Nadia. Menyangka semua yang buruk menimpa mantan istrinya. Namun orang yang dipikirkannya justru tampak bahagia. "Aku sama ibu memilih hijrah, Mas. Alhamdulillah keadaan di sini lebih baik," jawab Nadia jujur. "Kamu kenapa tiba-tiba ngilang? Aku malah gak tau kamu pindah ke sini." Hendra bertanya dengan nada serius. Walau ada sedikit rasa kecewa dalam suaranya. "Aku coba hubungi kamu beberapa kali. Tapi nomormu gak aktif," lanjut Hendra. Nadia terdiam sejenak, berusaha mengendalikan emosi yang bergejolak. "Aku butuh waktu, Mas. Aku harus melanjutkan hidup tanpa campur tangan kamu lagi." "Aku hanya ingin memastikan kamu baik-baik saja. Setelah kita berpisah, aku tetap ingin membantu kamu." "Aku tahu niat baikmu, tapi aku gak bisa terus bergantung. Itu bikin semua semakin sulit," balas Nadia sambil menundukkan kepala. "Soal uang yang Mas kirim, aku sengaja menutup rekening. Aku harus belajar mandiri." Hendra menatap Nadia dalam-dalam. Rasa bersalah sedikit tergambar di wajahnya. "Aku cuma memastikan kamu gak kekurangan. Gak ada niat lain selain itu." Nadia tersenyum tipis, tapi ada kesedihan di matanya. "Aku tahu, Mas. Tapi aku sudah memutuskan untuk membangun hidupku sendiri. Kamu sekarang punya keluarga baru. Aku gak bisa terus ada di antara kalian." Hingga saat ini, Nadia masih merahasiakan pertemuannya dengan Cintia di kafe. Dia tak mau ada pertengkaran dalam rumah tangga mereka. Hendra tampak terdiam, seolah mencari kata-kata yang tepat untuk diucapkan. "Nadia, aku hanya berharap kamu tahu, aku gak pernah bermaksud menyakitimu." "Aku tahu, Mas. Tapi, tolong biarkan aku melanjutkan hidup. Aku baik-baik saja sekarang," jawab Nadia tegas. Dengan helaan napas panjang, Hendra akhirnya mengangguk. "Oke. Aku hanya harap kamu bahagia." Setelah itu, Hendra berbalik dan pergi, meninggalkan Nadia yang berdiri termenung di booth-nya. Nadia menarik napas panjang, mencoba menenangkan hati yang kembali terguncang. Meski pertemuan ini tak terduga, wanita itu tahu bahwa dia sudah membuat keputusan yang tepat. Untuk melanjutkan hidup tanpa bayang-bayang masa lalu.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN