De Javu

1049 Kata
Dua tahun berlalu sejak pertemuan terakhir di pameran kuliner, Hendra benar-benar menghilang. Walaupun terasa hampa, tetapi Nadia justru tenang karena tak ada lagi tuduhan karena mengganggu rumah tangga orang. Nadia sibuk dengan bisnis kue yang ia bangun dari nol. Usahanya semakin berkembang, terutama setelah beberapa kali mendapatkan pesanan besar dari berbagai perusahaan dan event. Nadia juga masih berkomunikasi dengan Surya lewat chat atau telepon. Sehingga hari-harinya tak terlalu sepi. Canda lelaki itu bisa membuatnya tertawa lepas sehingga semua kelelahan hilang begitu saja. "Gimana kabar kue-mu hari ini, Nad?" tanya Surya iseng. "Kok nanyain kue?" tanya Nadia bingung. "Kalau nanyain owner-nya nanti dikira aku naksir," jawab Surya. "Padahal kan emang iya." Nadia tergelak mendengar lelucon itu. Sejak dulu Surya masih saja gombal dan merayunya. Usia lelaki itu yang lebih muda membuat lebih luwes dalam berbicara. "Kue baik-baik aja. Laris manis seperti biasa. Kadang ada sisa, tapi gak banyak," jawab Nadia serius. "Kalau ownernya?" "Tuh, kan." Nadia ingin menjitak kepala Surya jika begini. Sejak dulu lelaki itu suka iseng, tetapi itulah yang membuat harinya berwarna. "Kamu gimana kabar?" tanya Nadia balik. "Kabar kangen." Surya mengucapkan itu sembari mengulum senyum. Walaupun tak melihatnya, tetapi lelaki itu tahu jika pipi Nadia pasti merona. "Kangen itu apa?" tanya Nadia memancing. "Semacam perasaan ingin bertemu seseorang tetapi dilarang." Nadia tergelak. Wanita itu menarik napas panjang saat gombalan itu tak habis-habisnya. Nadia pernah bertanya apakah Surya akan bersikap sama dengan semua wanita. Dan jawabannya membuat dia kaget. Surya bilang hanya bisa begitu dengannya. Ketika Nadia mencoba memancing dan bertanya dengan karyawan kafe, mereka mengatakan hal yang sama. Surya cukup dingin dengan wanita. Bahkan mereka memanggilnya dengan sebutan beruang kutub. Es-nya mencair hanya jika berdekatan dengan Nadia. "Kapan aku bisa main ke sana? Udah lama kita nggak ketemu," tanya Surya memelas. Walaupun tak bisa memiliki Nadia, setidaknya mereka kembali seperti dulu. Sebagai sahabat yang berbagi cerita, baik suka maupun duka. Mendengar itu Nadia menolak dengan halus. Hatinya pasti luluh jika mereka bertemu lagi. "Aku lagi banyak kerjaan. Nanti kalau semuanya udah beres, aku kabarin ya." Nadia tahu Surya adalah lelaki baik. Namun, hatinya belum siap untuk kembali membuka lembaran baru. Jika Nadia menerima, maka Surya akan kecewa sama seperti Hendra. Lalu lelaki itu akan memilih pergi dan meninggalkannya. Jika sudah begini, Nadia lebih baik sendiri hingga akhir hayat. Daripada ditinggalkan lagi karena tak mampu memberikan keturunan, bagi siapapun yang menjadi suaminya. "Kafe makin ramai, Nad. Tapi aku ngerasa sepi karena gak ada kamu." *** "Selesai. Alhamdulilah." Nadia menyusun loyang kue yang sudah kering. Tadi asisten yang mencuci piring. Dia sudah tak terlalu lelah karena sekarang banyak yang membantu. Saat hendak mencuci tangan, tiba-tiba ponselnya berdering. Nadia mendapatkan pesan dari nomor yang tidak dikenal. "Selamat malam, Mbak Nadia. Saya dengar dari seorang teman bahwa kuenya enak. Saya mau memesan untuk acara pembukaan kantor kami Minggu depan. Apakah bisa?" Nadia tersenyum senang membaca pesan itu. Pesanan besar seperti ini selalu menjadi kabar baik. Ia mengetik balasannya dengan semangat. "Selamat malam. Tentu saja bisa." "Oke. Kalau diantar hari Senin pagi apakah bisa?" "Bisa. Jam berapa pastinya supaya saya bisa prepare waktu?" "Jam 7 pagi. Karena itu untuk snack box Jam 10." "Baik. Akan saya siapkan," balas Nadia semangat. Sekalipun lelah, wanita itu akan mengerjakan pesanan dengan sebaik-baiknya. "Apa saya bisa minta list harga dan jenis kuenya." Nadia membalas pesan itu dengan mengirimkan banner kuenya. Selama ini brownies cokelat selalu menjadi favorit. "Saya mau brownies cokelat, kue pisang, pastry dan pastel. Masing-masing 100 pcs." Nadia tertegun, tak menyangka jika akan sebanyak ini. "Baik. Tapi maaf apakah saya boleh minta DP sebagai tanda jadi?" "Jumlahnya berapa?" "50% dari harga kue." Nadia mengambil kalkulator lalu menyebutkan pesanannya. "Tolong kirimkan nomor rekening." Mata Nadia terbelalak saat menerima bukti transfer. Ternyata si pemesan itu membayar lunas. "Makasih atas kepercayaannya. Saya akan siapkan dengan kualitas terbaik. Lokasi kantor yang mana ya?" "Kantor kami baru dibuka di Jalan Jendral Sudirman, nomor 45." Nadia mengangguk, meski lawan bicaranya tak bisa melihat. Ia tahu lokasi itu yaitu jalan utama yang memang area perkantoran. "Bismillah. Semoga lelah menjadi lillah." --- Senin pagi. Nadia sudah siap dengan ratusan kue yang rapi dan tertata di dalam mobil pengirimannya. Dengan perasaan gembira, ia menyetir menuju kantor yang baru saja dibuka. Begitu tiba di lokasi, Nadia merasakan sesuatu yang aneh. Kantor itu terasa familiar, meski dia yakin belum pernah datang ke sana sebelumnya. Suasana di kantor itu memberi Nadia perasaan dejavu yang sulit dijelaskan. Dari tata ruang lobby hingga pencahayaan yang terang. Semuanya tampak sangat dikenalinya. Nadia menepis perasaan itu. Mungkin hanya imajinasinya yang bermain. Setelah memarkir mobil, Nadia segera menurunkan kotak-kotak kue. Dia mengantar sendiri karena karyawan harus memanggang kue dan melipat boks. Ibunya sendiri bertugas menyiapkan makanan untuk mereka. Semua yang bekerja dengan Nadia adalah janda yang ditinggal suami. Jadi dia menanggung makan siang mereka. Di pintu masuk, seorang wanita cantik berdiri menyambut Nadia dengan senyum ramah. "Selamat datang. Pasti Mbak Nadia ya?" Nadia tersenyum dan mengangguk. "Betul. Ini kuenya, seperti yang dipesan." Wanita itu mengulurkan tangannya. "Perkenalkan, saya Bianca. Saya yang memesan kuenya. Makasih banyak ya Mbak." Nadia menyambut uluran tangan Bianca dengan ramah. "Sama-sama, Mbak Bianca. Makasih juga sudah mempercayakan acara ini kepada saya." Saat Bianca membantu Nadia memindahkan kue-kue ke dalam ruangan, Nadia sempat memandang sekeliling lagi. Perasaan Dejavu itu semakin kuat. Namun ia tetap tidak bisa mengingat pernah berada di ruangan seperti ini sebelumnya. "Silakan duduk dulu, Mbak Nadia," Bianca mempersilakan setelah semua kue dipindahkan. "Makasih sudah datang dan mengantarkan pesanan tepat waktu. Kita akan segera mulai acara pembukaan." "Kembali kasih, Mbak. Saya harap rasa kuenya sesuai dengan ekspektasi." Nadia tersenyum, meski pikirannya masih terusik dengan perasaan aneh yang membayangi. Bianca tertawa kecil. "Saya yakin kuenya enak. Teman saya bilang Anda yang terbaik di kota ini." Mendengar pujian itu, Nadia merasa bangga. Namun saat Bianca berbicara, dia merasa ada yang tersirat. Seolah-olah dia harus menyadari sesuatu, tetapi tidak bisa menangkapnya. "Surya." Nadia teringat bahwa suasana di kantor ini mirip dengan kafe milik Surya. Terutama bagian lobby yang didesain minimalis. Warna dan perabotannya juga nyaris sama. "Apa jangan-jangan Surya--" Nadia menepis perasaan itu. Setaunya Surya memang seorang arsitek yang memilih membuka usaha, disamping kemampuannya men-desain. "Mungkin Surya yang desain kantor ini. Atau dia yang punya?" Nadia masih menerka dalam hati. Namun dia menepis semua prasangka. Wanita itu kembali dan melajukan mobil dengan pelan. Sekalipun lelah, toko tetap harus buka.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN