Elang tersenyum, sembari sesekali meneguk minumannya. Ini bukan kali pertama laki – laki itu duduk di kursi bar sambil menikmati segelas minuman beralkohol, tapi Elang tidak pernah larut terlalu dalam dengan minuman itu. Ia hanya butuh waktu untuk mengembalikan moodnya di akhir pekan.
“Ada apa? Kau terlihat senang malam ini, Elang?” Rian menatap sepupunya itu, terlihat senyum mengambang di bibirnya.
“Hmm, sepertinya aku menyukai seseorang, Rian.”
“Hah? Benarkah? Siapa dia? Apakah dia cantik?” Rian meneguk minumannya, lelaki itu bahkan tak bisa melepaskan topi hitam dari kepalanya.
“Cantik, dan gadis itu memiliki kepribadian yang aku suka. Dia terlihat polos dan cukup menarik.”
“Polos? Astaga, itu seleramu?” Rian tertawa.
“Kau tidak tahu, dia gadis yang layak menyandang status sebagai istri. Aku menyukainya sejak pertama kali bertemu dengan gadis itu.”
“Kau bertemu di mana? Jangan katakan dia salah satu pegawaimu,” tukas Rian.
“Ya, dia memang pegawaiku. Aku menempatkannya tepat di bawahku. Kebetulan dia memiliki pengalaman yang sama di sana.”
“Kalau begitu ambil saja, siapa yang sanggup menolak Elang?” Rian menggoyang – goyangkan gelasnya dan meneguknya hingga habis.
“Tidak semudah itu, dia sudah memiliki seseorang.” Elang meraih sebutir permen yang disediakan di meja bar, “Tapi laki – laki itu sedang tidak berada di kota ini.”
Rian mengusap tulang hidungnya berulang – ulang, “Kau selalu saja mencari masalah.”
“Tidak. Aku tidak begitu. Tapi aku memang menyukainya, aku bisa apa?”
“Kau tetap menyukainya sekalipun tahu dia sudah memiliki kekasih?” Rian bertanya dengan heran.
“Ya, apakah aku aneh?”
Rian kembali tertawa, “Kau tidak aneh, tapi sedang mencari masalah, baik untuk dirimu sendiri juga dia. Elang, apa yang akan terjadi denganmu kalau dia tetap bersama kekasihnya? Apa kau siap dengan segala kemungkinan itu?”
“Aku tidak tahu, Rian. Tapi Kanaya lebih dekat denganku ketimbang dengan kekasihnya itu, entah kapan dia akan kembali. Kurasa aku memiliki peluang yang lebih besar, kan?” Elang berkata dengan penuh percaya diri.
“Ehm, aku tidak yakin.”
“Kenapa?”
“Yah, semua itu tergantung dari...siapa tadi namanya?”
“Kanaya.”
“Ya, tergantung dari Kanaya, apakah dia akan melepaskan kekasihnya dan memilihmu atau dia akan bertahan untuk waktu yang tidak jelas itu. Kalau aku sih pasti memilih seseorang yang dekat dan bisa diandalkan, dan itu kau.”
Elang menarik napas panjang, “Masalahnya aku tidak tahu sedalam apa hubungan mereka, apakah mereka telah memiliki rencana untuk menikah atau tidak.”
“Kenapa kau tidak bertanya saja?”
“Pernah. Aku pernah bertanya padanya saat interview, dia belum memiliki rencana untuk menikah, dan itu cukup membuatku lega, Rian.”
“Belum bukan berarti tidak, kan?”
“Ya, kau benar.” Elang membenarkan kalimat sepupunya itu, dan kembali meneguk minumannya.
“Elang, apa dia tahu kalau kau suka padanya?”
Elang menggeleng, “Tidak, jika ia tahu secepat ini kurasa dia akan mengundurkan diri.” Elang tertawa, menatap Rian yang juga tersenyum lebar itu.
“Wah, wah, kau harus menahan diri kalau begitu. Apa kau sanggup?”
“Bisa dekat dengannya saja aku sudah senang, Rian. Aku sedang mencoba untuk bersahabat dengannya.”
“Wow! Kau sedang berusaha mendapatkan hatinya, luar biasa. Merebut milik orang lain, sebenarnya bukan hal yang bagus.”
“Dia belum menikah, aku tidak bersalah dalam hal ini, kan?”
“Ya, memang, tapi jika kau terlanjur jatuh cinta padanya dan ternyata kau gagal, apa yang akan kau dapatkan selain sakit hati? Aku hanya mencemaskan dirimu. Bagaimana kalau kuperkenalkan dengan gadis lain? Aku memiliki banyak teman di sana.”
Elang mengibaskan tangannya, “Tidak perlu, kau sudah tahu aku tidak ingin kekasih orang bule, kan?”
“Tapi mereka cantik dan seksi, Elang.”
“Terserah!”
Rian terkekeh, menepuk bahu Elang cukup keras, membuat laki – laki itu menyingkirkan tangan Rian dari sana.
“Apa rencanamu, Rian?”
Rian mengangkat bahunya, “Tidak ada. Aku hanya ingin bersenang – senang selama berada di sini, aku lelah dengan latihan setiap hari.”
Elang menatap Rian sembari menopang dagunya, “Ceritakan padaku tentang semua itu, aku penasaran tentang hidupmu sebagai seorang penyanyi.”
“Hah? Apa yang ingin kau ketahui? Sudah jelas, kan?”
“Aku ingin tahu bagaimana perasaanmu saat memiliki penggemar? Apakah itu menyenangkan?”
“Entahlah, mereka memang memberiku semangat, namun ada kalanya juga membuatku tertekan. Tapi, inilah hidup, hidup yang sudah kupilih untuk kujalani. Itu impianku, Elang, dan kau tahu itu. Aku berjuang dengan begitu keras hingga sampai ke puncak ini.”
“Hmm, aku melihat perjuanganmu itu. Kau mengikuti banyak audisi hingga bisa sampai seperti sekarang. Rian, apakah kau memiliki kekasih?”
Rian tersenyum, “Kau pasti membaca berita tentang aku, kan?”
“Ya, seorang penyanyi papan atas tertangkap kamera mengencani seorang gadis, dan diduga memiliki hubungan gelap. Benarkah itu?”
“Itu konyol, berita itu tidak memiliki alasan.”
“Jadi?”
“Memang benar aku bertemu dengan seorang gadis, tapi kami tidak menjalin hubungan apapun juga. Hanya sebatas teman, kau paham, kan? Aku heran kenapa mereka begitu mudah menulis artikel tanpa tahu kebenarannya, dan hebohnya lagi berita itu sampai ke mana – mana.”
Elang meraih botol minuman itu, menuangnya ke dalam gelas Rian, “Lalu, apa kau tidak akan melakukan tindakan apapun? Seperti klarifikasi, mungkin? Seperti yang kita tahu, hal semacam ini bisa “menjatuhkan” kariermu, kan?”
“Mungkin nanti, pihak manajemen akan mengaturnya.”
“Itukah sebabnya kau datang ke sini?”
Rian kembali tersenyum, “Hmm, aku lelah dengan semua kabar tidak benar itu, aku butuh waktu untuk menyegarkan isi kepalaku.”
“Ya, kau harus melakukannya. Tapi, apakah gadis itu tidak bisa membantumu?”
Rian menggeleng, “Aku tidak ingin membuatnya berada di dalam kesulitan. Jika publik tahu wajahnya, kau pasti bisa menduga apa yang akan terjadi, kan? Dia akan menjadi bahan “buruan”.”
“Ternyata menjadi tenar tidak semudah itu, ya? Kau bahkan tidak memiliki ruang yang cukup luas untuk bergerak. Tapi, kau menikmati itu, kan?”
“Elang, aku tidak pernah menduga jika menjadi tenar, maka kehidupan pribadimu seakan tidak ada lagi. Kau tidak bisa melakukan banyak hal dengan bebas. Tapi ini adalah jalanku, ini duniaku, ini hidupku, Elang.”
“Kuharap kau akan bertahan, Rian. Jangan sampai melakukan hal yang akan membuatku tidak menyukaimu. Kau tahu, kan? Aku ini penggemarmu?”
Rian tertawa, “Kau? Sungguh?”
“Ya, apa aku terlihat berdusta?” Elang pun tersenyum, menatap Rian dengan prihatin.
“Entahlah, tatapanmu mencurigakan.”
“Sialan”
“Ha..ha..ha, tapi aku senang bertemu denganmu, Elang, kau satu – satunya orang yang berkata jujur tentangku.”
“Hmm, aku pun berharap kau berkata jujur padaku, kalau kau sedang tidak melarikan diri.”
“Apa? Tentu saja tidak. Kenapa aku harus melarikan diri karena berita semacam itu. lagipula, ini bukan untuk pertama kalinya, kan? Aku sudah terbiasa.”
“Hah, baguslah. Aku harap kau senang selama berada di sini, Rian.”
“Elang, aku penasaran dengan gadis bernama Kanaya itu. Apakah aku bisa melihatnya?”
“Datanglah ke kantor, tapi jangan menimbulkan keributan di sana. Kau pasti tahu, gadis – gadis di kantor menyukaimu, kan?”
“Tenang saja, jangan cemas.”
Elang mengulaskan senyuman, dan kembali menikmati minuman itu.
.....
Elang duduk di belakang meja kerjanya, kembali disibukkan dengan rencana peluncuran produk baru itu. Semalam ia kembali dengan selamat setelah tanpa sadar meneguk beberapa gelas minuman beralkohol itu.
Suara ketukan pintu mengalihkan perhatian laki – laki itu.
“Masuk!” kata Elang.
“Pak, Bu Rieka datang.”
Elang seketika mendongak, saat mendengar suara Kanaya di sana. Lelaki itu tersenyum, menunjukkan sisi ramahnya.
“Oke, dia bisa masuk. Terima kasih, Kanaya.”
Kanaya mengangguk, gadis itu menepi saat Rieka masuk sambil menatapnya dengan pandangan tidak suka. Kanaya kembali menutup pintu itu dan duduk di meja kerjanya sendiri.
“Hai, Elang?” Sapa perempuan itu. Suara langkah kakinya berderak di lantai ruangan, “Sekarang aku bahkan harus meminta izin kepada gadis itu untuk masuk ke ruanganmu, ya?”
“Aku yang memintanya. Apa kau datang untuk melihat hasilnya? Nadine sudah memberikan revisinya kemarin.”
“Oh, ya? Kenapa dia tidak datang ke kantorku?”
“Karena dia tahu kau akan menemuiku, Rieka.”
Rieka tersenyum, “Alasan. Aku tahu kau sedang melindunginya. Nadine dan gadis itu sama saja.”
“Astaga, ada apa denganmu? Kau sedang memiliki masalah?” Elang berkata dengan senyum di bibirnya, lelaki itu memberikan hasil revisi yang telah dicetak kepada Rieka, “Kau bisa melihatnya di sini.”
“Satu – satunya masalahku adalah gadis itu. Kau tidak sedang mencoba untuk menggodanya, kan?”
“Apa maksudmu? Dan Kenapa itu menjadi masalah bagimu, Rieka?” Kali ini Elang berbicara dengan serius, ia menatap Rieka dengan tajam.
“Tentu saja itu menjadi masalah untukku, kau tahu benar jika aku menyukaimu, Elang. Aku tidak akan diam saja dengan hal ini.”
“Kau arogan sekali, Rieka.” Elang menyodorkan sebuah pena ke hadapan perempuan itu, “Tanda tangan kalau kau setuju dengan desainnya.”
“Kau sudah tanda tangan rupanya.” Rieka tersenyum tipis, melihat laki – laki itu telah membubuhkan tanda tangannya di sana.
“Ya, itu sudah bagus. Tidak perlu revisi lagi, kan?”
“Oke, kali ini aku setuju.”
“Hmm, sudah seharusnya begitu. Nadine bukan orang baru, dia paham betul bagaimana membuat desain kemasan yang menarik. Kuharap kau berhenti membuatnya bekerja terlalu keras, Rieka. Aku tidak tahu, kenapa kau tidak suka padanya.”
“Elang, aku tidak suka dengan gadis yang mencoba mendekatimu. Aku tidak perlu menjelaskan alasannya.”
“Nadine tidak mendekatiku, Rieka. Dia sudah bersuami.”
“Astaga, Elang, kau polos sekali. Itu hanya status, tapi tidak menutup kemungkinan, kan?”
Elang tersenyum, “Apa yang kau pikirkan? Lagipula kita tidak memiliki hubungan apa – apa, kau tidak bisa melarangku untuk bergaul dan dekat dengan gadis manapun, Rieka.”
Rieka menggeleng, “Tidak, sayang. Sejak semula kau sudah ditakdirkan denganku.”
“Ha..ha.., kau membuatku tertawa, Rieka...Rieka.”
“Elang, apa kau tahu jika wakil direktur akan segera pensiun?”
Elang menatap Rieka ragu, sesaat kemudian dia menggeleng, “Tidak, kenapa? Kurasa dia masih sanggup bekerja dengan jabatan itu, kan?”
“Ya, tapi mengingat usianya dia harus segera pensiun, kan?”
“Oh, benar juga.”
“Kau tidak penasaran?”
“Tentang apa?” Elang berhenti mengetik, menatap Rieka dengan seksama. Perempuan itu membenahi duduknya, terlihat lebih santai sekarang.
“Tentang siapa penggantinya,” ucap Rieka dengan mata terbuka lebar.
“Apakah sudah ada calonnya? Kurasa pasti salah satu dari pamanmu, kan? Karena mereka putra – putranya.”
“Belum tentu. Bisa jadi itu aku, cucunya.”
“Ya?” Elang terkejut mendengar keberanian perempuan itu. “Kenapa kau? Sementara dia masih memiliki tiga putra yang lain? Kurasa mereka berambisi untuk posisi itu.”
“Elang, coba pikirkan baik – baik. Kenapa kakekku tidak menunjuk salah seorang dari ke tiga putranya untuk mengisi posisi itu sejak awal? Kenapa ia justru memberikan posisi itu kepada sahabat perempuannya?”
“Mungkin karena suatu hal? Kakekmu ingin memberi apresiasi kepada sahabatnya itu.”
Rieka menggeleng, “Kurasa tidak. Kakek pasti tidak memiliki kepercayaan atas ke tiga putranya. Kakek tahu, jika mereka hanya memikirkan harta semata.”
“Astaga, kau sedang membicarakan ayah dan kedua pamanmu, Rieka.”
“Ya, itu memang benar. Aku tidak akan menepis hal itu. Ayahku hanya berperan sebagai direktur cabang, dan kedua pamanku? Apa yang bisa mereka lakukan selain menghabiskan uang? Itulah kenapa kakek tidak memberikan posisi yang tinggi untuk mereka berdua. Mengenaskan, bukan?”
“Lalu, kenapa kau berpikir jika itu dirimu?”
“Karena aku adalah cucu kesayangan kakek. Cucu satu – satunya. Bukankah itu masuk akal?”
Elang menggelengkan kepalanya, “Kakekmu pasti telah memikirkan seseorang yang tepat.”
“Apa? Kau meragukanku?”
Elang kembali menatap laptopnya, “Kita tunggu saja. Kakekmu pasti akan segera membuat pengumuman. Kenapa aku tidak yakin jika itu kau.”
“Elang!”
“Kenapa berteriak? Aku masih bisa mendengar dengan jelas.”
“Kau menjengkelkan!”
“Lalu? Kau akan meminta kepada ayahmu untuk memecatku? Itulah kenapa tidak bagus jika perusahaan keluarga sebesar ini dikelola anggota keluarganya sendiri, itulah kenapa kakekmu menunjuk sahabatnya untuk menjadi wakil direktur.”
Rieka tersenyum kecut, memalingkan wajahnya ke sisi lain. Perempuan itu diam sejenak, lalu berkata lagi, “Apa kau tidak mengerti? Jika aku naik ke posisi itu, maka aku bisa membawamu ke posisi yang lebih tinggi. Seharusnya kau mendukungku di dalam rapat pemegang saham nanti, Elang.”
“Tidak. Aku bukan orang yang gila jabatan, Rieka. Posisiku sekarang sudah cukup membuatku bangga, dan jika aku bisa naik ke posisi yang lebih tinggi lagi, aku pastikan itu hasil kerja kerasku sendiri dan timku. Bukan karena koneksi.”
“Oh, ya? Kau sangat percaya diri.”
“Ya, aku memang penuh rasa percaya diri. Kau mau kopi?”
Rieka tersenyum tipis, “Tidak, aku datang hanya untuk itu. Dan, ingat kata – kataku, Elang. Kau milikku.”
Elang menggeleng – gelengkan kepalanya, “Aku tidak mengantar, Rieka.”
“Tidak masalah, sampai jumpa, Elang.”