Bab 7

1303 Kata
*** Mobil Finka berhenti tepat di halaman rumah orang tuanya. Finka tidak menyangka ia bisa kembali ke sini lagi setelah sekian lama. Kemarin, pernikahannya tidak dilangsungkan di tempat ini. Finka enggan karena dulu ia menikah di rumah ini bersama Dio, dan mungkin Fina pun melakukan hal yang sama. Menggelengkan kepala, Finka mencoba mengenyahkan bayangan masa lalunya. Ia datang ke tempat ini dengan terpaksa. Selain mengantar papanya, Finka juga bermaksud menjemput Zira. “Ayo masuk dulu, Fin, mamamu pasti senang lihat kamu datang,” ucap Warto. Finka menganggukkan kepalanya. Ia benar-benar turun dari mobil dan masuk ke rumah bersama Warto. Di ruang tamu, Finka menemukan Lazira sedang bermain bersama mamanya yang tak lain dan tak bukan adalah Hilda. Keterkejutan tampak jelas terlihat di wajah Hilda begitu ia menemukan Finka masuk bersama Warto, suaminya. Hilda beranjak dari duduknya dan menghampiri putri bungsunya itu. Rasa haru memenuhi relung hati Hilda karena Finka akhirnya kembali menginjakkan kaki di rumah ini. Meskipun pertemuan ini tak luput dari perasaan canggung, tetapi Hilda bersyukur Finka bersedia kembali ke rumah ini. Finka sendiri tampak sangat canggung meskipun sebelum menikah lagi dengan Dio kemarin, ia sudah berbaikan dengan mamanya. Finka tidak tahu harus mengatakan apa kepada Hilda. Mungkin ini karena mereka jarang berkomunikasi sejak Lima tahun lamanya. “Mama Finkaaaa,” teriakan Zira mengalihkan keduanya. Finka yang tadinya tidak berekspresi, kini menunjukkan senyumnya. Ia menundukkan tubuhnya ketika Zira berlari untuk memeluknya. “Si cantik,” ucapnya. “Mama Finka kenapa baru datang? Zira udah kangen,” Finka mengurai pelukan itu. Ia menatap wajah Zira dengan lekat. Jantungnya berdetak tak karuan. Selalu ada kebahagiaan sekaligus sesak setiap kali melihat wajah anak dari kembarannya bersama Dio itu. “Mama Finka habis dari makam Fina, Sayang. Terus langsung ke sini,” terangnya. “Oh Mama Finka jengukin mamaku, ya? Sama Papa?” tanya Zira. Namun, Finka menggelengkan kepalanya. Ia pikir Zira akan kecewa, tapi gadis kecil itu tampak tersenyum. “Sudah Zila duga. Papa pasti nggak mau datang ke sana,” Finka ingin bertanya kenapa, tapi ia mengurungkannya. “Oya Zira, Mama Finka mau jemput Zira. Kita pulang sekarang ya, Sayang?” Sebagaimana Finka berjanji untuk menyayangi Zira layaknya anaknya sendiri, Finka berusaha untuk itu. Ia mengabaikan sesaknya kala mengingat lagi janin yang pernah luruh dari rahimnya akibat keegoisan kedua orang tua gadis kecil di depannya ini. Lazira menganggukkan kepalanya. “Zila mau pulang baleng Mama Finka!” ujarnya. “Syukurlah. Sekarang Zira pamit dulu sama Nenek dan Kakek,” “Kamu nggak mau makan siang dulu, Fin? Mama masak banyak hari ini,” sahut Hilda berharap anak perempuannya itu menerima ajakannya. Namun, Finka menggelengkan kepala. Menolak tawaran makan siang bersama di rumah ini. Finka belum siap. Seluruh kenangan berpusat di rumah ini. “Kami harus pulang, Ma. Ada yang harus aku lakuin juga setelah ini,” Hilda mengiakan meskipun kecewa tak bisa dirinya hindari akibat penolakan Finka. “Ayo Zira pamit sama Nenek dan Kakek!” perintah Finka. Ia tahu mamanya merasa kecewa atas penolakannya, tapi Finka berusaha untuk mengabaikannya. Zira menuruti apa yang Finka perintahkan. Zira juga berpamitan pada Kakek dan Neneknya. Lalu menerima uluran tangan Finka yang ingin menggenggam tangan mungilnya. Finka pun membawa Zira meninggalkan kediaman kedua orang tuanya. Rumah yang dulu menjadi tempat pulang paling nyaman menurut Finka. Namun, semua berubah sejak Lima tahun yang lalu. Kebahagian yang ada di sana berubah menjadi duka paling lara. Finka tak ingin mengingatnya lagi, tetapi dirinya tidak bisa lupa sekuat apapun ia berusaha. “Duduk manis ya, Zira,” ucap Finka ketika mereka berdua sudah masuk ke dalam mobilnya. Finka siap mengemudikan mobilnya setelah mendapati anggukan dari Zira. Sebelum benar-benar sampai ke rumah, Finka mengajak Zira makan terlebih dahulu. Waktu sudah menunjukkan pukul Satu siang ketika mereka sampai di rumah. Tidak ada siapapun karena Finka tahu Dio pasti berada di kantornya. Finka mengedikan bahunya, tidak peduli pada apa yang lelaki itu lakukan. “Ehmm Zira, biasanya apa yang Zira lakukan saat siang-siang begini?” Jujur saja Finka tidak tahu cara mengasuh anak. Bagaimanapun juga, ia belum sempat melakukan itu karena anaknya telah pergi lebih dulu. Zira tampak berpikir. “Biasanya Nenek minta Zila tidul, Ma,” katanya. Masuk akal. Finka bisa meminta Zira tidur sekarang. “Kalau gitu ayo kita tidur!” ajaknya sambil meraih Zira ke dalam gendongannya. Finka sengaja mengaduh saat membawa Zira. “Anak Mama Finka berat sekali ini,” godanya. Zira tertawa. Balita cantik itu merasa kesenangan karena Finka memperlakukannya dengan sangat baik. Zira masih ingat apa yang pernah Mama kandungnya katakan sebelum pergi untuk selamanya. Mamanya pernah mengatakan bahwa Mama Finka yang akan menjaganya hingga besar nanti. Mama Finka adalah orang yang baik. “Telnyata Mama benal,” ucap Zira. Finka tampak bingung mendengarnya. “Kata Mama Fina, Mama Finka adalah olang yang baik. Mama Finka akan jagain Zila sampai besal nanti.” Penjelasan Lazira membuat Finka tertegun. Ia sampai menghentikan gerakannya yang ingin membuka pintu. Jika benar apa yang Zira katakan, maka sejak dulu Fina memang sudah merencanakan rumah tangga keduanya ini bersama Dio. “Mamaku celita tentang Mama Finka, tapi aku masih telkejut saat lihat Mama Finka hali itu. Zila pikil itu mamanya Zila, Mama Fina,” Finka mengalihkan tatapannya. Lamunannya pun buyar akibat ucapan Zira. Finka tidak tahu apa arti dari perasaannya ini, tetapi mendengar ucapan Zira yang tampak sangat kehilangan Fina, membuat Finka ingin selalu mendekapnya. Finka ingin Zira tahu bahwa ia akan selalu ada. Finka tidak akan menyakiti Zira meskipun dendamnya pada Dio akan tetap berlangsung sama. “Jangan sedih lagi, Sayang. Mama Finka juga mamanya Zira, kan, sekarang?” Zira mengangguk antusias. Ia menunjukkan senyum cerianya. “Iya, ini mamanya Zila. Mama yang akan selalu jagain Zila sampai besal nanti,” ucapnya sembari memeluk leher Finka. Perasaan lega memenuhi relung hati Finka. Ia bersyukur karena bisa menghibur Zira. “Ayo tidur. Mama dongengin ya,” katanya. Lalu, pintu kamarnya terbuka. Zira akan tidur dengannya mulai sekarang. *** Ketika petang menjelang, Finka sibuk bermain bersama Zira. Finka sendiri tidak menyangka dirinya bisa sedekat ini bersama Zira. Mungkin karena Finka mrindukan sosok mungil seperti Zira. Mungkin karena sekarang Finka sudah menganggap Zira seperti putrinya sendiri. Entahlah, tetapi yang pasti, Finka bahagia ketika melihat Zira tertawa. Finka juga merasa lega ketika melihat Zira lahap sekali menyantap masakannya. Finka merasa hidup bersama Zira sudah mengubah dirinya. Baru beberapa jam Finka bersama anak tirinya itu, tapi mampu mengubah kesedihannya. Finka sendiri tidak sadar sejak kapan senyum ceria menghiasi bibirnya. “Ini enak sekali, Mama. Zila sisahin buat Papa, ya?” tanya Zira tiba-tiba. Finka tidak mikirkan Dio sama sekali. Ia juga tidak berniat memasak makanan untuk lelaki itu. Namun, bila Zira yang meminta, rasanya Finka tak tega untuk menolak. Finka mengangguk singkat meskipun dia tak rela. Dalam keadaan yang masih tidak rela berbagi makanan dengan Dio, tiba-tiba saja suara mobil lelaki itu terdengar. “Sial!” ujar Finka. Berbeda dengan Zira yang kegirangan. “Papa sudah pulang!” teriaknya. “Ayo Ma, kita jemput papa ke depan!” “Tapi … ” Belum sempat Finka mengatakan apa-apa, Dio sudah menampakan batang hidungnya. Lazira berlari menyusul papanya itu. Pelukan hangat Zira terima setelahnya. Sementara itu, Finka mendengkus sebal di belakang Zira. Tampak tak suka melihat senyum Dio saat Zira menghampirinya. “Mama masak banyak makanan, Pa, ayo kita makan baleng,” ajak Zira tanpa sadar Finka tidak suka mendengarnya. Finka melirik tajam kepada Dio. Ia memberikan ancaman dalam tatapan itu. Jangan sampai Dio mengiakan atau dirinya akan melakukan sesuatu. Tentu saja Finka tidak sudi berada satu meja dengan Dio. Namun, Dio mengabaikan ancaman itu. Tanpa mengalihkan tatapannya dari Finka, Dio akhirnya menganggukkan kepalanya. Mengiakan apa yang Zira tawarkan. Dio mengabaikan perasaan tidak nyaman yang Finka rasakan. Ia tidak peduli pada istri barunya yang tampak tidak suka. . . Bersambung.  Jadwal update hari Kamis ya.. jangan tanya lagi wkwk. Jangan lupa tinggalkan kmentar juga biar author makin semangat :-)
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN