episode 8

2398 Kata
“Dave, kau sedang apa?” Wajah Kanaya terlihat di layar ponselnya. Lelaki itu membaringkan tubuhnya, lalu tersenyum sembari menatap wajah kekasihnya itu. “Merindukanmu, Naya.” Kanaya tersenyum, memperlihatkan wajah yang begitu ceria. Kanaya tidak pernah ingin terlihat sedih di hadapan Dave. Ia harus berusaha terlihat tegar, sekalipun batinnya begitu pedih karena terus merindukan Dave. “Aku juga, Dave.” “Naya, rasanya begitu sepi tanpamu. Aku sepertinya ingin melepaskan semua ini dan kembali padamu.” Dave menatap Kanaya dengan sendu, jelas terlihat di matanya jika ia sangat merindukan gadis itu. “Dave, kau tidak boleh begitu. Itu impianmu, impian yang sudah lama kau inginkan. Jangan menyerah hanya karena hubungan kita. Aku di sini, hanya milikmu dan kita akan meraih mimpi kita bersama. Aku yakin, suatu saat nanti kita bisa bersama lagi, Dave.” Kanaya terus memberi semangat untuk kekasihnya itu, ia tak ingin Dave kehilangan mimpi yang selama ini ia inginkan itu. “Kanaya, kau tahu aku sangat mencintaimu, kan? Aku tidak akan melakukan hal yang membuat hubungan kita berantakan. Kau harus percaya padaku, Kanaya.” Kanaya diam sejenak, menatap wajah Dave yang terlihat begitu cemas. Kenapa Dave tiba – tiba mengatakan itu padanya? Apa yang sedang ia cemaskan? “Ada apa, Dave? Apakah sesuatu telah mengganggumu?” Kanaya berkata dengan lembut. Ia mengenal Dave dengan sangat baik, ia tahu Dave tidak akan bicara tanpa alasan. Dave menggeleng, tersenyum lagi, “Tidak, semua baik – baik saja Kanaya. Hanya saja aku harus terbiasa tanpamu, tidak melihatmu barang satu hari terasa aneh untukku.” “Kita akan terbiasa, Dave.” “Kau berpikir begitu?” “Hmm, semua akan berjalan normal seiring dengan waktu. Dave, apakah kau sudah memiliki teman di sana?” “Entahlah, Kanaya.” “Kenapa? Apakah mereka tidak baik padamu, Dave? Apakah kau kesepian di sana?” Kanaya bertanya dengan cemas. Dave kembali menggeleng, “Aku tidak kesepian, pekerjaan dan juga pesan darimu sudah cukup untuk menemani hariku. Naya, aku sangat senang kalau kau ingat mengirim pesan untukku. Teruslah mengirim kabar sampai kapanpun.” Kanaya mengangguk, “Tentu saja. Kau sudah makan, Dave?” “Aku makan di kantin kantor sebelum pulang, Naya. Aku tidak ingin ke mana – mana lagi. Kanaya, apakah kau sering bertemu Nadine?” “Oh, ya, dia sering datang ke kantorku. Kami bahkan rapat bersama. Dave, bolehkah aku bercerita padamu?” “Tentu saja, kau boleh bercerita apa saja padaku.” Dave tersenyum, menatap Kanaya yang kini juga membaringkan tubuhnya di tempat tidur. “Dave, beberapa hari yang lalu aku datang ke rumah Nadine. Aku merasa jika dia dan suaminya sedang tidak baik – baik saja.” “Kenapa? Apakah mereka bertengkar saat kau berada di sana, Naya?” Kanaya menggeleng, “Tidak, tapi Nadine mengatakan sesuatu yang membuatku berpikir. Perkataan itu seolah mengatakan jika dia telah salah dalam memilih suami. Lalu, tadi pagi dia datang ke kantorku dan meminta agar aku membantunya. Nadine memintaku berdusta jika sewaktu – waktu suaminya datang dan bertanya. Nadine tidak menghadiri gathering hari itu, tapi kurasa dia pergi ke tempat lain tanpa sepengetahuan suaminya, Dave.” “Oh, lalu apa yang akan kau lakukan, Naya?” “Aku tidak tahu. Aku berharap suaminya tidak menemuiku.” Dave tersenyum lembut, “Aku tahu, kau tidak pernah bisa berdusta, Naya. Sebaiknya kita jangan terlibat terlalu dalam dengan hubungan mereka.” “Dave, apakah semua orang akan mengalami hal itu di dalam pernikahannya?” Kanaya berkata lirih. “Entahlah, tapi kurasa masih ada orang – orang yang mampu menjaga hubungan pernikahan mereka tetap baik. Naya, aku berjanji padamu, kelak akan menjadi suami yang baik dan mencintaimu tanpa batas waktu. Aku sebenarnya tidak sabar menunggu hari itu, saat di mana kau menjadi istriku. Aku tidak akan cemas lagi, karena Kanaya telah menjadi milikku yang utuh. Kanaya, kira – kira kapan kau akan menerima pinanganku?” Hening.... “Naya? Kanaya?” Kanaya tidak menjawab, ponselnya telah tergeletak di sisi tubuhnya. Gadis itu terlelap, bersama dengan suara Dave yang perlahan mulai menghilang dari pendengarannya. “Astaga, kau pasti tidur. Pantas saja sejak tadi aku hanya melihat langit – langit kamarmu. Kau pasti letih, kan, Naya? Selamat tidur, sayang.” Dave mematikan panggilan video itu dan mulai memejamkan matanya. .... “Hendy? Kau di sini?” Nadine terkejut, saat melihat Hendy suaminya sudah berada di halaman kantor tempat wanita itu bekerja. Hendy tersenyum, ketika melihat Nadine benar – benar datang ke kantor itu. “Kau meninggalkan bekalmu, Nadine.” Hendy mengulurkan kotak makan itu dengan senyum mengambang. “Apa? Kenapa kau harus datang ke sini demi makanan itu?” Nadine terlihat tidak senang dengan apa yang dilakukan suaminya itu. “Tadi aku memanggilmu, tapi kau terburu – buru. Jadi aku mampir untuk membawakan bekalmu sebelum aku berangkat. Kau tidak boleh terlambat makan, Nadine.” Nadine menatap Hendy dengan mata menyipit, “Aku bukan anak kecil yang perlu membawa bekal ke kantor, Hen. Apa yang kau pikirkan?” “Aku tahu, tapi aku bangun lebih pagi untuk mempersiapkan bekal bagimu. Kau harus makan sesuatu yang sehat, Nadine.” Hendy kembali menyodorkan makanan itu, dan Nadine mengambilnya dengan kasar. “Aku tahu, kau melakukan ini bukan untukku, kan? Tapi untuk bayi yang tidak akan pernah ada di rahimku.” Setelah mengatakan itu, Nadine meninggalkan suaminya begitu saja. Hendy menarik napas lega, setidaknya ia tahu jika istrinya itu benar – benar datang ke tempat kerjanya. Hendy menatap ke dalam kantor itu, dan tersenyum ketika mereka melihat ke arahnya. Entah apa yang mereka pikirkan, Hendy hanya ingin memastikan jika istrinya tidak pergi ke tempat lain. Lelaki itu melangkah kembali ke halaman, menuju ke tempat di mana mobilnya berada. Dan di saat itulah, ia melihat Kanaya yang sedang berjalan bersama Elang. “Kanaya, kan?” Kanaya menoleh, dan tersentak saat tatapannya beradu dengan mata laki – laki itu. Ia tak percaya jika suami Nadine akan datang ke kantor ini, bersamaan dengan dirinya. “Halo,” sapa Kanaya ramah. “Kau juga bekerja di kantor ini rupanya.” “Tidak, kami ke sini untuk sebuah keperluan. Saya bekerja di cabang yang berbeda. Apakah anda ingin bertemu Nadine?” “Oh, tidak. Aku sudah bertemu dengannya tadi. Kau tidak perlu bicara begitu formal denganku, Kanaya.” Kata Hendy, yang kini tersenyum kepada Elang. “Baiklah, kalau begitu kami masuk ke dalam.” Kanaya tersenyum sekali lagi, lalu menoleh kepada Elang, “Mari, Pak, Elang.” “Tunggu, Kanaya!” Hendy kembali menghentikan langkah gadis itu. Sebuah panggilan yang terasa berat di hati Kanaya. “Ya?” “Maaf, tapi bisakah kita bertemu lagi jika kau tidak sibuk?” “Eh? Untuk apa?” Tiba – tiba Elang menimpali, menatap Hendy dengan alis menyatu. “Jangan salah paham, aku hanya ingin bicara sedikit dengan Kanaya.” “Kenapa tidak sekarang saja?” Tanya Elang lagi. “Itu..” “Maaf, saya tidak tahu apa – apa tentang Nadine. Saya memang teman kuliahnya tapi setelah itu kami tidak pernah bertemu, dan baru bertemu akhir – akhir ini karena pekerjaan,” jelas Kanaya, yang seakan mengerti ke mana arah tujuan laki – laki itu. “Oh, begitu. Tapi apakah kau keberatan kalau..” “Naya, kita terlambat.” Elang meraih tangan Kanaya, membawa gadis itu begitu saja, pergi dari hadapan Hendy. Hendy tersenyum tipis melihat Elang, lelaki itu terlihat sedikit putus asa. “Kau pasti tahu sesuatu Kanaya, karena kau menyebut Nadine di dalam ucapanmu.” Hendy menatap kepergian gadis itu, ia memang berharap jika Kanaya akan memberitahunya sesuatu. ..... “Kau mengenalnya, Kanaya? Dia suami Nadine, kan?” Elang bertanya saat mereka berjalan menuju ke ruang rapat di kantor Nadine. “Kami bertemu saat saya datang ke rumah Nadine, dan ini untuk kedua kalinya.” “Begitu, ya? Hmm, memangnya ada apa? Kenapa dia ingin bicara denganmu?” “Saya tidak tahu, Pak.” Kanaya menjawab dengan singkat dan berhenti di depan ruang rapat itu di mana Nadine ada di sana. Nadine berdiri, saat melihat Elang dan Kanaya di sana. Perempuan itu tersenyum sambil menatap Elang yang telah berjalan masuk. “Pak, silakan.” Nadine menarik kursi untuk Elang, dan lelaki itu pun duduk di sana. “Apakah dia belum datang, Nadine?” “Ibu manajer sedikit terlambat, saya akan menghubunginya kembali.” Nadine meraih ponselnya dan kembali menghubungi atasannya itu. Kanaya menatap Nadine, perempuan itu tidak menunjukkan sesuatu yang mencurigakan, bahkan senyum di bibirnya tetap terjaga. Mungkinkah seseorang yang sedang memiliki masalah di dalam rumah tangganya mampu bersikap tenang seperti ini? Seolah tidak pernah terjadi sesuatu dengannya? “Ibu sedang di dalam perjalanan, Pak. Saya sudah mengirimkan link rapat hari ini ke email Pak Elang.” “Terima kasih, Nadine.” Elang menatap Nadine cukup lama, dan tampaknya perempuan itu menyadarinya. “Ada apa, Pak, Elang?” “Eh, bukan apa – apa.” Elang membuka laptopnya dan membuang pandangannya dari Nadine. Nadine duduk di sisi Kanaya, tepat bersamaan dengan manajer perempuan yang usianya sudah mendekati paruh baya itu. “Naya..” Bisik Nadine di sisi telinga Kanaya. “Ya..” Kanaya menjawab dengan ragu, ia hanya melihat Nadine sekilas. “Apakah kau bertemu suamiku saat datang ke sini?” “Ehm, ya.” Kanaya tidak bisa berbohong, sekalipun ia sangat ingin mengatakan tidak. “Lalu? Apa dia bertanya sesuatu padamu? Aku heran kenapa dia harus datang ke sini.” Kanaya menggelengkan kepalanya, “Tidak. Dia tidak mengatakan apa – apa.” “Sungguh? Hmm, aneh.” “Ya, saat itu aku datang bersama Pak Elang.” “Oh, pasti karena itu. Oke, terima kasih, Naya.” Nadine tersenyum, dan kembali menatap ke arah atasannya yang sedang berbicara dengan Elang. Nadine, sebenarnya apa yang sedang terjadi denganmu? Apakah kau baik – baik saja? Kanaya menatap Nadine dengan cemas, tapi sepertinya perempuan itu terlihat baik – baik saja. .... “Terima kasih, Pak, Elang. Aku harap direktur akan menyetujui rencana ini,” kata wanita paruh baya itu, sembari mengulurkan tangannya untuk menjabat tangan Elang. “Apa yang anda presentasikan ini sangat bagus, saya yakin pihak pusat akan setuju, Bu.” Wanita itu tertawa senang mendengar pujian yang dikatakan Elang. “Baiklah, terima kasih sudah datang, Pak, Elang. Nadine akan memberitahukan perkembangan selanjutnya.” Elang mengangguk dan menepi untuk memberi jalan kepada wanita itu. “Kanaya, bagaimana kalau kita sekalian makan siang?” Nadine yang mendengar itu seketika menoleh, ia menatap Kanaya dengan senyum mengambang, “Di dekat sini ada restoran yang cukup enak, Pak, sangat disayangkan jika tidak dicoba,” ucap Nadine. “Benarkah? Bagaimana kalau kau ikut dengan kami, Nadine?” “Saya ingin, tapi suami saya sudah datang dengan bekal makan siang. Mungkin lain kali, Pak, Elang,” sahut Nadine. “Oh, jadi suamimu tadi datang untuk mengantar bekal makan siang?” Elang terlihat tertarik dengan hal itu. “Benar, saya juga tidak menyangka dia akan repot – repot datang untuk itu.” Nadine tertawa sembari membereskan peralatan yang digunakan untuk presentasi tadi. “Wah, kau memiliki suami yang baik, Nadine. Aku iri padamu.” Elang pun tertawa, tapi Nadine seketika terdiam dan hanya mengulaskan sedikit senyuman di bibirnya. Sementara Kanaya memilih untuk tidak berkomentar atas hal itu. Melihat perubahan wajah Nadine yang tiba – tiba, ia yakin sesuatu sedang terjadi di dalam hubungan mereka. “Kalau begitu, kami pergi dulu, Nadine. Sampai jumpa. Ayo, Naya!” “Baik, Pak.” Kanaya berjalan di belakang Elang, dan Nadine menatap gadis itu dengan lekat. Benarkah yang Kanaya katakan tadi? Hendy sama sekali tidak bertanya? Entah kenapa Nadine cukup meragukan gadis itu. Nadine memang mengenal Kanaya, tapi hubungan mereka sebenarnya tidak sedekat itu. ketika kuliah dulu, setelah Kanaya bertemu Dave, gadis itu lebih banyak menghabiskan waktunya bersama Dave, hampir setiap hari. Kanaya seakan tidak memiliki waktu untuk yang lain lagi. Dave terus saja menempel kepada Kanaya, seolah takut kehilangan gadis itu. Dan Nadine cukup menyadari kecantikan Kanaya, siapa yang tidak akan terpikat oleh wajahnya itu, bahkan Nadine pun dapat melihat jika Elang diam – diam menyukai gadis itu. “Dave, kau salah karena telah meninggalkan Kanaya di sini. Kurasa kau harus siap untuk berhadapan dengan Elang,” gumam Kanaya sembari tersenyum tipis. .... “Kurasa ini tempatnya, Naya.” Elang menatap sebuah restoran yang tidak jauh dari kantor Nadine. Restoran itu sepertinya belum lama berdiri, karena Elang baru melihatnya sekarang. Restoran itu tidak terlalu ramai, tapi suasananya bisa dibilang menarik dan cukup nyaman. Restoran itu bahkan menyajikan live musik di sudut ruangnya. “Sepertinya begitu, Pak. Restoran yang paling dekat dengan kantor hanya ini.” “Kita masuk?” Kanaya mengiyakan, dan memilih kursi yang tidak terlalu jauh dari pintu masuk. “Kau mau apa, Naya?” Elang membuka – buka menu di hadapannya, lalu menatap Kanaya yang juga sedang memilih menu di hadapannya itu. “Sup daging saja, Pak,” ucap Kanaya. “Oke,” Elang memanggil pelayan restoran yang berdiri tak jauh dari mereka, dan memesan makanan itu. .... “Kanaya..” “Ya, Pak?” “Sebenarnya aku masih penasaran kenapa suami Nadine ingin bicara denganmu? Apa kau tahu soal itu?” Elang menyuapkan makanan itu ke dalam mulutnya, sembari menatap Kanaya. “Tidak, Pak, saya tidak tahu.” “Begitu, ya? Mungkin hanya aku saja yang menduga – duga, semoga dugaanku ini salah.” Elang tertawa kecil, mengusap bibirnya dengan kain lampin yang ada di pangkuannya itu. “Menduga – duga? Apa yang, Pak, Elang pikirkan?” “Oh, tidak. Ini hanya pikiranku semata. Tapi, Kanaya, tidak bisakah kau memanggilku Elang saat kita sedang berdua seperti ini?” “Itu..” “Aku ingin lebih dekat denganmu, Naya, jangan sampai jabatan menjadi penghalang diantara kita.” “Apa maksud, Pak, Elang? Saya tidak paham.” “Ah, kau jangan salah paham padaku. Maksudku adalah aku ingin menjalin hubungan yang lebih dekat denganmu, seperti seorang teman. Aku ataupun kau bisa berbicara dengan bebas, bahkan menceritakan banyak hal yang bahkan tidak bisa kita katakan kepada orang lain. Kau mengerti, kan?” “Teman?” “Hmm, sebenarnya aku butuh seorang teman yang bisa memahami aku, Kanaya.” Kanaya menatap Elang sesaat, gadis itu kemudian menunduk, menatap ke dalam supnya. “Oh, kenapa? Apakah permintaanku ini terlalu berat bagimu, Naya?” “Bukan begitu, hanya saja saya..” “Tidak – tidak, aku tidak akan mengganggumu. Jangan cemas, aku hanya membutuhkan seorang teman, atau lebih tepatnya sahabat. Apa kau keberatan, Kanaya?” “Saya harus berkata apa, Pak? Saya tidak bisa menolak tawaran pertemanan yang baik.” Elang tersenyum lebar, merasa sangat senang dengan jawaban Kanaya itu.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN