***
Dengan sangat terpaksa Finka membiarkan Dio memakan masakannya. Finka juga tampak enggan mengalihkan tatapan tidak sukanya pada lelaki yang ia anggap tak tahu malu itu. Tatapan Finka tajam, penuh dengan ancaman. Namun, sama seperti tadi, Dio pun seolah tidak peduli. Lelaki itu sibuk menimpali apapun yang putrinya katakan.
“Papa halus makan yang banyak! Masakan Mama Finka nggak ada tandingannya, Pa,” ucap Zira dengan cengiran khasnya. Gadis kecil itu tampak sangat bangga terhadap masakan Finka. Ia tidak tahu saja, ibu tirinya kesal setengah mati akibat tingkahnya yang membiarkan Dio makan di meja yang sama.
“Mama kok diam aja? Biasanya mamaku siapin makanan buat Papa. Mama biasanya isiin piling Papa nasi beselta lauknya,”
Pupil mata Finka membesar begitu mendengar penjelasan Lazira Jayadi. Dulu, Finka akan dengan senang hati melayani Dio ketika di meja makan seperti ini. Namun, semua sudah berubah. Mana sudi Finka melayani Dio yang merupakan pelaku paling utama sebagai perusak hidupnya.
Finka menggeleng tegas. Kali ini dirinya tidak akan menuruti maunya Zira. Biar saja anak kakaknya itu sedih karena ia menolak. “Papa kamu bisa isi piringnya sendiri, Zira!” ujarnya.
Mendengar itu membuat Zira sedikit mengerutkan dahi. Lalu wajahnya tertekuk masam. Zira merasa Finka tidak menyayangi papanya layaknya ia yang sangat menyayanginya. Zira pun tak bisa memaksakan kehendaknya karena Zira sadar Finka tidak menyukai papanya sebesar Mama Fina menyukai papanya itu.
“Zira sayang, Mama Finka benar, Papa bisa ambil nasinya sendiri. Papa kan sudah dewasa,” ucap Dio buru-buru. Ia tidak ingin putri semata wayangnya itu menekuk wajah dengan masam lagi.
Zira ingin mengatakan sesuatu, tapi ia urungkan. Kepala kecilnya mengangguk singkat sebelum bibirnya kembali membentuk senyuman. “Ayo Papa makan yang banyak ya, Papa pasti capek kelja,” ucapnya.
Melihat itu, membuat perasaan bersalah yang tadi sempat melingkupi Finka perlahan memudar. Berkat Dio, Zira tak jadi bersedih hati. Gadis kecil itu sudah kembali menunjukkan senyumnya. Mulutnya pun kembali berceloteh tentang kegiatan mereka hari ini.
“Zi main sama Mama Finka sampai capek. Iya, kan, Ma?” tanya Zira melibatkan Finka dalam obrolannya bersama Dio.
Mata Dio mengikuti arah pandang Zira yang sedang menuju Finka.
Kepala Finka mau tak mau terangguk untuk menjawab pertanyaan putri dari kakaknya itu. Tanpa membalas tatapan penasaran yang Dio tunjukkan, Finka pun membuka mulutnya. “Kamu senang, Zi?” tanyanya.
Finka tak bisa menyembunyikan senyum lega ketika kepala kecil Zira mengangguk antusias. Tampak senang bermain dan menghabiskan waktu seharian bersamanya.
“Zi senang banget, Ma. Akhilnya Ziya bisa main lagi,” timpal Zira. Ia sedang mengenang almarhumah mamanya yang dulu juga sering mengajaknya bermain bersama. Menyadari itu membuat Finka sedikit merasa tidak nyaman. Begitu juga dengan Dio. Lelaki itu tampak kesulitan menelan makanannya. Tanpa alasan yang jelas, Dio diam-diam melirik Finka untuk mengetahui ekspresi wajah istrinya itu.
Namun, Finka yang pandai menutupi rasa tidak nyamannya, membuat Dio tak bisa menemukan apa-apa. Wajah Finka tidak menunjukkan apapun selain kebenciannya pada Dio.
Dio mengedikkan bahunya, mencoba untuk tidak peduli pada apapun yang Finka lakukan. “Zira sayang, Papa udah selesai makan. Papa mau mandi dulu, kamu main lagi sama Mama,” ucapnya seenak jidat.
Untung Finka menyayangi Zira, jadi dirinya senang-senang saja bermain dengan anak suaminya itu.
“Ayo Zira, kamu sama Mama dulu.”
Zira berlari menghampiri Finka. Ia memeluk Finka dengan sayang. Melihat itu membuat Dio merasakan perasaan aneh yang sulit untuk dijelaskan. Dio mengabaikan perasaan itu lalu beranjak dari sana, meninggalkan Zira dan Finka yang entah sedang membicarakan apa.
Dio kembali ke kamarnya sendiri. Segera mandi agar segar kembali. Setelah itu, Dio terduduk di pinggiran tempat tidurnya. Dio membayangkan pernikahan Keduanya bersama Finka saat ini. Sungguh, tidak ada perasaan cinta seperti dulu sekali. Dio menikah lagi dengan Finka hanya demi Lazira. Selebihnya Dio tidak peduli pada mantan istri yang kini kembali ia nikahi itu.
“Ini nggak akan nyaman untuk kami berdua, tapi melihat Zira tersenyum seperti tadi, aku nggak bisa berbuat apa-apa,”
“Mungkin ini cara terbaik untuk menebus rasa bersalahku pada Fina karena telah mengabaikannya selama ini,”
Iya, Dio justru merasa bersalah pada Fina, bukan Finka. Dio tidak tahu saja, dia telah salah menempatkan rasa bersalahnya. Orang yang patut mendapatkan permohonan maafnya adalah Finka, bukan Fina. Meskipun memang benar Dio bersalah karena telah menelantarkan Fina selama mereka menikah lantaran hatinya masih diam-diam terusik akan kehadiran Finka, tapi apapun yang terjadi Finka jauh lebih berhak mendapatkan permohonan maaf dari Dio dibandingkan Fina.
Sesakit-sakitnya hati Fina karena mendapatkan pengabaian dari Dio, tapi hati Finka jauh lebih hancur akibat keegoisan keduanya. Hati Finka jauh tak terselamatkan karena Dio dan Fina. Namun, hingga detik ini Dio belum menyadarinya.
Lelaki itu sibuk menyalahkan masa lalu yang melibatkan hubungan mereka. Dio terlalu buta akan kesalahan kecil hingga berhasil melukai Finka begitu hebatnya.
***
Ketika Dio sibuk memikirkan banyak hal, Finka dan Zira sudah menyelesaikan tugas dapur mereka yaitu mencuci piring dan membereskan apa yang perlu dibereskan. Finka mengajak Zira bermain di ruang tamu. Keduanya tertawa ketika ada yang lucu.
“Nanti tidur sama Mama ya?” pinta Finka di sela canda dan tawa mereka.
Dahi Zira berkerut heran. Ia mengingat pesan neneknya beberapa saat sebelum Mama Finka datang menjemputnya tadi. Neneknya berkata ia hanya boleh tidur di kamar yang sama dengan Papa dan mamanya. Jika mereka tidur terpisah, maka tugasnya yang akan menyatukan mereka. Zira mengangguk mantap. Ia harus melakukan apa yang neneknya katakan.
“Sama Papa juga ya, Ma,”
“Sama Papa?” tanya Finka memastikan pendengarannya.
Finka berdehem untuk menghilangkan serak di tenggorokkannya. “Nggak Sayang, kamu harus pilih tidur sama Mama atau Papa kamu!” ujarnya.
Zira menggeleng tegas. “Tidul sama Mama dan Papa!” katanya keras kepala.
Tidak mungkin Finka mengiakan. Cukup sudah makan di meja yang sama dengan Dio. Jangan sampai tidur pun di kamar dan kasur yang sama. Hal seperti itu tidak akan pernah terjadi. “Ngga bisa gitu, Zira, Mama dan Papa kamu nggak boleh tidur bersama,” terangnya.
“Memangnya kenapa? Kata Nenek, Papa halus tidul baleng Mama!”
Sekarang Finka tahu siapa yang telah meracuni Zira untuk memaksanya tidur di kamar yang sama dengan Dio. Finka tersenyum sinis. Apa yang orang tuanya harapkan tidak akan pernah menjadi kenyataan. Finka sendiri yang akan memastikan hal itu. “Karena Mama alergi sama Papa kamu!” ujar Finka tanpa peduli Zira mengerti atau tidak maksud ucapannya.
“Papa juga sama alerginya, Zira. Jadi, jangan pernah minta Papa tidur sama dia!” sahutan dari seseorang yang tak lain adalah Dio pun terdengar. Membuat Zira dan Finka menoleh ke arah yang sama secara bersamaan. Finka mendengus sebal. Dio baru saja mendudukkan diri tak jauh dari tempatnya berada. “Bagus kalau gitu. Jadi, nggak ada alasan buat kita mengulang kisah yang lama!” ketusnya.
Dio pun menunjukkan senyum sinisnya, membalas Finka tak kalah ketusnya. “Untuk apa mengulang kisah yang lalu, Finka? Nggak penting!” ujarnya. Setiap tatapan tajam yang Dio berikan dibalas Finka dengan tatapan tajam yang sama. Finka tak ingin kalah dari lelaki yang dulu pernah menghancurkan hatinya itu. Finka merasa Dio benar-benar lelaki kurang ajar yang tidak memiliki perasaan. Sungguh, bukan berarti Finka menginginkan belas kasihan, tapi Finka benar-benar menolak kalah dari lelaki sialan itu.
“Mama dan Papa ngomong apa sih?” tanya Zira yang tampak kebingungan melihat interaksi kedua orang tuanya. Ini jauh lebih buruk dari interaksi kedua orang tua kandungnya. Dulu, Zira hanya akan melihat Mama dan papanya saling diam, tapi sekarang dirinya melihat kedua orang tuanya saling berbagi tatapan tajam. Entahlah, Zira benar-benar tidak mengerti apa yang sebenarya terjadi.
.
.
To be continued.