Bab 6

1125 Kata
*** Seperti yang Finka rencanakan, ia memang mendatangi makam Fina. Jasad kembarannya itu terbaring di sana, meninggalkan segala kerumitan yang belum sempat terurai di antara mereka. Meskipun menahan diri untuk tidak menangis, pada akhirnya air mata Finka jatuh juga. Mana mungkin ia tidak sedih ketika belahan jiwanya telah pergi untuk selamanya. Sakit hatinya pada Fina atas kejadian Lima tahun yang lalu tidak membuatnya membenci saudari kembarnya itu sampai mati. Finka selalu memaafkan Fina meskipun mereka tak pernah saling bicara. Meskipun Fina menghancurkan hatinya hingga berkeping-keping. Dendam Finka hanya pada Ardio Jayadi karena tak tegas pada kehidupan rumah tangga mereka di masa lalu. Karena lelaki itu telah mempermainkannya dengan cara yang tidak beradap. Bagaimana mungkin Dio memperistri dirinya dan juga Fina? Bayangkan betapa keji perbuatan Dio, dan kini ia terpaksa kembali pada lelaki itu. “Jangan khawatir Fina, meskipun aku benci banget sama Dio, tapi aku nggak akan sia-siain Lazira. Bagaimanapun juga kita berdua saudara kembar,” Hanya itu alasan Finka bertahan di sisi Dio sembari ia membalaskan dendamnya. Finka akan menjaga Zira meskipun hatinya sakit setiap kali melihat wajah gadis kecil itu. Perpaduan antara wajah Dio dan Fina yang juga mirip dengan wajahnya, membuat Finka kadang merasakan perasaan sakit yang tak bisa digambarkan dengan kata-kata. Namun, ia pun lega karena wajah Ziya yang mirip Fina, membuatnya merasa memiliki Zira sebagai anaknya sendiri. Begitu lah cara Finka memandang Zira nanti. Sebenci-bencinya Finka pada Dio, Zira akan tetap menjadi anaknya juga karena Zira darah daging kakaknya. “Zira akan aku anggap seperti anakku sendiri meski berat,” ucap Finka sembari menatap makam kembarannya. “Pergilah dengan tenang, Fina. Aku nggak benci sama kamu lagi, tapi yang masih aku sesalkan kenapa kita berdua harus berakhir seperti ini,” “Kamu tahu kan seperti apa aku memperlakukanmu dulu? Betapa aku menghormatimu sebagai Kakak kembarku, tapi … ” Finka tak sanggup meneruskan ucapannya. Ia mengusap air mata yang terus saja membanjiri pipinya. Finka sudah mengeraskan hati sebelum ke tempat ini tadi. Ia berjanji untuk tidak menangisi almarhumah Fina, tapi apa daya. Belahan jiwanya pergi untuk selamanya dan ia baru mengetahui itu setelah kembali ke Jakarta. “Aku nggak akan minta maaf, Fin, karena menjauh dari kamu. Aku nggak salah apa-apa, kan?” Hening. Finka pun tidak berharap mendapat jawaban itu. Namun, beberapa detik kemudian tiba-tiba ada yang menyahuti. “Iya. Kamu nggak salah, Finka,” Betapa Finka terkejut mendengar suara itu. Finka tidak menyangka seseorang akan menjawab pertanyaannya. Tanpa menoleh pun Finka tahu siapa yang sedang berada di belakangnya. Tenang saja, bukan Dio. Namun, pria yang menjawab tanyanya itu juga ikut andil dalam rasa sakitnya Lima tahun yang lalu. “Papa,” sapa Finka kala Warto berdiri tepat di sampingnya. Ikut melakukan hal yang sama yaitu memandangi makam Fina. Sejujurnya, Finka masih enggan bertatap muka dengan papanya meskipun mereka sudah saling memaafkan. Warto mengangguk singkat. Ia juga tidak sengaja bertemu dengan putri bungsunya itu di sini. Warto datang ke tempat ini karena semalam memimpikan Fina. “Papa nggak nyangka kamu juga datang ke sini, Finka,” ucapnya. “Apa yang membuatmu berada di tempat suram ini?” tanya Warto. Pertanyaan itu sedikit mengganggu Finka. Namun, pada akhirnya ia menjawab jujur pertanyaan itu. “Aku merindukan Fina, Pa,” ucapnya. Dalam keadaan yang tiba-tiba saja terasa canggung ini, Finka bersyukur karena air mata yang sempat membasahi pipinya beberapa saat yang lalu sudah ia hapus sepenuhnya. Sisa tangisnya tak terlihat lagi oleh papanya. “Papa juga merindukan kakakmu,” ucap Warto menjelaskan kedatangannya ke tempat ini. Finka hanya mengangguk singkat. Ia tidak tahu harus mengatakan apa lagi. Pandangannya kembali pada makam Fina yang masih bersih dari rerumputan. “Papa do’a dulu, nanti kita ngobrol di tempat lain ya?” pinta Warto. Sekali lagi Finka menganggukkan kepalanya. Ia beranjak dari makam Fina lebih dulu. Meninggalkan Warto yang menitipkan doa untuk Fina. Dalam hati, Finka berharap, semoga Tuhan mengampuni kesalahan saudari kembarnya di masa lalu karena ia sudah memaafkan Fina seutuhnya. Finka menunggu Warto di depan gerbang makam. Ia berdiri tak jauh dari mobilnya. Mata Finka mencari kendaraan roda empat milik Warto, tapi ia tidak menemukannya. “Papa naik taksi ke sini tadi,” terang Warto yang baru saja menghampiri Finka. Rupanya Warto menyadari apa yang Finka cari. “Ohh,” Finka mengangguk singkat. “Papa ikut aku aja,” katanya. Memang itu tujuan Warto sekarang. Dia ingin menghabiskan waktu bersama Finka setelah mengunjungi Fina. “Ayo Pa!” Finka membukakan pintu penumpang untuk Warto. Meskipun masih sedikit segan, tapi Warto masuk ke mobil Finka juga. Ia duduk tepat di sebelah Finka yang menjadi pengemudinya. “Jangan lupa kenakan seat beltnya Pa.” Tak lupa Finka mengingatkan Warto. Mengangguk singkat, Warto segera memasang sabuk pengamannya. Mobil pun bergerak, menjauh dari area pemakaman. “Papa kira kamu nggak akan di sini hari ini,” ucap Warto memulai obrolan. Finka tersenyum kecut. Maafkan dirinya yang kadang masih sedikit kesal kala mengingat kejadian masa lalu. “Iya Pa,” sahutnya singkat. Mendengar itu, membuat Warto menolehkan kepalanya pada Finka. Warto mencoba membaca ekspresi wajah Finka saat ini. “Hubunganmu dengan Dio baik-baik aja kan?” tanyanya memberanikan diri. “Hemm?” Finka melirik papanya sejenak. Lalu kembali menatap ke depan. “Nggak akan pernah baik-baik aja, Pa. Papa sendiri tahu kan gimana kisahnya?” tanyanya sengaja agar papanya tak perlu berharap hubungannya dengan Dio baik-baik saja. Warto menghela napasnya dengan berat. Harapannya, Dio dan Finka bisa kembali bersama, saling mencintai seperti dulu kala. Namun, sepertinya harapan itu memang tidak akan pernah terwujud karena keduanya sama-sama enggan memperbaiki. Warto ingin memberi Finka nasihat, tapi dirinya takut ini terlalu cepat. “Papa benar-benar berharap hubungan kalian kembali seperti dulu lagi, Finka. Bukan karena kewajiban kalian pada Lazira, tapi karena cinta kalian berdua,” ucapnya. Finka diam. Ia tidak ingin memotong ucapan papanya yang tampak masih ingin bicara. “Papa berharap kalian bersedia memperbaiki hubungan kalian, karena itu juga yang Fina inginkan. Fina pasti tidak akan tenang kalau kalian selalu bertengkar,” Finka menghela napasnya dengan berat. Tidak mungkin dirinya bisa memenuhi harapan papanya. Sekali lagi Finka tegaskan, kembalinya ia ke Indonesia hanya untuk membalas dendam pada Ardio Jayadi. Seperti apapun status hubungan mereka saat ini, Finka tidak akan melupakan tujuannya kembali menampakan diri. “Maaf, Pa, jangan pernah berharap seperti itu. Aku bersedia nikah sama Dio demi Zira dan … ” ucapan Finka terpotong. Ia bersedia menikah dengan Dio karena lelaki itu berjanji akan menyerahkan seluruh kekayaannya. “Dasar penipu!” geramnya begitu mengingat Dio telah menipunya. “Apa?” tanya Warto yang samar-samar mendengar geraman Finka. “Nggak, Pa.” “Aku nikah sama Dio demi Zira!” ucapnya mengalihkan perhatian papanya. Sekali lagi Warto menghela napas dengan berat. Sedih ia melihat Finka yang masih berkabung pada luka masa lalunya. . . To be continued. 
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN